Ikhlas: Karena Allah
22 June 2007 | Ditulis oleh: EWA |Saudara-saudara sekalian. Pada contoh terdahulu, sengaja digambarkan dengan memahami dalam kontek manusia, kandungan kebahagiaan pada dan di dalam diri sendiri. Sebagai makhluk yang mengerti, tentu akan lebih bermakna manakala kesemua itu kita sandarkan hanya pada Allah SWT semata.?
Harap dicatat, kalau landasannya hanya kemanusiaan, sama saja dengan apa dilakukan siapa pun di muka bumi ini. Bedanya, sebagai Muslim, kita mendapatkan value added, amal ibadah ikhlas, berdasarkan hati nurani, hanya karena Allah SWT.
Jadi, keikhlasan dalam berbuat adalah hanya karena Allah SWT. Tentu saja, dimulai dari niat, dilakukan dengan jujur hati, dimaknai sebagai aplikasi perintah Allah. Dalam buku-buku Iman Ghazali, banyak ditulis perbuatan-perbuatan sedemikian akan mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Intinya, berbuat sesuatu, apa pun bentuknya, hanya karena Allah.
?Hanya saja terkadang kita abai memaknainya. Kuncinya barangkali yang tidak pernah dipakai atau? disadari. Betapa tidak. Kita melakukan ?kebaikan? dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Ketika menghidupkan mesin mobil berangkat kerja lalu menyetir dan sampai di kantor menunaikan tugas keduniaan bukankah sebenarnya kita melakukan perintah Allah SWT. Lalu, kenapa tidak kesemua gerak kehidupan kita landaskan kepada melakukan amar-Nya? Kenapa, hayo?
Sering kita lupa, tugas ya tugas, kewajiban ya kewajiban, tanggung jawab ya tanggung jawab, yang kita lakukan berdasarkan pemahaman sesuai kesepakan sesama manusia. Padahal ada yang lebih mulia yang dapat menuntun sekaligus melakukan kewajiban kepada Sang Mahakuasa, yaitu niat tulus, ikhlas, hanya karena Allah SWT.
Artinya, kita ?memotong? mata rangkai awal melakukan sesuatu hanya karena harus melakukan. Pasti sudah, melakukan sesuatu dengan ikhlas berakibat positif bagi diri sendiri, bagi yang terkena perlakuan, bagi solidaritas, bagi kemanusiaan, bagi hubungan manusia, tetapi ada yang tertinggal.
Jujur saja, bukan maksud menggurui. Saya sadar, sebagai manusia tidak steril dari riya, belum lagi hidup dan berkehidupan hanya demi Allah. Tetapi, saat ini sedang mabuk membaca buku-buku menggugah tentang kehidupan Muslim. Ada yang mengeliat, ada yang protes dalam diri, ?kelakuan? selama ini, masih jauh dari ridho Allah. Introspeksi adalah tancapannya, bermimpi hidup dan berkehidupan ideal adalah cita-cita maknawinya, dan menyebar secuil pemahaman yang terlambat mungkin tidaklah salah. Ringkasnya, sekalipun masih dalam tataran mencari pemahaman hakiki tidak ada salahnya dinikmati para ikhwan.
Setidaknya, dalam melakukan apa saja kita memulai kepada ridho Allah SWT.? Tidak penting sedikit atau banyak. Dengan memulai Insya Allah semakin hari semakin menggunung dan muaranya kita ?bersatu? dengan yang dititahkan Sang Mahapemberi.
Iklhas berbuat, bertingkah laku, berperan, dan apa? saja dengan memulai niat ikhlas, melakukan ikhlas, berlandaskan kuasa Mahapengasih adalah tujuan. Visi kehidupan kita menuju kepastian sesungguhnya, berjumpa Allah pada kehidupan sesunguhnya di akhirat. Untuk itu, satu-satunya jalan berbuat sesuatu dengan ikhlas, hanya demi dan untuk Allah semata. Itulah keihlasan dalam arti sesungguhnya.
Jangan ragu jangan bimbang.? Aluran kehidupan adalah perjuangan. Kita tidak dapat serta merta menjadi manusia idaman, menjadi Muslim sejati. Nabi Muhammad SAW saja melakukan perjuangan agar kita jadikan tauladan. Dengan kata lain, kehidupan harus diisi dengan pencarian, pencarian yang bermakna.
Berniat ikhlas, berlaku ikhlas, harus dilatih dari waktu ke waktu, dibiasakan hingga menjadi habit. Percaya, nilai perjuangan mencari adalah ibadah itu sendiri. Bukankah hidup ini perjuangan? Perjuangan ke arah lebih baik, ke arah ideal, memuju Muslim sejati. Thee life is change, change in progress. Insya Allah.
Bagaimana menurut Sampeyan?










3 Responses to “Ikhlas: Karena Allah”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply
Yaah, itulah yang disebut sebagai makhluk yang namanya ‘jalma manungsa’. Bahwa manusia itu disamping mempunyai kecenderungan yang baik tetapi juga mempunyai kecenderungan yang kurang baik(taqwa wa fujur). Secara fisik yang namanya makhluk, baik jin atau manusia, pasti Sunatullahnya semakin tua akan semakin rapuh. Secara fisik mereka taat pada ketentuan Allah SWT. Tetapi ingat, secara hati/ qolbu mereka yang disebut sebagai makhluk manusia/ jin, bisa mengarah pada penyimpangan. Ini sebuah kewajaran, karena kita diminta memilih fujur/ taqwa, yang kesemuanya memiliki konsekuensi masing-masing (boleh dibaca: Syurga dan Neraka).
Itulah sebabnya, manusia mempunyai hajat terhada seorang Rosul sebagai pembimbing hidup.
Wallhua’lam.
Salam dari saya, Irsan.
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Biasanya seseorang yang akan ikhlash, itu akan didahului dengan sebuah kefahaman-al fahmu- terlebih dahulu, ya faham akan apa yang diperbuatnya, apa yang ditujunya, apa yang akan dicapainya, paham cara melakukannya, paham spare-part nya, paham dampaknya, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu sebelum kita melakukan sesuatu sebaiknya harus pahami dulu tuh, apa-apa tetek bengeknya, tujuannya biar kita ikhlash.
Nah setelah ikhlash, ya kita kudu sabar menerima segala konsekuensinya dari yang kita lakukan. Oke?!
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam kesabaran, Amin.
Salam dari saya, Irsan
By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply
Maaf nih pak Ersis, saya tiga hari off tidak bisa komentar. Saya meriang berat, sehingga sabar saya ya istirahat dulu, mengistirahatkan badan dari kena angin yang agak kencang.
Alhamdulillah sekarang sudah on lagi.
Salam on dari saya, Irsan