Ikhlas: Refleksi Keluarga

22 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Suatu kali, menjelang hari raya Idul Fitri, saya dan isteri, membawa anak-anak ke mall di kota kami membelikan pakaian dan perlengkapan sholat. Si Buah Hati senang tak terkirakan. Rona muka mereka berbunga-bunga, senyum dan tawa pancarannya.
Sesampai di mall, ketiga anak kami berpindah dari satu kounter ke kounter mencari apa yang diinginkan. Setelah menghabiskan waktu sejaman kami istirahat di kounter makanan. Riang mereka terlihat semakin sempurna ketika menyeruput minuman dan makan dengan lahap.?
Tidak ada guratan minus, hanya satu pancaran, senang. Mereka bercerita dan ?mendongeng? tentang banyak hal. Sebagai orang tua lebih senang. Kebahagian di relung hati mengaliri aliran darah. Nikmat.Sebagai orang tua, momen tersebut dirasakan puncak kebahagian, membahagiakan anak-anak. Momen-momen seperti itu, apabila diurai dalam rentang kehidupan akan banyak sekali. Kebahagian terdepan adalah ketika melihat ?orang lain? bahagia, yaitu darah daging sendiri.

Suatu kali, seorang teman mengirim email dengan permintaan agar tulisannya minta dieditkan dan dikirimkan ke media cetak. Setelah dimuat tiga hari kemudian dia mengucapkan terima kasih teramat sangat. Hati sangat bahagia melihat wajahnya riang tak terperikan. Entah apa yang bergulat di pikiran dan perasaannya, tidak tahulah. Yang saya nikmati, dan itu mendatangkan perasaan bahagia, ?menikmati? pancaran rona wajah bahagiannya.

?Hal sepadan akan kita temui, manakala suatu ketika saat terjadi bencana banjir misalnya, memberikan beberapa lembar pakaian atau makanan yang diterima korban banjir dengan teramat senang.

Kita membantu, korban? banjir membutuhkan, bak mor dengan baut, padu. Jalinan koneksi kemanusiaan ?hati? ke ?hati?, aplikasi kepedulian, tolong-menolong. Padahal yang diberikan hanya secuil dari yang dipunyai, tetapi sangat berarti bagi yang membutuhkan.

Ternyata ?berbahagia? bersama-sama tidak sulit, dan … tidak mahal. Empati solidaritas melahirkan kebahagiaan. Hadis Nabi Muhammad SAW: Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, menampakkan kenyataan sebenarnya. Apa kunci dibalik semua itu? Dibalik kunci tersebut ternyata ada yang lebih hebat. Apa itu?

Ketiga contoh di atas menampakkan ketika melakukan sesuatu apabila kita melakukan dengan ikhlas, luhur dari nurani, sungguh dahsyat. Tidak ada muatan agar dipuji, dikagumi, dianggap dermawan, atau apalah begitu. Pokoknya, berdasarkan pertimbangan, sesuatu yang harus dilakukan, ?kewajiban? yang harus ditunai. Kalau diikuti muatan kepentingan, selinap bahagia di relung hati tidak akan tertuai. Itulah yang dikatakan ikhlas; melakukan sesuatu dengan hati yang bersih, jujur, dengan hati tulus.

Dalam pemahaman lebih tinggi seperti diutarakan para ulama, ikhlas berarti melakukan sesuatu hanya karena Allah semata, perbuatan hanya untuk-Nya; melakukan sesuatu hanya karena Allah SWT; tidak membutuhkan saksi atau pujian manusia. Perbuatan dilakukan hanya demi Allah sekalipun obyeknya manusia.

?Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Ikhlas: Refleksi Keluarga”

  2. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply

    Yaah, saya setuju itu.
    Bahkan ada sebuah paradigma yang patut untuk dijadikan contoh dalam frame berfikir juga, begini: bahwa keikhlash-an adalah ketika dalam sebuah perjalanan kegiatan apa saja, ketika kita (siapa saja) masih dalam taraf ‘perjuangan’ maka akan banyak sekali yang menyumbangkan potensinya(baik materi/ non materi), tetapi sebaliknya tatkala mendapatkan sebuah kemenangan (tercapai visi-nya) maka akan berkuranglah person-person yang dulunya berkiprah dalam perjuangan, bahkan habis sama sekali atau tidak terlihat gara-gara siapa sih kemenangan ini. Artinya saat meraih kemenangan justru tidak ada yang merasa berjasa, karena saya, oleh sebab saya, pasti saya, untung ada saya, dan lain sebagainya. Hanya pertolongan Allah SWT lah kemenangan apapun bisa kita raih, jika Allah berkehendak.
    Nah, beginilah ikhlash juga. Sebuah paradigma yang patut kita jadikan teladan dalam menilai apakah kita ikhlash atau belum bahkan tidak.
    Salam belajar ikhlas secara fadhi-personal- dari saya, Irsan.

  3. By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply

    Teruslah berjuang dengan kesabaran.
    Lakukan seluruh aktivitas dengan sebuah kepahaman yang hakiki-yang betul-betul Betul- sehingga langkah berikutnya adalah melakukan aktivitas dengan benar, lalu Ikhlas melakukannya, kemudian bersabar atas seluruh konsekuensi yang kita lakukan. Tapi ingat lho ya, Sabar yang dinamis dan progresif.
    salam dari saya, Irsan

Post a Comment