Menulis Cepat

9 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Seorang teman yang sedang chating dengan saya bertanya, kog menulisnya begitu cepat. Mungkin ketika menulis dia heran, tiba-tiba tulisan baru muncul di www.webersis.com. Wajar dia bingung. Bagi saya biasa-biasa saja, sebab sambil chating menulis. Tulisan ini saya tulis disela chating dengannya dan Dr. Jumadi. Chating sebagai selingan seperti lagu Mercys yang mengalun dari komputer.

Pertanyaannya, kenapa bisa menulis cepat? Jawabannya karena menulis dengan efisien, tidak membeban, dan tidak dijadikan sesuatu yang sulit. Dalam psikolog ini namanya self image.  Dalam pikiran sudah mapan tertancap prinsip, menulis itu mudah. Itu yang pertama.

Kedua, bukan sombong. Menurut pengakuannya, kepada mahasiswanya Daud Pamungkas berceramah, kenapa Ersis begitu cepat menulis? Sangat produktif. Karena, banyak membaca. Saya memang suka membaca sejak kecil. Investasi bacaan cukup memadai. Ini bukan dimaksdukan untuk riya, untuk pamer. Ini hal sesungguhnya. Tapi, masih banyak orang yang lebih banyak membaca dari saya lho.

Kesemua itu bukan tanpa pengorbanan. Membeli buku dijadikan prioritas. Sampai sepuluh tahun kawin belum pernah membelikan baju isteri, tapi kalau ke toko buku, isi kantong bisa langsung kempes. Saya punya beberapa ribu buku yang siap dicumbui manakal mau. Saya punya perpustakaan pribadi.

Ketiga, kedua saya mengajar mata kuliah Kurikulum (perencanaan), Antropologi, Metode Penelitian, dan Karya Ilmiah. Gelutan tugas profesional mengajarkan dan membiasakan mengamati apa saja yang dilihat, dirasakan, dan bahkan dianalisis pada tingkat sederhana di otak. Kesemua mata kuliah tersebut berujung ke penulisan.

Harap dicatat, saya menerbitkan Bandjarbaroe Post dan UnlamView dan sebagainya. Saya wartawan yang bergelut dengan kebasaan menulis (cepat). Meneliti berbagai hal bekerja sama dengan institusi pemerintah dan beberapa perusahaan. Dengan kata lain, investasi informasi cukup memadai. Jelas memudahkan menulis karena entry behaviore memang mendukung.

Keempat, sekali lagi mohon maaf, bukan dimaksudkan untuk bersombong-sombong, komputer sebagai alat menulis saya siapkan cukup changgih. Dengan HD 200 GB, memory 2 GB dan spesifikasi sepadan, memudahkan dan menyamankan menulis. Saya tidak mau terganggu dengan kendala-kendala alat.

Dengan kata lain, sembari menulis men dengar musik, nonton bola, dan chating. Hal mendasar dibalik kesemua itu adalah keberlangsungan menulis jangan sampai mengalami involusi gara-gara apa saja. Karena itu saya hampir tidak pernah kekurangan ide atau dihantam kendala alat.

Sok IT Minded
Ada sedikit cerita. Ketika ke Singapura dan Malaysia tidak melihat orang-orang pakai HP canggih. Saya yang anak dusun berNokia 9500. Saya sempat dengar Nokia akan melaunching produk terbaru di Indonesia. Kenapa di Indonesia? Karena Indonesia adalah pasar tebesar untuk produk canggih dan mahal. Di Singapura saja orang memakai HP ala kadarnya.

Saya malu pada diri sendiri. Tapi, kalau membawa notebook (latop) agak keberatan dan tidak suka membawa beban kemana-mana. Membawa pulpen saja hampir tidak pernah. Kalau kopi darat lalu melihat saya bawa pulpen, itu termasuk kejadian sangat langka di dunia. Nah, Si Nokia 9500 kan juga komputer kecil.

Kalau lagi di acara, ketika orang bicara hebat-hebat, memperlihatkan kehebatan dengan berbicara, biasanya menulis. Kalau nanti memiliki komputer jinjing kecil, akan memakai HP sederhana yang fungsional untuk berkomikasi.

Peralatan IT adalah sarana memudahkan kita menulis, dan menulis cepat. Dengan kata lain, disamping software hardware juga lebih baik mendukung. Kalau tidak mau ya jadi tukang omong saja sebab itu tidak perlu biaya he he.
Menulis itu memang mudah, semuda menulis cepat. Mana tahu nanti sampeyan lebih cepat menulis dengan satu syarat, menulis dan terus menulis. 

Bagimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Juli 2007.

  1. 5 Responses to “Menulis Cepat”

  2. By hanna on Jul 9, 2007 | Reply

    makasih pak ! syukurin kalau nanti dapat saingan.he3

  3. By irsan finazli on Jul 9, 2007 | Reply

    Yaah, betul adanya. Menulis tuh sambil apa saja bisa. menulis ‘unlimited’.

  4. By toni februari on Jul 9, 2007 | Reply

    Yaaaah pian cepat menulis karena alat dan materi sudah mendukung, ide pian yang seperti air terjun itu, meskipun mengalir deras, bisa langsung ditampung oleh alat-alat pian yang canggih, andai kan saya punya laptop komplit dengan internetnya, ke wc pun akan saya bawa tu laptop, karena di wc lah ide-ide bermunculan, ide yang lahir di wc tu harus cepat-cepat di tulis, karena sifatnya cuma lewat doank heee andai saja..tapi bagi saya tak ada modal nekadpun jadi….gak punya komputer ya nulis di kertas, gak ada kertas yaa tulis dimana aja di tembok ato di dinding juga jadi heeee yang penting tulisan jadi secepatnya dan enggak cepat hilang…ayo pak siapa yang paling cepat nulis????

    ***Kayaknya Sampeyan lebih baik konsultasi dengan Irsan (Psikolog KP EWA’MCo.). Tulisan itu bukan untuk dibanding-bandingkan, Sampeyan lucu. Soal Pian handak menulis di WC (ih jorok) atau di langit, urusan Pian. Kalau merasa menulis paling cepat, ya urusan pian jua. Buktilah yang menjadi kenyataan. Saya sampai kepada posisi sedemikian karena belajar sangat panjang.

    Merenunglah, jangan biasakan memposisikan diri dalam bandingan, atau menkomperasikan dengan orang lain, lembaga, situsasi, atau apa pun. Ya kalau yang muncul ‘kebanggan’, kalau ‘keminderan’ gimana? Bisa buruk untuk kesehatan mental Pian. Ini nasehat serius, perbaiki saja diri, perbanyak membaca, cari uang yang banyak, siapkan kebutuhan diri sendiri, jangan pernah ‘menilai’ orang lain. Kalau berhasil, orang lain yang akan menilai Pian berhasil.

    Jadi, perbanyak belajar, perbanyak istigfar. Giat berkarya, bukan bicara, atau menyuarakankan gagasan yang tidak ada buktinya. Insya Allah, pikiran pian cepat berkembang.

    Amin.

  5. By toni februari on Jul 9, 2007 | Reply

    terima kasih pak..semoga nasehat pian bisa mengantar saya pada titik perubahan yang pasti, akan saya usahakan untuk memperbaiki pikiran saya, jujur saya gentar membaca balasan bapak tapi apa boleh buat saya harus mempertanggungjawabkan dari setiap apa yang saya lakukan,, namun seperti biasa,, saya belum menjadi apa-apa dan tentunya masih memerlukan bantuannya pian juga, supaya pikiran saya tetap pada jalur yang seharusnya ada pada saya, maka dari itu mohon bantuannya ya pak…..yapp

  6. By ANIF on Jul 10, 2007 | Reply

    Wah, jujur saja. Kalau saya sebaiknya berfikir 12 kali tuh untuk membanding-bandingkan apalagi sampai pada materi. Tulis, tulis, dan tulis maka jadilah tulisan.

    Salam dari saya.

Post a Comment