Jilbab Bukan Asesoris
24 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh : Rahmadona Fitria*
Trend berjilbab makin ramai didukung produk-produk jilbab bermerk. Bagi yang tidak sanggup membeli jilbab bermerek tetap bisa gaya dengan jilbab yang murah, tapi modelnya juga beragam. Apakah kita patut berbangga dengan trend berjilbab?.
Harap dicacat, sebagian muslimah menggunakan jilbab karena kesadaran akan ajaran agama. Ada yang karena ikut-ikutan. Ikut-ikutan karena kalau tidak berjilbab berarti tidak gaul. Berjilbab karena jilbab sekarang lagi ngetrend, kalau tidak berjilbab tidak keren. Apalagi, kini banyak artis yang berjilbab. Berjilbab ternyata penampilan tetap cantik dan modis. Tetapi tentu saja, perbedaan alasan ber jilbab tidak bisa dilihat dari penampilannya.
Masalahnya adalah muslimah yang berjilbab karena ikut-ikutan tingkah lakunya kadang bikin gerah. Apakah mereka menganggap jilbab sama dengan jepit rambut atau topi yang hanya berfungsi sebagai hiasan atau pemanis penampilan? Apakah menganggap jilbab sama dengan helm yang hanya sebagai pelindung tubuh? Apakah karena trend mode? Atau, mengapa jilbab hanya dikenakan ketika kepasar atau bepergian?
Mengenakan jilbab adalah kewajiban agama, aturan Allah SWT kepada muslimah. Lalu mengapa banyak wanita bukan memahami esensinya, atau tidak takut jika sewaktu-waktu wajah cantik dan tubuh indah yang dipamerkan bisa menjadi sumber bencana? Wahai saudariku mari perbaiki sikap sebelum terlambat.
Mengenakan jilbab tentu saja baik, tapi sebaiknya tidak sekedar ikut-ikutan saja dan menjadi korban mode. Ikut-ikutan trend berjilbab boleh saja tapi, tetapi harus disertai pemahaman. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Jadilah muslimah berjilbab karena kesadaran menaati perintah Allah SWT, sang pencipta manusia. Aturan berjilbab demi kebaikan, karena kasih saying Allah SWT dan untuk melindungi kehormatan kaum wanita dari kaum laki-laki yang lemah imannya, serta untuk membedakan wanita muslim dengan wanita bukan muslim. Jadi, mengumbar aurat dengan memamerkan keindahan tubuh sama saja menggoda lelaki yang lemah imannya. Selain berdosa juga mengundang malapetaka.
Merebaknya trend berjilbab akan membawa dampak positif jika diimbangi juga dengan maraknya pengetahuan mengenai tujuan berjilbab menurut ajaran agama. Berjilbab dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menutup aurat. Menutup aurat tidak sekedar ketika bepergian saja, karena aurat haram hukumnya apabila dilihat oleh orang yang bukan muhrimnya.
Jadi, jilbab bukanlah asesoris. Bagi muslimah yang mengenakan jilbab seyogiaynya karena kesadaran keagamaan.
Bukankah sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah, bukan perhiasan-perhiasan lain yang sekedar berfungsi sebagai pelengkap atau pemanis penampilan? Semoga saja.
*Research Associate bidang Pengembangan Anak dan KP EWA’MCo.










2 Responses to “Jilbab Bukan Asesoris”
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Salut buat kamu, Donna.!
Ikut menyadarkan kaummu melalui tulisan.
Akan lebih baik lagi jika diolah dengan gaya penulisan yang sedikit halus. Semoga banyak yang tersadarkan, amin.
Salam mengenakan jilbab hakiki dari saya, Irsan.
By maghfira on Jun 27, 2007 | Reply
Assalamualaikum…..
Mba Donna,artikelnya ttg trend berjilbab patut di acungin jempol.Saya beberapa kali melihat perempuan berjilbab khususnya remaja ABG,mereka berpakaian sopan dengan jilbab sebagai pengaman namun tingkah lakunya tidak mencerminkan yg sebagaimana mestinya.Sama saja merusak citra jilbab bagi kaum wanita muslim.Thanks mba Donna saya setuju dengan pemikiran anda….
Wassalam
maghfira