Buku Bangsa ‘Munafik Pendidikan’ (Best Seller)?

12 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Setelah buku Menulis Sangat Mudah beredar secara nasional, disambut hangat dan diapresiasi pembaca Tanah Air, terbesit pikiran menulis yang lebih dahsyat, mengarang buku berkategori best seller. Ersis menulis buku best seller? Kenapa tidak. Apa sih susahnya. Banyak orang tidak bersekolah mampu melakukannya, zeleq-zeleq begini tamatan S2 lho. Bukan sombong, tetapi menancapkan di pikiran, Insya Allah bisa.

Pertama, digoda menulis buku Hidup Nyaman (judul sementara). Bab Sabar sudah selesai sebagaimana telah dilansir di www.webersis.com. Bab Ikhlas sedang ditulis, dan tiba-tiba, bos besar penerbit Gama Media dan Mata Khatulistiwa ke Banjarbaru setelah melihat adiknya di Pulang Pisau. Mbak Arna, begitu panggilan akrabnya, ‘menyemput’ buku Menulis Mari Menulis yang koreksi damynya saya tahan.

Buku tersebut ditahan berbulan-bulan dan tidak mau berkomunikasi dengan pihak penerbit. Ketika mBak Arna bilang: Bang, marahnya. Saya jawab, bukan marah tapi mutung. Akhirnya naskah buku itu dibawanya ke Jogya untuk langsung dicetak.

Menulis buku Nyaman Hidup ditangguhkan sembari membaca berbagai sumber. Buku tersebut berlandaskan pemahaman kontemporer berbasis Al-Quran dan hadis Rasulullah. Jadi, agak serius. Lagi pula, saya targetkan diterbitkan tahun 2008. Daud Pamungkas menganjurkan melauching 20 buku sekalian biar tercatat di MURI. Buku saya belum pernah dilaunching padahal jumlahnya dalam hitungan puluhan.

Kedua, karena banyaknya pertanyaan dari mereka yang berkeinginan menulis, saya kebut menulis seri ketiga buku tentang menuls. Minimal dua artikel diselesaikan dalam sehari sehingga dalam dua minggu selesai. Ya seperti terpajang pada  www.webersis.com Calon Buku Menulis sudah cukup syarat menjadi buku. Silahkan kalau ada yang punya ide memberi judulnya.

Menulis buku tentang menulis, mudah saja. Saya tulis mengisi liburan. Targetnya bukan menjadi best seller, tetapi kalau bernasib baik seperti seperti buku Menulis Sangat Mudah, ya sudah dua kali cetak, kini bersiap-siap cetakan ketiga, tidak ada salahnya juga. Tugas saya hanya menulis, dan itu sudah tertunai. Tanpa ada target-targetan.

Tetapi, menulis buku best seller, adalah hal yang ditargetkan secara sadar. Ini fenomena baru dalam kegiatan menulis saya. Kalau berhasil syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Yang perlu diperhatikan bukan ‘akan’, sekali lagi bukan ‘akan’ menulis, tetapi sudah menulisnya. Yang menjadikan best seller pembaca, bukan saya. Jadi, berpikir sesuai keududukan dan fungsi masing-masing.

Ketiga, kemaren (11 Juli 2007) saat menyetir, tiba-tiba muncul ide menulis buku perihal pendidikan, bidang yang saya kuasai. Judulnya Bangsa Munafik Pendidikan. Saya menoleh jam mobil, 12.15. Ketika sampai di Gambut, jam mobil menunjukkan angka 12.45. Buku sudah jadi. Jadi dalam bentuk tulisan di otak, tinggal menyalinnya dalam bentuk tulisan. Apa isinya?

Munafik Pendidikan
Mengambarkan bagaimana prilaku munafik bangsa ini dalam memaknai pendidikan. Sama saja kelakuan mereka yang pejabat, berpendidikan, orang kaya, apalagi yang miskin, semua menuntut pendidikan, tanpa mau berkontribusi. Bangsa ini sudah menjadi anak durhaka pendidikan, seperti durhaka kepada bangsa.

Indikatornya sangat jelas. Bayangkan, mereka-mereka yang berhasil, apakah jadi ilmuwan, pengusaha, pejabat, atau koruptor yang hebat-hebat itu, adalah hasil jerih payah guru. Pikirkan, orang-orang beruntung sedemikian, tidak mau memperhatikan nasib guru, kesejahteraan guru. Dasar tidak tahu dri.

Perhatikan sikap pemerintah dan DPR, kog berani-beraninya melanggar UUD untuk tidak melakukan kewajiban mealokasi anggaran pendidikan 20% dalam APBN. Konstitusi saja dilanggar berjamaah, dan anak bangsa cuek-bebek saja menonton pelanggaran konstitusi. Bangsa macam apa kita ini.

Kenapa begitu sulit memperhatikan pendidikan, padahal tiap hari para pejabat berpidato berapi-api meningkatkan kualitas SD. Seluruh Visi-Misi kepala daerah menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Faktanya, sekolah masih banyak yang mempritinkan, siapa yang bernai mengatakan sarana dan prasana, fasilitas pendidikan sudah memadai. Proyek pengadaan buku saja dikorupsi. Keterlaluan.

Lihat pula sikap penerbit, yang konon katanya ikut mencerdaskan bangsa. Harga buku tergolong mahal di tingkat dunia, berlipat-lipat dari harga buku di India. Aneh. Tidak pelak lagi, seperti pejabat yang mengorupsi proyek buku, tujuan mereka jelas, mencari keuntungan sebesar-besarnya. Wajar harga buku begitu mahal.

Pemerintah, pusat dan daerah, apalagi DPRD, lebih mudah menganggarkan studi banding, kunjungan kerja, atau apalah namanya dari menyiapkan buku untuk pendidikan. Kalau sampeyan ke Singapua, manusia Indonesia adalah pedoyan belanja apa saja —emang Singapura punya pabrik?— tetapi tidak untuk membeli buku, he … he … Lucunya, konon yang djual di Singapura dibuat di Indonesia.

Hal terbaru paling aneh, katanya guru-guru Indonesia kualifikasinya rendah, profesionalisme dipertanyakan, karena itu harus diuji kompetensinya, harus bersertifikat. Ok lah, guru-guru yang dimalangkan itu, tetapi ternyata hasil kerjanya yahud. Mudah-mudahan bukan karena curang. Kalau UN yang katanya terstandar dijadikan indikator, apa lagi yang dikeluhkan. Peserta UN, hasil kerja guru, tingkat kelulusannya hampir 100%. Apa tidak hebat?

Logikanya, kalau kualifikasi ditingkatkan, kompetisi dimantapkan, sarana dan prasarana dilengkapi, jangan-jangan tingkat kelulusan nantinya 1000% (artinya kita tidak paham prosentase). Lain halnya kalau dimaknai sebagai proyek, kan banyak yang kecipratan rezki tambahan. Soal kapan kesejahteraan guru menjadi kenyataan, itu soal nanti. Guru Indonesia adalah guru yang hooh dan hooh saja.

Belum lagi soal penempatan mereka yang mengurus pendidikan, memenej guru. Dari Dinas Pendidikan terendah, sampai menterinya, bukan dari kalangan akar pendidikan. Ada joke, menteri pendidikan tidak perlu dari orang yang berakar pendidikan sebab bisa dijabat siapa saja, asal bukan dari mereka yang beakar pendidikan.

Kalau ada waktu, kalau pemerintah punya data base yang baik, dapat dipastikan lebih 99% kepala dinas pendidikan bukan dijabat oleh orang-orang berpendidikan kependidikan. Hadis Nabi Muhammad SAW, kalau pekerjaan tidak diurus ahlinya, tunggulah kehancuran.

Daya pikir dan antisipasi ke depan juga lemah. Aparat birokrasi kini banyak yang berendidikan S2, bahkan S3 (emang penting birokrat menjadi ilmuwan?). Lucunya, tidak ada yang berpikir untuk menyekolahkan, misalnya S2 keilmuan pendidikan agar lebih mantap jika ditempatkan di jajaran birokrasi pendidikan. Sungguh lucu.

Dilengkapi dengan fakta di lapangan, apalagi saya telah menulis di media cetak, kalaulah tidak ratusan, puluhan hal tentang pendidikan, yakin saya mampu menulisnya. Kalau begitu, buat apa ditulis disini? Apa untuk pamer? Bukan, bukan pamer atau sok bisa.

Tujuannya, kalau Sampeyan punya ide, silahkan menulis prihal itu kira-kira empat alinea. Dalam bentuk komentar cukup asal berdasarkan ide segar dan dilengkapi fakta lapangan. Saya akan mengutipnya, dan … kontribusi Sampeyan mana tahu betul-betul mendukung maksud saya menulis buku best seller. Mana tahu, lho.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 12 Juli 2007.

  1. 3 Responses to “Buku Bangsa ‘Munafik Pendidikan’ (Best Seller)?”

  2. By Anang Banjar on Jul 12, 2007 | Reply

    Bapak ERsis yang terhormat… Munafik itu menurut sampeyan yang seperti apa bentuknya??? Apakah anda pernah menemukan kemunafikan itu di dalam diri anda sendiri??? Jadi,… berkacalah dulu sampeyan sebelum termunafikkan oleh pikiran-pikiran anda sendiri… he…hee…he.. Oh, saya ingat ada seorang ahli filsafat asal Yunani yang mengatakan bahwa “Orang yang hebat adalah orang yang dapat mengeluarkan munafik dirinya, dan memperlihatkan bahwa ia sebaik-baiknya orang pilihan…” Kalo bisa sih, janganlah kita memunafikkan orang lain, apalagi sama diri sendiri…??? Setuju nggak Sampeyan…???

    ***Ho oh, kalau Sampeyan bertanya pada saya, jawabannya pernah. Misal, sebagai dosen seharusnya menunaikan tugas itu dengan sungguh, tanpa alasan apa pun. Ketika sadar perlu hidup lebih layak, saya bikin kolam ikan dan kandang ayam. Ada kalanya karena memelihara ikan tugas sebagai dosen nomor dua. Atau begini. Saya penganut Islam, seorang muslim. Pernah meninggalkan sholat (Jumat) dengan sadar. Semoga Allah SWT mengampuni dan memberi petunjuk. Banyak lagilah. Saya hanya mampu berusha menghilangkannya. Kacanya memang agak buram.

    Saya setuju, saya bukanlah orang hebat, hanya orang yang suka berpikir dan menggunakan pikiran. Saya setuju. Sangat setuju. Bersykurlah Sampeyan kalau (sudah) terbebas dari kemunafikan. Saya baru belajar. Terlepas munafik itu macam-macam ragamnya.

    Dalam kaitan buku “Bangsa Munafik Pendidikan” itu diangkat dari fenomena yang dapat dilihat secara nyata, entah kalau penglihatan saya kabur, maklum sudah semakin tua nih. Keterbetikan ketika nyetir itu membuahkan ide, ya saya tulislah. Kan nyrempet-nyrempet tu. Buku-buku best seller (lahir) satunya karena hal demikian. Saya pengin coba, gitu.

    Dapat satu ide, kalau begitu beri tanda kutip dan tanda tanya, he … he … Maksih.

    Bagaimana menurut Sampeyan?

    Salam

    Ersis Warmansyah Abbas

  3. By mathematicse on Jul 13, 2007 | Reply

    Wah saya tersaingi Om Ersis dong. Tiap hari saya usahakan untuk menulis 3 artikel tentang matematika atau pendidikan matematika (mumpung lagi liburan sekolah nih, walau terkadang kecapean juga). Tapi ga apa-apa.. makin ada saingan makin kuat saya memompa diri agar lebih cepat menulis.

    Ok, mengenai masalah pendidikan.

    Saya pernah ikutan ngobrol/diskusi sama orang-orang (di kampus). Kebetulan topiknya tentang itu tuh, kenapa orang-orang yang ngurusi tentang pendidikan baik yang duduk di pusat atau di daerah itu bukan dari orang-orang yang berbasis pendidikan. Jawabnya sederhana.

    Pertama, karena orang-orang yang lulusan dari kependidikan dianggap kurang pinter, diangggap kelas rendahan, dianggap kualitasnya nomor dua oleh mereka-mereka yang lulusan perguruan tinggi (yang katanya) ternama.

    Kedua, kurang punya jaringan yang luas jadinya kurang banyak didukung oleh pejabat lain. Kalaupun ada satu dua yang jadi pejabat, kurang bisa bekerja sama dengan orang yang juga berbasis pendidikan. Artinya, masih banyak memikirkan diri sendiri, cari aman dewek.

    Ketiga, kurang pandai menggebrak dalam hal visi and misi, terlalu banyak mikir ini-itu, kurang gesit, kurang keberanian, penakut, ide-idenya mudah dimentahkan.

    Keempat, kebanyakan orang-orang yang lulusan dari perguruan tinggi berbasis kependidikan merasa rendah diri, kurang percaya diri, terlalu meendah, sehingga mudah direndahkan oleh orang lain, dilecehkan oleh mereka. Jadinya kurang mendapat kepercayaan.

    Kelima, kalau orang pendidikan jadi pejabat, ide-idenya terlalu teoritis kurang praktis… dan masih banyak lagi alasan lainnya, cuma saya ingat-ingat lupa….

    Waktu mendengar hal itu, sebenernya panas juga telinga saya ini mendengarnya. Tapi bila dipikir-pikir, ada benarnya juga….

  4. By Anang Banjar on Jul 14, 2007 | Reply

    Yaa… itulah hidup, semua orang pasti perlu belajar juga untuk menghilangkan munafik dirinya…??? Maklum2 juga toh, kita kan juga manusia???he…he.. pasti ada khilafnya kan??? Oh…, mengenai rencana anda yang mau menulis buku best seller atau semacamnya lahh, saya kira setuju2 aja?? Tapi sampeyan janganlah memunafikkan realita yang ada yaa…??? Ntar sampeyan malah kena damprat???he..hee.. Malah mungkin saya sendiri nanti yang mendamprat anda apabila tulisan sampeyan nggak mencerminkan fakta2 yang ada???he…hee… Malu2in dech kalo kita salah kaprah??? Betul nggak???he… Selamat yaa.. Ntar kapan2 kita bahas toh hasil karya sampeyan bareng teman2 yang lain???
    Salam Hormat…

Post a Comment