Menulis Menjujuri Pikiran
14 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Pak di pikiran sudah ‘terbentuk’ yang akan ditulis tetapi kog susah ‘melahirkannya’, tanya seseorang dalam bincang-bincang tentang buku Menulis Sangat Mudah. Buku tersebut rupanya mampu memotivasi banyak orang, tetapi masih ada yang belum menangkap esensinya dalam pengertian implementasi.
Padahal, kalau sudah terbentuk di pikiran, rancangan tulisan di otak sudah matang, bukankah sudah menjadi tulisan dalam pengertian konsep? Tinggal menuangkannya menjadi tulisan. Sekali lagi, menuangkan atau menuliskan. Bukankah itu sagat sederhana, sangat gampang. Saya malahan yang bingung, kog jadi susah. Mesti ada something wrong pada prosesnya.
Selidik punya selidik, ternyata Si Calon Penulis tidak jujur menuangkan apa yang telah ada dan terbentuk di pikiran. Inilah ‘kecurangan’ dalam menuliskan pikiran sendiri. Memelihara kecurangan. Kira-kira, karena kebiasaan tidak jujur kali ya, he … he … Maksudnya?
Misalkan di pikiran sudah ‘bermain’ tentang kontroversi alokasi dana pendidikan di APBN/APBD sebanyak 20%. Jelas-jelas sudah diamarkan UUD 1945 (Amandemen) tetapi tidak dipenuhi dengan berbagai alasan.
Ketidakmampuan merealisasi amar Konstitusi jelas melanggar Konstitusi, apa pun alasannya. Seharusnya, kalau mengambil kontroversi implementasi UUD sebagai tema, ya tulis saja apa adanya, sesuai yang dipikirkan dan terpikirkan.
Persoalan muncul, setelah apa yang akan ditulis matang, berbagai hal tiba-tiba mencuat di pikiran, dan … dilayani. Misalnya, bagaimana kalau nanti ada yang tersinggung, bisa-bisa dicari aparat keamanan, atau dihujat balik, atau hal sepadannya. Pokoknya, ketika menulis banyak muncul pertimbangan yang tidak ada hubungannya dengan pokok tulisan.
Kalau demikian ceritanya, jelas saja susah menuangkan apa yang ada di pikiran. Kalau jujur, kalau mampu menulis ada yang dipikirkan, pasti mudah. Disitu kuncinya, tidak jujur dengan pikiran sendiri. Nah, kalau dengan pikiran sendiri tidak jujur, ya susah. Akibatnya berbagai hal muncul sebagai penyerta, dan … susah menulisnya.
Koruptor ya Koruptor
Suatu kali seorang teman mengebu-gebu mengutarakan kektidakberesan atau salah kelola, untuk tidak mengatakan praktik korupsi, di suatu instansi tempat dia bekerja. Fakta tertulis maupun dalam ingatan kolektif kolega sudah terangkum. Bahkan, sampai ke gambar beberapa rumah sampai yang dibangun di luar pulau sudah ada. Beberapa orang telah diwawancarai, sampai yang siap bersaksi. Lengkap sudah.
Hebatnya pula, gaji atasannya sebagai pemimpin perushaan swasta yang baru berkembang sudah dikantongi lengkap dengan pendapatan tambahan. Ringkasnya, dalam hitungannya, dalam sepuluh tahun tidak mungkin penghasilan si bos cukup untuk membeli semua itu. Apalagi garasi sang pemimpin diisi beberapa mobil terbaru.
Hanya saja, si kawan punya tumpangan hendak. Dia ingin membongkar kesaktian atasan menggaruk uang perusahaan. Sebabnya pun mengandung beban, dulu dia ikut menikmati. Tetapi, ketika atasan mendapatkan staf baru sebagai wactdog lebih yang piawai dia tersingkir.
Alamak, pikirannya telah diracuni menghabisi si bos sembari berharap diangkat bos baru yang teman sepahamnya. Artinya, menulis bukan untuk menulis, menulis bukan untuk tujuan kebenaran. Obyektifitas, jarak dan sajian niai-nilai tentu akan terabai karena ada pesan kepentingan.
Hal seperti itu yang membuat menulis tidak lancar, sekalipun sudah terkonsep di kepala. Coba, ketika akan menulis, oh jangan-jangan saya juga terbawa-bawa sebab pernah ikut melakukan pekerjaan terkutuk tersebut. Bagaimana kalau bos marah, saya bisa dipecat, anak isteri mau makan apa.
Belum lagi, kepiawaian membumikan pikiran dalam rangkaian kata-kata masih jahiliyah. “Bapak saja yang menulis ya”, tolonglah. Bapak kalau menulis kan enak dibaca, katanya merayu. Maklum bakat curangnya lumayan bagus. “Mbahmu”, gerutu saya dalam hati.
Perhatikan pikiran ‘bangsat’ kawan yang satu ini, dia yang punya mau, dia yang punya ingin, dia yang punya inisiatif, ,emyadari kemampuannya tidak cukup untuk merealisir, bola dilemparkan kepada orang lain.
Setidaknya, dia melakukan keslahan mendasar. Pertama, tidak jujur dengan pikirannya hingga apa yang hendak ditulis tersumbat, menulis tidak konsekuen dengan dasar-dasar menulis karena ditimbun kepentingan pribadi. Menulis yang baik atas dasar kepentingan umum, akademik, obyektif, dan konstruktif.
Kedua, ketika hands up bukannya belajar lebih sungguh-sungguh mengungkapan pikiran, tetapi melempar handuk ke orang lain sembari mengacungkan thumbs up. Licik. Kejahiliyaan menulis hanya punya tiga jenis obat mujarab, yatiu: menulis, menulis, dan menulis. Menulis adalah produk pikiran. Jadi, jangan diover-over. Taklukan diri sendiri sehingga lancar menulis.
Menulis dan Kejujuan
Dasar pijakan tulisan ini jelaslah sudah, kalau mau menulis sesuatu kita harus melatih pikiran agar fokus pada pokok masalah. Masalah dilihat sebagai masalah dan dianalisis dengan teoritik, pengalaman, atau pemikiran yang fokus kepada masalah itu. Kalau tumpangan kepetingan pribadi terikut maka akan menjadi sesuatu yang rumit dan susah diungkap.
Menulis seyogyanya berlandaskan pada obyektivitas. Sumbyektifitas, kecuali opini, adalah bumbu penyedap yang kadang sebagi pemantik agar lebih berasa dan bergigi. Tidak bijak memaksakan pendapat sebab pembaca punya pendapat sendiri. Karena itu, tulisan yang kental opini biasanya diabaikan, tetapi tulisan berbasis fakta dengan opini kuat membuat menarik banyak orang untuk membacanya.
Jujur pada pikiran, jujur pada diri, menjujuri pikiran adalah gerbang terbuka menulis. Jujur pada pikiran tidak ahanya berarti tidak mendustai fakta, tetapi juga menuntut konsrn terhadap pokok tulisan. Kalau menulis tentang puting susu, karena takut disebut porno lalu meamsalkan dengan tahi lalat tentu akan mengurangi makna tulisan, dan … menyusahkan dalam menulis.
Penghaluasan kata sah saja, tetapi ketika euphenism menjadi landasan, wujud dan pemaknaan tulisan bisa melenceng. Bagaimanapun busung lapar jauh berbeda artinya dengan kurang gizi. Kalau kita melihat seseorang yang sangat mempesona, dan karena itu sampeyan tertarik, ya katakan saja cinta. Apa susahnya.
Ketika mengatakan wajahmu seperti rembulan, bagi yang mengerti penampakkan bulan, itu berarti penghinaan. Sebab, permukaan bulan bopeng-bopeng, tidak sedap dipandang, tidak senikmat sinarnya di malam hari yang mendatangkan kesejukan di hati dan membangkit birahi.
Dengan kata lain, terutama bagi pemula, menuliskan apa yang dilihat, apa yang dirasa, apa yang didengar, apa yang dipikir jauh lebih mudah manaka tidak dihinggapi muatan penyerta. Menulis tipe beginian lebih bagus dalam melatih keterampilan menulis. Saya pikir, tulisan ini bermanfaat bagi yang berposisi demikian.
Jadi, bagi yang ingin melatih menulis, menulislah dengan jujur. Menulis apa adanya. Itu dasarnya. Kalau sudah lancar, barulah bumbu-bumbu dikenakan, membuat warna-warni atau mengaduk-aduk wacana. Kalau perlu aduk-aduk pikiran dan rasa pembaca, Sampeyan akan jadi pusat perhatian.
Sebagai motivator, kalau ada yang sharing menulis dengan serius, pertanyaan pertama saya: mampu ngak menulis pengalaman secara jujur, bukan imajination bukan opinion, apalagi opium. Mereka yang berpikir ‘murni’, belum tercemar, biasanya sangat cepat belajar, dan atau melatih menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Juli 2007.









3 Responses to “Menulis Menjujuri Pikiran”
By hanna on Jul 14, 2007 | Reply
iya tuh, pemerkosaan. ups ! maaf ye, masa i disuruh nulis sejujur-jujurnya. kan susah. apalagi pengalaman hidup, kan buka aib namanya. tapi, okey2 aja sih, akhirnya menemukan sesuatu yang gimana gito rasanya. sejenis percaya diri barang kali.
By Al Fahm on Jul 16, 2007 | Reply
memang segala situasi dan kondisi yang ada merupakan suatu fakta yang benar dan nyata. itu semua adalah segala hal yang memberikan bukti yang jelas untuk aplikasinya…
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 23, 2007 | Reply
jujur saja, saya menulis untuk ikut terlibat dalam pembangunan perdaban baru, membaca dan menulis, ngomong juga dan nulis pun juga dilakukan.
Dengan menulis peradaban bisa diubah lho.
Ingat usia tulisan tuh lebih panjang daripada si penulisnya. Ingat, para penulis besar ternama baik Nasional maupun internasional, laki2 atau perempuan, mereka telah tiada tapi buah pikirannya yang dituangkan ke dalam tulisan (surat, puisi,buku atau artikel) tetap ada bahkan menjadi rujukan dan panutan manusia lain.
Salam dari saya, Irsan