Psikolog Bukan Tukang Tes Saja
24 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
Heninglah suasana ruangan, sebesar apa pun ukurannya saat pelaksanaan psikotes atau tes psikologi, sudah jamak adanya. Bagi yang pernah mengikuti, pasti pernah mengalami, bahkan mungkin mencekam. Sebagaimana pengakuan seorang testee (peserta tes) yang berdiskusi saat rehat dengan saya. Apakah karena psikolognya galak atau psikotes harus menegangkan?.
Kesannya, psikotes mencekam, testernya angker, testee-nya minder. Klop sudah. Padahal, kunci keberhasilan psikotes tergantung dari kerjasama kedua belah pihak. Tester bertugas membina hubungan baik dengan testee, saling menciptakan suasana nyaman.
Yaah biasalah, psikolog yang ‘baik’ kan memang harus ‘jaim’ alias jaga imej. Sering saya dilapori testee, kalau testernya Si Anu pasti tanpa basa-basi. Jangankan ketawa, senyum saja tidak mau. Bersepatu yang bunyinya nyaring ‘cethak-cethok’, pegang stop watch dan pensil sambil mengatakan, mulai atau selasai, cukup, letakkan alat tulis, waktu habis”. Setelah selesai, pulang. Esok hari melihat pengumuman tes berikutnya, bagi yang lulus.
Lain halnya, kalau yang dites adalah ‘bubuhan’ pejabat. Pengalaman saya lebih dari lima kali menangani mereka di beberapa kabupaten dan kota, entah psikotes penyesuaian ijazah, jabatan, promosi ataupun mutasi. Biasanya nih, psikolog kuwalahan menghadapi. Maklum, mereka atasan, merasa superior punya power. Tapi tidak semua, cuma kebanyakan. Jangan kan mendengarkan perintah atau petunjuk aturan menjawab soal, kita justru menjadi bahan ketawaan.
Bayangkan, baru perkenalan dan pembacaan aturan proses psikotes yang satu bunyi item aturannya adalah “harap mematikan HP agar tidak mengganggu peserta tes yang lainnya”. Boro-boro diikuti, eh malah menelepon. Yang lebih ngawur, menerima telepon sambil menyulut rokok. MasyaAllah, seperti inikah sosok pelayan masyarakat kita. Heran, kog bisa menjadi pejabat.
Parahnya lagi, saat psikotes berlangsung saya melihat dengan mata kepala sendiri ada seorang peserta tes yang nota bene pejabat, membawa kerpekan. Seperti inikah sosok pejabat pelayan masyarakat kita. Tidak punya rasa malu lagi, kah? Saya tidak menyalahkan, tetapi berkepentingan untuk menyadarkan teman-teman psikolog, mungkin mereka khilaf sehingga mau menerima sogokan dengan imbalan pemberian resep dapurnya sendiri. Naif sekali, rela menjual harga dirinya terlebih lagi harga diri psikolog lainnya seprofesi.
Berbeda sekali saat menangani anak-anak sekolah atau calon siswa SD/ SMP/ SMU, bahkan PG ataupun TK. Mereka relatif bisa diatur. Lebih-lebih calon siswa yang akan masuk sekolah favorit. Mereka manut. Disini berlaku istilah “faking bad and faking good”, menjawab dengan berpura-pura baik ataupun berpura-pura buruk, alias dibaik-baikkan atau dijelek-jelekkan. Tergantung kondisi si testee terkait tujuan tesnya.
Lucunya, seorang anak calon siswa SDN favorit yang diantar orang tuanya, bahkan duduk disamping sang anak. Kalau anaknya tidak bisa menjawab, orang tuannya yang menjawab dengan membisikkan pada anaknya. Ya jelas benar jawabannya, lha wong tes untuk anak SD kok dijawab seorang bapak yang sarjana. Mau jadi apa negara kita nantinya. Yang salah anaknya atau bapaknya? Atau malah testernya?
Inilah, orang tua yang merasa memiliki ‘kuasa’ atas anaknya, ‘sidin’ punya power untuk menekan anaknya, yang menguasai anaknya. Hasilnya, secara de-yure si anak lulus tes. Tapi secara de-facto, anak ini tidak kami luluskan untuk memasuki jenjang salah satu SD favorit. Kami tidak mau disebut sebagai ‘pejabat penjahat’ yang memperosokkan insan manusia ke masa depan suram.
Kalau kita tengok kembali ke referensi asal, Psikolog Industri atau Sarjana Psikologi Industri, memang salah satu tugas pokoknya adalah melakukan pengetesan atau pemeriksaan psikologis terhadap seorang manusia, baik yang normal maupun yang cenderung normal sampai manusia yang cenderung abnormal alias handicaped. Manusia istimewa positif ataupun istimewa negatif. Apa yang dites?
Beberapa aspek kepribadiannya. Contohnya, bagaimana intelektual, moral, karakternya ketika berinteraksi dengan manusia lain atau dengan pekerjaan nantinya, pola kerjanya lamban atau ajeg atau progresif, manajeriarnya menekankan aspek tugas atau aspek hubungan personal, bahkan sampai kepada minat dan bakatnya. Nah, rumit bukan? Tapi tidak masalah, kan take of pay-nya lumayan bergengsi juga. Bagi sementara psikolog, psikotes merupakan lahan basah, karena hampir tiap tahun ada proyeknya.
Padahal ada tugas penting psikolog, meng-assessment pegawai maupun karyawan yang akan mengikuti training maupun re-training. Menganalisis tingkat kebutuhan pelatihan, mengevaluasi hasil capaian pelatihan, yang pada akhirnya membuat kesimpulan mengenai kebutuhan sesungguhnya perusahaan.
Juga, membuat analisis sebuah jabatan, anajab, istilah beken-nya dilingkungan psikologi. Mengenai kerjaan yang satu ini, dana yang diperlukan besar bahkan mungkin sangat besar. Tergantung seberapa banyak jabatan yang di analisis, seberapa besar skala sebuah perusahaan tersebut apakah lokal nasional atau internasional. Diperlukan standardisasi.
Oleh karena itu, marilah kita bersatu padu membangun banua kita dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu sesama psikolog ‘gontok-gontokan’, banting harga untuk mematikan biro psikologi lain, yang sebenarnya adalah rekan seprofesi bahkan satu himpunan, atau mungkin satu almamater.
Banyak sekali tugas kita, sungguh mulia tugas kita, sungguh bermanfaat, sungguh strategis. Bayangkan, bagi calon gubernur maupun calon wakil gubernur, psikologlah salah satu penentu layak tidaknya maju sebagai calon pemimpin atau tidak. Direkomendasikan maju atau tidak. Ingat lho ya, ini baru calon. Cleaning service saja menggunakan jasa psikologi lho. Bayangkan.
Terakhir dari saya, saya menghimbau, marilah kita buka lembaran baru untuk membangun dengan jujur dan adil. Dahulukan kepentingan khalayak, kesampingkan perbedaan yang ‘furu’, cabang kecil-kecil yang bukan utama. Tidak usah dipertajam ataupun diperpanjang. Semoga psikologi bisa memberi nuansa tersendiri bagi insan manusia mengarah pada suatu kebaikan dan kesehatan mental bersama.
Bersama Membangun Banua Tercinta.
* Owner Lembaga Psikologi GLOBAL Banjarbaru dan KP EWA’MCo.










3 Responses to “Psikolog Bukan Tukang Tes Saja”
By hanna on Jun 25, 2007 | Reply
setuju sekali.
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Yaah begitulah seharusnya Psikolog. Saya harapkan para psikolog yang ada di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ikut mempertajam kiprah psikologi yang mengarah kepada kemajuan peradaban.
Salam health_psikis dari saya, Irsan.
By SQ on Jun 27, 2007 | Reply
satu hal yang pasti, tugas psikolog bukan hanya tukang tes. Tapi juga seseorang yang diberi tugas memilah dan memilih sesuatu dengan cermat. Susahnya, terkadang apa yang dinilai tidak selalu bisa dilihat. seperti intan yang letaknya didalam tanah, tugas psikolog bisa jadi menggalinya. Sebab intan atau kaca, takkan ada bedanya bila tak terlihat.