Ketika Ibu Kembali

23 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Hanna Fransiska

MALAM semakin mendaki. Sinar rembulan tak lagi terlihat indah, awan berarak menutupi tubuhnya. Ibu belum jua pulang. Aku berdoa dan terus berdoa: ?Tuhan, bukakanlah pintu hati ibu. Berikanlah ibu kesabaran, bukakan pintu ketegaran menempuh jalan yang berliku ini?. Pipiku terasa hangat, air mata menetes deras. Kutahan isakan agar tak terdegar ayah. Sepi. Sunyi. Kupejamkan mata. Kantuk tak jua menyapa. Ku biarkan ayah hanyut dalam pikirannya.

Aku bangun lebih awal, sekalipun hanya tidur dalam hitungan menit. Mengerjakan pekerjaan rutin seperti biasa. Ketika akan menanak nasi baru kusadari, tak ada beras sebutir pun. Aku tak ingin menambah beban ayah. Ayah yang selalu memilih diam, mengalah kepada ibu. Sabar dan pasrah. Dari matanya kusimak,? disitu terekam penyesalan, kepedihan nan dalam.

Kukumpulkan segala keberanian untuk meminjam beras ke tetangga. Kami dipimjami mesti ada kata-kata tidak enak. Tak mengapa, kami memang perlu beras. Kami perlu makan. Dipinjami saja sudah suatu anugerah. Yang penting, kami bisa makan hari ini.

Ketika sedang memasukkan beras ke periuk, tiba-tiba ayah muncul, dan berkata: ?Apakah kamu rindu pada ibu??.?

?Oh, Tuhan, kenapa pertanyaan ayah demikian?, kataku membatin. Lama kutimbang. Pilihan jawaban hanya dua, ya atau tidak. Bila kujawab iya, ayah akan semakin tertekan. Bila tidak, ayah pasti bersedih, anak kog tidak sayang pada ibunya. Akhirnya aku memilih diam dan memeluk ayah.
?Ayah. Biar ibu belum kembali, kami yang menemani ayah?.

Ayap menatapku tajam. Ayah tak kunjung jua dapat pekerjaan. Ayah pantas frustasi. Tapi, ayah harus makan. Ayah harus kuat agar tidak sakit. Kuputuskan, aku harus bekerja. Tapi apa?

Akhirnya ada tetangga yang memberikan pekerjaan, mencuci popok bayi. Aku tak peduli berapa imbalannya yang penting dan dapat upah. Aku membawa cucian ke rumah. Malam hari ketika adik-adik sudah tertidur, mencucinya ditemani lentera minyak tanah.

Astaga! Bau pesing dan tinja bergabung menusuk hidung. Kukeluarkan satu per satu dari kain pembungkusnya. Oh my God, semua popok ada tinjanya. Awalnya memang menjijikan, lama-lama terbiasa. Namanya saja mencuci pakaian kotor. Dalam hati kutancapkan prinsip … pekerjaan bukanlah pekerjaan kotor. Halal. Halalan toyyiban. Gitu lho.

Aku merasa paling mengerti hati ayah yang lemah, meski tersenyum tapi senyuman bukanlah senyuman bahagia. Ibu terlalu menekan ayah. Aku tak tahan. Kejahatan kecil terpaksa kulakukan. Aku ajari adik-adik agar mengancam ibu. Akibatnya ibu pergi. Ternyata, setelah ibu pergi kami semua kelimpungan. Kami merindukan ibu.

Seminggu setelah kepergiannya, ibu ke sekolahku. Aku sengaja tidak memanggil ibu. Karena tahu, ibu pasti rindu pada anak-anaknya.

?Eh, mau kemana, kog kurang ajar sekali tidak menegur ibu?, kata ibu sambil memegang tanganku. Kulihat wajah ibu yang layu. Badannya lebih kurus. Ibu pasti sangat menderita seperti ayah.
??Bu. Bila rindu kami, pulanglah. Tahukah ibu, setiap malam mata ayah memerah. Bila ibu tidak pulang, kami tidak akan menganggap ibu sebagai ibu lagi. Lagi pula, apa salah ayah?, kataku setengah mengancam.

Ibu terpaku. Kemudian keluar juga kalimatnya: ?Ayahmu yang mengajarimu begitu??.
?Aku manghela nafas panjang dan melepaskan genggaman tangan ibu. ?Ibu. Ayah tidak pernah marah, bahkan tak pernah bersuara. Bagaimana ibu bisa mencurigai ayah. Ibu pulanglah, kasihan. Aku berjanji sepulang sekolah membantu ibu bekerja?.

Pembicaraan dengan ibu sampai disitu. Sesampai di rumah kuceritakan pada ayah. Wajah ayah terlihat agak cerah. Seperti ladang tandus yang mendapatkan setitik air hujan.

Dua hari berlalu. Ibu belum juga pulang. Adik-adik? terus-menerus bertanya tentang ibu. Ah, bukan adik saja yang rindu, aku lebih rindu. Merindukan teriakannya, bicaranya yang menggelegar, sampai pukulannya yang dasyat. Tiba-tiba muncul penyesalan, kenapa harus mengancam ibu. Hari-hari terasa panjang dan membeban. Kami rindu Ibu. Hanya doa yang menjadi labuhan kerinduan kami.

Akhirnya ibu pulang. Air mata kami mengalir. Rasa haru dan bahagia campur aduk jadi satu.
??????????????????????????????????????????????????????????????????????? ***

Di sekolah tibalah saatnya pembagian rapor. Pasti sudah aku pasti dipanggil Kepala Sekolah. Dengan langkah gontai berjalan menuju ruang kepala sekolah. Seperti biasa, rasa malu sudah tidak akrab lagi. Aku sudah tidak malu tidak membayar uang sekolah. Terpaksa. Semua itu kuganti? dengan semangat belajar. Hasilnya, nilaiku bagus.

Aku berdiri di depan pintu kepala sekolah. Ada kaca besar disana. Kutatap diriku sejenak. Rok yang dulunya kepanjangan dengan warna merah menyala kini memendek dan warnanya berubah menjadi pink muda. Sepatu yang dulu diselipi koran karena kebesaran, kini sudah sempit dan terasa sakit di kaki. Dua lobang besar mengaga disana. Kantong kresek, tas sekolahku, masih setia dengan bunyi khasnnya mengiringi langkah kaki.

Kuketuk pintu ruang kepala sekolah, perlahan kubuka sambil mengucapkan: ?Assalamulaikum WW?. Aku menundukkan kepala menatap kelantai.

?Waalaikumsalam WW?, sahutnya lembut. Sungguh Kepala sekolah yang baik. Seumur hidup takkan pernah kulupakan jasanya. Berkat kebaikan hatinya aku bisa menulis, membaca, dan belajar tentang bagaimana mengatasi masalah.

Beliau menatap wajahku dalam-dalam. Ada siratan kasihan dan simpati. Aku merasakan di relung hati. Beliau mengeleng-geleng kepala sembari menarik nafas panjang lalu berkata: ?Bapak sangat mengerti kesusahan keluargamu. Bagaimana pun peraturan sekolah harus dilaksanakan. Meski kamu berprestasi bagus, uang sekolah harus dibayar. Bapak hanya bisa memberi kelonggaran waktu?.

?Iya pak. Terima kasih. Kebaikan Bapak tak kan pernah kulupakan?. Sungguh, aku tak bisa mencerna kebaikan Pak Kepsek. Rumah beliau tidak jauh dari rumah kami. Terkadang, ketika berangkat ke sekolah menawarkan membonceng sepeda motor bututnya.

Aku bernafas lega karena tidak? dikeluarkan dari sekolah. Aku tak mau menerima jasa baik sekolah begitu saja. Aku rajin membersihkan kelas, ruang guru, memotong rumput halaman sekolah, merapikan bambu pagar sekolah, dan ruang perpustakaan. Teman-teman yang mengatakan aku mencari muka, kucuekkan begitu saja.

Aku menyukai ruang perpustakaan, tempatku menyendiri karena dijauhi teman-teman. Maklum, yang bersekolah di sekolahku anak-anak orang berada, sekolah swasta favorit, sekolah terdekat dari rumah, kira-kira 1 jam berjalan kaki.

Teman-teman memang berdompet tebal tapi nampaknya bersekolah sekenanya saja. Jam istirahat kuhabiskan di perpustakaan, membaca dan belajar lebih banyak.

Minder. Tentu saja. Setiap pelajaran olah raga aku membuka sepatu, sebab kalau tidak,? tidak bebas bergerak, sepatunya kekecilan. Teman-teman memperhatikan sambil berbisik-bisik. Tentu kupingku memerah, tapi aku tak memperdulikan mereka.

Hari Senin, saat upacara penaikan bendera, aku sering terpilih menaikkan Sang Saka Merah Putih. Sering, kesyahduan upacara terganggu oleh kehadiranku. Baju seragam, bertambalan, rok yang memendek dan pudar warnanya, menjadi bahan cemoohan. Aku tidak perduli. Tampil. Tidak malu, karena memang tidak melakukan hal-hal memalukan. Aku ke sekolah bukan untuk diperbandingkan, tetapi menuntut ilmu, meraih cita-cita.

Oh ya, adik juga harus bersekolah. Ibu berkelana dari rumah ke rumah tetangga mencari pinjaman. Untuk meringankan beban ibu, aku mengambil jasa cucian lebih banyak lagi. Aku sadar, terlahir dalam keluarga miskin, tapi punya kemauan dan semangat. Semangat belajar, semangat bekerja, untuk meniti masa depan. Aku tidak pernah merasa lelah. Bahkan, waktu 24 jam sehari terasa terlalu pendek.

Saat duduk di kelas V SD adik ketiga menyusul masuk sekolah. Beban keluarga bertambah. Artinya, kerja pun harus lebih keras. Pukul 5 subuh membantu ibu membuat kue. Pukul 6 menyiapkan makanan. Setiap jam, menit, detik, ku atur dengan baik. Aku harus mencari uang tambahan. Pukul 3 sore berkeliling menjajakan kueatau jagung rebus. Pada hari pertama kueku tak habis, karena malu, malu berteriak: Kue … kue … jagung … jagung …

Sesampai di rumah kulihat wajah ibu penuh kekecewaan. Aku menyesal, membuat ibu rugi. Kenapa harus malu? Apa yang harus dimalukan? Hidup adalah perjuangan. Aku seperti tersadar dari mimpi, bangkit dan bersemangat. Besok harus berhasil. Bersemagatlah. Begitu kira-kira bisikan motivasi ke telinga, entah datang dari mana.

Teman-teman tidak melewatkan kesempatan baik untuk mengejekku. Di kelas mereka sering berteriak: ?Kue … kue … Ada yang mau beli? Enak lho, masih hangat?.

Aku tersenyum, dan hanya tersenyum. Mereka tak pernah tahu, senyumanku adalah senyum iba hati. Hati kecilku berkata: ?Bersyukurlah, kalian anak-anak orang berada. Tidak pernah merasakan pahit getir kehidupan.

Aku menanggapi dengan sabar. Namun ada tekad di hati, aku harus kuat menghadapi hidup ini. Aku bak pohon beringin yang tumbuh liar di jalan, sejak kecil terbiasa kepanasan dan kedinginan. Kelak, ketika tumbuh dewasa tak akan takut lagi dengan air, hujan, angin dan badai. Kalian. Kalian pohon tauge, yang cepat menuai hasil, tetapi ketika angin kencang menerpa akan roboh beserta akar-akarnya, begitu gelitik hati kalau rasa iba menyelimuti kepedihan hati.
??????????????????????????????????????????????????????? ?***

Kehadiran Ibu di rumah, sekalipun bukan berarti masalah kehidupan terselesaikan, setidaknya semangat keluarga, semangat hidup, semangat berjuang, dan … kebersamaan mengabai sinar rembulan yang tak terlihat indah diselimuti awan berarak menutupi tubuhnya.

Kini, sinar matahari menembus relung-relung hati hati menandakan perjuangan hidup dimulai, dan dimulai lagi. Tiap pagi memulai hidup baru. Kami sekeluarga, bersama ibu mendayung biduk kehidupan dengan satu tekad: Bersama kita pasti bisa.

Jakarta, 23 Juni 2007

  1. 12 Responses to “Ketika Ibu Kembali”

  2. By Dp on Jun 23, 2007 | Reply

    sebuah kisah yang mengharu biru

  3. By Dp on Jun 23, 2007 | Reply

    Kini, sinar matahari menembus relung-relung hati hati menandakan perjuangan hidup dimulai, dan dimulai lagi. Hidup memang absurd ya ci. Bayangin matahari bisa menembus relung hati. Hi3

  4. By hanna on Jun 23, 2007 | Reply

    hahaha,saya malah ingin belajar lebih banyak lagi dari matahari,karna matahari mampu menyinari bumi ini.matahari disiplin waktu,tak pernah berkeluh,tak pernah serakah.matahari memberikan kita akan hari esok.matahari pekerja team terbaik,tak pernah berebut tempat dgn bulan dan bintang.saat saya memandang matahari saya malu pada diri sendiri,jangankan untuk menyinari dunia,menyinari kehidupan sendiri aja susah.

  5. By budi gunawan jaya on Jun 24, 2007 | Reply

    semoga matahari bs menyinari kehidupan c…..

  6. By Maghfira Mimi on Jun 24, 2007 | Reply

    Sungguh mengharukan cerpennya,seorang anak harus bertahan dalam kekerasan hidup…oks banget deh….saya suka juga ide ceruta kamu han. salam kenal ya.

  7. By hanna on Jun 25, 2007 | Reply

    SALAM KENAL JUGA.

  8. By Maghfira Mimi on Jun 25, 2007 | Reply

    Thanks dah mau ngasih komentnya di cerpen saya,oyah Han punya email nggak? kamu domisilinya di jakarta jg kan? itung-itung kita nggak jauh bedalah,masih sama-sama baru di dunia menulis malahan kamu lebih good dari saya…lebih hebat gitcu hehehe…ok makasih atas tanggapan kamu. Salam…
    “Fira”

  9. By hanna on Jun 25, 2007 | Reply

    emailnya h4n4_1979@yahoo.com.saya baru belajar,kebetulan pak ersis yang baik hati itu mau bantu koreksi.saya senang cerita fira,maaf boleh ya panggil namanya.mungkin saya akan menulis dengan topik yang sama dengan fira,tapi berbeda situasi dan kondisi.ngobrol-ngobrolnya kita lanjutin diemail ya.ga enak sama pemilik web.bayangin aja,beliau menebarkan virus kebaikan,memberi dukungan dan semangat agar kita mau menulis,menulis itu termasuk belajar lho,mengasah otak,tapi webnya malah dikatain orang ga karu-karuan.ya,wajar dong.kan menampung orang2 seperti kita yang baru belajar.yang pentingkan kita hidupnya ga karu-karuan.he5.saya tunggu lho emailnya.

  10. By Maghfira Mimi on Jun 25, 2007 | Reply

    Ok Han…boleh juga saya panggil nama kamu aja ya.Benar tuh Pak Ersis is my Angel and your Angel too…thanks ya kita saling kontak via email lbh asik kali.

  11. By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply

    Kalau tidak salah anggota KP EWA ‘MCo ada yang arti namanya juga Matahari lho!
    Saya salut kepadanya, dia suka memberi masukan pada kita terkait tulis menulis, dia menerangi kita tentang dunia tulis menulis juga, dia termasuk muasis-pioneer- dalam KP EWA’MCo.
    Dia adalah saudara saya Syamsyuwal Qomar.
    Salam menerangi dan menyinari dari saya, Irsan.

  12. By a. on Jul 4, 2007 | Reply

    Syamsuwal udah nongol tu di memberEWA’MCo

  13. By Mega on Nov 14, 2007 | Reply

    Duh..jadi terharu banget jadinya..
    msh banyk nih tulisan2nya disini yg blon sempat dibaca…

    salam ntuk penulis Hanna

Post a Comment