Angin Kehidupan

9 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Hanna Fransiska

SINGKAWANG oh Singkawang. Awan berarak bermuatan kelam berkhabar bahwa hujan segera menyiram bumi. Tanah kami, Bumi Kalimantan, beberapa bulan belakangan menjadi bulan-bulanan sumber petaka. Keluhan dan sumpah serapah dilayangkan tanpa ampun, bahkan oleh negara jiran. Singapura dan Malaysia mengirim protes segala macam.
Kami, penduduk Singkawang, Kalimantan umumnya, yang tidak tahu-menahu dengan penebangan hutan, apalagi illegal logging, menjadi sansak keluhan. Padahal, cukong-cukong merekalah yang tanpa ampun merambah hutan.
 
Asap akibat kebakaran adalah hirupan harian kami. ISPA telah menjadi penyakit akrab yang menemani kehidupan anak Bumi Khatulistiwa. Bila musim kemarau datang, asap menjadi bagian kehidupan itu sendiri. Bila musim hujan menjelang, banjir menjadi hal rutin. Asap dan banjir silih berganti menghiasi kehidupan. 
 
Cerita ayah, dongeng kakek, tentang rimbunya hutan Kalimantan adalah dongeng yang tidak bermakna, sangat jauh dari apa yang dapat kami lihat dengan kasat maya. Sejauh impianku dengan dunia kecil keluarga kami.
 
Bahkan, tahun ini begitu melelahkan. Mimpiku melanjutkan pendidikan kandas dalam galau kehidupan. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Aku termangu di tanah kering berdebu halaman rumah. Deraan kehidupan nampaknya belum usai meramahi kami. Ujian belum tuntas berbuah kesabaran.
 
Sungguh, aku tak tahan melihat ibu. Ibu yang doyan teriak-teriak, ibu yang pekerja keras, ibu yang membesarkan kami. Ibu yang berjalan di bawah air hujan, ibu yang bekerja di bawah terik mentari tanpa perduli kecantikannya yang memudar, ibu yang ikhlas berjuang demi anak-anaknya, kini lemas terkulai tak berdaya.
 
Air mata mengalir mengiringi kehibaan hati. Tangis tak terbentung merasakan perih yang melanda ibu. Seandainya bisa bertukar raga, aku ingin terbaring mengantikan ibu.
 
Seminggu yang lalu ibu terbaring lemah di rumah sakit, kini terbaring tanpa tenaga di rumah.  Pikiranku hanya pada Ibu. Ibu harus sembuh. Aku harus bekerja lebih keras.
 
Hutang-hutang biaya perawatan ibu baru beberapa bulan lunas, gajiku sebagai pembantu pembayarnya. Ibu sembuh tetapi tidak dapat lagi bekerja keras. Tulang belakangnya sakit, kepala sering pusing. Aku terpaksa mencari kerja yang upahnya lebih tinggi.
 
Kebetulah ada toko di Singkawang mencari karyawan baru. Aku melamar. Sayang, seribu sayang, yang dibutuhkan seketaris dan sales. Tentu saja pemilik toko menolak, sebab yang dicari lulusan SMA atau SMK. Aku tidak tamat SMP.  
 
Aku tidak menyerah. Meyakinkan, bahwa aku mampu belajar, asal diberi kesempatan.  Menerimaku tidak akan rugi. Tidak menuntut gaji seperti yang berpendidikan, malahan bisa mengirit, sebab sanggup mengerjakan banyak hal, apa pun. Lagi pula, siap disuruh-suruh.
 
Dia tertarik. Akhirnya aku diterima. Bekerja di toko tentu lebih baik. Dalam waktu relatif singkat mengerti pembukuan sederhana, dan mulai gesit memakai kalkulator. Aku tidak bisa diam. Kalau ada waktu, mengerjakan yang bermanfaat. Misalnya, membersihkan ruang kerja.
 
Waktu berjalan. Dalam mengembangkan usahanya, majikan membutuhkan sales sembako ke daerah hulu. Tanpa pikir panjang menawarkan diri. Tentu saja bos kaget.
 
”Kamu bercanda, ya? ‘Menembus’ hutan lebat dan bila malam gelap gulita. Tidak ada listrik, makanan susah. Kamu kan wanita”.
 
“Bagiku tidak masalah”, jawabku.  
 
“Pikirkan juga keselamatan dirimu”.
 
“Aku bisa jaga diri”, kataku tenang.
 
Bos akhirnya mempercayakan pekerjaan itu.
   *** 

PERJALANAN pergi-pulang dari Singkawang ke Putus Sibau kini menjadi kehidupan baruku. Jalannya masih tanah merah, jembatan dari kayu. Kulakukan karena tergiur upahnya. Keluarga membutuhkan biaya. Kalau tidak aku, Si Sulung, ya siapa lagi?
 
Hari pertama perjalanan mengirim ngeri di tengkuk. Di kiri-kanan jalan terpahat pohon-pohon raksasa dipadu aneka suara-suara binatang liar  menakutkan. Awal perjuangan yang menuntut kesabaran. Akulah satu-satunya wanita. Doaku pada Allah tidak henti-hentinya. Aku yakin Allah tidak akan membiarkan celaka.
 
Perjalanan panjang selama tiga hari tiga malam mengantarkan kami ke kampung Darit.
 
Sepertinya ada yang salah. Aku menjadi perhatian penduduk. Rupanya mereka heran. Kampung mereka jarang kedatangan orang asing, apalagi wanita. Bisa jadi aku wanita pertama sebagai sales. Yang menguntungkan, sekalipun orang-orang Dayak di Darit terheran-heran, mereka sangat ramah.
 
Perdagangan dengan sistem barter. Kami menukar barang keperluan mereka dengan karet. Sebagai pemula, agak kebingungan. Soal nilai tukar kuserahkan kepada sopir.
 
Aku belajar bagaimana melihat mutu karet. Tebal, tipis, kotor atau karet murni, atau basah. Karet bermutu adalah karet tipis, kering yang sudah lama disimpan. Dalam perjalanan karet basah akan menyusut, dan berisiko kerugian.
 
Yang merepotkan adalah hal-hal kecil yang penting. Misalnya, ketika buang air kecil. Celaka12, harus ke balik pepohanan. Kalau mampu ditahan biasanya ditahan sampai ke perkampungan. Mandi pun harus ke sungai. Bila malam tiba rasa sejuk alami menerpa, dibalik lentera minyak tanah, ditemani secangkir kopi susu kami bermain kartu domino sekedar melepas lelah.
 
Bersyukurlah supir dan kenek, rekan kerjaku, tidak pernah menganggu. Mereka melindungi dan membantu. Aku pun tak berdiam diri, kubalas dengan membantu menurunkan barang atau memuat barang ke truk. Memasukan karet ke keranjang sebelum ditimbang. Mereka menaikkan ke truk, aku  menyusunnya. Bau karet mentah  sangat tidak enak, belum lagi kadang belatung-belatung kecil merayap. Kami bekerja suka cita, bercanda ria melupakan kelelahan.
 
Banyak yang mengatakan alangkah baiknya kalau aku lelaki. Aku balik bertanya, memang kenapa kalau wanita? Meskipun bertenaga, bisa mengerjakan apa yang dikerjakan lelaki, aku tetaplah seorang wanita. Ketika buang air kecil di pinggir jalan harus melirik kiri-kanan, ketika mandi di kali, harus memakai sarung. Inilah resiko menjadi sales ke pedalaman.
 
Karena profesi, aku lebih banyak berteman dengan kaum adam. Sampai-sampai, rekan sekerja sepertinya lupa bahwa aku wanita. Mereka bisa lupakan status kodratiku, tetapi aku tidak mungkin melupakan bahwa aku seorang wanita. 
 
Rupanya cerita cepat menyebar. Bos-bos lain melirik kemampuanku. Kata mereka, aku rajin, bersemangat, jujur, dan bekerja dengan otak. Tawaran kerja dengan gaji mengiurkan berdatangan. Dalam bekerja aku selalu berusaha menyenangkan hati orang.
 
Kalau menghitung uang belaka, rasanya susah menolak. Tetapi, aku tidak mau menghianati bos. Dia telah membantu dari awal. Sebagai rasa terima kasih aku tidak mau pindah kerja. Akhirnya dipercaya mengurus semua urusan bisnisnya.
 
Manusia memang tak pernah puas, aku mulai berpikir mendapakan penghasilan tambahan. Seijin bos, membeli biji coklat, cengkeh, atau apa saja yang tidak sejalur dengan bisnis bos. Pendapatan bertambah, dan ekonomi keluarga membaik.
 
Enam bulan sebagai sales, mendapat banyak pengalaman menarik dan seru. Aku dikenal banyak orang, terutama kalangan pedagang. Tentu banyak pula pemuda yang melirik, tapi belum tergoda.
 
Aku patrikan, bekerja dan mendapatkan uang untuk kehidupan keluarga … dengan jujur. Hidup miskin boleh saja, tapi tidak menjual kejujuran. Itu prinsipku. Tanpa kepercayaan akan susah untuk maju. Hasilnya aku semakin banyak ditawari aneka pekerjaan yang memungkinkan penghasilan lebih banyak.
 
Suatu kali, dipercaya seorang bos sebagai menyuplai barang, menyewakan mobilnya padaku, dan … membayar semua  setelah kembali dari hulu. Modal tanpa modal, tentu kupertimbangkan.
 
Rupanya, nasib baik cuma seumur jagung. Di suatu perjalananan, truk kami ban depannya pecah, karena muatan karet yang terlalu berat, delapan ton. Aku sempat melihat truk mencong kian kemari sebelum masuk got di bawah jembatan.
 
Aku hanya mampu berdoa: ”Ya, Allah bila ini akhir hidup, hamba rela. Namun, ampunilah dosa-dosa hamba”. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
 
Tiba-tiba ada yang menarik tangan, menyeratku ke luar. Kaca depan truk hancur. Bak truk remuk redam. Kuraba muka, kuperiksa kaki, tangan, dan … Maha Besar Allah … inilah keajaiban Allah … semua utuh. Hanya lecet kecil di lutut.
 
Ketika mendengar berita kecelakan yang kualami ibu shock. Seperti biasa, ibu mengambil keputusan tanpa membicarakannya, keputusan yang tidak bisa ditawar-tawar, aku tidak diperbolehkan lagi bekerja sebagai sales ke pedalaman. Demi nyawa, menurut ibu.
 
Aku menenangkan diri. Mengambil cuti panjang, sangat panjang sampai-sampai aku tidak pernah bekerja lagi pada bosku di Singkawang. Aku meninggalkan Singkawang untuk mengad peruntungan dan memperbaiki nasih, nun jauh ke ibukota.
 
Sebab, rupanya keinginannya tidak sampai disitu. Ibu bermaksud menikahkanku. Keinginan ibu adalah petaka. Sesuatu yang tidak mungkin bagiku. Bagi ibu seorang wanita tidak perlu bersekolah tinggi, cukup SD saja. Tidak usah bekerja sebab itu urusan suami. Aku tidak dapat memamahi jalan pikiran ibu sebagaimana ibu tidak tidak memahami jalan pikiranku. 
 
Aku ingin sekolah. Sekolah, dan sekolah. Angin kehidupan tidak pernah bisa diduga manusia. Siapapun dia. Kini angin itu menerpaku, dan aku harus pergi mengikutinya, membawa nasib, berjuang dalam ayunannya, dipermaiankan dan kadang dihempaskan tanpa ampun.
 
Tapi, dari situlah aku belajar, sekuat apapun angin adalah wahana belajar untuk mengendalikan diri demi menggapai cita-cita.
 
Jakarta, 25 Juni 2007

  1. 3 Responses to “Angin Kehidupan”

  2. By Maghfira Mimi on Jul 10, 2007 | Reply

    han, baca cerita ini mataku kok berkaca-kaca? berarti aq ikut terhanyut dalam cerita seorang hana si chinese kampong yg telah berhasil menaklukkan kekerasan hidup. siiippp Jia You !!!!

  3. By Al Fahm on Jul 11, 2007 | Reply

    Subhanallah…sungguh terharu isi dari sebuah yang Anda tuliskan tersebut merupakan sebaih pengalaman yang menarik dan semoga dapat diambil hikmahnya..

    Salam tulis

  4. By Dp on Jul 12, 2007 | Reply

    no coment dulu ah. bingung cih

Post a Comment