From Singkawang with Love
24 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Hanna Fransiska
SORE itu ketika pengunjung warung sepi, kakiku melangkah ke muka warung. Matahari siap-siap kembali ke peraduannya. Cahaya kuning emasnya masuk melalui tatapan harap ke jantung pikiranku, oh indahnya.
Aku ingin seperti matahari. Matahari membangunkan orang-orang dari lelapnya, menerangi seisi bumi agar penghuninya ?berkeliaran? menunaikan tugas masing-masing. Matahari menyinari apa saja, tanpa tuntutan apa-apa. Aku ingin seperti matahari. Berkali-kali suara-suara ?gaib? itu meyelinap ke ladang pikirku.
Matahari, ya matahari. Matahari yang menyinari hatiku. Matahari yang menyinari kotaku, Singkawang. Singkawang yang berjarak 47 km dari Pontianak, Kota Khatulistiwa.
Singkawang, oh Singkawang. Kota beretnis Cina dengan seribu kelenteng. Ada yang menamakan Indonesian Chinese town. Ah, tak peduli dengan semua itu. Aku memang turunan Cina, tapi Indonesia tulen. Bagi yang nyinyir, Singkawang malah disempitkan dengan Amoy Singkawang mengesankan kecantikan gadis-gadisnya. Aku tak peduli, aku adalah Indonesia.
Dari Singkawanglah semua bermula. Aku lahir, dan dari kecil terlatih menjadi pekerja keras. Tiba-tiba teringat Cagar Alam Raya Pasi. Di kawasan seluas 3742 hektar itu menikmati tumbuhan unik dan langka seperti Bunga Bangkai (Amorphopalus sp), Bunga Bintang (Rhizanthes zepelii) dan Bunga Rafflesia (Rafflesia tuanmudae) dengan ekosistem hutan hujan pegunungan yang dikurniahi Allah? keanekaragaman? flora dan fauna. Hutan Wisata Alam favoritku.
Dari Singkawanglah cita-cita kutumpuk. Ingin menjadi dokter, mengabdikan diri bagi kemanusiaan, mengobati orang sakit dengan suka rela menerima upah apa adanya. Yeah,? ingin jadi dokter. Aku tahu bagaimana rasanya ketika sakit, ketika ke dokter tetapi tidak punya biaya. Aku ingin jadi dokter, karena itu bekerja sekuat tenaga, menghemat uang untuk mengapai cita-cita.
???***?
Memandang matahari, tidak menyadari bahwa kini sudah remaja. Yang ada di pikiranku, bertarung menghadapi tantangan hidup. Untuk sekadar berkaca melihat pertumbuhan diri, tak terpikirkan.
Aku memupuk kerajinan. Karena rajin disukai nyonya tempat bekerja sampai sangat disayang. Boleh memakan apa yang mereka makan. Padahal, hanyalah seorang pembantu.
Suatu kali, majikan, menyuruh bekerja di warung kopinya. Di Singkawang warung kopi memang terkenal untuk tempat berkumpul, bercengkerama, ngerumpi dan sebagainya. ??Pada mulanya keberatan. Sebab, warung kopi itu tutup pukul 12 malam. Tetapi, mengingat upahnya, setuju. Bukan serakah, tetapi memang butuh lebih banyak biaya.
Pukul lima subuh bangun. Mencuci, ngepel, menyiapkan sarapan, memandikan anak-anak, setelah itu ke sekolah. Sepulang sekolah, pukul dua siang menyretika, merapikan rumah, membantu anak-anak membuat PR, mengiling kacang kedelai untuk diolah menjadi susu, mamasak kacang ijo, mempersiapkan keperluan warung kopi yang usai pukul enam sore.
Lelah dan mengantuk membuat susah konsentrasi belajar. Akibatnya nilai merosot dratis. Aku tak mau nilaiku buruk. Kini, ketika ada waktu luang, kala warung sepi, belajar.
Sebagai pelayan, mulai menyelami dunia ?sesungguhnya?. Harus bermulut manis, ramah, pintar melayani tamu, mau disuruh-suruh. Bila ada yang mau makan atau minum kopi,? harus disambut senyum ramah, apa pun kondisi dan perasaan waktu itu.
Ternyata, usiaku kini 14 tahun. Terkadang ada tamu iseng, ketika dibawakan kopi, tanganku dibelainya. Pernah, bokongku? ditepuk. Aku marah, sangat marah, tapi mulut tetap harus tersenyum sembari berkata:?Maaf ya, Bapak tidak boleh begitu. Aku anak sekolah?
Ah, pikiran melayang ke Pantai Pasir Panjang. Pantai yang menghadap ke laut Natuna dikelilingi pulau Lemukutan, Kabung, dan Randayan adalah labuhan mimpi manakala libur sebulan sekali. Berlama-lama memandangi perahu-perahu kecil dan speed boat yang membawa pewisata ke pulau-pulau menawan tersebut.
Dibawah keluarga majikan rekreasi sembari menginap di cottage yang nyaman sungguh mengesanka. Berenang, memancing, menyelam, bahkan main ski air dan berselancar. Sungguh indah Pantai Pasir Panjang di Kecamatan Tujuhbelas yang? hanya 17 km dari Singkawang.
Pernah pula ke Pantai Batu Payung, tidak jauh dari Pantai Pasir Panjang. Disini nikmat tak terkira. Di Pantai Batu Payung dengan pasir putih dan batu-batuan menjorok ke laut, imajinasi semakin menjadi-jadi. Terkadang? tertawa getir, seorang pembantu dapat menikmati segala anugerah Allah. Duh, aku benar-benar nikmat menikmatinya. Apalagi pernah dibawa ke Panorama Pantai Gosong. Aku sungguh bersyukur. Kenikmatan seorang pembantu.
Yes, aku adalah pembantu dari kota Singkawang. Kota cantik dari bahasa China ?San Kew Jong? yang berarti kota di kaki gunung dekat muara dan laut. Singkawang yang dikelilingi Gunung Pasi, Gunung Sakok, Gunung Poteng dan Laut Natuna. Mayoritas penduduknya keturunan Cina. Aku seorang diantaranya.
Ketika pikiran dibuai mimpi, tiba-tiba ibu datang. Tanpa ba bi bu, menyuruh pulang. Setiba di rumah, ibu langsung cas-cis-cus. Ternyata, aku yang sekecil ini sudah dilamar. Aku syok. Bagaimana bisa di jaman semodern ini masih ada praktik Siti Nurbaya. Untuk pertama kali berontak pada ibu.
Ibu membujuk: ?Cukup bertunangan dulu. Setelah lulus baru menikah. Coba saja dulu. Cinta akan tumbuh mengikuti?.
?Aku tidak setuju. Ini hak hidupku bukan hak ibu. Besoknya ijin cuti. Kudatangi lelaki yang melamar menjelaskan bahwa aku masih ingin sekolah. Kepada lelaki yang usianya 14 tahun lebih tua kukatakan: ?Begitu banyak perempuan di dunia ini, mengapa memilihku? Aku masih ingin sekolah?.
Tenang dia menjawab: Aku bisa menunggu sampai kamu selesai?.
??Aku tak menyukaimu?, kataku tanpa basa-basi.
??Aku akan menunggu sampai kamu siap menerimaku?.
Kacau. Benar-benar kacau. Sudah lelah jasmani, kini dilengkapi beban psikologis. Bukannya kapok, lelaki itu malahan sering datang ke tempat kerjaku. Dia memang baik. Lelaki terbaik yang pernah kukenal. Kesabarannya, kecerdasan, kedewasaan, dan keuletannya patut diacungi jempol. Tapi, hati tidak tersentuh dawai cintanya.
Dia menolong ibu mensuplai barang-barang dagangan hingga ibu bisa berjualan. Tanpa putus asa mendekatiku, membawa hadiah-hadiah. Tak ayal, keluarga mendukung. Tetapi, bagiku tidak. Bertemu dengannya laksana berjumpah raja neraka. Dia menggoncang ketenangan duniaku. Aku menjadi benci. Benci. Sangat benci.
Karena tetap menolaknya, pertengkaran dengan ibu menjadi menu harian hubungan kami. Ibu sungguh keterlaluan. Mengambil keputusan sepihak, menerima lamarannya. Hari pertunangan sudah ditentukan. Aku hampir tak bisa bernafas. Kuancam ibu. Bila tetap memaksa, akan bunuh diri.
Ibu tidak kalah gertak. Tamparan tangannnya yang kencang mendarat di pipiku. Bahkan, ibu mengusir. ?Pergi, tidak usah? kembali?, bentaknya emosional.
Aku kembali ke tempat kerja. Apa yang harus kulakukan? Kepada siapa mengadu? Bermalam-malam tak bisa memejamkan mata. Perasaan tak menentu.
Menikah? Aku belum memikirkan sama sekali. Cinta? Tentu setiap orang punya hak untuk dicintai atau mencintai. Tapi, mengapa nasib tidak mengakrabi cinta?
Dalam kekalutan, entah dari mana awalnya, adik lelaki majikan, menyatakan cinta. Aku menolak seratus persen. Bukannya dia menyerah, malahan semakin kurang ajar. Pernah, ketika sendang berdiri di pintu, entah datang dari mana, memeluk dari belakang. Inginku menamparnya, tetapi mengingat? menumpang hidup di keluarganya, terpaksa bersabar. ?Jangan pernah mendekatiku?, ancamku sembari menjauh darinya.
Ketika kulaporkan kepada majikan, jawabannya tidak seperti yang diharapkan. ?Adikku ganteng, keren, bertubuh tinggi dan kekar, ekonominya sudah mapan. Punya rumah dan mobil. Kenapa tidak kamu terima saja??.
Aku terpana. Majikan mendukung adiknya. Aku sudah bertekad, tidak akan kawin. Aku ingin melanjutkan sekolah, demi cita-cita. Tapi, tak ingin menambah masalah. Baru saja diusir ibu, kalau diusir juga oleh majikan, harus tidur dimana? Sudahlah. Lihat nanti saja.
Tiba-tiba, ibu datang. Menyeret ke luar, memaksa pulang. Aku berontak, lari masuk kamar, dan menguncinya. Hatiku sakit, sakit yang luar biasa. Aku makin tidak bisa berpikir manakala ingat, mengasari ibu. ?Ibu, maafkan anakmu. Hatiku sakit, memberontak ibu, kenapa ibu tak mengerti juga?.
Kudengar ibu bertengkar dengan majikan: ?Kau apakan anak saya sampai begitu betah disini, tak mau kembali ke rumah?.
Majikan tidak kalah garang: ?Emangnya saya jampi-jampi? Dasar tidak tahu diri. Sudah dibantu, malah teriak-teriak kesini?.
Tuhan, cobaan apalagi ini? Aku keluar dari kamar melerai pertengkaran. Lalu, minta cuti seminggu untuk menyelesaikan masalah ibu dan aku.
???***
Dia teman kecil, kesayanganku. Tiba-tiba muncul begitu saja. Enam tahun tidak bertemu bukanlah waktu yang pendek. Kini? terlihat gagah dan dewasa. Kulitnya yang agak hitam, matanya yang lebih sipit dari mataku, memancarkan kasih. Naliustanata namanya. Aku merasa ada yang berdesir di hati, jantungku berdetak lebih cepat. Dia muncul begitu tiba-tiba, aku hampir tak mengenalinya.
??Hei !. Kenapa begong. Kaget ya, ayo aku bawain jalan-jalan?, katanya menarik tanganku. Dia tak berubah, dari kecil selalu begitu. Kadang, entah dari mana, tiba-tiba mengangetkan dari belakang: ?Ini kubawain permen?.
Kupersilahkan masuk ke rumah. Kami bercerita tentang banyak hal, tentang kenakalan di waktu kecil. Umur kami beda empat tahun. Anak orang kaya tapi tidak sombong.
Kehadirannya mengalahkan masalah yang sedang kuhadapi. Mungkinkah aku telah jatuh cinta sejak kecil, kisah cita di sekolah, cinta monyet yang tidak terkatakan dan tersalurkan? Entahlah. Aku tidak berani memikirkannya.
Kami memang sering pergi berdua,? makan, nonton, atau sekadar berjalan-jalan. Semua kenangan yang indah ada didirinya. Keakraban kami tidak disukai ibu.
Di suatu siang dia datang pamitan untuk melanjutkan sekolah ke negeri tetangga. Ibu yang tak tahu menahu apa-apa keburu curiga: ?Jangan. Jangan ajak dia keluar lagi, tidak baik dilihat orang, dia akan segera menikah?.
Mendengar suara Ibu, aku buru-buru ke luar kamar. Ingin menjelaskan semuanya, tapi telat. Dia sudah keburu pergi dengan motornya.
Aku tak diijinkan keluar. Aku ingin menyelinap untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan, tapi ibu mengawasi dengan ketat. Apa daya, selain berdoa untuknya.
Begitulah kami berpisah. Tanpa salam perpisahan. Yang kupunya hanyalah kesedihan. Selalu, dan selalu, menanti kabar darinya.
???***?
Urusan dengan ?tunangan? belum usai. Aku mendatanginya, memohon melepaskanku. Kukatakan padanya: ?Bila? memaksa, akan membenci dan memusuhi seumur hidup. Kau bisa mendapat raga, tapi tidak hati, cintaku. Bila melepaskan, kuanggap pahlawan, penolong, dan menjadi akan teman baikmu?.
Dia menarik nafas panjang, berjalan mendekat: ?Baiklah bila itu maumu?. Berhasil. Aku boleh senang, tapi ibu sangat murka. Mendamprat habis-habisan.
Derita cinta nampaknya belum berakhir. Di rumah? tidak tahan ?bermusuhan? dengan ibu. Di rumah majikan, selalu digoda adik majikan. Kalau begitu ceritanya, derita batin takkan habis-habis.
Aku putuskan, merantau ke ibukota, ke Jakarta. Menabur impian sekalipun mungkin padang hutan beton itu tidak ramah menerima kehadiranku. Kutinggalkan Singkawang dengan derita cinta, namun cinta tergadai di Singkwang. From Singkawang with love.?
?Jakarta, 28 Juni 2007









10 Responses to “From Singkawang with Love”
By Dp on Jun 26, 2007 | Reply
SORE itu ketika pengunjung warung sepi, kakiku melangkah ke muka warung –emang warung punya muka yang kaya cici ya?–. Matahari siap-siap kembali ke peraduannya. Cahaya kuning emasnya masuk melalui tatapan harap –absurd– ke jantung pikiranku, oh indahnya
…..
Di Singkawang warung kopi memang terkenal untuk tempat berkumpul, bercengkerama, ngerumpi dan pacaran bagi yang laku, tapi bagi ngejomblo kaya aku waraung jadi tempat menatap bintang hi3…
…..
Aku putuskan, merantau ke ibukota, ke Jakarta dengan membawa hati yang luka yang tak pernah sembuh meski terus kuobati dengan betadine
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Waah cinta oh cinta, sungguh dahsyat cinta itu. Saya mengakui juga tuh.
Ngomong2 Singkawang, saya jadi ingat ketika saya hidup di Teluk pakedai 27 tahun yang lalu, ketika itu saya umur sekitar 2 atau 3 tahun. Saya dibawa berenang oleh bapak saya bertiga dengan kaka saya, ya berenang di sungai… Oh rasanya saya pingin kembali berenang disana, karena kisahnya pada saat itu kakak saya lepas dari pelukan tangan bapak sehingga kakak tenggelam dan ditemukan setelah celananya terlihat ‘nyembul’ ke permukaan air, tapi Alhamdulillah kakak selamat.
Makanya saya suka sekali mengingat-ingat Teluk pakedai. Kayaknya Teluk pakedai itu dekat Singkawang kan ya? atau bagaimana? Kebetulan Ortu saya asal sana. Salam manis Kota Singkawang dari saya, Irsan.
By hanna on Jun 26, 2007 | Reply
dari pontianak naik boat expres ketapang sekitar 2-3jam nyampe deh.ternyata kita tetangga juga.
By toni februari on Jun 28, 2007 | Reply
wow tulisannya penuh penghayatan. maaf aku bertanya kisah nyata ya? saya terkagum membaca tulisan mbak.mengingatkan aku kalo aku juga seorang perantau..yang pergi karena cita-cita yang selalu terkekang oleh kehidupan dunia..ahhh kehidupan memang selalu berjalan tanpa mata mbak.maklumlah kalau dia tak bisa melihat cita-cita manusia..
By ahmad nur irsan finazli on Jul 1, 2007 | Reply
Yaah begitulah, saya termasuk keturunan orang KalBar juga.
Saya suka KalBar. Saya berharap suatu saat bisa kesana, amin.
By Maghfira Mimi on Jul 2, 2007 | Reply
singkawang singkawang…meninggalkan cerita yg tak terlupakan sampai kapanpun….wah han…aku sampai terenyuh hanyut dalam derita cintamu. maju terus pantang mundur, jia you !
By irsan on Jul 3, 2007 | Reply
Salah satu terapi(pengempesan) dalam menghadapi masalah hidup (boleh dibaca:tiupan angin dlm balon) adalah dengan terapi naratif.
Teruskan menuliskan apa saja yang kau lakukan dan lakukan apa yang kau tuliskan.
By hanna on Jul 4, 2007 | Reply
terima kasih kawan,nasehat yang bijak.he3.
By a. on Jul 4, 2007 | Reply
Terimakasih juga.
By eric on Nov 4, 2007 | Reply
hidup adalah pilihan kawan,maju terus pantang mudur
***Maju …….. tak gentar