Menulis Kekuatan Kata-Kata
13 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Percayakah Anda pada kekuatan kata-kata? Kalau tidak, masuklah tentara dan dengarlah apa perintah komandan. Jika ia memerintah Anda dengan 1 kata saja: “Tembak”, saya yakin Anda akan menembak. Ingat, 1 kata saja dan Anda paling sedikit menghilangkan 1 nyawa.
Tidak dapat tidak, saya bersorak membaca buku Taufiq Pasiak, Manajemen Kecerdasan (2007) yang baru saya beli 11 Juli 2007. Buku Taufik Membangunkan Raksasa Tidur; Optimalkan Kempuan Otak Anda dengan Metode Alissa (2004) membangunkan kesadaran tentang pentingnya mempelajari otak. Taufik guru buku dalam hal otak seperti Daniel Pink, Kenneth Giuffre dan Theresa Foy DiGeronimo.
Kecanduan membaca buku-buku Taufik karena kalimatnya padat ringan menggugah, nyaman dirasa lempang di otak. Saya sempat SMSan dengan Taufik selepas membaca buku Membangunkan Raksasa Tidur. Kata-kata Taufik membius.
Yup, kekuatan kata-kata. Terkadang berandai-andai, kata-kata saya di buku Menulis Sangat Mudah (2007) mungkin menyentuh urat keberanian banyak orang menulis, sebab sangat banyak apresiasi dan ketermovasian orang setelah membacanya. Mana tahu, lho. Yang pasti semakin meyakinkan, kekuatan kata-kata bisa membangkitkan hal-hal yang terlelap di diri kita.
Suatu kali, ditakut-takuti seorang kolega, tuh Si Johnny berhenti kuliah gara-gara Sampeyan. Apa pasal? Dalam kuliah, karena doyan utak-atik kata berekelakar, dalam memilih kata, apalagi nama, harus hati-hati. Setiap kata (nama) mengandung makna, ada konsep di belakang setiap term. Saya mengajar mata kuliah logika.
Mahasiswa gagah bertanya, apa artinya Ersis? Saya kalah total tidak bisa menjawab. Karena tidak mau kalah saya katakan, itu nama unik, pakai hak paten. Kalau kalian menemukan orang lain bernama Ersis, saya kasih hadiah sejuta. Saya sudah cek di buku telepon, tidak ada, he … he … Kedudukan satu-satu, kaca mata. Sampai hari ini lupa bertanya kepada Bapak apa tu artinya Ersis.
Kalau Johnny, kata saya, artinya pemuda luntang-lantung. Kalau tidak percaya lihat di Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadaily. Nama depan Echol yang John itu menurut kamus yang dia susun berarti WC alias kakus (slang). Johnny, si mahasiswa, berhenti kuliah karena (mungkin) diterima menjadi PNS berijasah SMA.
Kata Memotivasi
Pertama kali terpicu sekitar tahun 1978. Ketika guru bahasa SMP-ku, namanya Yustinus, dia ngomong satu kalimat, yang menurutku punya pengaruh. Dia kan tahu kakak-kakakku suka menulis. Kalilmatnya begini, “Andri, sebenarnya penggunaan bahasamu itu lebih bagus dari kakakmu”.
Itu tidak pernah ada dalam pikiranku. Aku selalu berpikir kakaku itu bagus kalau menulis. Terutama kakakku nomor dua, kalau bikin puisi, bikin apa-apa itu selalu bagus. Aku suka baca buku puisinya, cerpennya, karena dia memang senang menulis. Kakakku nomor satu juga pernah juara tiga mengarang se-DKI Jakarta. Jadi, aku pikir kakak-kakakku itu jago menulis.
Ketika guruku bilang aku bisa menulis lebih bagus dari kakakku, itu memberikan sebuah persfektif tentang diri, self-image yang muncil sama sekali lain dengan yang kumiliki sebelumnya. Tapi guruku tidak berhenti di situ. Ia mintaku untuk ikut lomba menulis karya ilmiah khusus untuk siswa SMP sekabupaten. Aku ikut saja, temanya tentang Hari Kesaktian Pancasila. Kemudian aku menang.
Itu kata Andrias Harefa, penulis lusinan buku best seller. Kata-kata, tepatnya kekuatan kata-kata gurunya merubah self-image, padahal dia tidak punya cita-cita menjadi penulis. Adreas akhirnya keluar dari statusnya sebagai mahasiwa fakultas Hukum UGM dan memilih menjadi penulis. Baca bukunya, Mengukir Kata Menata kalimat (2007).
Saya tidak bisa menghayal banding, kalau pengalaman di sekolah banyak orang justru terbalik. Membuat puisi dibilang tidak nyeni, bikin cerpen dikatakan tidak keru-keruan, membuat artikel terlalu simpel, dan seterusnya. Apalagi kalau ditakut-takuti dengan segerobak teori, dihimpit sekian beban aturan, wajib berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesan kerasnya, menulis begitu susah, sangat sulit.
Celaka. Ketika pertama kali menulis cerpen, cerpen saya — kata seorang yang memandang dirinya kritikus— jauh dari karya Hamsad Rangkuti atau Ernest Hemingway. Gila. Wong saya baru memulai dikenakan pisau analisi bandingan dengan Hamsad dan Hemingway. Bagaimana logikanya membandingkan saya dengan mereka. Apalagi, anak SMP atau SMA. Kata-kata membunuh semangat dan kreativitas.
Perbendaharaan Kata
Sekarang jelaslah suda, ada dua belah mata pisau dalam menggunakan kata-kata dalam menulis. Pertama, kata-kata yang menmangkitkan dan memotivasi kemampuan menulis. Menulis mudah, sangat mudah. Kedua, mematahkan dan mematikan potensi dan bibit-bibit menulis yang bersemayam di lubuk pikir kita.
Keseluruhan inti tulisan saya tentang menulis, berbasis pada yang pertama. Pilihan diksi pada kata-kata ‘kuat’, memotivasi, dan dengan contoh yang terkadang nyleneh dimaksudkan hanya untuk memotivasi. Kalau ada hal-hal kurang berkenan, bukan maksud hati menyakiti Sampeyan, tetapi agar lebih tergugah. Mana tahu urat malu tidak mau dan tidak mampu menulis terjaga, bangun dari lelap panjangnya.
Memilih kata-kata yang kuat, seperti menulis itu sendiri, tidaklah dapat berdasrkan teori atau petunjuk belaka. Harus dipraktekkan dalm tindak menulis. Dalam bahasa saya, belajar menulis, melatih menulis, ya dengan menulis. Jangan dengan cara lain. Tinggalkan selain menulis.
Dus, kalau berkehendak menjadi penulis, pengetahuan kosakata harus ditimbun di rumah pengetahuan otak. Kalau membeli kamus, tiap hari bolak-balik menemukan kata-kata baru. Atau rajin bepergian, berkomunikasi agar perbendaharaan kata-kata semakin menimbun.
Bagaimana tulisan akan enak dibaca kalau variasi kata-kata yang dipakai cekak. Banyak pilihan kata yang bisa membuat pembaca tertarik, termotivasi, tersenang, tersenyum, termarah, tersumpahserapah, terenggut, dan seterusnya. Gunakan pada tempat yang tetap sesuai maksdu tulisan.
Tetapi, saya tidak menganjurkan memilih kata-kata yang jorok-jorok. Saya memilih kata-kata keras sekadar untuk memantik kesadaran, sering dikatakan tidak normatif. Bagi saya yang (mungkin) berjiwa agresif-progresif, kata-kata lemah gemulai, kemayu, terasa kurang cocok. Entah nanti.
Jadi, pakailah kekuatan kata-kata untuk menyampaikan segala sesuatu yang perlu disampaikan. Kalu soal komunikasi dalam artian penyampaian pesan melalui kata-kata, melalui bahasa, lain kali kita bahas. Kata-kata mempunyai kekuatan yang bisa menerbangkan pesawat AirBus. Kalau captaint mengatakan terbang, maka diterbangkanlah pesawat tersebut.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 13 Juli 2007.









2 Responses to “Menulis Kekuatan Kata-Kata”
By mathematicse on Jul 13, 2007 | Reply
Ya benar, dengan kekuatan kata-kata kita bisa mengubah keadaan, bisa mengubah dunia. Ada banyak contoh sederhana. Misalnya saja kita pilih kata ‘maaf”. Kata ini bila dipakai pada tempatnya bisa mengubah sebuah permusuhan menjadi sebuah persahabatan. Bisa mengubah prasangka buruk menjadi prasangka baik, dst.
Tidakkah ingat pribahasa yang terkait dengan kata-kata. “Lidah lebih tajam daripada pedang.” Dan kita tahu lidah adalah satu alat untuk memproduksi kata-kata. Dengan lidah kita, bisa mudah menjalin hubungan baik, dengan lidah kita juga kita bisa membuat banyak musuh… sungguh besar bahaya lidah, bahaya kata-kata yang diproduksinya.
Ah masih banyak juga yang ingin saya komentari… Tapi saya mau baca tulisan yang lainnya juga… (komentnya cukup aja dulu).
By Front Budaya Godong Kelor Banjarbaru on Sep 23, 2007 | Reply
Assalamua’laikum Wr.Wb
Seluruh Pengurus Front Indonesia dan Front 1 Banjarbaru mengucapkan Selamat manunaikan ibadah puasa. Semoga Bapak sekeluarga mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT
Wassalamua’laikum
Salam Frontier
Pengurus