Buku Sucati
29 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |
Suciati Rahayu bersama Syamsuwal Qomar, mahasiswa PSP Bahasa Inggris FKIP Unlam, berani-beaninya sharing berlatih menulis dengan saya. Setiap hari saya wajibkan menulis satu tulisan, biar tau rasa, he … he … Mungkin mereka ‘terberak-berak’ atau bersumpah serapah, mana peduli saya, its not my bussiness. Begitulah kalau mau serius sharing menulis.
Suciati nampaknya tabah. Buahnya buku Aku Bangga Jadi Urang Banjar. Sebagai konsekuensinya mendanai biaya kreativitas mereka, dari internet, layout, sampel buku, sampai pencetakannya. Bahkan, manakala kopi darat orang-orang KP EWA’MCo. disediakan makan. Kalau semaput siapa yang tanggng jawab, hayo. Dan ingat, ada saja yang bermurah hati membantu. Allah Mahabesar. Saya berterima kasih, dan tidak peduli dengan profesi mereka yang mencela, mencela, dan selalu mencela. Padahal, tidak berbuat apa-apa.
Mungkin bagi yang negative thinking saya sok pamer atau riya. Itu urusan Sampeyan dengan pikiran Sampeyan. Maksud saya kalau melakukan sesuatu harus tuntas. Kalau anjuran begini, begitu, begana, begeni, ikan nilapun bisa. Obsesi saya sepuluh tahun ke depan lahir Arsyad Al-Banjari-Asyad Al-Banjari baru dari Bumi Banjar. Semoga Datuk Al Banjari mengamini niat saya. Maaf datuk, entah kenapa saya merasa bertanggung jawab melanjutkan apa yang pian rintis, walau dalam bentuk kecil.
Selamat buat Suciati, dan segera menyusul Qomar, dan beberapa orang lainnya. Snowball picuan Menulis Sangat Mudah (2007) dan Menulis Mari Menulis (2007) segera membesar, Insya Allah. Lagi pula buku trilogi menulis segera akan lengkap sebab buku ketiga sedang saya susun. Ada yang punya ide judulnya?
Berikut cuplikan buku Suciati. Kalau semua dilansir di web ini, nanti ngak seru lagi membaca kopi daratnya. Selamat buat Suciati dan … anggota Komunitas Penulis EWA’MCo. Mari birahi menulis kita bangkitkan bersama. Amin.
DAFTAR ISI
SAPAAN PEMBUKA … v
PENGANTAR ERSIS WARMANSYAH ABBAS:
Belajarlah dari Arsyad Al Banjari … xi
DAFTAR ISI … XVII
BAB I BANGGA URANG BANJAR … 1
1.1 Bangga Jadi Urang Banjar … 3
1.2 Kaya Budaya Miskin Karya? … 11
1.3 Budaya Banjar Diserbu … 19
1.4 Jago Bakisah … 29
1.5 Banjar Kaya Kuliner … 39
BAB II UNLAM; BERGEGASLAH MAJU … 45
2.1 Mendambakan Perpustakaan … 47
2.2 Sumbang Saran … 53
2.3 Memaknai Visi Misi FKIP Unlam … 61
2.4 Belajar dari Pekerja … 67
BAB III PENDIDIKAN … 71
3.1 Sekolah Lembaga Pembebasan? … 73
3.2 Feodalisme Bertopeng Pendidikan … 81
3.3 Sekolah Milik yang Berpunya? … 89
3.4 UN Masa Kritis Bagi Siswa … 95
3.5 Bimbingan Belajar Siswa Miskin … 103
3.6 Keluarga Budi … 109
3.7 PT Buah Simalakama … 117
3.8 Kuliah Murah … 123
BAB IV PENDIDIKAN BAHASA … 131
4.1 Belajar Bahasa Inggris atau Kurikulum? … 133
4.2 Quo Vadis Pendidikan Bahasa Inggris? … 141
4.3 Pengguna atau Ahli Bahasa? … 149
BB V GURU DAN DOSEN … 155
5.1 Problema Guru … 157
5.2 Guruku Sayang Guruku Malang … 165
5.3 Dosen Juga Manusia … 169
TENTANG PENULIS … 177
Pengantar Ersis Warmansyah Abbas: Belajarlah dari Arsyad Al Banjari
Terbit dan beredarnya buku Menulis Sangat Mudah (2007) secara nasional, setidaknya mendatangkan dua beban sebagai penulis. Ketika tulisan ini ditulis, buku Menulis Sangat Mudah telah dicetak dua kali oleh penerbit Mata Khatulistiwa, Jogjakarta, dengan distribusi tunggal jaringan PT Buku Kita, Jakarta. Syukur memasuki cetakan ketiga.
Pertama, membawa beban moral, saya ‘harus’ subur menulis. Dalam seminggu menulis buku kedua tentang menulis, Menulis Mari Menulis dan dicetak percetakan Gama Media, Jogjakarta (2007). Saya memelihara 5 (lima) website untuk parkir berbagai karya tulis. Saya juga menulis artikel untuk media cetak. Tidak sulit, mengalir begitu saja, pante rae.
Kedua, mendapat respon luar biasa dari sentero tanah air. Anisa siswa SMU Jember, Hari Purnomo orang BPKP Lampung yang pindah ke Jogja menjelang pensiun, Urip guru dari Pangkalan Bun, Erwin dari Jakarta, dari Aceh, Jambi, Pontianak, Kendari dan banyak lagi. Kalau ditulis bisa berhalaman-halaman. Mereka merespon dengan cara masing-masing.
Bahkan, ada yang antik, seperti …. seorang pengusaha yang minta tulisannya diedit sembari mengirim wesel, kemudian mentrasfer ‘zakat’ menyaingi gaji saya setahun sebagai dosen golongan IV. Gila banar. Dana-dana sedemikianlah yang saya manfaatkan untuk memotivasi para penulis pemula. Semoga amal ibadahnya bermanfaat. Ada yang bermurah hati demi kemajuan (satu sisi kecil) bangsa.
Lebih ‘parah’ sehabis memotivasi ratusan mahasiswa FMIPA Unlam Banjarbaru, beberapa orang minta bimbingan pribadi, juga generasi muda PKS Kalsel, KAMMI, mahasiswa saya, dan seterusnya. Rahayu Suciati lain. Kenapa?
Menulis Mudah
Suciati yang seangkatan dengan Qomar berlatih menulis, saya ‘temukan’ di kampus. Semangat keduanya luar biasa. Yang lebih menarik, jangankan reward yang didapat dari lingkungan, justru kritik yang cenderung ‘membunuh’. Saya katakan: “Menulis tidak perlu reward, menulis ada di batin. Saya yang me-reward. Mari menulis”. Saya danai dari biaya internet sampai makan, bahkan sampai buku ini dicetak. Kalau dia dari keluarga berada,saya bisa kapok membantu yang lain nanti he … he …
Perintah harian pertama: “Kalian wajib menulis satu tulisan setiap hari. Tidak usah berkonsultasi. Saya ajari Sampeyan mendidik diri sendiri menulis. Ingat Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari. Semasa Beliau hidup belum ada komputer canggih, toko buku, dan perpustakaan sehebat sekarang. Beliau produktif menulis. Mari belajar dari Arsyad Al Banjari”.
Tanggal 30 Maret 2007 mereka telah mengirim 30 tulisan ke ersis_wa@yahoo.com. Tidak sempurna memang, tetapi dari awal sudah dikatakan: “Jangan sekali-kali berharap tulisan tanpa cacat. Kalian baru memulai”. Lalu, tulisan itu kami diskusikan. Diedit sekadarnya. E … ternyata pantas jadi buku, maka jadilah buku. Lho, kog jadi buku?
Kesulitan Menulis
Ada orang yang berpendapat menulis sulit, apalagi menulis buku. Perhatikan guru dan dosen yang hari-hari menguliahi mahasiswa memakai buku orang lain. Kalau bicara huibat. Tapi, tidak menulis buku sebagai ‘pacul’ mengajar. Sudah begitu mengesankan manusia terhebat di dunia di depan mahasiswa. Coba apa yang dikuliahkan di depan kelas ditulis, kan bisa jadi buku. Kenapa tidak dilakukan? Saya adalah pelaku, tapi itu dulu. Kini belajar dengan menulis, he … he … Masyak kalah dengan mahasiswa. Supan ah.
Yang ingin saya tekankan, kalau menulis dilatih, sekalipun sekedar menulis artikel, bisa jadi buku. Suciati telah membuktikan, bahkan pada bulan pertama berlatih menulis. Bayangkan sepuluh tahun ke depan ketika mereka sudah fasih menulis. Bisa-bisa puluhan buku ditulis.
Pesan kreatif aplikatif kandungannya, menulis harus dilakukan, dilatih dengan menulis. Hindari anjuran, ajaran, teori, atau komentar orang-orang yang tidak menulis, apalagi yang membuat semangat luntur. Tidak peduli dia guru atau dosen. Kalau mau jadi penulis, tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan. Sederhana.
Jadi, tidak ada yang namanya kesulitan menulis. Yang ada adalah belenggu-belenggu yang diciptakan sendiri. Hapus belenggu-belenggu itu agar tidak dijeratnya. Bayangkan Suciati pada bulan pertama berlatih menulis langsung bisa membuat buku. Apakah bukti ini belum cukup?
Mudahkan Menulis
Pesan berikutnya yang ingin saya tumpangkan, jadikan menulis mudah dan memudahkan. Mudahkan pikiran untuk menulis, siapkan mental dan waktu, tekadkan setiap hari minimal satu tulisan. Kalau sudah jadi kebiasaan, semua jadi serba mudah.
Untuk itu tingkatkan kemampuan diri dengan membaca, mengamati apa yang ada di lingkungan, dan hindari orang-orang yang suka bicara berpanjang-panjang, menguliahi, atau mengomentari tulisan kita dengan indikasi mematikan. Kalau perlu, jadikan makhluk sedemikian musuh setingkat iblis.
Dalam prakteknya, jangan tergoda teori-teori gombal, menulis harus begini-begitu, perlu waktu dan tempat khusus, mood, situasi dan kondisi tertentu. Hal sedemikian mejadikan menulis terkesan sulit.
Kalau sudah jadi habit jangan cepat puas atau ponggah. ‘Sebelum’ dan ‘sesudah’ menulis banyak membaca, perkuat teori, rekam ‘gaya’ penulis- penulis besar, dan ciptakan ‘gaya’ sendiri. Kalau jalan demikian ditempuh menjadi penulis bukan perkara sulit, yang sulit malah menjadi ahli teori, he … he …
Mudahnya, menulis dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Pertama-tama menulis di otak. Jangankan sembari berpikir, sambil tidur Sampeyan bisa menulis. Buat konstruksi lalu tuangkan melalui jasa tuts komputer. Mudah kan?
Pada dasarnya, hal demikian sudah Sampeyan lakukan sepanjang hari. Kalau dipikir apa yang dipikirkan, pikiran tidak akan bisa memikirkannya saking sibuknya berpikir. Hidup adalah berpikir. Berhenti berpikir berarti mati.
Lagi pula, bukankah Sampeyan membawa otak kemana-mana, setiap helaan nafas memanfaatkan otak, berpikir. Satu-satunya yang bisa membuat Sampeyan tidak bisa menulis, ya, apabila tidak membawa otak, dan tidak mampu berpikir. Kalau demikian, kita tidak usah berkomunikasi lagi. Tidak usah menjadi penulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
BAB I BANGGA URANG BANJAR
1.1 Bangga Jadi Urang Banjar
Banjar adalah warisan suku dan akar yang kuat mengalir dalam darah saya. Dimanapun menginjakkan kaki dan bernafas, Banjar adalah identitas etnis yang tak akan pernah saya lepaskan: Saya bangga jadi urang Banjar.
Kebanggan sekarang semakin saya rasakan, tetapi ketika semasa sekolah dulu saya tidak peduli budaya Banjar. Sejak lahir hingga lulus SMU, saya dan keluarga menetap di Balikpapan. Berbahasa Indonesia sudah menjadi makanan sehari-hari disana karena penduduknya yang heterogen dan tidak mempunyai bahasa daerah sendiri. Walau begitu, dalam didikan orang tua saya tumbuh bersama bahasa dan budaya Banjar.
Setelah kuliah di Unlam Banjarmasin, bahasa Banjar semakin akrab dengan keseharian. Kalau dulunya hanya bisa menguasai bahasa Banjar secara pasif sekarang urusan bapander lumayan jago. Lama kelamaan merasa nyaman menetap di Banjarmasin walau dengan segala keruwetannya. Mungkin karena budaya Banjar yang begitu kental membuat betah.
Ada satu hal yang paling mencolok dari Urang Banjar yang tinggal di Banjarmasin dan daerah lainnya di Kalsel menurut kacamata saya. Urang Banjar amatlah bangga dengan bahasa dan budayanya. Mereka akan lebih respek dan nyaman berbicara dengan dan dalam bahasa Banjar.
Mulai dari anak-anak, orang tua hingga remaja sekalipun selalu nyaman menggunakan bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia yang kebanyakannya hanya digunakan dalam situasi formal. Hal tersebut yang mungkin mendorong pendatang yang menetap di Banjarmasin berusaha dan akhirnya terbiasa menggunakan Bahasa Banjar.
Karena itulah sering dijumpai bahasa Banjar yang diucapkan dalam logat Jawa atau Madura. Semua itu mungkin mencerminkan satu hal, bahwa masyarakat yang telah menetap di Banjarmasin bangga dengan bahasa Banjar. Suatu fenomena yang membanggakan bagi kelangsungan bahasa Banjar.
Suku Banjar adalah suku yang kaya akan ragam budayanya. Populasi suku Banjar terbilang besar karena berada di urutan ke sepuluh dari populasi suku terbanyak di Indonesia. Anehnya, kenapa dengan kayanya budaya yang dipunya dan banyaknya populasinya, suku Banjar tidak terangkat dan terekspos ke kancah nasional.
Ini bisa dilihat dari tayangan dan program televisi yang kelihatannya hampir tidak pernah mengangkat budaya dan bahasa Banjar sebagai temanya. Seringkali kita melihat dan mendengar kisah suku Jawa, Sunda, Manado, Batak, Madura, Bugis, Ambon, Bali, Padang dan lainnya yang kesannya jauh lebih terkenal dari suku Banjar. Rhoma Irama ketika membuat lagu 140 juta penduduk Indonesia, lalu 200 juta, belum juga memasukkan Urang Banjar.
Acara-acara yang mengangkat kedaerahan nusantara jarang menampilkan suku Banjar. Bahkan suku Irian yang berada jauh di ujung pelosok Indonesia masih lebih dikenal dari suku Banjar yang merupakan suku terkenal di Kalimantan.
Bisa jadi kurang terkenalnya suku dan budaya Banjar di negara kita ini karena suku Banjar yang kurang unjuk gigi sehingga suku kita semakin tertinggal dengan suku lainnya dan lama-kelamaan malah bisa dilupakan jika keadaannya seperti ini terus.
Lihat saja di buku-buku sejarah SD hingga SMA dimana sejarah Banjar jarang dikupas dibanding sejarah suku lain. Kalaupun ada tak lebih dari perjuangan pangeran Antasari dan sejarah kerajaan Banjar yang juga tidak banyak mengemuka.
Padahal jika ditilik lebih jauh, sejarah Banjar itu sangat menarik untuk dipelajari. Bagaimana asal-asul suku Banjar yang pada mulanya sebagai percampuran antara Melayu dan Dayak yang kemudian melahirkan tiga sub suku yaitu Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu, dan Banjar Kuala. Belum lagi sejarah kerajaan-kerajaan Banjar yang sukses menyebarkan kebudayaan Banjar hingga ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah bahkan merambah ke Malaysia.
Jadi, mengapa suku Banjar yang begitu kaya akan sejarah dan kulturnya harus kalah digeser oleh sejarah suku lainnya. Akibatnya, anak Banjar pun lebih hapal perang Diponegoro, kerajaan Majapahit, pembangunan candi Borobudur, kesultanan Demak, dan sejarah lain sedangkan sejarah suku sendiri mereka malah “buta”.
Apa salah kita? Jika pian Urang Banjar maka bertanyalah dalam diri anda masing-masing. Mengapa suku kita yang begitu bertaring di Kalimantan terkesan ompong di kancah nasional? Pernahkah terpikir bahwa budaya Banjar yang begitu kaya hanya bisa kita nikmati di daerah sendiri sedangkan begitu jarangnya bisa kita nikmati dalam skala nasional. Padahal jumlah suku Banjar amatlah besar.
Salah satu kesenian Banjar yang paling terkenal misalnya, Madihin yang sarat akan budaya Banjar pun tidak terkenal hingga menjadi ‘identitas’ masyarakat Indonesia. Kesenian Madihin sepertinya masih berkembang di ruang lingkup Kalimantan dan yang menjadi penikmatnya adalah orang Banjar sendiri.
Padahal kesenian Madihin amatlah bagus dalam memperkaya budaya bangsa. Sayangnya lagi, kesenian Banjar tampaknya kalah pamor dengan seni wayang, tari Jaipong, dan kesenian lainnya sudah dinikmati oleh masyarakat luas sejak dulu.
Orang Banjar terkenal harat (hebat) itu mungkin bisa jadi benar. Jika melihat suku Banjar yang kaya akan budaya, kesenian, bahasa dan wisata serta sejarahnya yang bisa menunjukkan bagaimana haratnya Urang Banjar.
Tapi bisa jadi itu hanya sebatas mitos belaka jika pada kenyataannya gaung Banjar sebagai suku nang harat (suku yang hebat) cuma terdengar di tanah Kalimantan. Sedangkan di mata bangsa kabar suku Banjar malah “sunyi”. Apa kada harat di kampung sorang, eh sakali ka luar kadada apa-apanya lalu, ya kalo?
Apa kabar Urang Banjar sabarataan? Semoga pian-pian tidak tersinggung dengan tulisan ini. Tak lebih yang saya kemukakan murni keinginan sebagai anak Banjar yang menantikan Banjar menjadi suku yang terkemuka. Sudah saatnya Urang Banjar berbenah dan bersiap untuk go public.
Untuk pemerintah daerah yang saya yakin didonimasi putera daerah, jadikanlah masalah ini sebagai wacana yang perlu mendapat tanggapan dan perhatian serius dalam rencana pembangunan Kalimantan Selatan. Hendaknya promosi wisata khas Banjar lebih gencar dilakukan guna memperkenalkan nama suku Banjar di mata nusantara.
Agar wisata kita tidak melulu seputar Pasar Terapung dan Pulau Kembang tapi masih banyak daerah wisata yang sangat layak dijadikan tujuan wisata. Asal dibenahi dan dikelola dengan baik, keindahan daerah Kalimantan Selatan dengan budaya Banjarnya tak mustahil bisa mendapat tempat dihati para penikmat wisata seperti halnya pulau Bali.
Buatlah perubahan dan kemajuan suku Banjar. Lucu bukan jika monyet bekantan lebih punya nama dibanding suku Banjarnya sendiri. Apalagi jika yang terkenal di Kalimantan Selatan malah penambangan batu bara atau penebangan hutannya daripada kesenian Madihinnya.
Lewat karya dan tulisan hasil dari orang Banjar mungkin bisa menjadi jalan pembuka untuk memperkenalkan budaya Banjar dalam skala nasional bahkan bisa sampai ke kancah internasional. Banyak suku Nusantara terkenal karena tulisan para tokoh atau intelektualnya.
Sayang disayang Urang Banjar karya tulisannya belum lagi sampai mengangkat nama Banjar lebih tinggi. Kalau karya-karyanya banyak dan menasional tentu akan sejajar dengan suku-suku bangsa lain di Indonesia.
Padahal jika ingin berkarya banyak hal dari suku Banjar yang bisa digali mulai dari sejarah, kesenian, budaya, hingga bahasanya.
Jika saja Urang Banjar giat menulis maka sejarah Banjar tak akan lagi mendapat porsi kecil dalam sejarah nasional. Sehingga nantinya anak Banjar tak lagi buta soal sukunya dan anak Banjar bangga mempunyai darah Banjar yang mengalir dalam raga dan jiwanya.
Semoga kelak suku Banjar kada lagi harat di kampung haja tapi harat jua di kancah nasional. Maka itu, nanang, galuh, uma, abah, Urang Banjar sabarataan, majukanlah suku kita agar tak lagi tertinggal jauh dalam peradaban bangsa. Pastinya dalam lubuk hati, Pian ingin juga melihat Banjar menjadi suku yang terkenal Indonesia, bukan?
Keadaan suatu kaum tak akan berubah kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Jadi, kalau bukan Urang Banjar sendiri siapa lagi yang akan menggaungkan nama Banjar.
Bujur kalo? Semoga saja …









25 Responses to “Buku Sucati”
By SQ on Jun 29, 2007 | Reply
as one of her partner in making Aku Bangga Jadi Urang Banjar book. first i want to say congratulation for this achievement. Hopefully that she can reach her destiny as one of the greatest novelis and also hope that this is not only her last work. Hope that you can catch u’r dream as a productive writer and also prestigious journalist.
Khusus buat pa Ersis..Kami berterima kasih atas segala waktu dan pengorbanan yang diberikan. Kami ikut mendoakan mudah-mudahan tekad bapak untuk menjadi penulis yang paling produktif di provinsi tercapai, tapi kami muhun dua juga, so that we can follow and trace your life sir..he..he..he
By Dp on Jun 30, 2007 | Reply
bolehlah pengantar nongol duluan, tapi mana jabang bayinya koq gak nongol2. jangan2 yang kebelet pengen lahirin bukan orang hamil, tapi dukun beranaknya ya.
By Ersis W. Abbas on Jun 30, 2007 | Reply
Bisa jadi Pak. Tapi dahsyat kog, ada 5 naskah mahasiswa dalam bentuk draft, 4 buku ’senior’, heran juga nih ternyata mereka pada dahsyat. Memang yang dimunculkan sedemikian … dan dukun mungkin saja yang memaksa he … he … Yang penting hasilnya ada dan nyata. Menulis dijadikan bukan dongeng, mimpi, teori, petuah, atau angan-angan. Tapi karya, karya nyata.
By windede on Jun 30, 2007 | Reply
saya malah mikirnya titisan syekh arsyad itu adalah orang kelahiran muaralabuh ini hehehe… nice project, om…
By hanna on Jun 30, 2007 | Reply
selamat ya…………..
moga semakin banyak yang berkarya.menulis itu indah lho.
By mathematicse on Jun 30, 2007 | Reply
Makasih Om Ersis… , saya jadi makin semangat nih untuk jadi penulis….
By phetex on Jul 1, 2007 | Reply
ada apa ya? ya apa ada? hi hi hi
jangan ngambek loh
By phetex on Jul 1, 2007 | Reply
ada apa ya? ya apa ada? hi hi hi………..
jangan ngambek loh! sebab aku bangga suciati nan sucihati
kalau ‘bangga jadi urang banjar’ tapi ‘malu jadi orang indonesia’ gimana ceritanya ‘nak suci? apa gak kayak makan soto pakai rendang, ha9x.
By suciati on Jul 1, 2007 | Reply
he2…makan soto pake rendang?bisa tuh di coba?he…
wah, yang pasti bersyukurlah terlahir jadi orang Indonesia, soalnya kalo bukan lahir sebagai orang Indonesia saya nggak akan punya kesempatan merasakan kebanggaan jadi anak Banjar dong, Pa? kan di Amerika nggak ada suku Banjarnya, he…
tapi, saya bukannya nggak bangga jadi anak Indonesia, tapi yang lebih tepat mungkin sedikit prihatin dengan kondisi bangsa dan negara tempat saya bernafas ini…mungkin ke depannya Indonesia bisa berbenah ke arah kemajuan…Amiiin…
yang pasti….sekali lagi….seterusnya….saya bangga jadi Urang Banjar…setuju, Pak?
By suciati on Jul 1, 2007 | Reply
wah, terima kasih banyak buat semua yang kasih komentar…buat Mba Hanna, saya jarang sekali menemukan orang yang jatuh cinta pada menulis. Mba salah satunya….
By Andre Rahardian on Jul 1, 2007 | Reply
Good job, Ayu, but why don’t you also write in English, and create your own Blog or Site. It’s free and not time-consuming. Some of your friends, like Rusfita, only took 15 minutes finishing her site in Multiply.
So my advice, also write in English, and create your own Blog or Site. As you know, many people now are living as Blogger. They write in Blog and earn money from it. Wonderful job, I’d say. Keep writing!
By Al Fahm on Jul 2, 2007 | Reply
Sukses lah kawan ku nang saikung ini…
Jangan terlena dengan hasil nang ada…tarusakan sampai …..tangan manulis dengan mamajuakan karya banua Banjar nangini…siapa lagi bubuhan kita nang anum-anum nangini…
Terus Bergerak Tuntaskan Perubahan
By Maghfira Mimi on Jul 2, 2007 | Reply
Assalamualaiku…..
salam kenal buat suciati dan syamsuwal qomar… semoga sukses menyertai para penulis khususnya di EWA komuniti…amin…. tulisan suci membuktikan anak banjar juga hebat lo…
By irsan on Jul 3, 2007 | Reply
Bujur banar.. ujar sang Motivator kita, EWA. Memang kita kudu memecahkan belenggu-belenggu dalam menulis, ya contohnya belenggu: ulun kada biasa, ulun balum berpengalaman, ulun kada kawa nulis kaya ni, ulun tolong dibuatakan haja, ulun kada wani banar ai, dll.
Buku mu, memotivasi bagi anggota KP EWA yang lain. Termasuk saya. Tulis terus pokoknya.
By suci on Jul 4, 2007 | Reply
to Mr Andri(mm, it sounds strange, hehe),
to Mr. Andre (the coolest lecturer English Department ever has, weekek)..
thank u so much for visiting this website also 4 your comment. make my own blog? yeah, I’ll trying. but, maybe I’ll often bother u with many question in making it, is it ok?
and ’bout writing in English, u know what? I’m dying in making it. but, as I’ve told u before that a ghost named structure seems still be the hardest obstacle 4 me to achieve it. honestly, I don’t really like structure and it explains why I’m not good in it. sounds silly, ha? but it’s extremly true (from the bottom of my heart, alah!)
so, my nice teacher, have any suggestion to solve may stucturephobia? ( hehe, see, I even have my own term )
once again…no pain no gain ( alah! kada nyambung )…thank u for the support…you rock!!!
By suci on Jul 4, 2007 | Reply
Lam kenal juga ya, Mimi…Irsan dan Fahmi, makasih buat komentarnya…tetap semangat menulis! majukan benua lewat tulisan, bujur kalo?
By Andre Rahardian on Jul 8, 2007 | Reply
Structurephobia? Well, you must cure it with StructureCillin, StructureTamine, StructureCure or StructureDrug. Bad names! I’m sorry, Ayu. I wish there is an easy shortcut for you to master English structure Unfortunately, there isn’t any. The only secret I know to master structure is Reading and Learning! But I’m sure you’ll get over it, eventually.
By fadli on Jul 29, 2007 | Reply
ikam adalah orang hebat pemerhati kaum banjar!
teruskan perjuangan anda dalam menulis artikel-artikel bermanfaat seperti ini!
By malaysia banjar on Aug 20, 2007 | Reply
di malaysia juga ada kaum banjar. kulaan nireng napa tkuriheng. hidup banjar indonesia dan malaysia
***Hidup … akan lebih hidup dengan menulis.
By syaipullah on Sep 4, 2007 | Reply
aku gin bangga jadi urang banjar, apalaginenek moyang orng banjar kebnaykan dari kaum keturunan nabi, Sayyid, al -aydarus lagi, intisarinya para habaib. terbukti, orang banjar dimana mana (kalsel-kaltim, kalbar, kalteng, sumatera, malaysia, brunei) membawa panji dan obor islam.
salam
By Mega on Oct 26, 2007 | Reply
duh jadi takut sharing ni ma Uda…takut disuruh nulis tiap hari ntar,,krn waktu ntuk chatting aku akan terpakai,,hahaha…
***Yap, itu risiko. The life is choice … baca ajalah, itu kan sharing yang sebenarnya.
By PBSID on Oct 26, 2007 | Reply
Selamat atas terbitnya buku anda. Tapi saya mau bertanya bahasa Banjar yang anda maksud bahasa banjar asli atau bahasa Banjar yang sudah terkontaminasi dengan bahasa Indonesia, karena saya mendengar jarang sekali ada orang yang menggunakan bahasa Banjar asli. Satu hal lagi tapi ini mungkin hanya menurut saya saja karena belum ada penelitian yang pasti. Orang Banjar sebenarnya tidak terlalu bangga dengan bahasanya sendiri terutama orang Hulu Sungai, terkadang mereka malu dengan bahasanya sendiri karena terlalu banyak “lagunya” dan terkadang orang Banjar sendiri malah mentertawakan temannya yang berbicara seperti itu.
By DRECEBINEWANI on Dec 18, 2007 | Reply
I’d prefer reading in my native language, because my knowledge of your languange is no so well. But it was interesting! Look for some my links:
By DRECEBINEWANI on Jan 21, 2008 | Reply
I’d prefer reading in my native language, because my knowledge of your languange is no so well. But it was interesting! Look for some my links:
By dei on Feb 5, 2008 | Reply
Ikut indo… bikin borneo susah….
Bahas pang cil napa urang kalimantan umpat indonesia…
makanya sakit banar nah… sakit bausaha, hutan habis, batubara habis, pendidikan larang, hutang tatumpuk, minyak ngalih, mun garing baubat kada kawa…paksa’i dharit…
Makanya… bangga jd urang banua, kada bangga jd warga Indo….