Kesalahan Mendidik
24 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh : Rahmadona Fitria*
BERINTERAKSI dengan anak bukanlah perkara yang mudah, memahami dunia anak jauh lebih sulit. Masih segar ingatan kita tentang beberapa kasus kekerasan dan penganiayaan terhadap anak, bahkan sampai tingkah polah anak yang meniru adegan kekerasan berbahaya ditelevisi hingga mereka sendiri yang menjadi korbannya.
Sebagai pendidik, baik itu guru maupun orang tua tidak mungkin luput dari kesalahan ketika berinteraksi dengan mereka. Apakah sebagai pendidik terutama orang tua, khususnya seorang ibu tidak boleh melakukan kesalahan dan harus selalu sempurna dalam proses mendidik anak? Begitulah adanya tuntutan masyarakat.
Pada umumnya ketika terjadi kasus tertentu pada anak, maka peran pendidik yang menjadi sorotan. Bukankah ada banyak konsep atau teori yang sudah diterapkan dalam proses interaksi tersebut? Mengapa tidak memberi hasil yang memuaskan, masih saja ada banyak PR yang menjadi bahan koreksi dan adalah tugas mulia menyandang gelar sebagai pendidik.
Berinteraksi dengan anak adalah kesempatan berharga untuk belajar menjadi pendidik yang baik dan selalu ada peluang tanpa batas yang mereka sediakan bagi kita untuk memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan . Kenyataannya, anak sebenarnya lebih pemaaf daripada orang dewasa ketika orang lain melakukan kesalahan terhadap mereka.
Mengendalikan amarah adalah problem sulit yang sering dialami oleh seorang ibu ketika menghadapi tingkah laku anak. Beberapa kasus kekerasan yang terjadi pada anak seringkali disebabkan karena marah. Lantas apakah marah terhadap anak menjadi masalah besar yang harus dibesar-besarkan? Tentu tidak. Tapi bukan pula berarti marah menjadi solusi yang dibenarkan.
Sangatlah mustahil dan tidak manusiawi jika dalam proses mendidik, seorang ibu selalu sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan walaupun setiap ibu tentu saja ingin menjadi pendidik yang ideal. Berputus asa dalam proses mendidik anak adalah investasi yang tidak bijaksana. Menganggap akhir dari segalanya dan merasa gagal ketika melakukan kesalahan dalam proses interaksi dengan anak adalah sikap mental yang harus disingkirkan. Kesalahan adalah manusiawi selama dari kesalahan tersebut terjadi perbaikan dan perubahan sikap dalam proses interaksi dengan anak.
Memang tidak mudah menjalankan peran sebagai pendidik ketika berinteraksi dengan anak, seringkali muncul banyak keluhan dan hambatan dalam proses mendidik mereka. Penderitaan yang kita rasakan dalam mendidik anak merupakan pengalaman yang juga dirasakan oleh orangtua kita dulu ketika mendidik kita.Rasa lelah, rasa marah, dan rasa bersalah membuat seorang ibu kadang merasa bahwa ia bukan ibu yang baik, tapi ia tahu ia tidak akan mau menukarkannya dengan apapun karena menjadi ibu adalah salah satu pengalaman hidup yang paling membahagiakan dan merupakan peran seumur hidup.
Kelak ketika pengalaman berinteraksi dengan anak menjadi kenangan yang mewarnai kehidupan dewasanya, barulah kita menyadari bahwa kebersamaan dalam mendampingi mereka memiliki makna. Sekejap mata masa kanak-kanak yang tampaknya tanpa akhir itu berlalu. Kerinduan akan kebebasan bisa menikmati dan memiliki waktu untuk diri sendiri pada akhirnya terpenuhi. Diiringi senyuman dan sesuatu yang hangat dipipi, inilah mutiara dari menjadi seorang ibu.
Seorang ibu bukanlah malaikat dan mendidik anak bukanlah perbudakan yang hanya berisi perintah dan larangan.
Bersikaplah bijak ketika melakukan kesalahan dalam proses mendidik dan berinteraksi dengan anak, karena seorang ibu tetaplah seorang pendidik, selalu, selamanya, apapun yang terjadi !
*Research Associate dibidang Pengembangan Anak dan KP EWA’MCo.









8 Responses to “Kesalahan Mendidik”
By Maghfira Mimi on Jun 25, 2007 | Reply
Saya setuju banget dengan tulisan anda,kenapa? karena saya pun seorang ibu dari 2 orang anak perempuan.Apa lagi di jaman sekarang kekerasan bukanlah jalan keluar terbaik terlebih untuk buah hati kita. Salut !
Salam kenal plus kagum buat anda dari saya “Fira”
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Salut bagi para ibu-ibu yang akan mencetak generasi penerus bangsa, pencetak para pembaharu peradaban, pencetak para penggilas peradaban kebaikan. Lanjutkan perjuangan kalian, saya kaum bapak mendukungmu.
Ayyuhal Ummahat, antumurRuhul jadid fi jasadil ummah.
Allahu Akbar..!!!
Salam mendidik dari saya, Irsan.
By toni februari on Jun 28, 2007 | Reply
kekerasan yang timbul bukan hanya kekerasan secara fisik saja namun yang lebih membahayakan adalah kekerasan mental terhadap anak. ketika orang tua mempunyai masalah keluarga, terkadang anaklah yang menjadi korban, bukan secara fisik namun secara mental, dampaknya itu sangat mengerikan. mari kita cari solusinya sama2 demi didikan yang lebih bermanfaat
By Helmiansyah on Jul 1, 2007 | Reply
memang pendidikan yang pertama yang kita dapat adalah pendidikan dari keluarga terlebih-lebih dari ibu. tetapi yang paling penting menurut saya seorang ibu dapat belajar dari pengalaman-pengalaman dari orang lain atau dirinya sendiri karena guru yang paling baik didunia ini adalah pengalaman.
memang kekerasan dalam rumah tangga ada yang bersifat fisik dan mental yang paling berbahaya adalah kekerasan mental karena banyak anak yang mengalami BROKEN HOME banyak yang salah bergaul.
By Adi fitriansyah rizqoni on Jul 1, 2007 | Reply
kesalahan mendidik memang berakibat fatal bagi seorang anak. berbagai kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak, telah membuat perkembangan mental anak terganggu. dan itu juga akan berdampak pada kehidupannya nanti. bisa jadi apa yang telah dilakukan oleh orang tua terhadap anak nya dimasa lalu, itu juga akan ditirunya ketika ia telah menjadi seorang ibu. jadi ibu harus bersikap bijak dalam mendidik, karena pendidikan yang ia berikan terhadap anaknya akan mempengaruhi kehidupannya nanti.
By Al Fahm on Jul 2, 2007 | Reply
memang sekarang ini peran madrasah (sekolah) dimumah lah yang berperna penting bagi setiap anak yang statusnya siswa atau mahasiswa.
orang tua lah berperan dalam mendidik proses selama anak tersebut berada di lingkungan rumah tersebut.
By irsan on Jul 3, 2007 | Reply
Rumah adalah benteng terakhir yang akan menyelamatkan generasi dari kehancuran, tapi syaratnya adalah rumah nan Islami.
By irsan finazli on Jul 4, 2007 | Reply
Rumahku syurgaku, wujudkan dengan kesungguhan.