Menulis Megoreksi Kemampuan
12 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis membangun kemampuan, atau membangun kemapuan menulis, barangkali terlalu kuat pilihan katanya. Kalau dikaji secara kamusis bisa jadi meluangkan ruang untuk perdebatan, tetapi tidak mengapa, kita berhak saja. Saya malahan lebih maju lagi agar dijadikan labuan diskusi, menulis mengoreksi kemampuan.
Dalam tulisan ini mengoreksi kemampaun dihujamkan ada hal-hal sedehana. Saya terkesan dengan seorang penulis (pemula) manakala menulis kosakata ‘yang’ dengan memendekan menjadi ‘yg’. Yg seolah dijadikan ikon diri. Ada tiga tulisannya yang dikoreksi. Tulisan pertama diperbaiki menjadi yang. Pada tulisan kedua ditulisnya lagi yg, saya koreksi, dan pada tulisan ketiga ditulisnya lagi yg.
Saya mengambil kesimpulan, orang ini susah membangun kemampuan menulis kata. Bayangkan dalam satu tulisan dia menulis sekitar 20 kata yg tanpa memperdulikan bagaimana tukang koreksi berpayah-payah hanya sekadar memperbaiki kata yg.
Ada pula seorang penulis (pemula) kalau ada kata yang dianggapnya penting ditulis dengan huruf kapital. Misalnya, kalau kita mau menulis dengan baik harus banyak MEMBACA. Saya perbaiki menjadi membaca, pada tulisan berikutnya dia tulis kata lain dengan huruf kapital. Saya pikir orang ini juga susah dibimbing agar dirinya mengajarkan dirinya.
Tepatnya, susah mengoreksi kemampuannya menulis kata.
Ada pula yang tidak kalah hebat, kalau menulis koma (,) bukannya pada ujung kata —contohnya, contoh, tetapi contohnya ,contoh. Kalau sehari saya harus mengoreksi sepuluh tulisan, biasa-biasa saja, tidak stress, tentu termasuk orang yang kuat he … he … Ya, sabar, namanya saja motivator.
Tetapi, apabila mereka sudah terbiasa menulis, akan dilepas bebas. Artinya, kalau kesalahannya itu-itu saja, sharing menulis jadi tidak ada gunanya. Lebih baik menjadi pemotivasi ‘luar’ yang tidak perlu sampai memfasilitasi mengedit, mematangkan ide, mengirim ke media cetak. Saya tentu tidak mau menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.
Berguru ke Erwin
Dulu, Erwin Dede Nugroho sering menasehati tentang bagaimana harus apik menulis kata. Kata ‘sekedar’ jelas berbeda dengan ‘sekadar’, ‘kog’ dengan ‘kok’, atau ‘justeru’ dengan ‘justru’. Kini lebih paham, begitu susahnya dan menyebalkan mengedit tulisan dari orang yang sama dengan kesalahan itu-itu saja.
Kalau saya, bukan membela diri, karena terlalu cepat menulis sementara tidak melatih diri mengetik 10 jari. Hanya berkemampuan mengetik 11 jari, jari telunjuk kiri dan kanan. Karena ingin cepat, hendak menulis huruf a yang tertekan di keyboard komputer s, k jadi l dan seterusuya. Dan, saya punya penyakit, malas mengoreksi tulisan. Menghabis-habiskan waktu.
Setelah memotivasi banyak orang, kemudian mengoreksi tulisan banyak orang, mengamini nasehat Erwin, kemampuan menulis kata perlu ditingkatkan. Ya, redaktur mana yang mau menghabiskan waktunya untuk sekadar memperbaiki kesalahan penulis yang itu-itu saja.
Itu baru soal kata. Lain hal kreasi atau kreativas dan pengembangannya. Ambil misal registrasi EWA’MCo. Perhatikan bagaimana beberapa orang membuat biodata, curriculum vitae, atau riwayat singkat. Intinnya kan memperlihatkan ‘inlah saya’. Cara minimalis yang dilakukan sebagian besar register sungguh tidak memberi gambaran yang diinginkan.
Saya pernah menulis, penulis itu adalah kreator, inovator dalam merangkai kata membuat kalimat. Kalimat seseorang berbeda dari orang lain, sebab keluar dari pikiran yang berbeda. Kalau di diri (calon penulis) lebih menonjol sifat peniruan, hal asasinya hilang. Karena itu, ketika menulis jangan ada referensi apa pun.
Setelah dibiarkan dua pekan, tidak seorang pun mengirim perbaikan. Ada yang mengirim tulisan beruntun, tanpa registrasi. Bagaimana akan diperhatian, kalau sekadar mengirim foto saja tidak mau. Hal-hal sederhana tersebut, sekalipun kelihatan sepele, dalam katup ini sangat berarti dalam pemahamanan, ada prosedur tertentu yang harus kita ikuti dalam kehidupan, yaitu membangun dan mengoreksi kemampaun.
Maksud saya begini. Setiap karya tulis yang kita hasilkan sebaiknya dianalisis untuk perbaikan, agar tulisan berikut lebih baik. Jangan sampai membiarkan atau melestarikan kesalahan atau kekurangan. Lagi pula, ini bukan tugas yang harus disetor. Intinya, belajar membelajaran diri sendiri menulis. Menjadi manusia pembelajar.
Itulah pesan sesungguhnya menulis itu dari diri sendiri, dari dalam jiwa, dari tuangan pikiran. Dengan kata lain, yang menentukan sesorang menjadi penulis baik adalah kepiawaianan, kecermatan, kelihaian, sampai kemampuan memprediksi apa yang disuka dan apa yang tidak dimau orang lain. Kalau hanya untuk dibaca sendiri, suka-suka sajalah.
Koreksi Diri
Saya ingin mengatakan, dalam pandangan lebih jauh, mengoreksi tulisan sendiri pada dasarnya mengoreksi diri. Sebab, kalau pertanyaannya sudah bermuara pada mengapa saya menulis seperti ini, seperti itu, jawabannya ada pada pola pikir. Sampeyan tidak bisa memaksa seseorang menyenangai tulisan Ersis misalnya, karena senangnya membaca tulisan anak SD.
Menulis, apa pun argumennya, apalagi yang dilepas ke wilayah publik, tujuannya tentu supaya dibaca khalayak. Jarak antara diri (penulis) dengan khalayak itu yang akan dijembati. Tidak masuk akal sama sekali kalau frekuensinya tidak nyambung. Agar frekeunseinya saling berkoneksi, ya pakai bahasa-bahasa sepaham, cara dan ‘ilmu’ sepaham. Kalau nyomplang ya tidak bakalan nyambung.
Apa yan ditulis, katakanlah message, dari penegirim pesan dimaksudkan agar sampai ke penerima pesan, dari penulis ke pembaca, harus dirakit sedemikian rupa supaya mudah dipahami. Untuk itu diperlukan kemampuan bahasa, dari kosakata sampai langgam. Keterampilan semacam ini yang dilatih. Dalam bahas ringkas saya, melatih menulis dengan menulis.
Kandungan pesan yang ingin saya landaskan —bukan tandas lo, di Malaysia tandas artinya kencing—.diperlukan koreksi tulisan, koreksi diri. Pada hal-hal tehnis bisa jadi hanya soal salah tekan keyboard, tetapi kalau soal konsep, bisa lain ceritanya.
Suat kali seorang teman, katanya tamatan S2, bersemangat membuat tulisan tentang aktor intelektual. Wah bersemangatlah kawan membahas tentang aktor yang punya intelektual hebat. Padahal itni permasalahan adalah aktor intelektual dalam kandungan maskud siapa di belakang layar peristiwa. Kacau. Kenapa sampai terjadi.
Karena si penulis tidak cukup cerdas memahami konsep, bisa pula karena memag malas membaca. Sehingga, apa yang dia tulis tidak sama dengan apa yang dia maksudkan, dan menjadi lucu bagi yang memahami konsepnya, dan celaka bagi yang tidak punya pengetahuan.
Sama dengan pemahaman Sampeyan tentang alat vital yang ekuivalen dengan alat kelamin. Memangnya kalau alat kelamin tidak berfungsi Sampeyan mati? Tidak kan. Tapi, kalau jantung, paru-paru, dan hati tidak berfungsi, oi … artinya wassalam. Itu baru alat vital di tubuh mansuia namanya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 Juli 2007.









5 Responses to “Menulis Megoreksi Kemampuan”
By mathematicse on Jul 13, 2007 | Reply
Seringkali tulisan diri sendiri, yang sudah dikoreksi sendiri, dibaca berulang-ulang, masih ada saja yang keliru. Masih ada saja yang luput dari perhatian. Tanya kenapa?
By Al Fahm on Jul 14, 2007 | Reply
terimakasih, Pa .
By kakawanan on Aug 9, 2007 | Reply
Sampeyan termasuk pemberani pak. Kenapa? tulisan sampeyan masih membingungkan,tapi banyak bukunya
By pegawai pemkot on Aug 9, 2007 | Reply
Bagaimana sampeyan mengoreksi tulisan orang lain, kalau tulisan sampeyan banyak salah ketik, bingung Pa!
By Ersis W. Abbas on Aug 9, 2007 | Reply
Makanya ngak mau jadi guru menulis, kalau memotovasi ya. Menulis ya menulis saja, ntar kalau mau jadi buku, minta tolong koreksi isteri atau teman. Banyak yang suka nolong kog. Makanya ngak hobi mencela tulisan orang atau orang yang suka menulis. Saya selalu salut yang mau nulis, tapi ngak resfek ama yang hobi mencele.
Itulah kebodohan saya, malas ngoreksi tulisan. Mengoreksi memerlukan enerji yang sama dengan menulis. Kepada yang sharing menulis, saya pesan jangan ngambil yang jelek, kalau ada yang bagus, silahkan kembangkan.
Oh ya, bagi penulis pemula saya tolong ngoreksi logika dan paparan. Lucunya, kadang sangat serius agar mereka tahu salahnya dimana, dan … nanti perbaiki sendiri. Biasanya sampai 5 tulisan. Untuk tulisan sendiri ngak mau, tapi … bagi mereka yang serius belajar membelajarkan diri sendiri, sangat serius. Biasanya hasilnya bagus, makanya punya teman menulis dari seantero Tanah Air. Kalau Sampeyan punya saran konstruktif kontributif ya tolonglah saya, biar lebih bagus menulisnya. (Pro Maz Pegawai Pemkot)
Nah, kalau soal bingung membaca tulisan saya, saya ngak bisa komentar. Kata banyak orang sih justru ngak membingungkan, makanya banyak yang suka baca. Coba, web saya diklik hampir 2000 per bulan alias sehari antara 50 sampai 100. Atensi dari berbagai penjuru, dan yang lebih mengembirakan, beberapa penerbit justru menghubungi agar mau mengirim naskah. Kalau yang ini saya memang bingung, kog tulisan jelek dari penulis ngak keru-keruan seperti saya malah dimintai naskah. Mohon sarannya ya (Pro: Kakawanan).
Sejatinya, sesuai pokok tulisan ini, sejatinya saya belajar mengoreksi tulisan, dan koreksi diri. Tapi, karena memang bukan orang genius, ya pelan-pelanlah. Saya punya obsesi kalau menulis itu ferfek gitu. Entah kapan jadi kenyataan. belajar semua itu, dengan menulis dan menulis.
Salam.