Menunggu Bohong

9 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Toni Febrianto

Pagi itu ibu bangun lebih dulu dibanding ayam Bi Kokom. Adzan Subuh baru saja selesai. Seusai shalat, ibu mengerjakan tugasnya sebagai kepala keluarga. Hampir setengah tahun sudah kami ditinggal ayah. Ayah menceraikan ibu. Ayah mendapatkan cinta baru di luar sana. Ah, berat benar tugas ibu. Aku hanya bisa bergumam.

Pagi itu wajah ibu agak berbeda dari biasanya, seperti ada yang disembunyikan. Ibu seperti terburu-buru mengerjakan tugasnya di dapur.
  
“Air dan nasi sudah matang Jang”.
“Apa lagi yang belum ibu kerjakan ya?”
“Oh iya … baju kotormu masih belum dicuci ya?”
“Biar nanti siang saja. Sekarang mandi dulu. Ibu menyetrikakan bajumu .”

Aku bingung. Ibu memberi tahu, bertanya, memerintah, menjadi satu tanpa ada kesempatanku merespon. Penasaranku semakin menjadi. Ibu terlihat sangat serius mengerjakan semuanya. Padahal, dingin pagi masih membalut. Keringatnya menetes, keningnya bercahaya.

Ada yang aneh. Pertanyaan demi pertanyaan menghimpit di kepala. Baju yang disetrika ibu bukanlah yang biasa kupakai untuk bermain dengan Si Engkus dan Si Menik. Ibu menyeterika baju yang kupakai untuk shalat ied dua bulan lalu, baju baru yang di belikan ibu dari pasar Cimahi. Ibu mau mengajakku kemana?

Kusimpan aneka pertanyaan tentang ibu. Cepat-cepat mandi. Dingin, dingin sekali ketika air menguyur tubuhku. Selesai mandi bergegas masuk kamar, dan ibu menyusul menenteng baju yang sudah rapi. Tapi, aku bukan disuruhnya memakai baju itu. Ah … ada apa ini.

“Jang. Kalau bertemu Teh Ai bilang salam dari ibu ya”. Baju bergaris-garis kesukaanku dipakaikan ke tubuh mungilku. Maklum umurku baru enam tahun kurang satu bulan.

Aku ingat, kemarin ayah mengajak ke Tasikmalaya, ke tempat kakak tiriku dari istri pertama ayah, yang sudah ditinggalkannya empat tahun. Pagi itu, jam enam, aku cepat-cepat sarapan nasi goreng sangrai bikinan ibu. Tenggorokan agak sakit menelannya, nasinya agak kering, tetapi enak.
“Jang”, teriak ibu. “Cepat makannya. Bapakmu menunggu”.
“Iya bu.”
“Pakai sandal hitam itu jang”.

Ibu mengantar ke ujung jalan raya. “Hati-hati. Jangan minta ini itu sama bapakmu. Bapakmu tidak berani menjemput ke rumah, dan ibu masih banyak pekerjaan. Jadi, tunggu disini “, tegas ibu.

Aku menurut. Bambu rindang yang menjulang dengan hiasan nyanyian burung-burung pipit membuat pagi itu terasa nyaman. Sang Mentari memperlihatkan wajahnya, seperti piring seng milik Wa Odah, menghangatkan tubuh. Suara kehidupan mulai menggema, deru mesin motor dan angkot membuat hiruk pikuk.

Pikiran melayang ke bis besar yang akan membawaku ke Tasikmalaya, ke tempat Teh Ai. Aku tidak bisa membayangkan suasana rumah The Ai. Aku belum pernah mengunjunginya. Kubayangkan saja seperti rumah Wa Odah yang sejuk di Sarongge Wetan dengan pohon-pohon jambu yang berbuah lebat dan besar-besar.

Aku tidak sabar menunggu ayah. Lama sudah tidak pergi bersama ayah. Dulu pernah diajaknya ke Purwakarta, Cikampek, dan Soreang menjual pakaian jadi, hasil usaha konveksi ayah. Aku rindu ayah. Kumis tebalnya, bau keringatnya saat memotong kain dengan gunting besar dan tajam. Ah, kenangan yang indah.
  
Lama sudah aku jonggok sambil memeluk bungkusan baju muslim dari ibu untuk Teh Ai. Pegal sekujur badan. Aku berdiri sambil melihat-lihat angkot yang lewat, siapa tahu ayah naik angkot, atau naik ojek. Baju kotak-kotak kesayanganku perlahan dibasahi keringat. Pagi yang sejuk berubah panas. Ku tak tahu sudah jam berapa, yang pasti matahari sudah ingin mengusirku. Namun aku tetap membela kedatangan ayah. Harapku menahan untuk terus menunggu.

Ayah dimana? Tidak jadikah kita ke Tasik?. Pertanyaan harap itu adalah temanku menunggu. Sreeeeeeeeeeeet ada rasa sakit di dada, menyelinap tanpa permisi. Ada linu. Titik air mata keluar menyudahi. Aku lelah menunggu, terlalu lama. Rasa sakit semakin meresap di dada.

Ayah tidak datang, dan tidak akan pernah datang, kesimpulan hatiku. Kulangkahkankaki  pulang. Sandal kulit hitam bersih mengkilat oleh sapuan lap tangan ibu menjadi suram. Aaaaaaah, aku berguman.
  
Langkahku terhenti di depan rumah bilik, yah rumah bilik, rumah kami. Tersusun dari kumpulan bilik bambu. Kulihat ibu sedang menjemur pakaian.

“Jang. Kenapa belum berangkat? “, tanya ibu penasaran. “Ibu kira kamu sudah di tasik”, nada suaranya seperti marah.
“Ayah belum juga datang, aku tak kuat menunggu”.

Mendengar itu ibu menghentikan pekerjaannya. Lalu, duduk di depan pelataran rumah di atas tanah yang sebagian dipenuhi kotoran ayam. Ibu memelukku. Airmata keluar dari matanya. Tangan basahnya bekas menjemur cucian terasa dingin, tetapi rasa sakit di dada semakin mengalahkan. Aku menangis bersama ibu. Duh … Gusti.

“Sabar Jang. Ayahmu tak bisa dipercaya. Dia selalu ingkar. Dia selalu bohong”, kata ibu yang terasa sesak didengar.

Inikah yang disebut bohong, tanyaku dalam hati. Menyakitkan. Pelukkan ibu perlahan melemah. Tangannya menuntun masuk kerumah. Bajuku dilepaskannya. Tidak satu pun kata keluar dari mulutnya. Wajahnya berubah. Tadi pagi sangat cerah, bersemangat. Sekarang, ya sekarang, berubah pucat, matanya kemerahan mengandung sisa air mata.
    ***

“Kus .. pulang dulu yah. Au lapar nih”.
“Yap. Bambu ini ku simpan dulu ya”, jawab kawanku, Engkus. Anak Mang Usep, sopir biskota, tetanggaku. Capek juga bermain seharian.

Jalan ku gontai, maklum perut belum diisi nasi dari pagi. Bergegas masuk rumah lewat pintu depan. Tanpa salam, tanpa permisi, dan … alangkah kagetnya, ayah ada di ruang tamu. Aku tidak menyapa ayah karena ada ibu. Menundukkan muka berjalan ke dapur. Ayah dan ibu terdiam ketika aku melewati mereka. Sesampai di dapur me ngambil piring, dan … suara ibu dan ayah menghentikan niatku.

“Kau tidak punya perasaan. Kau biarkan anakmu menunggu. Adatmu tidak berubah. Tidak bisakah sekali saja menepati janji, demi anakmu. Dasar pembohong”, bicara ibu meninggi.
“Aku sibuk. Banyak pekerjaan”.
“Alah… sibuk mengurus istri barumu itu ya?”, ibu semakin garang.
Aku tak kaget. Dulu ketika ayah masih bersama ibu, mereka sering bertengkar. Aku tidak tahu apa masalahnya, yang pasti aku selalu rindu ayah, aku ingin selalu bersamanya.
    ***

“Assalamualaikum. Mang Ikin, ayah ada?”, tanyaku bersemangat.
“Ngak ada Jang. Tadi pagi pergi membeli benang”, jawabnya dengan suara cempreng. Mang Ikin pegawai konveksi ayah di rumah ibu tiriku, Bi dede. Berkali-kali aku ke rumah ayah. Ayah selalu menghindar. Padahal aku tahu ayah bersembunyi di belakang mesin jahit.

Kutahan rindu di dada. Aku tidak pernah bisa mengerti, kenapa ayah selalu berbohong, kepada anaknya, anaknya yang merindukannya. Duh, ayah. Biarlah ayah berbohong, akau tetap sayang, rindu dan merindukan ayah.

Kini usiaku hampir 18 tahun. Tiap berkunjung ke rumah ayah, dada ini selalu sakit seperti pertama dibohongi ayah, di ujung jalan itu. Ibu selalu marah jika aku menemui ayah. Tapi aku sayang ayah, aku rindu ayahku. Ibu tidak pernah tahu, bohong dan kebohong itu terus ku tunggu. Kutunggu dan kutunggu, … sampai berubah menjadi kejujuran.
 
Banjarmasin, 070707.

  1. 6 Responses to “Menunggu Bohong”

  2. By Maghfira Mimi on Jul 10, 2007 | Reply

    teruslah berkarya lewat tulis dan menulis.salam kenal dariku fira.

  3. By Al Fahm on Jul 11, 2007 | Reply

    Mmm…bagus juga cerpennya menyentuh ke suasana yang sebenarnya…

    salam tulis….

    Wassalam

  4. By hanna on Jul 11, 2007 | Reply

    sangat menharukan. begitulah rasa sayang,meskipun sakit,dia akan membuatmu terus menunggu ketidak pastian dan kebohongan.

  5. By adi FR on Jul 12, 2007 | Reply

    akang. cerpen yang kamu buat mampu menyentuh perasaan, sangat mengharukan. siapa yang membaca pasti akan tersentuh perasaannya,hebat,bagus..teruslah berkarya kang..

  6. By Pangeran Kegelapan on Jul 12, 2007 | Reply

    Fren,buktikan kepada ayah dan ibu mu bahwa kamu adalah anak yang yang bisa mereka banggakan…!!!Perlihatkan kepada dunia mereka, Aku bisa membangun keluarga Ku… Jangan pernah berhenti berharap dan berkhayal… Wujudkan khayalan di pagi butamu menjadi sebuah embun yang menyejukkan dedaunan di sekitarmu… Ingat Fren, aku yakin suatu saat nanti ayah dan ibumu menatap haru kepada mu…
    “Keep oN bLaCK MeTaL…!!!
    SALAM KEGELAPAN…

  7. By ryandinie'02 on Nov 5, 2007 | Reply

    akang..bagus..
    emang itu cerita nyata ya kang?klo iya nasib kita sama dunk…
    he…

Post a Comment