Menulis Membangun Self Image

12 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Pendidikan saya rendah, bukan orang sekolahan. Terlahir dari orang tua sederhana, PNS golongan rendah (untung tidak berani mengaku anak koruptor). Saya ingin menulis, tapi sangat sulit. Sulit. Sungguh sulit. Menulis itu sangat sulit.

Kalimat-kalimat sedemikian yang sering dikirimkan ke saya melalui SMS, telepon, atau email. Dalam hati mengeluh, orang-orang ‘berpenyakit’ seperti ini yang akan sharing menulis, duh susahnya. Terlintas di pikiran, pekerjaan bisa jadi berat. Berkutat merubah citra dirinya dulu, baru berlatih menulis.

Tapi, tentu lebih baik dari mereka yang merasa hebat dengan self-conpident berlebihan, padahal tidak ada bukti karya. Kepercayaan diri tentu baik, namun jangan menjurus kepada self-asertive. Yang parah, adalah mereka yang tidak punya kepercayaan diri, tidak menghargai diri, tidak bersandar self-esteem. Kalau begitu, bagaimana mau minta dihargai orang.

Kalau kita sudah membangun gambaran diri sebagai orang bego, ditambah pula dengan segala embel-embel status sosial serba minus, wajar saja self-image yang terbangun tidak positif. Tidak heran, kalau keluar simpulan, menulis itu sulit, sangat sulit. Konsep yang dipatenkan di pikiran menulis itu sulit, ya sulitlah jadinya.

Berguru Pada Air
Air, dalam volume kecil, tidak mempunyai ‘kekuatan’ dahsyat. Tapi, jangan coba-coba kalau menjadi banjir atau galodoh. Bisa gawat, bo. Pernah memperhatikan bagaimana air yang menetes setetes demi setetes melubangi batu cadas? Batu cadas saja bisa dilubangi tetesan air.

Elaborasi pemahamannya, kalau menulis dipersepsikan sesuatu hal yang biasa-biasa saja, hal yang mudah, lalu berusaha mencukupi segala hal agar menjadi mudah, ya jadi mudahlah. Kalau ditancapkan di pikiran, menulis sulit, memulainya akan menjadi sangat susah. Bak tentara kalah sebelum berperang.

Terkadang yang merusak citra diri adalah perspektif tentang diri sendiri. Merasa diri kurang ini, kurang itu. Dalam pompaan semangat, dalam membangun citra diri kita sering mengenal jargon semisal, Aku Pasti Bisa, Bersama Kita Bisa. Untung Ada Saya, kata Gepeng mengambarkan betapa ‘dia’ diperlukan.

Beberapa rekan sharing menulis EWA’MCo. pada mulanya banyak yang berpenyakit, bahkan penyakitan, mengidap penyakit akut tidak percaya diri, tidak menghargai potensi diri. Setelah dipantik baru ada keberanian menulis. Saya yakin, setelah tulisannya dipublish di web, media cetak, atau jadi buku sekalian, self-image berubah. Dengan karya self-image positif terbangun dengan sendiri.

Air menetes, walaupun tanpa maksud melubangi batu cadas, adaklah guru dalam ketekunan, kekonsistenan, dengan kemampuan kecil ‘mengalahkan’ hal yang tidak mungkin. Kebetulan, saat menulis tulisan ini, Trans TV memutar film Matilda bercerita tentang anak yang selalu dikatakan bodoh oleh keluarganya, karena orang tua tidak memahami kemampuan dan kelebihannya.

Si anak pada umur dua tahun sudah meminta buku untuk di baca. Oleh orang tuanya dicuekan saja, sebab tidak masuk akal. Dia tidak menyerah, begitu ayah, ibu, dan kakaknya pergi —dia tidak diizinkan sekolah— pergi ke perpustakaan membaca buku apa saja. Banyak buku dipinjam dan dibaca di rumah. Tak alang kepalang halangan, namun dia tetap membaca, dan membaca.

Kalaulah dia bukan tokoh fiktif, saya mendoakan Matilda masuk syorga. Saya akan kampanyekan, inilah dia tipe ideal muslimah. Sejak ingusan mempraktekkan firman pertama Allah SWT kepada Rasulullah, iqra’ iqra’ iqra’.

Disamping mendapatkan pengetahuan luar biasa, setelah diizinkan sekolah, dia telah mampu memperlihatkan kekuatan keyakinan. Dengan itulah dia menegakkan kebenaran, termasuk kepada kepala sekolah yang rada-rada ‘gila’. Self-image adalah modal besar dalam kehidupan.

Di dunia nyata, banyak Muslim beharta melimpah, tetapi idak konsern dan berkontribusi agar membaca menjadi pemicu membaca alam, membaca tanda-tanda keberasan Allah, belajar ilmu Allah. Ih … ngeri justru mengorupsi proyek buku sekolah. Keterlaluan.

Melawan Kungkungan
Tulisan ini khusus ditujukan kepada mereka yang terlanjur mematenkan hal-hal negatif, ya semacam negative thinking-lah. Segera robah pola pikir menjadi positive thinking. Kalau Sampeyan sudah sampai pada kesimpulan, pasti bisa menulis, menulis itu sesuatu yang mudah. Sekalipun demikian, tentu tidak bisa jadi begitu saja, dan jadilah.

Seperti ditulis pada bagian lain tulisan tentang menulis, keinginan saja tidak cukup. Harus ada modal dasar seperti membaca, mecermati apa yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan.  Setelah itu, belajarlah menulis dengan menulis. Adalah kesalahan besar belajar menulis kepada Ersis, misalnya. Belajar menulis dengan menulis. Sebab menulis adalah pekerjaan yang sangat pribadi. Kenapa?

Sampeyan mengoperasikan otak sendiri. Menuangkan pikiran yang tidak ada di pikiran, bukan pikiran orang lain. Dengan kata lain, kalau memang berkehendak menuangkan apa yang ada di pikiran, ya harus ditulis sendiri. Itulah belajar menulis sesungguhnya. Sekali lagi, belajar menulis dengan menulis.

Setidaknya sampeyan dapat tip berpikir berharga, menulis tidak memerlukan guru, sebab guru menulis adalah diri sendiri. Tidak usah disoal lagi. Bukankah sudah belajar bahasa, mengarang, menulis, dan sejenisnya sejak SD sampai perguruan tinggi. Apa hasilnya? Apakah berkemampuan menulis?

Kalau jawabannya tidak, jangan mencari guru lagi. Guru menulis itu ya diri sendiri, dengan menulis apa yang hendak ditulis. Akan lebih konyol lagi berguru kepada mereka yang tidak pernah menulis. Ada kawan yang minta nasehat kepada ‘senior’ atau pejabat kampus menulis buku padahal yang dimintai saran belum pernah menulis atau menulis buku. Sudahlah, Indonesia sudah terlalu lucu.

Konsisten Menulis
Kalau self-image mantap, dan akan lebih mantap kalau sudah sampai ada bukti karya, tugas selanjutnya adalah konsisten menulis. Jangan cepat puas. Jangan sampai terjadi, tulisan pertama, buku pertama, novel pertama, adalah karya pertama sekaligus yang terakhir. Penyakit sedemikian banyak diidap mereka yang bergelar sarjana. Skripsi adalah karya tulis akademik-ilmiah satu-satunya. Setelah itu tidak berani lagi menulis. Apa pasal? Nanti akan saya tulis kenapa dan mengapanya.

Kalau konsisten menulis satu tulisan dalam sehari, sebulan akan ada 30 tulisan, atau setahun 350 tulisan, dan dalam sepuluh tahun sampeyan punya lebih empat ribu tulisan. Kalau satu buku secara pilahis memuat 30 tulisan, dalam sepuluh tahun sampeyan bisa punya 300 buku lebih? Ya, setidaknya menyusun 10 buku bukan hil yang mustahal. Cobalah hitung sendiri, he … he … Melamun boleh saja kog.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 11 Juli 2007.

  1. 5 Responses to “Menulis Membangun Self Image”

  2. By hanna on Jul 12, 2007 | Reply

    he3, jadi semangat lagi nih.

  3. By Al Fahm on Jul 12, 2007 | Reply

    terima kasih atas motivasinya…insya Allah

  4. By mathematicse on Jul 12, 2007 | Reply

    Ya… belajar menulis dengan menulis itu banyak benarnya. :D
    Benar juga bahwa untuk bisa menulis, untuk bisa mengeluarkan ide, kita perlu membaca. Tanpa membaca, kecil kemungkinan bisa menulis. Karena pada dasarnya membaca adalah suatu upaya untuk menambah amunisi yang akan digunakan untuk menulis…

    Di perguruan tinggi, banyak akademisi yang sangat kritis. Bila sedikit saja kita menulis dan ada sedikit kekeliruan, wah bisa habis dikritisi oleh mereka. Padahal yang suka mengkritisi itu ternyata benar-benar kritis (kritis dalam artian hampir ga punya karya tulis, artinya kuantitas(and kualitas) karya mereka kritis gitu loh… kritis = memprihatinkan… minim karya). :D

  5. By toni februari on Jul 12, 2007 | Reply

    yapp proses..pak heeeee yeahh nuhun pisan pak

  6. By ridlo on Jul 31, 2007 | Reply

    yah…thank’s buat semangatnya…

    Jujur sebenarnya pada saat ini saya dalam keadaan bimbang..- dalam arti keadaan self-image- yang semakin hari-semakin menurun..
    Yah ini semua berawal dari suatu peristiwa..-yg ga bisa saya sebutkan

    Uhm.saya juga sangat tertarik untuk menjadi penulis..
    Yah memang saya akui..saya pernah hanya puas sekali saja terhadap satu karya tulis yg pernah saya tulis di rubrik school magazine..hanya itu.!!

    Tapi setelah saya membaca artikel ini..saya rasa..memang kita tidak pantas untuk puas terhadap suatu karya tulis yang baru di tulis perdana..kita harus terus berlatih..dan berlatih…agar dapat menciptakan suatu tulisan yang ‘briliant’ dan membentuk sel-image yang positif.

Post a Comment