Tatsbit At-Tandzim

24 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*

Pembinaan merupakan keniscayaan bagi organisasi apa pun yang bergerak di semua strata masyarakat manapun, baik itu organisasi pendidikan, ormas, organisasi sosial politik, organisasi religi sampai organisasi di perusahaan maupun pemerintah. Demikian juga partai politik, baik berasas Islam ataupun Pancasila, termasuk disini partai dakwah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Perlu diketahui, bahwa partai dakwah ini mempunyai berbagai macam cara untuk membina konstituen, terlebih lagi bagi para kader intinya, yang menurut penulis pantas dijadikan teladan bagi organisasi lainnya.

Kader Inti PKS dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan mendatangi acara yang digelar DPW PKS. Acara tersebut tergolong sangat istimewa. Keistimewaannya terletak pada sifat mengikatnya bagi kader yang sudah memasuki usia pembinaan di PKS yang dinyatakan pada jenjang keanggotaan madya. Dimana penjenjangan,  mulai dari pemula, muda, madya, ahli, dan purna.

Keriuhan acara yang digelar tanggal 12 sampai 13 mei 2007 tersebut kurang didukung oleh fasilitas memadai dari panitia dalam menyiapkan ‘uga rampe’ sebagaimana acara besar lainnya. Terlihat sangat minimnya spanduk yang terpasang, bendera terkesan ‘pelit’ apalagi umbul-umbul yang sama sekali tidak terpampang sejak hari pertama acara ini digelar hingga selesai dua hari kemudian.

Sepuluh materi atau bahan pelatihan wajib diikuti oleh peserta yang dijadualkan dalam dua hari pelatihan. Dauroh Tasbit Tandzim, namanya. Dauroh artinya pelatihan, Tasbit mengandung makna pengokohan, sedang Tandzim adalah struktur atau organisasi yang mewadahi, dalam hal ini PKS. Jadi, arti Dauroh Tasbit Tandzim boleh diartikan sebagai acara yang ‘menggodog’ para kadernya untuk tujuan pengokohan secara struktur atau organisasi.

Peserta yang tidak lain adalah kader-kader terbaik PKS di seluruh kabupaten dan kota, di-retraining dengan tujuan agar terbentuk kader yang diharapkan memenuhi kriteria sesuai dengan acuan standar yang berlaku untuk semua kader se-Indonesia, bahkan Internasional. Mereka dipahamkan kembali, diingatkan kembali, di-upgrade guna memenuhi standar sebagai seorang kader yang militan dan berkiprah di masyarakat sesuai dengan khittah PKS.

Artinya, di belahan bumi mana pun seorang kader PKS berada, harapannya standar dengan kader didaerah lainnya. Pengetahuannya, keterampilannya, cara-cara problem solving-nya, bagaimana berkiprah di masyarakat, berinteraksi secara internal dan eksternal, AD/ART keorganisasian, kewajiban dan hak sebagai kader, bahkan sampai pada personality-nya. Dimana personality yang diharapkan adalah syahsiyah Islamiyah, berkepribadian Islami. Yang nantinya sebagai bekal menuju tahapan berikutnya, yakni usroh atau keluarga yang Islami berlanjut pada masyarakat Islami, yang tujuan akhirnya untuk membentuk sebuah peradaban Islami yang mendunia.

Manusia memerlukan sebuah momentum-momentum yang gunanya untuk meningkatkatkan kemampuan maupun mengembalikan kemampuan yang pernah dipunyai, salah satu cara yang dipakai ‘bubuhan’ PKS adalah dauroh yang bersifat wajib dan berlangsung kontinyu. Menyadarkan kembali arti pentingnya sebuah kebersamaan yang dibangun atas dasar kesepahaman nilai-nilai luhur yang notabene nilai Ilahiyah.

Pelatihan dimulai dengan pembacaan surat Al-Anfal sampai dengan ayat terakhir, berlanjut dengan pembukaan oleh Ketua DPW PKS, dalam hal ini tidak sekedar memenuhi seremonial dari acara yang bersifat resmi kepartaian tersebut. Kemudian diisi dengan berbagai materi kepartaian yang sangat urgen diikuti bagi para kader terbaik yang belum paham betul mengenai PKS. Sehingga semakin mantaplah ketergabungannya seorang kader ke dalam partai dakwah yang sementara ini bernama Partai Keadilan Sejahtera. Sebagai wadah ‘penggemblengan’ yang sangat diperlukan, baik oleh struktur yang telah lama tergabung di PKS maupun kader yang baru saja tergabung didalamnya.

Tidak terpungkiri, bahwa dauroh tasbit tandzim ini merupakan treatment ‘cerdas’ dari segolongan manusia yang menyeru akan kebaikan. Sisi-sisi positif banyak diambil dari dauroh ini, misalnya pengejawantahan ke alam kekinian terkait latar belakang terbentuknya sebuah partai dakwah, urgensi dakwah via legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, bahkan disemua lini kehidupan.

Begitu cerdasnya kader-kader PKS mempunyai ide cemerlang, yang belum terbersit dalam pikiran sebagian besar manusia di Indonesia terkait perlunya sebuah partai Islam yang berasas Islam, jauh-jauh hari di-era tahun delapan puluhan. Sehingga saat ada momentum reformasi, muncullah Partai Keadilan yang memproklamirkan sebagai partai dakwah, yang kini bernama Partai Keadilan Sejahtera.

Meskipun PKS berusia sembilan tahun, resminya. Tapi usia sebenarnya adalah dua puluh tujuh tahun, artinya PKS sedang memasuki usia pemuda, jika diibaratkan dalam rentang usia perkembangan manusia. Dengan usia yang muda itu pula, sudah terlihat sebuah kedewasaan, jika di-versus-kan dengan keberadaan partai-partai lain yang ada di Indonesia saat ini. Iya khan?. Coba, lihat saja kiprah PKS di masyarakat. PKS telah, sedang, dan akan terus memberdayakan masyarakat, menyumbang masyarakat walaupun PKS berduit pas-pasan.

Dalam slogan-slogan kebaikan, PKS jagonya, tentu saja ‘jago’ juga tentang action-nya. Tidak hanya slogan tetapi, stigma ‘bersih dan pedulinya’ PKS, yang berkembang dimasyarakat, juga bisa kita rasakan ‘greget-nya’. Dalam aksi sosial, tidak usah ditanya. Aksi apapun, pernah dilakukan PKS, tentu saja aksi yang bernuansa positif dan futuristik. Dimana berkahnya juga diikuti oleh banyak partai lain baik partai Islam maupun partai lainnya.

Terkadang partai lain merasa gerah melihat sepak terjang partai dakwah ini, hampir semua momen yang ada di kalender Nasional Indonesia, dapat dipastikan PKS menggelar acara. Entah berupa aksi simpatik sampai dengan aksi turun kejalan, demonstrasi yang aman. Program rutin terus dikelola, sedang program insidentil terus berjalan, dan program-program cerdas unggulan terus diproduksi dan diproduksi.

Ternyata, PKS tidak hanya berpikir bahwa membangun banua, bangsa, bahkan peradaban dunia itu sendiri, tetapi diperlukan kebersamaan diantara sesama anak bangsa. Oleh karena itu PKS sadar betul harus banyak melakukan musyarokah, perserikatan atau koalisi baik yang permanen maupun temporer dalam hal yang disepakati bersama. Koalisi tersebut dilakukan dengan siapapun dengan syarat disepakati bersama dan dalam hal kemaslahatan umat ‘jalma manungsa’.

Kembali ke Dauroh Tasbit Tandzim, sebenarnya dauroh ini sama dengan training-training yang dilakukan oleh partai lain atau organisasi lain, bahkan training maupun re-training yang dikukan perusahaan dan pemerintah. Hanya saja bedanya,  bersifat nilai Ilahiyah.

Semoga tulisan ini menggugah partai lain dan organisasi lain terkait pembinaan bagi para kadernya, sehingga melahirkan kader-kader yang siap menjadi sang mujaddid, pembaharu. Yang kader tersebut merupakan anashirut-taghyir, agent of change, sebagaimana kader PKS.

*Psikolog lembaga psikolog Global Banjabaru dan KP EWA’MCo.

  1. 4 Responses to “Tatsbit At-Tandzim”

  2. By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply

    Hidup PKS..!
    Partai masa kini dan masa depan.
    Sambut seruan kami..
    Turut barisan kami..
    Membangun Negeri…
    Salam gabung PKS dari saya, Irsan.

  3. By Al Fahm on Jul 2, 2007 | Reply

    saya akui memang suatu parpol yang rapi dalam penampilan dan baru lahir..tapi patut untuk dijadikan sebagai perhatian oleh parpol lainnya. tapi lebih baik lagi bagi kader parpol ini memunculkan kader-kader yang memiliki kemampuan dalam tulis menulis sehingga dapat dinikmati karyanya bagi banua ini…

  4. By irsan on Jul 3, 2007 | Reply

    Yaah saya setuju, mari sebarkan terus motivasi menulis, tentu saja juga harus diimbangi dengan membaca. Seorang Muslim terlahir untuk Membaca dan Menulis sehingga akan seimbang.

    Salam tebar motivasi menulis dan membaca dari saya, Irsan

  5. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 5, 2007 | Reply

    Saya ngecek tulisan lampau, aja.
    Salam.

Post a Comment