Menulis Fakta Menuai Prasangka
7 July 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Sebelum menulis, sebaiknya siapkan mental untuk ’serangan’ balik yang datangnya entah dari mana, tiba-tiba, atau tidak disangka sama sekali. Menyiapkan mental berarti memepertimbangkan apa yang akan ditulis. Kalau mental sudah siap jangan pernah lagi mempertimbangkannya. Tulis apa yang hendak ditulis. Jangan pernah surut.
Seorang penulis, disamping mengekpresikan diri, menuangkan ide, mengugah atau mempengaruhi pembaca, dan seterusnya, pastilah sudah tulisannya ingin direspon pembaca. Kalau bisa, dapat honor besar. Maunya sih begitu. Tetapi ingat, antara keinginan dan kenyataan tidak selamanya segaris.
Karena itu, saya selalu menganjurkan, buang jauh-jauh segala pengharapan. Berlatih menulis hanya demi menulis, dengan menulis. Soal nurturant effeck, soal nantilah. Kalau menulis sudah fasih, semua itu akan datang tanpa diundang, tanpa diharapkan. Yang susah memasihkan menulis. Latihan menulis dengan menulis itu lebih penting.Kalau respon yang diperoleh baik, menyenangkan, memberi semangat, memotivasi, dan atau kritik membangun, Oklah.
Tapi, bagaimana kalau sebaliknya. Maksud hati menuai pujian yang diterima caci maki, hujatan, sampai prasangka. Apa tidak lemah tu tulang kaki. Karena itu, mental perlu dipersiapkan.
Selingkuh
Saya punya teman yang tingkatnya sudah super teman. Lebih dua puluh tahun menempuh banyak hal bersama. Dari hal yang candais sampai serius, dari yang khayali sampai realiti, dari guyonan sampai ke hal esenial, suda duka, kami jalani bersama-sama. Satu kesamaan mendasar, sama-sama suka ‘baca’ ilmu dan suka bercanda, plus cara berpikir kami ke luar dari pola umum sebagaimana ditulis J. Romein dalam buku klasiknya, Aera Europe.
Ndilalah, suatu kali candanya nyrempet-nyrempet. Sudah berapa lama berselingkuh dengan Suciati hingga mampu membuat buku, katanya cengegesan. Kalau kami berdua, bahkan bercanda lebih parah dari itu. Suciati kalau membaca tulisan ini pasti gregetan. Harap dicatat, ini bukan urusan Suciati. Ini dunia kami.
Saya tidak mampu membayankan kalau hal sedemikian menimpa Sampeyan sebagai penulis, apalagi sebagai motivator penulisan. Dan, —bahkan hal lebih dahsyat— bisa jadi menimpa. Kalau saya sih sudah kebal. Buku Banjarbaru pernah ‘dibantai’. Saya memang penduduk baru Banjarbaru menulis tentang Banjarabru yang sudah berumur setengah abad. Lucunya, persahabatan dengan Walikota Banjarbaru juga disoal. Ada yang bilang menulis buku Banjarbaru itu gampang. Setelah lima tahun ditunggu, tidak seorang pun menulis. Kini naskah tiga buku tentang Banjarbaru sedang diedit, sementara yang ‘menembak’ tidak menulis apa pun.Saya pernah disidang Senat Fakultas karena menulis, yang menurut beberapa orang, ‘mencemar’ nama lembaga. Padahal, menurut saya biasa-biasa saja tu, sangat logis, dan malahan membela lembaga. Sampeyan bisa baca di buku Menulis Sangat Mudah, saya kutipkan isinya. Namun, luar biasa menurut orang lain.Kalau saya sih tidak terlalu perduli. Saya tahu persis landasan menulis apa adanya, dari pengalaman, dari hal-hal kecil, dari yang dilihat dan dirasakan yang direlasikan dengan pengetahuan dan pemikiran. Kalau ada yang salah, perbaiki, atau minta maaf. Tapi, kalau di on the track mengapa pula menghabiskan energi memikirkannya.
Lagi pula, saya bukanlah dari golongan orang-orang yang berpandangan fatalistik, dekonstruktif, destruktif, apalagi destroyer. Saya terbina dari jiwa progresif, sekalipun tidak terlalu agresif, suka hal-hal baru, suka memikirkan sesuatu dan lebih menakutkan bagi orang-orang tertentu, suka menulis. Menulis apa yang dialami, he he Kali aja, bo.
Kuatkan Mental
Contoh di atas sengaja diketengahkan betapa wilayah menulis berisiko. Saya betul-betul membantu Suciati mengawal kemauan menulisnya.
Ada puluhan Suciati-Suciati yang sharing menulis. Fasiltas disediakan, dan berbagai kemudahaan dibentangkan. Begitu faktanya. Siapa Suciati sebenarnya sampai hari ini saya tidak terlalu tahu, dan buat apa pula perlu tahu. Ersis adalah Ersis, Suciati adalah Suciati. Titik.
Terlepas dari introdusir di atas, ketika tulisan Sampeyan ‘muncul’ bisa melihat reaksi dari orang-orang di sekitar. Ada yang ikut bangga sembari berbanggaria, ada yang sinis sampai mencaci maki.
Ada pula yang, gimana gitu. Â Belum lagi reaksi ratusan ribu pembaca, kalau dipublikasi media cetak atau jadi buku misalnya.
Pesan ini disambungsampaikan kepada seluruh anggota KP EWA’Co. dan penulis (pemula) lainnya, siapkan mental. Khusus kepada Hanna Fransiska, pancangkan kekuatan mental dari sekarang. Buku Antara Singkawang dan
Jakarta itu, feeling saya, akan bikin geger. Akan disambut pro-kontra. Yakinkan diri, menulis bukanlah perbuatan kriminal. Kalau pun terjadi, bisa belajar darinya, The experience the best teacher. Kalau tidak mau menanggung risiko, jangan pernah berbuat apa-apa. Sampeyan akan dikatakan good boy atau good girl.
Contoh-contoh umum bisa disimak dari berbagai kisah para penulis, yang lebih spesifik dapat diamati dari kejadian sehari-hari. Akan lebih afdol bila mengalami sendiri asal mental kuat. Menulis memang bukan untuk orang bermental buih. Menulis adalah profesi orang-orang kuat, mereka yang tahan banting, dan dengan berbagai deraan menjadi tangguh. Mata tahu betul, bo.
Bagimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 Juli 2007.










3 Responses to “Menulis Fakta Menuai Prasangka”
By SQ on Jul 8, 2007 | Reply
what a huge preparation ??!!
By irsan finazli on Jul 9, 2007 | Reply
Yup, bujur banar.
Siap mental adalah kata kunci dari memulai menulis.
Hari ini tulisan saya di koran RADAR BJM diapresiasi oleh PNS dari HST, makanya kudu siap mental
By ANIF on Jul 10, 2007 | Reply
Siap mental adalah awal dari kemenangan…
Betul lho..!
Salam dari saya, Irsan