Menulis Tahi Hidung

8 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Setiap hari kita menghirup udara melalui hidung agar udara masuk dalam kadar pas ke paru-paru. Terkadang, bisa lewat mulut. Apabila disebabkan oleh satu dan lain hal tidak leluasa, karena pilek misalnya, hidup terdenda. Kalau penyakit bengek bergabung, aduh repotnya. Berhenti masuk, berarti dead. Kalau beberapa detik atau menit mungkin tidak mengapa.

Mekanisme sirkulasi udara yang normal dan pas melalui hidung adalah pertanda kita masih hidup. Mungkin, karena udara yang dihirup tidak selalu bersih, ditambah dengan ‘produk’ buangan mekanisme tubuh seputar terlinga, hidung, dan tenggorokkan, membentuk tahi hidung.

Tahi hidung, baik yang lendiran apalagi yang mengeras, dalam respon penciuman dikategori tidak berbau. Setidaknya, kita tidak terganggu oleh tahi hidung. Mengorek-ngorek upil (tahi hidung) bagi sebagian orang bisa jadi hobi. Tidak berbau? Tunggu dulu.

Tidak berbau karena penciuman kita sudah ‘mati’. Alangkah repotnya kalau indera penciuman mendeteksi ‘bau’ tahi hidung. Nampaknya, diabaikan begitu saja hingga kita tidak dibuat repot. Tetapi, coba bereksprimen, congkel upil tahi hidung lalu berikan kepada kucing. Kira-kira bagaimana respon kucing?

Kucing tidak akan tertarik, bahkan bukan tidak mungkin langsung pingsan. Setidaknya, akan melengos. Kalau sampeyan tidak percaya coba diuji coba. Jangan-jangan penciuman kucing lebih ‘rasional’. Kalau lebih tajam, sudah pasti dengan sendirinya.

Menyimpan Kemubaziran
Mekanisme sirkulasi kehidupan keluarga, terkadang luput dari perhatian. Dalam berkeluarga, biasanya kita berkukuh hati berjuang dan memperjuangan, dan atau menikmatinya. Jarang kita sigi ke hal-hal kecil yang mana tahu kalau dicermati lalu diperbaiki atau dicampakkan bisa jadi akan semakin membuat kehidupan lebih berarti.

Pada tahun kelima perkawinan, saya agak kaget dengan ‘kebijakan’ isteri. Lemari-lemari semakin penuh. Ketika mau membeli lemari baru heran mencapai puncaknya. Saya periksa tu isi lemari. Alaaamak, betul-betul penuh sesak. Beli lemarai, dan lemari lagi.

Saya ajak isteri berdiskusi, pakaian yang tidak dipakai, mari bagi-bagikan kalau masih pantas dipakai mereka yang kurang berkemampuan. Mula-mula isteri keberatan dengan alasan, sayang, sekali-kali nanti dipakai. Saya tunggu setahun. Apa yang terjadi?

Jangankan memakai, menyentuh saja tidak. Apalagi isteri sudah ‘pindah kelamin’ dari memakai pakaian biasa, kini berbusana muslimah. Nah, mulai saya ‘tembak’. Pakaian non-muslimah berikan kepada yang berhak.  Tidak lupa saya yakinkan, kenapa kita harus menyimpan, harus terbeban dengan apa yang tidak dibutuhkan. Kalau berpindah tangan orang lain bisa memanfaatkan. Isteri tertegun. Sejak itu, anak-anak juga lincah menghibahkan pakaiannya yang sudah sempit. Bahkan, buku-buku pelajaran sekolah diberikan kepada adik kelas. Ada kenyamanan menyelinap ke relung hati.

Tidak sampai disitu, dari mantan botol aqua sampai wajan reot akhirnya menjadi milik pemulung. Ketika merazia rumah mertua, termasuk peninggalan kami semasa menumpang di Pondok Mertua Indah kembali ke habitatnya. Mertua tidak berkutik ketika saya katakan: Kita merusaha hidup lebih bersih. Menyimpan barang-barang percuma adalah pantulan hati yang tidak rela membuang yang tidak dipakai dan tidak baik. Kali ini saya mengalahkan mertua secara telak.

Ketika pulang ke Muaralabuh, Sumatera Barat, hal yang sama saya lakukan. Kini yang disimpan di rumah apa yang dipakai. Beban rumah semakin berkurang dan beban pikiran semakin ringan. Setiap milik, apa pun bentuknya memerlukan pemeliharaan. Jangan sampai untuk hal-hal yang tidak perlu menyediakan bajet pemeliharaan. Kesia-siaan, dan Allah SWT tidak suka yang sia-sia.

Pesan Luhur
Pembaca sekalian. Tahi hidung dan barang-barang bekas, mungkin hal remeh-remeh dalam eskalasi kehidupan yang begitu rumit. Hal kecil yang jarang ditoleh, apalagi dipikirkan banyak orang. Sebagai penulis (pemula), sebaiknya hal sedemikian jangan sampai menguap dari perhatian. Tidak jarang hal-hal besar bermula dari hal kecil.

Lagi pula, coba direnung-renung muatan filosofis tahi hidung. Tahi hidung adalah buangan mekanisme tubuh yang tidak diperlukan. Sistemnya sudah diatur dari sono oleh Sang Khalik. Kalau sudah demikian, siapa yang rutin sholat lima waktu ditambah yang sunat, sungguh beruntung. Sebelum sholat berwudhu’ dan dalam berwudhu’ ‘membersihkan’ hidung dengan air. Kita (hidung) menjadi suci.

Allah SWT mencintai orang-orang bersih. Hanya orang yang bersih yang afdol menghadapNya. Ketika mau sholat kita harus membersihkan diri dengan air suci dan mensucikan, dan ketika menunaikan tugas keimanan kita mensucikan pikiran, hanya tertuju pada Allah SWT semata.

Coba, tulisan hanya di atas diangkat dari hal sepele, hal yang jarang dipikirkan, tahi hidung. Sekali lagi, hanya tahi hidung.  Sampeyan bisa meelaborasi semampu mungkin. Bisa dibahas dari tinjauan kesehatan, pendidikan, kebersihan, dan seterusnya. Hanya, sekali lagi hanya, tahi hidung.

Kalau lebih kreaif, banyak hal ajaib yang terpaut di tubuh kita. Coba jawab pertanyaan berikut: Kenapa wajah menjadi merah ketika malu? Kenapa cowok juga punya putting susu? Sederhana? Siapa bilang. Apalagi kalau ditelusuri secara saintifik. Hanya satu muaranya, betapa Allah adalah pencipta paling sempurna. Pencipta tanpa kesalahan. Subhanallah.

Kalau sampeyan penasaran, baca buku Stephen Juan, The Odd Body, Mysteries of Our Weird and Wonderful Bodies Explained diterjemahkan T. Hermaya menjadi Tubuh Ajaib, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2005. Kalau tidak sempat, amati saja tubuh sendiri dan jalankan nalar, kenapa ini begini, kenapa itu begini, dan seterusnya.

Sekali lagi, dari tahi hidung kita dapat menulis artikel menarik. Contohnya tulisan saya yang hampir selesai sampeyan baca. Belum cukup juga kah bukti bahwa menulis itu mudah? Kini, lakukan saja. Menulis memang mudah, kog. 

Bagimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Juli 2007.

  1. 3 Responses to “Menulis Tahi Hidung”

  2. By toni on Jul 8, 2007 | Reply

    menulis adalah aplikasi dari pemikiran, setiap pemikiran bisa di tulis, terlebih ketika kita memanen upil kita, yaa pasti dipikirkan juga lah, gimana jari kita bisa menyusup ke hidung kalau otak kita tidak memerintahnya ( memikirkannya ) yappp terus menulis dan terus berpikir, terus menulis pikiran dan terus memikirkan tulisan…

    ***hebat Sampeyan:Yap, berpikir dan terus menulis, terus menulis pikiran dan terus memikirkan tulisan.

  3. By ANIF on Jul 10, 2007 | Reply

    mantap banar..

  4. By Al Fahm on Jul 11, 2007 | Reply

    Bujur banar…sakalinya…mmm

Post a Comment