Menulis Menghilangkan Stress

8 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Seorang mahasiswa mengambil skripsinya dengan wajah yang tidak enak dipandang. Ada bayangan kekalutan pikiran. Ada penampakkan takut yang disembunyikan bergabung harapan agar secepanya ditandatangani (disetujui). Sikapnya, duga-duga saya, karena menyesal. Dari awal kuliah sudah dinasehati, latihlah keterampilan menulis.

Begitu ditandatangi rona wajahnya berubah cerah. Sigap mohon diri untuk memperbayak skripsinya. Enam bulan dalam bimbingan skripsi tentu bukan waktu pendek. Bisa jadi berupa neraka kehidupan di akhir status sebagai mahasiswa.

Seorang calon wartawan trainee Bandjarbaroe Post, media cetak milik saya, paling takut kalau dipanggil. Jujur saya katakan, membaca dan mengedit tulisnya, sungguh menguji kesabaran. Kamu hebat, bisa membuat saya yang terlatih cuek, teraduk-aduk pikiran dan perasaan tidak keru-keruan. Dia mesem-mesem saja.

Saya punya kelainan mungkin. Lebih suka mahasiswa berkepintaran sedang-sedang saja, suka (calon) wartawan yang rada-rada begok. Kalaulah mereka dari sononya hebat, fungsi mendidik tidak mendatangkan kebanggaan. Tantangannya kurang. Kalau mendidik yang pintar tidak terlalu bangga. Tapi, kalau yang sedang-sedang saja, atau goblok sekalian, mendatangkan kepuasaan tersendiri. Dalam hati bersorak. Puas.

Katarsis
Ada satu kata ranah psikologi yang saya suka. Membaca karya Sigmund Freud, Carl D. Jung, sampai Sarlito Wirawan sarwono, biasanya memilih hal-hal sederhana tetapi langsung bermanfaat. Teori, pilahan, sampai contoh kasus-kasus dalam buku teks pskologi memang menarik untuk dinikmati. Yang paling nyantol di otak, kosakata katarsis.

Dalam pengertian sederhana, katarsis adalah kelegaan emosional setelah mengeluarkan isi hati secara bebas. Dalam bahasa saya, bebaskan pikiran dari segala hal yang membeban. Dalam kaitan menulis, menuangkan pikiran adalah pula katarsis.

Dalam galau kehidupan banyak hal melekad, melengket, dan atau membeban pikiran. Ada masalah, ada gagasan, ada kemauan, ada ketidakinginan, ada dan ada yang lain lagi. Karena itu,  kalau tidak mau —atau tidak mampu membayar psikolog, kalau psikater lebih tinggi lagi tingkat bebannya— kita memerlukan teman curhat. Curhat agar beban pikiran terkurang kalaulah tidak terkikis. Setelah curhat, legaaaaaaaaa.

Dalam prakteknya, saya membiasakan mengeluarkan isi pikiran, isi hati apa adanya. Kalau bertemu cewek tipe saya, sampai seumur gene, saya katakan saja suka. Tanpa malu-malu. Hitungan saya, kan tidak akan selalu bertemu, lagi pula ini urusan saya, agar pikiran terbebas, jangan dipendam. Setelah mengutarakan plong. Soal dia memikirkan, itu urusannya.

Kalau tidak sependapat dengan teman atau atasan, saya kemukakan saja. Dia setuju atau tidak, urusannya. Kalau tidak setuju ya jangan harap membawa saya. Begitu pula sebaliknya, kalau orang tidak setuju dengan pikiran dan tindakan saya, ya sudah. Ngapain memaksa-maksa orang.

Yang penting, jangan membeban pikiran. Bapak melatih dari kecil berpikir terbuka. Saya sering bertengkar dengan Bapak. Berbeda pendapat dan pendirian tidak akan menghilangkan posisi anak-orang tua. Apalagi hanya dengan teman atau atasan. Allah SWT saja membiarkan kita berbeda, berpikir, mengembangkan pikiran, berpendirian dan seterusnya.

Jadi, ketidaksamaan itu adalah rahmat. Mengeluarkan pikiran, termasuk perbedaan tidaklah dosa, asal jangan memaksa kehendak. Aplikasi sikap sedemikian dalam pemahaman saya adalah katarsis.

Eloknya, perilaku mengkatarsis saya temukan dalam menulis. Sebab, dengan menulis, ide, gagasan, kesenangan dan ketidaksenangan, hobi, kemauan atau apa saja bisa ditulis, dan kepala jadi ringan, plong. Wuaw lega setelah tulisan menjadi.

Katarsis Menulis
Teranglah sudah, beban pikiran, dimaui atau tidak, diakui atau bukan, dikehendaki atau dijauhi, selalu bersama kehidupan. The life is problems, problem must be solved. Tepatnya, jangan menyimpan atau melestarikan masalah di kepala, bisa mumet, sampai membuat otak stop. Dalam bahasa komputernya, hang. Kalau itu terjadi, bahaya bo. Karena itu, menulislah.

Menulis, dalam kaitan pokok tulisan ini, dimaknai sebagai medan untuk membebaskan diri dari gelora pikiran. Tidak seorang pun di dunia yang bisa bebas dari beban pikiran. Kita punya pertanyaan yang perlu dijawab, punya kebahagian yang perlu diungkap, punya kekesalan yang perlu dibuang. Menulis satu dari sekian sungai penyaluran.

Kalu sudah demikian, kenapa sampeyan malas menulis kalau dengan menulis jiwa dapat lebih sehat? Menulis adalah teman curhat tanpa pembatas apa pun, menulis adalah psikolog paling damai, menulis adalah bapak kehidupan yang memelihara harta paling berharga, pikiran. Menulis adalah pembebas pikiran agar dapat berpikir lebih jernih.

Bagimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 5 Juli 2007.

  1. 14 Responses to “Menulis Menghilangkan Stress”

  2. By hanna on Jul 8, 2007 | Reply

    yoi,yang ini setuju aja.

  3. By ibnusina on Jul 8, 2007 | Reply

    naah, ini bujur2 sesuai perintah al qur’an.. sekalipun 7 lautan dijadikan tinta untuk menulis ayat2 NYA maka akan kering pun tak kan mampu menuliskan NYA.. he.. selamat dong buat webersis.com

  4. By SQ on Jul 8, 2007 | Reply

    Berarti manusia punya dua psikolog, tuhan dan menulis ???

  5. By jmd on Jul 8, 2007 | Reply

    Gue setuju dengan Bang Ersis, menulis memang bisa menghilangkan stres. Menurut perspektif psikoanalisa Segmun Freud, stres terjadi karena pergulatan antara ego dan superego yang tak terselesaikan. Pergulatan itu menjadi file yang akan terekam dalam memori bawah sadar. Mereka akan menjadi “bank data” yang akumalasinya berbanding lurus dengan jumlah pergulatan yang tak terselesaikan. Hati-hati, stres akan terjadi bila besaran memori Anda penuh sesak dengan file pergulatan. Jadi, Anda yang punya besaran memori hanya 1 GB akan lebih rentan kena stres dibanding yang punya 2 GB.
    Gimana supaya gak stres? Kurangi, kalau perlu hilangkan pergulatan itu. Caranya? Salurkan dan salurkan salah satunya dengan menulis. Ternyata, menulis memang instrumen ampuh menghilangkan stres. Angan-angan, ide, lamunan, galauan, kejengkelan, dan tetek bengek yang lain salurkan dalam tulisan. Hasilnya jadi ploooooong.

  6. By Maghfira Mimi on Jul 9, 2007 | Reply

    Benar juga sih pak sy sependapat, soalnya dengan menulis hati jd plong apalagi saat stres wah sy udah rasakan tuh…awal-awalnya sulit jujur aja,tidak di tulis hati tersiksa ,bagaimana menulis mengimbangi hati yg berkecamuk, tapi setelah kekesalan tertuang di kertas ada rasa ploooonggg…he10x

  7. By Maghfira Mimi on Jul 9, 2007 | Reply

    satu lagi nih pak ersis, dgn menulis kt jadi puas gratis lagi gak perlu biaya apa-apa. daripada ke psikolog bayar perjam berapa tuh!!!! ngapain susah2 keluarin duit, ini gratis kok. setuju sekaliiii boooo

  8. By Al Fahm on Jul 9, 2007 | Reply

    saya sepakat sekali …segala uneg-uneg dan limpahan yang ada dalam pikiran kita limpahkan dan keluarkan dalam bentuk tulisan insya Allah semua hal tersebut merupakan hal yang dapat memperbaiki perilaku kita

  9. By irsan finazli on Jul 9, 2007 | Reply

    Yaah bujur banar, curhat tuh kada kudu datang ke psikolog, menulis saja, ‘cespleng’ hasilnya. Sudah teruji dan terbukti.
    Yaah, lagi-lagi saya katakan itu sebagai pengempesan balon (jiwa) yang terlalu banyak angin-nya (problem kehidupan). Karena jiwa kita bagaikan balon udara, yang jika terus menerus ditiupkan angin, ya pastilah akan rapuh balon tersenut. Makanya kudu dikempesin sebelum meletus.
    Terkait menulis sebagai katarsis, yaah itu betul banget dan sah-sah saja. Misalnya stress, juga boleh kog nonton tv atau mainkan hobbi, yang itu juga merupakan katarsis juga.
    Salam katarsis dari saya, Irsan

  10. By syaharuddin on Jul 10, 2007 | Reply

    “menulis menghilangkan stres” ya….mungkin saya termasuk orang yang mengalaminya. beberapa tulisan saya yang dikirim ke beberapa media, rasanya muncul akibat adanya sebuah ‘persoalan’ baik bidang sosial, politik, budaya dan agama. Lucunya…………….beberapa tulisan yang telah jadi atau setengah jadi tidak semua dikirim, namun keupuasan, kegundahan dan berbagai macam yang telah dipikirkan tadi boleh dikata hilang, sirna nyaris tanpa bekas. Beberapa masukan dari “sang guru” EWA, telah banyak memberikan inspirasi yang tentunya tidak bisa dinilai dengan meteri apapun. Terima kasih kepada EWA “sang inspirator”, tanpa beliau mungkin saya belum berani menulis di media sampai hari. Untuk itu, teruslah memunculkan lagi berbagai tips, strategi, atau apapun namanya agar orang mau dan mampu merasakan “bahwa menulis itu dapat menghilangkan stress”. Amin

  11. By willyedi on Jul 12, 2007 | Reply

    Mengenai menulis dan stress, saya akan menceritakan pengalaman ketika masih duduk dibangku SMP kelas satu. Pada saat itu ada seorang gadis remaja, sama-sama kelas satu hanya berbeda kelas. Penampilannya masuk dalam kategori selera saya. Tempak terlalu jauh posisi ekonominya sehingga saya tidak berani walau hanya untuk memperkenalkan diri atau berteman. Merasa tertekan beberapa minggu menggerakkan saya untuk menuliskan bait-bait puisi remaja tentang dia. Selesai menulis puisi, pikiran terasa plong, lega sekali.
    Saat itu baru sampai pada menulis puisi saja dan melipatnya serta menyimpannya dalam lipatan buku tanpa pernah memberitahukan kepada si gadis ataupun kepada kawan yang lain. Pendamba wanita, ya? Hingga pada suatu hari, ada seorang teman yang iseng menemukan puisi itu tanpa membukanya dari lipatannya. Ia mengatakan puisi itu akan diberikan kepada si gadis remaja. Aku mengangguk dan stres kembali mendera batin ini.
    Apa daya, reaksi si gadis adalah “membenci”. Itu berlangsung selama lebih dari dua tahun selama di SMP yang tidak pernah duduk satu kelas. Mungkin kalau merasakan duduk satu kelas akan lain ceritanya karena akan lebih saling mengenal.
    Sesaat kemudian kami sama-sama melanjutkan sekolah ke SMA. Kami dapat sekolah yang berbeda. Sekolahnya, mau tidak mau akan kulewati setiap berangkat dan pulang sekolah. Keuarbiasaan terjadi ketika saya duduk di SMA. Si gadis remaja yang semakin menawan batin itu setiap pagi saat berangkat sekolah, selalu berdiri di depan sekolahnya dan memberikan senyumannya. Tanpa kata-kata. Begitu juga ketika pulang sekolah - dia keluar sekolah selalu lebih dulu - dia selalu berdiri di seberang sekolahnya, saya melewatinya dan dia tersenyum. Saya membalas senyumnya tapi tidak pernah berani berhenti dan menyapanya atau mengantarnya pulang. Takut juga sama bapakku yang galak. Hal itu terjadi berminggu-minggu sampai suatau hari ada seorang teman yang mengabarkan bahwa gadis itu meninggal dunia. Meninggalkan senyum yang masih bisa kugambarkan dengan jelas sampai hari ini.
    Yang jelas, dengan menulis, orang bisa menghilangkan ketertekanannya, tertekan lagi, kemudian kembali merasa lega. Yang jelas sampai saat ini, setelah sekian waktu lamanya, baru disadari bahwa seandainya saja bukan saat SMP kelas satu, tapi SMA kelas satu atau lebih tinggi lagi, kejadiannya akan berbeda.
    Saya aykin sekali menulis, seperti kata EWA, bisa menghilangkan stres. Saya juga setuju dengan komentar-komentar di atas.

  12. By abenk on Mar 17, 2009 | Reply

    Saya lg stres berat nih…sy ga tau lg apa yg hrs sy lakukan..rasanya dah hampir semua ilmu dan cara yg sy lakukan ga da ngaruhnya..semua terasa sia2.
    Spy sobat kenal..sy adalah seorangan sales supervisor pemasaran sebuah produk….di daerah lain dimana sy dl ditempatkan alhamdulilah sukses…tlg dah bri masukan ke sy biar smgt lg.

  1. 3 Trackback(s)

  2. Mar 10, 2008: » Ayat-ayat cinta bloge mbahe
  3. Mar 24, 2008: AYAT-AYAT CINTA « Herlienzahra’s Weblog
  4. Mar 24, 2008: Herlienzahra’s Weblog

Post a Comment