Menulis Tentang Tulisan

11 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TULISAN Menulis Cepat mendapat reaksi, atau tepatnya apresiasi banyak orang. Ada yang mengomentari pada bagian komentar www.webersis.com., email, SMS, telepon, atau disampaikan langsung. Sejauh mengenai batang tubuh, interperetasi, atau pandangan dan pendapat, perihal tulisan tersebut, tentu tepat landas saja. Tetapi, ketika dihadapkan pada saya (Ersis) dalam arti bagaimana saya menulis maknanya jadi lain.

Maksud saya begini. Tulisan Ersis adalah dua hal yang berbeda dengan Ersis. Bahwa dalam tulisan Ersis disitu ‘ada’ Ersis, ya iyalah. Namanya saja tulisan Ersis. Saya sering menulis, bahwa tulisan adalah gambaran diri. Apa-apa yang ada dalam diri —pandangan, pendapat, keinginan, ide, dan seterusnya— itulah yang terpantul dalam tulisan. So, bak janggut pulang ke dagu.

Tetapi, bagaimana Ersis menulis, memakai alat apa, metode apa, dimana, atau mengapa, itu hal lain. Sekali lagi, antara Ersis dengan tulisan Ersis, dan bagaimana Ersis menulis, adalah hal yang berbeda. Ada tiga pilahan dalam ‘satu’ Ersis.

Ketiga pilahan tersebut harus dipahami secara benar dan tepat. Kalau tidak, bisa ngawur memahami makna tersirat dan tersirat. Boleh saja koruptor banyak yang ‘bergelar’ haji (emang siapa yang kasih sertifikat haji, he … he …). Tetapi, kita harus mampu membedakan antara orang yang memakai ‘gelar’ haji itu, yang korupsi itu, dengan pengertian haji sebagai kewajiban agamis, dan bagaimana seseorang melaksanakan haji.

Yang terakhir, adalah tentang sesorang melakukan apa, bagaimana, mengapa, dimana, kapan, dan seterusnya. Tanpa, melanggar hal-hal yang lazim tentunya. Tentang bagaimana itulah yang sedang saya kembangkan menjadi Ersis”s Writing Theory.

Harap diingat, sebagai motivator, banyak memapar ‘bagaimana’ Ersis menulis. Mengutarakan apa yang dialami, dari pengalaman menulis. Bagi saya, the experience the best teacher, dan … setiap orang punya potensi menulis. Potensi, the sleeping giant itu perlu dibangkitkan, dimotivasi. Pengalaman —termasuk pandangan dari sebelum dan sesudah menulis— menjadi contoh, minimal illustrasi penguat.

Tulisan berikut, adalah tulisan yang ditulis tentang bagaimana memaknai tulisan, membedakan mana yang tulisan, mana yang bagaimana menulis. Mudah-mudahan bermanfaat dalam sharing menulis. Menulis memang perlu dibiasakan, dilatih hingga menjadi habit, akhirnya jadi mudah dan memudahkan.

Membaca
Seperti diutarakan pada tulisan Menulis Cepat, saya bukan pemer, apalagi beriya-riya. Ampun ya Allah. Coba simak, bisa cepat menulis karena banyak membaca. Membaca, sejak kecil menjadi hobi utama.  Kalaulah tidak akrab dengan Rudy Resnawan, Walikota Banjarbaru, mungkin tidak akan pernah berpakaian normal. Dulu, sampai punya anak dua, cukup punya dua jins belel, beberapa baju putih, sepatu sandal, dan hidup agar tetap hidup. Tidak pernah membelikan isteri baju.

Merasa ada yang kurang, yang tidak beres, kalau tidak membaca koran, majalah, atau buku-buku baru. Membeli surat kabar, buku, majalah serius sampai yang porno. Saya baru merasa menjadi saya ketika dan setelah membaca.

Muatan pesannya, kalau ingin menulis, apalagi jadi penulis, wajib banyak membaca. Kalau tidak, jadi pelamun atau ‘tukang omong’ saja. Tidak perlu berjuang, berkorban, atau membaca banyak hal. Atau, menjadi pegritik atau pencela tulisan (karya) orang. Modal dengkul cukup, bisa seolah-olah menjadi orang paling hebat. Kebetulan pula mangajar di peguruan tinggi dengan mata kuliah yang bersangkut paut dengan menulis. 

Agar menulis lebih mudah, berusaha memiliki alat (komputer, notebook, dan HP) yang mendukung. Itu dijadikan prioritas, pilihan dalam kehidupan. Tidak membeli baju, membangun rumah bagus, dan seterusnya. Kalau kekayaan, tidak ada apa-apanya dibanding teman-teman di kampus. Apalagi dibanding orang-orang kaya. Rezki dirioritaskan untuk mendukung kesenangan, membaca dan menulis. Itu pun didapat setelah tua begini.

Pesanya, kalau ingin menulis, usahakan dan siapkan alat pendukung. Lagi pula, bertekad tidak menggunakan sarana lembaga (negara) untuk kepentingan pribadi. Bahkan, peralatan kantor milik saya, PK GAGAH Group penerbit Bandjarbaroe Post, jarang disentuh.

Memotivasi

Jelaslah sudah, tulisan Menulis Cepat dimaksudkan untuk memberi tahu, begitulah hinga bisa menulis cepat. Padahal, belum cepat amat. Gus Dur —dulu— jauh lebih cepat. Dengan kata lain, itulah pengalaman saya. Semangatnya menulis cepat itu yang perlu diadopisi. Itu maksud saya.

Nah, kalau ada yang tertarik, please mengikuti atau menkreasii lebih yahud. Jadi, tidak ada kaitannya dengan pantas saja Ersis menulis cepat karena alatnya ada. Kalau aku ada alat bisa lebih cepat dari Ersis. Nah, ini salah tangkap, salah memaknai. Cara saya sedemikian, kalau mau silahkan ambil manfaatnya, kalau tidak mau abaikan saja.

Jangan sampai peluang komparasi yang dingangakan. Saya lebih nyaman tidak dibandingkan dengan siapa atau apa pun. Ersis adalah Ersis yang punya kiat, belajar dari siapa saja dan dari mana saja. Hal ini sangat hakekatis. Belajar atau mengambil manfaat dari hal yang berguna, bukan membanding dengan apa pun.

Saudara-Saudara sekalian. Menemukan ‘cara’ menulis bukanlah hal mudah, mendapatkan starting point, merengkuh motivasi, mendapatkan hidayah menulis, tidak seenteng yang Sampeyan bayangkan. Kalau gampang, sudah berjuta-juta orang yang berkeinginan menulis mampu menulis dengan sukses. Tetapi, fakta berbicara lain.

Kiat-kiat, atau resep yang saya peroleh dalam jangka panjang itulah yang ingin disampaikan, dibagi-bagi (gratis), moga-mogaan orang tidak perlu seberdarah-darah saya hanya sekadar untuk menulis. Itu inti paling pokok dalam peran sebagai motovator.

Terkadang muncul juga pikiran lain, ngapian berbagi pengalaman, kenapa kog tidak seperti penemu resep makanan, dipakai sendiri. Wah, nampaknya saya terlahir bukan dalam pandangan sedemikian.

Jadi, kalau dianggap ada manfaatnya, silahkan ikuti tulisan-tulisan saya. Tulisannya, silahkan dibedah atau dicincang, tetapi ‘bagaimana’ menulis, adalah hibah yang saya berikan secara tulus kepada siapa saja yang mau mengambil manfaatnya.

Jujur saja, kalau hal luhur sedemikian disoal, sungguh disayangkan. Sekalipun demikian, dari hal yang disalahartikan saja, lahir tulisan, he … he …

Hal ini membuktikan, menulis itu begitu mudah. Apa lagi yang ditunggu. Hayo ramai-ramai menulis. Tingalkan budaya melamun dan omong doang, tingkatkan menjadi menulis. Apabila Sampeyan tertarik tentunya.

Bagimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 11 Juli 2007.

  1. 5 Responses to “Menulis Tentang Tulisan”

  2. By toni februari on Jul 11, 2007 | Reply

    siapp pak… hehehehe ngerti-ngerti yapp

  3. By Al Fahm on Jul 11, 2007 | Reply

    yo ayo tulis

  4. By hanna on Jul 11, 2007 | Reply

    he5. ud ngeti deh,akan diperhatikan.trims ya.

  5. By Maghfira Mimi on Jul 12, 2007 | Reply

    hehehe pak,siip dah jadi tambah semangat nih.

  6. By mathematicse on Aug 20, 2007 | Reply

    Kenapa ya kalau baca tulisan bapak, saya bisa dengan sangat cepat membacanya? Saya juga ingin bisa seperti ini, bisa menghasilkan karya tulis yang mudah dibaca, enak dinikmati, renyah kata-katanya, bagaimana caranya ya ?

    Tampaknya benar sekali, bila ingin bisa menulis, banyak membaca adalah kunci utamanya. Rajin menulis adalah alat untuk mengasahnya. Siapa rajin, siapa mau menulis, tampakanya bakal kesampaian deh cita-citanya jadi penulis.

    Tampaknya, saya pun ingin berkonsentrasi jadi penulis beneran nih, Pak.

Post a Comment