Menulis Menangkap Momen

8 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Pagi kemaren, e … maksud saya menjelang siang, ketika bangun dan akan membaca koran lokal dan Kompas, Abdurrahman Hakim, Pemimpin Redaksi Bandjarbaroe Post datang. Buyar deh, deadline dalam hitungan jam. Saya harus mengoreksinya.

Selepas Ashar, Hp disubuki SMS dan telepon Gita dari Kementerian Olah Raga minta waktu bertemu. Akhirnya, bersama Bambang Subiyakto kami ke Banjarmasin. Sehabis wawancara, setelah ke TB Gramedia pulang ke Banjarbaru. Beberapa skripsi mahasiswa tergeletak untuk dikoreksi. Dikoreksi tentu saja.

Tengah malam, menulis beberapa artikel dan mencumbui beberapa situs, terutama www.webersis,com. Saya mengerjakan semua itu sembari nonton TV. Kebetulan komputer berfasilitas lengkap. Jadi kegiatan malam cukup dari satu layar. Jam 03.00 dini hari tidur.

Begitu bangun, anak-anak dan isteri ke rumah neneknya. Saya membaca berbagai media dan bersirobobok dengan tulisan Jakob Sumardjo. Pikiran ‘terganggu’, apa yang ditulis Jakob telah sejak lama bermain di benak. Menghidupkan komputer langsung menulis.

Saya tidak mau kehilangan momen. Begtu selesai (tanpa dikoreksi he … he …) dikirim ke Kompas lewat email. Soal mereka mau memuat atau tidak, itu urusan mereka, bukan kapasitas saya. Pikiran saya jadi plong setelah mengirimnya, perasaan ternyaman, dan … menulis lancar lagi.

Berikut saya paparkan tulisan dimaksud lengkap dengan kata pengantarnya. Agar, terutama bagi KP EWAM’Co, tidak malu-malu dan takut mengirim karya tulis. Pesan saya, tugas kita menulis dan mengirimkan tulisan, soal dimuat atau tidak, itu kewenangan pihak lain.

Selamat mebaca.

Kepada Yth.:
Redaktur Opini Kompas
Di
Jakarta.

Dengan hormat.
Bersama ini saya kirimkan artikel bertitel: Van Vollenhoven Jakob Sumardjo: Bangsa yang Mengawang.

Jujur saja, saya terbius dengan tulisan Pak Jakob. Muatan tulisannya langsung ke akar masalah. Hal yang sering saya disduksikan dengan mahasiswa dan teman sejawat. Saya pengajar Antropologi di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Oh ya, saya banyak menulis di media cetak (dulu pernah juga dimuat Kompas) dan belasan buku saya telah diterbitkan. Buku Menulis Sangat Mudah kini tengah mendapat sambutan hangat pembaca tanah Air.

Sebelum dan sesudahnya, dihaturkan terima kasih.

Banjarbaru, 8 Juli 2007.

Hormat saya:

Ersis warmansyah Abbas, www.webersis.com

Van Vollenhoven Jakob Sumardjo: Bangsa yang Mengawang
Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Bangsa Indonesia tidak punya sejarah. Sejarah adalah omong kosong. Kita adalah kita sekarang. Cara berpikir, cara merasa, cara berspiritual adalah cara hidup kita kini, tidak terkait masa lalu nenek moyang. Bau kemenyan diganti parfum Perancis.

Tulisan Jakob Sumardjo bertitel Van Vollenhoven (Kompas, 07-07-07) secara tepat mengambarkan betapa runyamnya cara pandang kebangsaan kita yang terlandas sikap ahistori, tercerabut dari akar runtut kebudayaan, memandang diri dalam angan-angan seolah menjadi ‘orang lain’. Bangsa yang lupa jati dirinya.

Tidak heran, tingkah laku dan lelakon perbuatan, terjebak tanpa arah, tanpa tujuan jelas. Kita tidak tahu lagi siapa kita, sedang dimana dan mengapa, dan hendak kemana. Kita bangsa yang mengawang.

Pemimpin sibuk dengan angannya, intelektual bergulat dengan pikirannya, pebisnis kemaruk membesarkan usaha, politikus menghabiskan hari-hari dengan galau posisinya, mayoritas warga terdera derita berkepanjangan. Ragam masalah diselesaikan oleh waktu. Bukan oleh kekuatan pikiran, ketangguhan bekerja, dan kreativitas. Hingga inovasi, discovery, dan invention menjadi angan-angan belaka. Itulah Indonesian style.

Salah Kelola
Pesan mendalam dahsyat dan menghujam Jakop menyeruak akar masalah. Kita mendirikan institusi keilmuan pertanian, lengkap dengan ratusan lembaga penelitan dan pengembangan berbiaya triliuan. Tetapi, mengimpor bibit durian, mentimun, bahkan beras dari Thailand. Alumninya lebih senang jadi pewarta.

Kita punya ratusan intelektual kehutanan, Bumi Khatulistiwa kian akrab banjir di musim hujan, tidak bisa bernafas kala kemarau menjelang karena asap. Kita menjadi ‘pelayan’ produk tehnologi Jepang, Korea, dan Jerman. Menjadi wacthdog kapitalisme.

Kita bicara peningkatan SDM, berjamaah untuk tidak memenuhi amar konstitusi dana pendidikan. Mengirim (calon) pakar ke mancanegara, yang akar budayanya berbeda, sementara pendidikan diurus siapa saja. Begitu di tingkat dinas, sampai menteri pendidikan. Pendidikan bisa ‘didukuki’ siapa saja asal bukan yang berakar keilmuan pendidikan.

Para intelektual, politikus, pengusaha, pejabat, dan semua yang berada di atas angin adalah ‘produk’ guru-guru. Guru-guru yang mereka katakan tidak kualifaid, tidak bersertifikat, dan berbagai tidak lainnya. Kita membiarkan nasib guru dalam kepapaan sepanjang umur republik ini. Kita telah menjadi ‘anak durhaka’ guru. Seperti menjadi ‘anak durhaka’ bangsa.

Persis seperti berkilah tentang pemberantasan KKN. Bagaimana akal sehat mencerna illegal logging dan illlegal mining yang dicongkel ratusan kilometer dari dalam rimba, dialurkan memakai tongkang atau truk melewati ribuan pasang mata, beratus-ratus kilometer. Lalu, melalui pelabuhan negeri berkelana ke mancanegara. Tanpa, ya tanpa dilihat aparat hukum yang ada di setiap sudut republik ini. Bukan matamu yang tidak melihat, tetapi mata hatimu yang tertutup.

Sungguh dahsyat, ketika hendak merebut tongkat pimpinan bicara ‘dipalak’ miliaran oleh partai-partai sementara gaji pegawai dan pejabat republik sudah ditakar. Partai yang konon menjadi candradimuka kader pemimpin bangsa ‘menoleh’ kiri-kanan mencari jago. Padahal, kewajiban mereka mempersiapkan. Ada apa dengan bangsaku?

Tragedi Budaya
Tragedi Indonesia adal tragedi budaya. Budaya yang dalam wujudnya adalah (1) ide, gagasan, dan pikiran, (2) karya, dan (3) hasil karya telah menampakkan kebolongan. Pada tahapan pertama, tersumbat, tidak terlayani, bahkan tidak terkondusif untuk berkembang. Pengembangan ide telah ‘dibeli’ oleh layanan non idealis, tetapi tergadai kepentingan, bisnis, kekuasaan, dan kemaruk lainnya.

Pada tataran karya kita memiskinkan kemampuan. Kita lebih senang menyewa perusahaan iklan mancanegara sekadar membuat simbol. Lebih senang berkunjung kerja dari berusaha melahirkan hasil olah pikir. Tergila-gila fried chicken yang disononya tergolong junk food, disini, di negara kita, lambang status sosial sembari melupa aneka kuliner Nusantara. Rasa kita telah dijajah vetsin yang di negara dimana orang-orangnya berpikir sudah dihatamkan, monosodiumglutamat itu merusak neuron.

Kalau Singapura yang dikatakan B.J. Habibie sebagai red dot saja bisa menjelajah nusantara, bagaimana Amerika Serikat? Setiap menggunakan Hp kita berkontribusi untuk kemakmuran Singapura. Perusahaan-perusahaan telekomunikasi dilego tidak sampai seharga deviden yang mereka peroleh.

Kita tidak maksimal memanfaatkan daya pikir, tidak berbuat berlandasan kekuatan pikiran, tidak menghasilkan apa-apa dalam artian mampu berkompetisi secara kebangsaan. Seperti kita menghabiskan ratusan milyar untuk mengontrak pesepakbola mancanegara, bukan berjibaku membangun lapangan bola. Budaya berikir sudah tergerus arus globalisasi yang alfa ditangkap makna hakikinya.

Saya setuju dengan Jakob, tragedi budaya bangsa tidak dapat diatasi dengan pola pikir kita yang tercerabut dari budaya. Pencapaian budaya, apalagi tingkat peradaban, adalah akumulasi dari prestasi budaya. Sesuatu yang kita abaikan dari hilir sampai muaranya. Tersibuk memenej mengimpor sapi, yang fiktif pula, dibanding bersikukuh mengembangkan peternakan sapi. Anak-anak kita menjerit untuk sekadar mendapatkan segelas susu.

Bagaimana mungkin sementara orang membiarkan uang tunai berbasa-basah di dalam ember di kamar mandi sementara busung lapar terjadi di banyak tempat. Unkuran kehidupan adalah hedonis pribadi melupa realitas sosial. Kesejahteraan sosial sudah kehilangan makna. 

Tragedi bukan tsunami saja, tetapi yang paling parah adalah tragedi pikiran, tragedi budaya dan kebudayaan.

Bagimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Juli 2007.

  1. 3 Responses to “Menulis Menangkap Momen”

  2. By hanna on Jul 8, 2007 | Reply

    Wow, luar biasa !. kalau kita sama-sama bisa menyadari dan memperbaiki kesalahan maka “INDONESIA LUAR BIASA”.

  3. By SQ on Jul 8, 2007 | Reply

    Heningkan cipta atas “matinya” ptibadi bangsa ini

  4. By Al Fahm on Jul 11, 2007 | Reply

    segala hal yang luar biasa adalah jika modal niat yang luar biasa dari seluruh masyarakat Indonesia dengan kapasitas otak yang masih “orisinil” tentunya kita optimis bahwa Indonesia menjadi suatu bangsa yang besar dan berwibawa di mata negara lain…tapi ….entahlah

Post a Comment