Jakarta Oh Jakarta
9 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Hanna Fransiska
SINGKAWANG. Kini, aku sweet seventen. Kata ibu, harus menikah. Aku akan “diekspedisikan” ke Taiwan. Datanglah pria asing itu ke rumah. Kusambut dengan senyum getir. Aku tidak memperdulikan, kecuali satu kata: “Aku belum mau menikah”. Titik.
Ibu marah besar karena sangat malu kepada tamu terhormat, calon mantu versi ibu. Berdebat terus menerus —tentang pernikahanku— kurasakan menyesakkan dada. Hubungan kami jadi tidak baik. Ini bukan soal berbakti pada orang tua atau tidak. Tetapi, mempertahankan prinsip yang sudah semestinya kupertahankan. Tak ada jalan lain.
Pilihanku meninggalkan kampung halaman tercinta. Kapal Rawit mengobangambingkan tiga hari tiga malam dari Singkawang ke Jakarta. Kepedihan dan kesepian adalah kepergianku. Ditemani sinar rembulan, kami bertiga bersenandung pilu. Aku, bayanganku, dan rembulan.
***
KAKI berpijak di tanah Betawi. Pelabuhan Tanjung Periuk. Asing. Kalau di pelabuhan saja begitu ramai dan orang sibuk dengan diri dan pekerjaan masing-masing, bagaimana di pusat kota.
Di depan terminal pelabuhan mataku liar mencari-cari bibi yang berjanji menjemput. Tawaran supir taxi datang silih berganti tidak kuhiraukan. Ada wanita ayu disana, mirip ibu. Kudatangi dia dan memeluknya.
“Maaf, bibi terlambat. Maklum, macet. Beginilah jakarta. Sudah makan?”.
”Sudah, di kapal”, jawabku.
“Ayo, kita naik bajai”.
Aku menuruti langkah bibi. Inilah pertama kali naik bajai. Terasa, gimana gitu. Di Singkawang tidak ada bajai.
Pekik suara bajai yang seolah memprotes keberadaannya membuat obrolan dengan bibi terkadang tak terdengar. Kami terpaksa bicara agak keras. Kadang aku tidak tahu apa yang diomongkan bibi, mataku menjilati Jakarta yang baru pertama kulihat.
“Kasihan, dirimu tidak terurus”, katanya. Entah apa dan kemana arah pembicaraan bibi. Aku diam saja sambil memandangnya.
“Bibi hidup pas-pasan. Andai bibi punya uang, ingin membiayaimu sekolah. Tapi, apa boleh buat. Beginilah keadaan bibi”.
”Saya maklum Bi. Niat baik bibi menampung saja sudah lebih dari cukup. Besok saya langsung mencari kerja”, sahutku apa adanya.
Percakapan kami dikalahkan suara deru kendaraan, hiruk pikuk metropolitan. Inilah Jakarta. Kota yang penuh sesak. Gedung-gedung pencangkar langit berdiri dengan bangga dan menampakkan kesombongannya.
Oh Jakarta. Sanggupkah aku menaklukanmu, ataukah kau akan menerkam, atau hanya sekadar membiarkan menumpang hidup bersamamu. Entahlah. Kakiku betul-betul menjejak Jakarta.
***
PAGI yang cerah, membawa harapan baru. Bismillah, kakiku melangkah menaikki tangga bis kota Kopami, lalu ganti bis jurusan Mangga Dua. Dari rumah bibi untuk mencapai jalan yang dilintasi kendaraan umum berjalan kaki setengah jam. Hampir saja terjatuh. Tidak dapat tidak, pertama kali naik bus aku mengerutu.
Tega sekali tu supir. Belum mantap kaki menginjak, main tancap saja. Bis … penuh penumpang … yang … bergelantungan … semakin mantap diaromai aneka bau keringat. Seorang ibu hamil dan orang tua berdiri terengah-engah sementar sepasang anak muda dengan nyaman duduk sambil bercerita. Duh, Jakarta.
Aku terlatih bekerja, terlatih menderita. Tapi, Jakarta membuatku lelah dan bingung. Bukan fisik saja tetapi psikologis. Nasibku saja belum tentu ujung pangkalnya.
Mangga Dua, yah Mall Mangga Dua. Aku terpesona. Aku teringat perayaan imlek di Singkawang. Gemerlap sinar lampu yang indah, dan apa itu … tangga kok bisa jalan sendiri. Terus kotak apa itu … kog bisa naik turun lagi. Aku terkesima. Tiba-tiba kerongkongan teras rasa haus, perut keroncongan, bergabung jadi satu. Tapi, aku belum mendapatkan apa yang kumau. Jakarta oh Jakarta.
JAKARTA menampakkan wajah garangnya dibalik pesona menjubkan. Aku berjalan dan terus berjalan dari satu toko ke toko. Lelah, lapar, dan haus adalah teman akrab. Ini hari ketiga di Jakarta, hari ketiga mencari pekerjaan.
“Ya Allah, tolonglah”, doaku dalam hati yang paling dalam. Langkah gontai kelelahan, keroncongan lampiasan protes di perut, nyam-nyam leher berkhabar kehausan, namum sinar mata adalah gambaran keteguhan. “Jangan menyerah”, seolah-olah ada yang berbisik ditelinganya.
“Pak … “
Baru sepatah kata keluar dari mulut, langsung dipotong Si Babah Gendut:
“Maaf, kami tidak memberi sumbangan”.
“A … “.
“Sudah-sudah, sana”
Aku terus berjalan menyusuri toko demi toko. Seorang nyonya manis setengah baya berbadan gempal berkulit putih menjadi target harapan. Aku menghampirinya.
“Nyonya, saya butuh pekerjaan. Sudah tiga hari di jakarta bekal hidup hampir habis. Tolonglah Nyonya. Kerja apa saja …”
“Oh, ya. Memangnya kamu bisa apa”
“Apa saja”.
“OK, nanti ke rumah. Nih alamatnya”, katanya sembari menyodorkan kartu nama.
Alhamdulillah, aku bersorak di batin mengucap puji syukur. Setelah mohon diri mencari bis kota jurusan Kampung Melayu.
***
JAKARTA oh Jalarta. Rumah gedong di Jalan Angkasa nomor 17 itu membuat decak kagum tak berakhir. Rumah itu paling megah diantara deretan rumah-rumah mewah komplek Perumahan Nusa Perkasa Bhakti.
Pagar kokoh berpintu gerbang ala gapura membuat mata tak jemu-jemu memandang. Aku memencet bel, dan … guk … guk . Darahku terkesiap mengantar takut. Untunglah penjaga rumah segera mendekat. Anjing herder yang membuat nyali ciut berhenti menyalak.
“Sandia”, tanya penjaga sembari mengambil kunci pagar dalam sakunya.
“Ya”, jawabku. Rupanya nyonya sudah memberi tahu. Sigap tangannya membuka kunci gembok dan menggeser pintu pagar.
“Silahkan masuk Nona”, nyonya sudah menunggu.
“Terima kasih Pak”.
Diringi penjaga rumah aku berjalan dengan mata menjelajahi halaman rumah yang ditanami aneka bunga yang nampaknya sangat terawat. Kagum. Hanya itu yang ada dipikirannya. Memang rumah orang kaya.
Begitu memasuki ruang tamu, Sang Nyonya mempersilahkan duduk karena sudah menunggu rupanya.
“Apa yang bisa kamu kerjakan?”, tanya Sang Nyonya.
”Apa saja asal”, jawabku ringan.
”Pegalaman kerja?”.
”Sejak kecil sudah menjadi pembantu rumah tangga. Ada juga pengalaman berdagang”.
Nnyonya itu mengangguk-angguk sambil berkata: ”Kalau begitu aku bisa ‘meletakanmu’ di toko. Tapi, kamu tidak boleh berpakaian seperti ini. Beli pakaian baru. Tidak perlu mewah, yang penting rapi dan bersih”.
”Maaf nyonya. Saya …. saya tidak punya uang”. Kulihat wajahnya agak kecewa.
”Ini, pakai dulu. Akhir bulan kita bicarakan”, katanya menyodorkan lembaran Rp50 ribu.
CARA berdagang di Jakarta terasa aneh. Berbeda dengan di Singkawang. Aku ditempatkan di luar toko menjaga bakulan. Cukup mengucapkan: ”Boleh Ci, atau Bu. Lihat-lihat dulu”. Hanya itu. Cuma itu. Selebihnya para senior yang melayani.
Toko tempatku bekerja menjual pakaian dalam wanita. Kuperhatikan serius para senior bekerja; cara bicara mereka, bagaimana menyakinkan pembeli, dan menego harga. Rasa-rasanya tidak terlalu sulit.
Dasar anak kampung, tiba-tiba mataku melirik tumpukan bra (BH). Astaga. Apakah tidak salah lihat? Kukucek-kucek mata … Rp50ribu, hanya untuk sebuah bra? Pakaian baru yang kukenakan seharga RP50 ribu. Masih ada kembalian Rp3 ribu alias haganya Rp47 ribu.
Inilah jakarta. Kemewahan dan kemelaratan berjarak lempang. Jauh. Jauh, Sangat jauh. Entah sampai kapan ketimpangan menjadi ciri khas kehidupan bangsa tercinta ini. Berapa waktu diperlukan agar agar keduanya saling mendekat.
Jam makan siang tiba. Para senior makan di kantin. Aku cukup puas dengan sarapan di rumah nyonya tadi pagi. Cukup menghirup bau lezat dan bayangan lezat nikmatnya makan siang.
Aku memang menahan diri, dan … menahan lapar. Lagi pula, tidak ada yang mengajak. Rupanya sekadar basa-basi saja tidak pantas bagiku. Aku tahu diri. Tetapi, inilah kesempatan baik.
Kuperhatikan seisi toko. Dalam waktu singkat bisa menguasai merek, harga, beserta kodenya. Tapi aku tetap di tempat semula. Tugasku memang bukan di dalam, dan .. dalam menjalankan tugas tidak ada cengkerama, basa-basi, atau pergaulan sesama karyawan. Saling berkenalanpun tidak. Namaku Si E … Tidak lebih tidak kurang.
E … tolong ambilkan itu. Itu tu. E … cukup untuk segala hal. Ya panggilanku, ya berarti perintah, ya suruhan, ya pokoknya E …
Aku tidak mengeluh. Dalam hati berkuat hati. Tidak banyak yang tahu, menjadi pesuruh dalam kondisi tertentu justru menguntungkan. Semakin banyak disuruh semakin mengerti seluk beluk pekerjaan. Sebagai orang baru, Si Yunior, aku dalam posisi demikian. Tepatnya, mempelajari banyak hal, dari yang kecil sampai yang besar.
Sebulan dua kali, seluruh karyawan — aku ragu apakah pantas disebut karyawan— diberi waktu off. Aku tidak mengambil off. Nyonya tegas dan bijak, sangat memperhatikan karyawan
Selama tiga bulan tidak pernah mengambil jatah off, tidak pernah ke kantin. Nyonya sangat menghargai dan memberi bonus. Bagiku ini berkah. Aku menghemat penghasilan karena ingin adik-adik bersekolah melanjutkan cita-citaku yang putus di tengah jalan.
Suatu hari, seorang karyawan sakit, seorang lagi off. Aku dipercayakan mengantikan mereka. Wuaw kesempatan, aku membatin. Tentu tidak kewalahan, toh, selama ini sudah banyak mempelajari cara kerja para senior. Melihat cara kerjaku, nyonya kaget alang kepalang. Padahal, belum pernah mengajariku.
Aku memang sudah terdidik kerja keras, gesit, cepat, dan lincah. Decak kagum keluar dari bibir nyonya: ”Salut dengan kemauanmu yang keras, dan tak pernah menyerah”.
Aku tahu mana pengunjung yang hanya iseng, yang benar-benar mau berbelanja. Sekalipun demikian, tetap sabar, dan tulus melanyani. Seminggu senior tidak masuk, berarti seminggu bekerja di dalam toko. Kalau dulunya dilarang menjamah seisi toko, kini semua barang seolah minta elus lembut tanganku agar segera terjual. Toko ‘kami’ mejual grosiran.
Anehnya, beberapa pelanggan meminta aku yang melayani. ”Tu … tu … sama itu aja. Enak diajak bicara. Ramah”. Sungguh aku merasa tersentuh. Kata-kata mereka berpengaruh pada nyonya dan menyuruhku bekerja tinggal di dalam toko. Artinya, saja, tidak perlu lagi di depan sambil teriak-teriak. Gajiku otomatis naik naik.
Menurutku, disamping aku memang bekerja sungguh-sungguh, semua didapat karena diposisikan sebagai pesuruh. Disuruh ambil ini itu, jadi hapal dan menguasai banyak hal. Ditambah kecepatan dan kermahan melayani, semua stock barang kukuasai lebih baik dari karyawan lainnya.
”Mulai besok kamu yang memeriksa stock barang dan mengodernya”, kata nyonya. Hatiku bersorak, awal yang baik.
Aku jadi sering berinteraksi dengan para sales. Aku juga mengetahui rahasia nyonya, berapa modal sampai keuntungannya. Sepertinya segala hal tentang toko kukuasai dengan baik.
Aku memdapat kepercayaan penuh. Yang luar biasa para sales mulai merayu. Ada yang mewarkan bekerja dengan mereka, ada yang mau menyewakan toko, ada memberi modal agar bisa membuka toko sendiri. Tentu semua itu kutolak. Nyonya telah menolong sejak awal.
Entah kenapa, mungkin nyonya melihat gelagat, aku dipanggil.
“Kalau kamu mau mengembangkan usaha, tidak apa-apa. Asal, di luar jam kerja”, katanya yang membuatku terperangah.
Setelah kukonsultasikan dengan bibi, bibi mendukung. Mulailah berdagang kecil-kecilan. Barang dagangan disediakan nyonya, bibi mencari orderan dari teman-temannya yang kebanyakan wanita karir. Mereka hampir tidak punya waktu untuk bebelanja. Keuntungan dibagi tiga. Aku menditribusikan barang-barang, mengantar, dan tetek-bengek lainnya. Semua itu dilakukan di luar jam kerja.
Jakarta oh Jakarta, sekejam-kejamnya Jakarta, Jakarta menyediakan kesempatan kehidupan beragam. Tinggal, bagaimana memanfaatkan peluang. Aku mulai mencintai Jakarta.
Jakarta, 25 Juni 2007.









8 Responses to “Jakarta Oh Jakarta”
By ANIF on Jul 10, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum.
Happy ending, semoga bisa dicontoh yang lainnya dalam bersabar menempu cobaan hidup. Sabar yang progresif.
Terusin kisah-kisahmu, biar mentalmu sehat.
By Maghfira Mimi on Jul 10, 2007 | Reply
hidup penuh perjuangan ya han…cerita kali ini mengangkat seorang wanita yg tak kenal menyerah dalam menaklukkan ganasnya kota metropolitan…salut skali lagi ya. Jia You !!!!
By windede on Jul 10, 2007 | Reply
hmmm.. true story?
By Dp on Jul 11, 2007 | Reply
ah masa cih?
By toni februari on Jul 11, 2007 | Reply
berjuang mbak….yapp
By budi gunawan jaya on Jul 11, 2007 | Reply
cici berjuang terus ya.smga sukses terus…cia yu…..
By aphin on Jul 11, 2007 | Reply
加油,yah….NASIB TERGANTUNG DI TELAPAK TANGAN TUHAN,TAPI KALO TANPA PERJUANGAN KITA GAK MUNGKIN SUKSES,trus jadi contoh yang baik for all people di jakarta.
By Al Fahm on Jul 12, 2007 | Reply
memang yang namanya perubahan harus dari kita yang melakukan nya dari awal sehingga kita hanya berpasrah kepada Allah SWT untuk menentukan yang terbaik bagi hambaNya….teruskan perjuangan hidup mu ya mba hanna