Take Home
21 June 2007 | Ditulis oleh:1. Pada fase perkembangan ke IV (1930—) antrologi bersifat praktis, tujuannya untuk membangun masyarakat. Lakukan analisis kritis dengan kasus di lingkungan (terkecil dan terdekat) saudara.
2. Wujud kebudayaan dapat didekati sebagai ide, karya, dan hasil karya. Buat brifis analisis dalam aplikasi kehidupan di kampus saudara.
3. Bagaimana mencerna proses evolusi sosial dalam kaitan evolusi kebudayaan dalam kontek kebudayaan saudara (unit terkecil dan terdekat)?
4. Lakukan kajian analitik dalam kehidupan saudara tentang proses belajar kebudayaan melalui jalur internalization, socialization, dan enculturation.
5. Kira-kira bagaimana mencerna konsep discovery dan inovation dalam kontek kemajuan kebudayaan? Beri contoh terdekat (ril) dalam kehidupan saudara.
36 Responses to “Take Home”
By Dp on Jun 21, 2007 | Reply
ini juga sepi. sabar….. sabar…. sampe jamuran
By Taufik Rozana Rahman on Jun 27, 2007 | Reply
1. Ketika saya pertama kali masuk kuliah di UNLAM, saya merasakan kebebasan yang teramat sangat, mengapa tidak, selama lebih dari 12 tahun saya terikat dengan peraturan yang entah apalah. Tapi saya yakin itu untuk kebaikan juga. Saya masih ingat ketika saya SMA di Banjarbaru, di sekolah saya tersebut diterapkan sistem poin bagi siswa yang melakukan pelanggaran. Apabila poin tersebut telah terkumpul sampai dengan 100 maka siswa yang bersangkutan akan segera dikeluarkan oleh pihak sekolah. Ada juga sanksi yang langsung dikeluarkan yaitu apabila siswa tersebut terlibat dalam tindakan kriminal atau bagi siswa putri ketahuan hamil di luar nikah. Maka tiada ampun lagi bagi mereka. Ketika pertama kali menjejakkan kaki di kampus, saya tidak menemukan aturan seperti itu lagi. Ada rasa kehilangan yang terasa di hati. Tidak ada lagi aturan yang mengharuskan memakai baju seperti yang pernah kita lakukan di sekolah dulu. Namun tentu saja dalam penerapannya di kampus dalam taraf kesopanan. Tapi kenyataannya ada juga mahasiswa yang memakai baju seenaknya tanpa memandang norma kesopanan. Untuk itu beberapa waktu yang lalu pihak fakultas telah menerapkan paraturan seperti yang pernah saya lihat di sekolah dulu. Tentu hal ini sangat berperan dalam membentuk civitas akademika yang berbudaya. Semoga usaha ini dapat berhasil.
2. Berkaitan dengan tiga wujud kebudayaan yaitu ide, karya dan hasil karya. Saya teringat dengan salah seorang dosen saya yang menurut saya beliau adalah seorang dosen yang dapat memotivasi kita untuk lebih maju lagi daripada sekarang. Beliau mempunyai ide tentang menulis. Saya ingat beliau pernah menulis di sebuah buku yang beliau tulis. “Sebuah kebudayaan yang tinggi dapat terlihat dari seringnya masyarakat dalam hal menulis”. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan keadaan masyarakat kita yang notabene tidak suka menulis atau mengeluarkan ide melalui tulisan. Beliau lah yang mempelopori membudayakan menulis dikampus. Bahkan beliau telah menerbitkan beberapa buah buku yang memotivasi untuk menulis. Sungguh sesuatu yang sangat membanggakan. Sehingga sedikit-sedikit kami menjadi ketularan, malah ada salah seorang teman saya yang menjadi kecanduan menulis di salah satu koran di tempat kami. Sehingga hal ini sesuai dengan tiga wujud kebudayaan, yaitu ide tentang menulis, karya menulis di koran-koran dan menulis buku, dan hasil karya memotivasi para mahasiswa untuk menulis.
3. Berbicara mengenai evolusi sosial yang berkaitan dengan evolusi budaya saya teringat dengan cerita orang tua saya dulu yaitu ketika mereka masih remaja. Saat itu tidak dikenal dengan sistem pacaran dalam hubungan mereka. Bahkan bila terlihat sedang berjalan berdua, itu merupakan hal yang sangat memalukan. Zaman dulu kalau ingin meminang seorang gadis untuk dijadikan istrinya secara langsung saja melamar kepada orang tuanya. Namun harus melalui berbagai macam proses seperti bertanya apakah si gadis telah ada yang meminangnya atau belum. Kemudian baru proses selanjutnya hingga acara pernikahan. Sangat berbeda sekali dengan keadaan sekarang para pemuda menempuh hal itu dengan cara berpacaran terlebih dahulu kalau sudah yakin benar baru mereka akan menikah. Di sini dapat terlihat proses evolusi sosial yang terjadi.
4. Proses belajar kebudayaan melalui jalur internalisasi yaitu ketika saya masih kecil saya diajarkan bagaimana cara makan, cara minum, dan lain sebagainya. Saya juga sering menirukan apa yang orang tua saya lakukan. Sehingga hal ini mempengaruhi watak saya ketika dewasa. Proses belajar kebudayaan melalui jalur sosialisasi yaitu ketika saya menginjak masa sekolah saya mulai mengenal hal-hal baru, yaitu bagaimana berteman, bagaimana sekolah itu dan mulai mengenal adanya lawan jenis, dan lain-lain. Proses belajar kebudayaan melalui jalur enkulturisasi yaitu ketika kita mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita tentu dihadapkan dengan berbagai macam hal yang baru misalnya saja kita ambil satu hal yaitu gotong royong. Kita diajarkan bagaiman cara hidup bersama warga masyarakat yang lain. Sesuai dengan hakikat manusia yaitu makhluk sosial.
5. Berbicara mengenai discovery saya teringat dengan salah satu hasil kebudayaan Banjar yang sekarang masih bisa kita lihat yaitu Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan salah satu rumah adat Banjar yang asal-usul rumah bubungan tinggi ini berasal dari kerajaan Banjar di masa lalu yaitu sebagai istana sultan Banjar. Namun sekarang rumah bubungan tinggi dapat kita lihat berubah fungsi, kalau kita berjalan-jalan ke Banjarbaru kita akan melihat obyek wisata Museum Lambung Mangkurat. Di sana kita dapat melihat rumah bubungan tinggi dengan pembaruan menggunakan beton sebagai bahan bangunannya. Banyak yang sudah di ubah mengnai struktur rumah bubungan tinggi. Dan ini berkaitan langsung dengan inovasi.
By Adi Fitriansyah Rizqoni on Jun 27, 2007 | Reply
1) Banjarmasin adalah kota yang dialiri banyak sungai, kehidupan masyarakat banyak tidak pernah lepas dari sungai, mulai dari mandi, mencuci, bahkan kegiatan perekonomian juga dilakukan di sungai sehingga budaya sungai menjadi ciri khas masyarakat banjar, salah satu kegiatan perekonomian yang dilakukan di sungai adalah kegiatan jual beli yang terkenal dengan pasar terapung, yang lokasinya berada di Kuin, pedagang-pedagang menggunakan perahu/jukung, pasar terapug itu berada di jalur sungai Barito, selain pedagang dari Banjar ada juga pedagang dari negara, orang banyak sejak awal mewarisi sistem politik dan ekonomi perdagangan, dengan orientasi kehidupan masa lampau bertumpu pada kehidupan sungai. Seperti yang kita tahu bahwa faktor alam dan tanah juga mempengaruhi kelakuan masyarakat setempat, sehingga wajar kalau orang-orang Banjar aktivitas kehidupannya tak bisa lepas dari sungai.
2) Pengadaan komputer di kampus FKIP merupakan ide/gagasan yang sangat bagus, pengadaan komputer itu dimaksudkan agar mahasiswa FKIP bisa lebih mudah untuk mendapatkan informasi tentang seputar kampus, program-program FKIP, informasi beasiswa dan lain-lain. Mahasiwa bisa menggunakan komputer itu untuk mendapatkan informasi, tetapi sayang, keberadaan komputer itu seakan sia-sia karena komputernya dikerangkeng dan digembok sehingga komputer itu tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.
3) Keluarga adalah tempat di mana kita mendapatkan pendidikan pertama kali. dulu orang tua menganggap bahwa pendidikan itu tidak terlalu penting. bila anaknya sudah lulus SD biasanya tidak melanjutkan sekolah tetapi seiring dengan perkembangan zaman di mana sekolah-sekolah sudah di bangun muali dari SD sampai SMA di Kecamatan dan di Desa. para orang tua mulai menyekolahkan anaknya sampai lulus SMA. kemudian anggapan dari orang tua bahwa pendidikan yang tinggi dapat merubah taraf hidup maka ia semakin memotivasi untuk menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi
4) Proses belajar kebudayaan sendiri melalui proses internalisasi merupakan proses panjang sejak seorang individual dilahirkan, sampai ia meninggal dimana ia belajar menanamkan kepribadian. Tentu itu semua dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia tinggal dan dari golongan mana keluarganya berasal dalam proses sosialisasi setiap golongan sosial dan lingkungan sosial terdpaat perbedaan. Pada golongan petani yang berada did aerah transmigrasi yang berasal dari jawa, seorang anak tetap mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, tetapi kebanyakan pada masa anak-anak mereka sudah diajari untuk bekerja di sawah, seperti saat menanam padi, dan panen, kemudian mengembalakan ternak-ternak mereka. Kegiatan mengaji di mushala menjadi kegiatan rutin, disitu mereka berkumpul dan juga berinteraksi dengan teman sebaya, sehingga terjadi proses sosiaolisasi yang luas. Proses enkulturisasi dimulai dari lingkungan keluarga, dari sini mereka diajarkan untuk memakai bahasa yang halus bila berbicara dengan dengan orang yang lebih tua, sopan santun sangat kental diajarkan, seperti membungkukkan badan bila lewat di depan orang tua, gotong royong yang menjadi ciri masyarakat pedesaan secara tidak langsung telah membuat individu belajar untuk bekerja sama.
5) Dalam mencerna konsep discovery kita harus menjadi individu yang aktif yang berusaha untuk berbuat sesuatu untuk mengisi dan membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Contoh : Jamu Sarigading adlaah jamu asli Kalimantan, jamu ini pertama kali dibuat oleh Hasan Mahdan, dahulu pengolahannya masih menggunakan tangan dan alat tumbuk, dan hasil produksinya adalah jamu serbuk, seiring dengan perkembangan teknologi pengolahannya pun mulai menggunakan mesin dan hasil produksinya bervariasi ada yang berbentuk kapsul dan serbuk. Sarigading telah diterima dan diakui oleh masyarakat\, banyak masyarakat yang menggunakan produk-produk sarigading.
By Elma Khairina on Jun 27, 2007 | Reply
1.Fase perkembangan ke IV, antropologi bersifat praktis, tujuannya untuk membangun masyarakat. Disini saya menganalisis tentang kehidupan di Kos tempat tinggal saya yang juga merupakan bagian masyarakat. Jumlah penghuni atau orang yang tinggal di Kos ini ada 21 orang. Tentu kita tahu setiap orang berbeda-beda, tidak ada yang sama. Hal ini dapat dilihat dari tempat asal, suku, agama, bahasa, dan kebudayaan. Keanekaragaman itu tetap ada. Begitu juga yang ada di Kos saya, ada suku yang berbeda yaitu suku Banjar dan suku Jawa. Dalam suku Banjar sendiri juga terdapat perbedaan kebudayaan karena suku Banjar ini terdiri dari sub-sub suku yaitu 1) Banjar pahuluan, seperti dari hulu sungai Selatan, Tabalong,dlll ; 2) Banjar Kuala sepanjang daerah sungai martapura, tanah laut, dan Banjar ; 3) Banjar batang alai seperti daerah aliran sungai negara. Dari suku yang berbeda tentu kebudayaannya juga berbeda. Contohnya dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari, cara hidup, kosumsi, maupun cara pandang. Dari cara hidupnya orang jawa termasuk rajin, ulet, dan mau bekerja keras, Berbeda dengan cara hidup orang Banjar yang tergolong santai karena dimanjakan dengan faktor alam, perbedaan lain bisa dilihat dari sifatnya ada yang keras dan ada yang lembut. Dengan perbadaan inilah kita jadi saling menghargai, dan toleransi satu sama lain. Dari sini kita bisa membangun kebersamaan dan kekompakan kita didalam kos. Misalnya dengan kerja sama membersihkan kos.
2. Wujud kebudayaan dapat didekati sebagai ide, karya, dan hasil karya. Analisis yang dilakukan dalam aplikasi kehidupan dikampus yaitu dengan salah satu tindakan kita sebagai mahasiswa untuk memajukan kampus dari segi pendidikan seperti mutu dan kualitas pendidikan. Melalui ide-ide atau pikiran kita bisa kita bisa menyumbangkannya untuk kampus misalnya dengan membuat tulisan seperti menganalisis tentang pendidikan yang ada. Karya atau aktivitas dikampus itu bisa dilakukan dengan mengikuti seminar, forum diskusi, serta aktif dalam organisasi-organisasi kampus. Hasil karyanya bisa berupa sesuatu yang dapat berguna bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Contohnya dari ide dan proses tadi kita bisa menghasilkan sebuah buku yang berguna atau tugas akhir seperti skripsi.
3. Cara untuk mencerna proses evolusi sosial dalam kaitan evolusi kebudayaan dalam kontek kebudayaan saya yaitu pertama-tama kita harus mengetahui dan mengenal lingkungan tentang bagaimana kebudayaan yang ada di tempat itu. Setelah itu kita bersosialisasi atau melakukan adaptasi. Kemudian kita menyaring atau memfilter kebudayaan mana yang baik dan buruk sehingga kita dapat berada dilingkungan yang baik dan benar sesuai dengan prinsif kebudayaan itu sendiri. Contoh dari unit terkecil dan terdekat adalah dalam keluarga. Suatu kebudayaan orang tua jaman dulu yang memandang pendidikan agama itu lebih penting dari pada pendidikan umum, karena itulah banyak anak yang dipaksa masuk pesantren. Namun seiring perkembangan zaman dan kemajuan iptek kebudayaan itu berubah. Pemikiran orang tua pun juga berubah dengan memandang pengetahuan umum juga penting, karena itulah anak mereka juga di sekolahkan pada sekolah-sekolah umum.
4. Proses belajar kebudayaan dalam kehidupan saya melalui jalur internalization dilakukan dalam lingkungan keluarga melalui penanaman nilai-nilai kehidupan, atau kebiasaan- kebiasaan yang ditanamkam dalam diri oleh orang tua sejak saya masih kecil. Misalnya bagaimana cara bergaul dalam keluarga, seperti menghormati orang yang lebih tua, menghargai yang lebih muda, tidak mengucapkan kata-kata yang kasar dan jorok. Terus juga dibiasakan mandi pagi-pagi, makan bersama dengan keluarga, tidur malam harus jam 21.00 tidak boleh larut malam, dll. Saat sekolah mulailah proses sosilization, dimana pergaulan semakin luas dan hal ini lebih mudah dijalani karena kita telah diajarkan bagaimana cara bergaul dalam lingkungan keluarga dulu. Jadi tinggal pengaplikasiannya di sekolah atau lingkungan sekitar (masyarakat). Melalui jalur enculturation atau pembudayaan. Misalnya budaya orang tua yang dari dulu kalau pada saat hari raya atau lebaran membuat makanan dan kue-kue yang kemudian dibagi-bagikan pada keluarga dan tetangga. Nah hal ini menjadi budaya dalam diri sendiri karena mengikuti apa yang dilakukan orang tua.
5. Cara mencerna konsep discovery dan inovation dalam kontek kemajuan kebudayaan adalah dengan adanya kemauan yang keras untuk mencoba. Karena dengan kemauan maka ada jalan untuk mencapai tujuan. Contohnya yaitu penemuan (Discovery) makanan khas Dodol Kandangan yang tidak terdapat ditempat lain. Pada mulanya makanan ini hanya kue dirumah saja, kemudian dijual dan menjadi makanan khas yang sudah membudaya.Dodol ini terus dibuat dan di modifikasi lagi pembuatannya seperti dodol kandangan yang didalamnya dicampur dengan kacang. Ini disebut inovasi yaitu pembaharuan penemuan yang telah ada.
By Angki Hardanika on Jun 27, 2007 | Reply
1. Pada perkembangan fase ke-4 Antropologi bersifat praktis, tujuannya membangun masyarakat, lakukan Analisis kritis kasus di lingkungan terdekat saudara…….
Jawab:
Di dalam lingkungan terdekat saya, terdapat berbagai aneka ragam etnis dan budaya yang tujuannya memajukan bangsa ini, saya sendiri tinggal di rumah kos yang terdapat di lingkungan masyarakat yang dihuni oleh beragam etnis dan toleransi antar etnis.saya sendiri dan teman-teman kos merupakan orang perntauan yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda, yang bertujuan untuk kuliah walaupun UNIVERSITAS tempat kami kuliah berbeda. Walaupun tempat kuliah, asal daerah, etnis dan agama berbeda, saya tidak merasakan perbedaan yang mencolok, karena kami merasa senasip sepenanggungan. Selain saaya berhadapan dengan lingkungan kos yang beraneka ragam individunya, saya juga dihadapkan pada masyarakat yang beraneka ragam yang membuat saya harus bias beradaptasi dengan lingkungan yang saya tempati dengan sebaik-baiknya dan tidak hanya saya tetapi juga semua teman-teman saya juga harus berinteraksi dengan masyarakat agar menciptakan lingkungan yang damai.
2. Wujud kebudayaan dapat di dekati sebagai ide karya dan hasil karya, buat briefis analisis dalam kehidupan kampus saudara……..
Jawab:
Wujud kebudayaan sebagai suatu ide, karya dan hasil karya terkadang tidak selamanya sempurna, sempurna di sini dalam artian ide tidak sesuai dengan karya atau hasil karya. Hal itulah yang terjadi di kampus FKIP, yaitu ide atau visi dari FKIP itu sendiri, yaitu “Menjadi lembaga pendidikan, tenaga kependidikan yang terkemuka, yang lulusannya memiliki kemampuan akademik, professional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing yang tinggi”, Ide tersebut tidak sesuai dengan karya yang ada ,untuk menjadi tenaga kependidikan yang terkemuka dan memiliki lulusan yang mempunyai kemampuan akademik, professional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing tinggi diperlukan berbagai fasilitas yang menunjang tentunya, seperti perpustakaan dan internet agar para lulusan tidak GAPTEK. Perpustakaan yang ada keadaaannya sangat memprihatinkan, sedangkan dalam proses perkuliahan buku menjadi media utama sebagai sumber informasi . FKIP memang memiliki komputer, tetapi komputer tersebut tidak bisa dipakai oleh para mahasiswanya karena komputer tersebut dikerangkeng, bahkan kalau dibuka , isi dari komputer itu kosong, atau hanya menyediakan informasi yang itu-itu saja tidak memberikan informasi yang berguna.
Ide dari FKIP juga tidak sesuai dengan hasil karya yang ada, hal ini dapat dilihat dari lulusan FKIP yang masih banyak menganggur, entah di mana salahnya, tapi yang jelas visi serta ide dari Fkip masih belum sesuai dari karya dan hasil karya yang ada.
3. Bagaimana mencerna proses evolusi sosial dalam kaitan evolusi sosial dalam kaitan evolusi kebudayaan dalam kontek kebudayaan saudara(unit terkecil dan terdekat)……………..
Jawab :
Upacara, aktivitas, serta tindakan yang menyimpang yang terjadi karna berbagai situasi dan keadaan khusus yang dapat berulang-ulang, umumnya diabaikan atau kurang diperhatikan. Karena manusia terutama memikirkan dirinya sendiri,maka ia sedapat mungkin akan berusaha menghindari adat atau peraturan apabila hal-hal itu tidak sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
Pada zaman dahulu di lingkungan tempat saya dibesarkan, dalm membangun sebuah rumah, dibantu oleh orang-orang sekitar/para kerabat dengan cara bergotong royong tanpa upah sedikitpun, tetapi lamakelamaan budaya tersebut mulai hilang karena sifat materialistik yang semakin menguat, sehingga apabila membangun sebuah rumah diperlukan biaya yang tidak sedikit.
4. Lakukan kajian analitik dalam kehidupan saudara tentang proses belajar kebudayaan melalui internalization, socialization dan enculturation…………..
Jawab:
Kajian analitik dalam kehidupan saya tentang proses belajar kebudayaan melalui internalization adalah terjadi sejak lahir sampai akhir hayat. Sepanjang hayat saya terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadian. Saya sendiri dilahirkan dilingkungan keluarga etnis Jawa tetapi tumbuh dilingkungan etnis Banjar , pada awalnya saya dikucilkan oleh teman-teman sebaya sewaktu kecil karena saya adalah etnis Jawa dan teman-teman etnis Banjar, lama kelamaan saya mulai beradaptasi dengan mereka dengan cara membaurkan diri kedalam budaya mereka serta berusaha belajar untuk mengolah perasaan ,hasrat, nafsu, dan emosi mereka ke saya.
Proses sosialisasi sejak saya dilahirkan dalam keluarga yang harmonis, keluarga saya merupakan pegawai negeri yang tinggal di wilayah pedesaan sehingga orang tua saya cukup dihormati oleh masyarakat sekitar dan hal tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan saya, tetapi proses sosial yang saya hadapi tidak segambang yang dapat dibayangkan semua orang, karena keluarga saya adalah etnis pendatang sehingga saya merasa asing terhadap masyarakat sekitar. Pada saat sekolah saya mulai mengalami sosialisasi yang lebih luas dan mencoba beradaptasi apalagi sewaktu pindah ke kota besar. Di kota besar saya menghadapi berbagai etnik dan budaya yang beraneka ragam serta unsur-unsur kebudayaan yang ada.
Dalam proses enkulturasi, saya belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat, sistem norma serta semua peraturan yang terdapat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sejak kecil sayatelah di ajarkan untuk menggunakan bahasa yang halus kepada orang yang lebih tua dan menundukkan badan apabila lewat di depan orang yng lebih tua atau dihormati dan hal itu melekat sampai sekarang.
5. kira-kira bagaimana mencrna konsep Descovery dan Inovation dalam konteks kemajuan kebudayaan, beri contoh terdekat dalam kehidupan saudara……..
Jawab:
Dalam mencerna konsep Descovery dan Inovation dalam konteks kemajuan kebudayaan diperlukan suatu tahap, Descovery menjadi Inovation apabila suatu penemuan baru telah diakui, diterima dan dipakai oleh masyarakat.
Dalam kehidupan kos saya memiliki 13 teman kos, saya tinggal di kos tersebut baru tahun 2005, di dalam kehidupan kos dan lingkungan yang baru ini saya dihadapkan dengan kebudayaan teman-teman yang terdahulu yaitu bangun kesiangan, bukannya tidak sengaja, tetapi disengaja, budaya tersebut bertolak belakang dengan kebudayaan saya yang sering bangun pagi. Bangun pagi rutin saya lakukan di kos tersebut dan lama-kelamaan teman-teman yang lain juga ikut bangun pagi karena mendengar suara gaduh yang ditimbulkan karena saya beraktivitas sewaktu bangun pagi hari, akhirnya rata-rata semua teman-teman bangun pagi. Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa saya membawa budaya bangun pagi ke lingkungan baru saya.
By Ridhani R.Utami on Jun 27, 2007 | Reply
1. Di dalam lingkungan terdekat saya, umumnya saya temui bahwa keadaan masyarakat saya terdiri dari berbagai etnis dan daerah yang memiliki perbedaan masing-masing. Di lingkungan rumah saya saja terdiri dari berbagai etis mulai dari etnis Banjar, Jawa, Batak, Toraja dan ada juga etnis campuran Arab. Namun kebanyakan yang mendominasi adalah etnis Jawa. Entah mngapa yang saya temui di lingkungan saya yaitu Kota Banjarbaru identik dengan Kota Pembauran Masyarakat dari berbagai Daerah terutama Jawa. Hampir 60% penduduknya merupakan etnis Jawa. Inilah yang menyebabkan Kota Banjarbaru “kabur” dengan ciri kedaerahnnya. Walaupun yang mendominasi selain etnis Banjar adalah etnis Jawa namun hal itu tidak dijadikan sebagai perbedaan untuk hidup berdampingan dan membangun masyarakat yang lebih baik. Karena enis-etnis yang berasal dari luar daerah mulai membiasakan diri dengan adat-istiadat “Banua Banjar” dan bersikap seperti adanya masyarakat Banjar pada umumnya.
2. Wujud kebudayaan berupa ide/gagasan, karya dan hasil karya dapat ditemui disekitar kampus saya, yaitu FKIP UNLAM. Kampus sebagai suatu institusi/lembaga yang mencetak lulusan-lulusan profesional yang dibutuhkan dalam dunia kerja merupakan wujud kebudayaan yang konkrit sebagai suatu bentuk gagasan dan diwujudkan dalam suatu bentuk yaitu Kampus. Kampus FKIP UNLAM sebagai pencetak tenaga kependidikan juga mempunyai beribu-ribu gagasan untuk meningkatkan mutu kualitas mahasiswanya. Seperti ide untuk membuat balai sebagai tempat pertemuan, diskusi, seminar dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lainnya disambut baik oleh semua elemen kampus. Maka ide ini segera direalisasikan dan dikerjakan dengan mengubah kolam yang ada di depan kmpus yang awalnya hanya berguna sebagai penghias kampus diubah menjadi sebuah bangunan yang nyaman dan teduh berupa balai FKIP UNLAM. Sekarang balai ini sudah nampak dari perwujudan gagasan tersebut yaitu sering digunakan sebagai tempat diskusi dan kegiatan kemahasiswaan.
3. Proses evolusi sosial dalam kontek evolusi kebudayaan lingkungan terdekat saya yang sangat nampak terlihat adalah dalam GOTONG ROYONG. Masalah gotong royong, silaturahmi di lingkungan tempat tinggal saya di Kota Banjarbaru sudah berubah dari konteks adat istiadat sebelumya. Pada masa dulu, gotong royong merupakan kegiatan yng paling menarik perhatian masyarakat karena akan mengikat hubungan sesama mereka dengan lebih erat. Apalagi masyarakat Kalimantan Selatan yang terkenal kuat dengan ikatan persaudaraannya dalam satu istilah yaitu ikatan “BUBUHAN”. Namun sekarang terutama yang kita dapati di kota yang sedang berkembang seperti Banjarbaru kegiatan seperti itu sudah jarang ditemui karena mereka sudah banyak yang bersifat individualistis. Paling-paling kegiatan itu terjadi hanya 1 tahun sekali seperti bila ada perayaan besar Hari Raya maupun HUT kemerdekaan. Inilah salah satu contoh bukti evolusi sosial dalam konteks evolusi kebudayaan sekarang ini
4. Proses belajar kbudayaan melalui pross internalization dalam kehidupan sya sangat tergantung pada penanaman nilai dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua saya. Karena saya dilahirkan dalam adat dan kebiasaan orang Banjar maka saya juga menanamkan sikap dan kepribadian seperti orang Banjar. Setelah saya sudah mulai berinteraksi dengan orang lain dalam hal ini dalam proses socialization saya mulai menerima lagi nilai-nilai dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang lain terutama teman yaitu bagaimana saya berteman dan menempatkan diri dengan orang lain. Dalam proses enkulturasi, saya dihadapkan pada nilai-nilai yang lebih kompleks lagi seperti norma adat dan norma hukum yang berlaku pada masyarakat sekitar saya.
5. Dalam mencerna konsep discovery dan inovation dalam konteks kemajuan kebudayaan harus dilihat dari individu yang membangunnya dalam hal ini bagaimana individu tersebut mencerna dan mempertahankan hasil penemuannya tersebut agar bisa digunakan dan dipakai oleh orang lain. Namun hal itu tidak mudah, diperlukan kekuatan mental dan kecermatan dalam mengamati perubahan kebudayaan. Misalnya: Kue khas Banjar yaitu Bingka. Kue ini hanya bisa ditemukan di Kalsel sebagai suatu bentuk discovery masayarakat Banjar Namun sekrang dalam mengermati kemajuan kebudayaan dan agar tetap diterima oleh orang lain (inovation), kue ini juga mulai mengalami perubahan seperti dahulu bingka cuma memiliki satu jenis namun sekarang bingka memiliki bermacam rasa seperti Bingka kentang, Bingka Telur dan Bingka Tapai yang disesuaikan dengan kemajuan zaman.
By Bahruddin on Jun 27, 2007 | Reply
# Lingkungan tempat saya berdomisili selama ini kecamatan Bati-bati, merupakan wilayah kecamatan yang padat akan tempat berdirinya, perusahaan-perusahaan industri sebut saja PT. Indofood perusahaan air minum : Prof, Tim, club dan jenis perusahaan lainnya. Hal ini mengundang banyak orang untuk mendapat pekerjaan, ada yang datang dari luar kecamatan, kabupaten bahkan luar propinsi akibat yang ditimbulkan dalam masyarakat adalah komposisi masyarakat menjadi Hetrogen akan suku bangsa. Seperti jawa, Sumatra, Madura Bali bahkan warga keturunan (cina). Semua ini menimbulkan berbagai macam kebudayaan disekitar lingkungan saya. Lambat laun terjadi akulturasi bahkan bisa terjadi benturan. Tapi dari semua, itu juga terjadi kebiasaan kebudayaan atau kebiasaan yang membawa kearah kemajuan masyarakat. Seperti perlunya pekerjaan merubah kebiasaan setempat untuk menyekolahkan anak lebih tinggi agar bisa diterima dan dihormati di dalam masyarakat
# Kampus merupakan sumber unit perubahan, dan perubahan itu sendiri bersumber dari ide / gagasan yang kemudian diwujudkan melalui kerja / karya maka timbul yang namanya hasil karya membuat suatu perubahan. Baik itu ke arah kemajuan atau sebaliknya kemunduran.
“Memang harus diakui selama ini FKIP miskin sekali akan ide / gagasan sehingga perubahan yang terjadi di Kampus tidak begitu terlihat” Tiga wujud kebudayaan berupa ide, karya / aktivitas dan hasil karya, untuk FKIP terlihat dalam bentuk fisik seperti pembuatan gedung-gedung baru. Tapi untuk ide pemberdayaan SDA masih kurang demikian juga dengan mahasiswanya.
# Dalam evaluasi kebudayaan terjadi karena adanya suatu tuntutan yang memaksa kebudayaan itu harus berevolusi. Sebagian orang Banjar dalam hal pendidikan tidak terlalu memperhatikan. Karena dianggap biasa saja.
Tapi yang terjadi sekarang ini di sekitar tempat tinggal saya. Komposisi masyarakat yang heterogen dan terjadi persaingan hidup, menuntut adanya pendidikan tinggi sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Maka pandangan orang tua dalam keluarga pun berubah untuk menyekolahkan anak. Dari kasus ini evaluasi itu harus diterima. Selagi hal tersebut membawa ke arah kemajuan dan tidak bertentangan dengan nilai – aturan sekitar.
# Proses Belajar kebudayaan melalui internalisasi. Terakhir dari keluarga yang kehidupan seharinya tenang dengan masing-masing anggota keluarga melakukan aktivitas kesehariannya, dimulai pagi hari sudah meningkatkan rumah dan sore baru pulang sehingga untuk berinteraksi dengan individu lain (Anggota Keluarga) kurang terkecuali ibu. Dari ibu yang berhasil budaya Banjar diajarkan bagaimana cara bersopan santun dengan orang lain. Missal kepada orang tua menggunakan kata ulun / pian.
Sosialisasi. Ketika memasuki ruang lingkup yang lebih luas, sekolah bahkan masyarakat, banyak diajarkan sesuatu yang baru, baik itu buruk / baik mau tidak mau semua itu sebagian tertanam dalam kebiasaan hidup sehari-hari.
Enkultrasi ketika lebih jauh memasuki dunia luar atau dalam keluarga sendiri. Dikenalkan adanya suatu aturan / norma yang harus diperhatikan, sebab dari saluran banyak aktivitas sehari-hari ada sebagian yang tidak boleh dilakukan atau harus mengeluti aturan tersebut. Contoh kecil dilarang mengambil barang (hak) orang lain. Semuanya itu tertanam dalam diri dan menjadi suatu kebiasaan.
# Adanya Discovery dan unvention harus di cerna secara baik, diterima dan diterapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari, sebab hal tersebut membantu sekali dalam proses aktivitas kita sehari-hari. Tentunya discovery dan invention tersebut yang berguna dan bermanfaat buat kita tidak bertentangan dengan nilai / norma yang ada di dalam masyarakat.
Contoh :
Dalam bidang pertanian adanya penemuan tenaga traktor untuk mengolah tanah secara cepat dengan waktu relative singkat tentunya alat ini mendukung sekali untuk pertanian, ya harus diterima / digunakan karena Hasilnya lebih memuaskan bila dibandingkan dengan bacak atau cangkul.
By helmiansyah on Jun 27, 2007 | Reply
1. dalam suatu masyarakat, khususnya yang ada didaerah kita ada suku yang bernama suku banjar. suku Banjar ini terdiri dari beberapa macam suku yang ada di Indonesia seperti suku jawa, Bugis, Dayak dan lain-lain. istilah suku banjar didapat karena masyarkatyang ada tadi ( suku-suku tadi) tinggal disepanjang sungai yang memanjang dimana orang Banjar menyebutnya berbanjar. demikian juga masyarakat alalak yang tinggal disepanjang sungai alalak berasal dari berbagai macam suku juga dan mereka disebut dengan orang banjar. Walaupun berasal dari berbagai macam suku, masyarakat alalak memiliki berbagai kebudayaan-kebudayaan tersendiri seperti Beayun Anak, Bepalas Bidan, Mandi-mandi (mandi 7 bulanan pada orang hamil pertama) dan lain-lain. budaya-budaya yang ada dimasyarakat alalak pada dasarnya sama dengan masyarakat-masyarakat yang lain didaerah Kalimantan Selatan mungkin cuma penyebutannya saja yang berbeda.
2. dalam kehidupan kampus kita banyak mendapati orang-orang yang penampilannya seakan-akan menunjukkan orang yang mempunyai intelektual yang tinggi walaupun tidak banyak juga yang berpenampilan tidak mencerminkan penampilan sebagai seorang calon guru yang akan digugu dan ditiru oleh anak didik. tapi apalah arti penampilan karena penampilan tidan dapat diambil patokan bahwa seseorang punya intilektual yang tinggi. didalam kehidupan kampus, kita mendapati banyak orang yang bersal dari berbagai daerah. didalam diri warga kampus pasti minimal ada satu ide yang tersirat didalam pikirian mereka tetapi hany sedikit ide-ide tersebut diwujudkan dalam karya atau berhasil menjadi hasil karya. tetapi akhir-akhir ini banyak mahasiswa yang menuangkan idenya dalam sebuah karya dan berhasil menjadi hasil karya yang berupa tulisan. hal tersenut juga dilakukan oleh para dosen-dosennya yang menuangkan idenya dalam bentuk tulisan bahkan buku. tetapi tidak sedikkit juga dosen yang hanya memiliki ide tetapi tidak mampu menuangkannya didalam sebuah karya.
3. dalam suatu masyarakat lambat laun pasti akan mengalami perubahan tetapi kita tidak tahu kalau perubahan tersebut akan membawa kearah kemajuan atau kemunduran. demikian juga dengan kebudayaan pasti akan mengalami perubahan tetapi memakan waktu yang cukup lama yang mana didalam ilmu Antropologi dapat disebut dengan Evolusi Kebudayaan. pada masyarakat Banjar, perubahan kebudayaan juga terjadi dan hampir tidak dapat dihindari. sebagai contoh masyarakat Banjar yang dulunya masih erat dengan budaya-budaya asli mereka seperti Mamanda, Bejapin, Belamut, Madihin yang mana bentuk-bentuk budaya tersebut menjadi primadona pada zamannya. dibandingkan dengan sekarang, masyarakat Banjar khususnya para remaja seakan -akan merasa asing dengan budaya asli mereka. merasa terasingnya remaja banjar kepada budaya mereka sendiri dikarenakan adanya arus globalisasiyang sangat deras melanda masyarakat Banjar, arus globalisasi ini juga didukung dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. derwsnya arus globalisasi dan majunya IPTEK mengakibatkan masyarakat BAnjar (remaja Banjar) menyukai budaya barat yang masuk kedaerah kita sehingga hal ini lambat laun dapat mengesampingkan buday asli Banjar dihadapan masyarakat Banjar khususnya para remajanya
4. proses belajar kebudayaan dapat dilakukan me;lalui 3 cara:
Pertama:Internalisasi, pada tahap ini seorang individu dapat belajar suatu kebudayaan dari keluarganya senditi. proses belajar ini tergantrung dari mana asal keluarga tersebut. sebagai comtoh, orang tua dari seorang individu (anak) berasal dari Jawa maka kebudayaan yang didapat individu tersebut adalah budaya Jawa.
kedua: Sosialitation, pada tahap ini seorang indivbidu akan mendapati suatu lingkungan yang cukup luas, individu tersebut pasti akan terjun kelingkungan tersebut seperti sekolah dan masyarakat. pada tahap ini juga seorang individu akan dituntut akan menyesuaikan diri kepada lingkungannya tersebut. hasil dari penyesuaiaan diri individu kepada lingkungannya akan berdampak positif dan negatif tergantung dari individunya tergabtung bagasimana tanggapan sang individu yang bersangkutan.
ketiga: enkulturation, ketika seoarang individu sudah terjun kesebuah masyarakat maka individu tersebut secara tidak langsung sudah terikat kepada peraturan-peraturan yang berlaku dimasyarakat. seperti dimasyarakat alalak, seorang individu dilarang berdua-duaan ditempat tertutup maka remaja tersebut pasti akan mendapat teguran dari warga bahkan kalau mengulangi perbuatan mereka tersebut maka akan dialporkan kepada ketua RT setempat.
5. Discoveri dan Invention pada dasarnya sangat membantu masyarakat tetapi hal, tersebut juga bergantung apakah dioscoveri dan invention tersebut bertentangan atau tidak dengan kebudayaan mereka. dimasyarakat alalak khususnya yang bertempat tinggal dipulau alalak terjadi discoveri dan invention dalam segi penggunaan alat-alat untuk membuat perahu. penemuan tersebut dapat berupa penggunaan alat-alat listrik dalam mengerjakan pekerjaan mereka sebagai tukang jukung. comtoh discoveri dan invention tersebut adalah adnya penggunaan katam listrik untuk memperhalus permukaan rubing atau dinding jukung.
By Anton Wiranata on Jun 27, 2007 | Reply
1.Dari fase perkembanganya ke-4 dari antropologi,jika ditinjau melalui aneka warna fisiknya, masyarakatnya serta kebudayaan dilingkungan tempat tinggal saya tentulah bisa dibilang sudah modern dan berkembang karena di era globalisasi sekarang ini zaman sudah maju di mana kebutuhan hidup sudah meningkat dan kompleks. Artinya semua tingkah laku, pemikiran, tindakan dan segala peraturan tentulah akan terbawa oleh tuntutan kemajuan teknologi waktu sekarang. Contohnya di lingkungan desa tempat tinggal saya pada masa SMP dulu HP itu hanya mampu dimiliki oleh, katakan oleh orang-orang kaya saja, tetapi sekarang HP itu sudah memasyarakat, tidak saja yang kaya tetapi juga orang-orang kelas bawahpun sekarang sudah memilikinya. Bisa disimpulkan bahwa perkembangan dari antropologi (kebudayaan) sangat berpengaruh pada daya tarik dan kebutuhan yang mendesak dari suatu masyarakat. Walaupun untuk mendapatkannya itu harus berusaha keras, biar mereka tidak dikatakan ketinggalan zaman.
2. Suatu wujud kebudayaan itu tentunya bersumber dari sfat serta kepribadian sejumlah orang pada lingkungan masyarakat yang membangunnya. Di lingkungan kampus saya dapatlah kita lihat sekarang ini telah dilakukan pembangunan lokal-lokal kelas baru yang tujuan tidaklah bukan kelancaran dan kenyamanan didalam proses peningkatan akademik, agar nantinya juga bisa memotivasi mahasisiwa untuk lebih giat dalam perkuliahannya. Dari hasil pemikiran, gagasan, dan ide-ide semua unsur kampus yang terkait akan menimbulkan suatu inspirasi untuk membangun, yang asalnya hanya rawa-rawa akan terbentuk sebuah bangunan untuk sarana dan prasarana kampus sendiri. Semua itu tentunya bersumber dari otak atau akal pikiran manusia yang membuat sebuah karya, di mana para mahasiswa akan lebih bisa terbantu dalam hal membangun dan menumbuhkan potensinya dan nantinya dalam pendidikan akademik kampus tersebut akan menciotakan/mengeluarkan mahasiswa-mahasiswi yang profesional sewbagai hasil dari karya serta ide-ide dan pemikiranb bersama agar bisa untuk pengembangan karakteristik siswa yang berprestasi di masa-masa yang akan datang.
3. Kaitan proses evolusi sosial dan evolosi kebudayaan yang terdapat di keluarga saya masih sangat erat hubungannya, dengan tali persaudaraan yang harmonis antara anggota keluarga, di antara kami selalu ada rasa saling perhatian dan tolong-menolong sehingga hubungan keluarga bisa selalu rakat dan ruhui rahayu. Bila ada salah satu keluarga yang mengalami kesulitan dalam ekonomi, maka keluarga yang lain akan membantu untuk meringankan beban hidupnya. Kalau ada timbul masalah-masalah dalam keluarga akan selalu dilakukan dengan jalan musyawarah mufakat. Di samping itu pula dilihat dari faktor agamis yang tentu mendorong dan memberikan pandangan kepada kami ke arah kesadaran betapa perlunya membina kerukunan dan keterikatan dalam kekeluargaan itu, maka dengan budaya rukun ini bisa membuat keluarga saya bisa hidup tentram dan damai.
4. Dalam kehidupan pribadi saya, untuk membentuk kebudayaan dalam penemuan jati diri tentulah melalui proses dan perjalanan dalam penerapannya. Sebabsuatu budaya itu perlu dipahami dan sifatnya berjenjang agar kita benar-benar fokus di dalam pengaplikasiannya. Di mulai dari diri saya sendiri saja tidak cukup, dalam memahami Islam sendiri menurut saya itu benar-benar saja dan ilmu yang saya dapat itu sudah cukup buat bekal saya, ternyata tidak. Semua itu perlu ada pembaharuan dan pembelajaran yang lebih luas lagi di lingkungan masyarakat agar kita benar-benar tahu dan memahami suatu ilmu itu dalam mendalami supaya kita tidak salah dalam penerapannya. Setelah itu kitapun perlu juga dalam menyerap budaya-budaya dari orang-orang terdahulu yang memang pernyataan serta ilmu-ilmu yang di bawa orang-orang tua dahulu lebih pasti dan benar kenyataannya, di bandingkan dengan ilmu-ilmu Agama orang sekarang yang ingin memodernisasikannya dan jelas itu salah.
5. Semakin maju dan berkembang teknologi pada masa modern sekarang ini, tentulah membuat dampak yang nyata dalam kemajuan kebudayaan. Di antaranya budaya hidup gaya sekarang ini sangat mendominasi sekali dalam prilaku remaja. Misalnya saja waktu saya SMP dan SMA dulu di lingkungan masyarakat gaya rambut anak-anak remaja cenderung biasa-biasa saja. Tetapi sekarang dengan adanya kemajuan dan penemuan-penemuan baru di bidang gaya rambut, maka sekarang dapat kita kenal dengan gaya rebonding (meluruskan rambut). Kita tahu pasti bahwa gaya tersebut sudah memasyarakat dan para penggemarnyapun sudah banyak. Itulah tuntutan zaman yang tidak bisa kita pungkiri keadaannya, semua itupun bertolak pada kita bagaimana untuk bisa menyaring yang mana hal-hal baik dan yang mana hal-hal buruk. Agar tidak keliru di dalam mengaplikasikan di kehidupan kita.
By M. Rizky Adha on Jun 27, 2007 | Reply
1.) Di daerah tempat tinggal saya berada terdapat komunitas masyarakat yang memiliki beberapa perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat di lihat dari tingkat kemampuan ekonominya, jabatan, suku atau ras, agama, maupun status sosialnya. Hal ini memang wajar di temukan pada hunian yang saya tinggali, karena sebagian besar merupakan perumahan. Karakteristik keperibadian dan etos kerja mereka pun berbeda-beda pula. Sehingga menimbulkan kemajemukan di dalam lingkungan tempat saya bermukim. Walaupun pada kenyataannya setiap individu-individu tersebut memiliki perbedaan yang mendasar, namun setiap individu tersebut merupakan bagian dari anggota masyarakat. Di daerah tempat tinggal saya setiap individu tersebut berusaha saling menciptakan suatu situasi dan kondisi yang kondusif. Hal ini dapat saya lihat dan buktikan sendiri ketika suatu hari salah satu warga yang berbeda agama merayakan hari besar keagamannya, padahal ia tahu bahwa di sebelah rumah mereka terdapat tetangga yang memeluk agama berbeda dari mereka. Kedua tetangga tersebut ternyata saling bertoleransi dan berusaha menciptakan rasa saling hormat-menghormati, dan melakukan kunjungan silaturahmi terhadap tetangga yang merayakan hari besar agamanya. Dari gambaran tersebut dapat saya simpulkan bahwa terdapat aneka warna individu yang memiliki perbedaan-perbedaan di dalam pembentukan komunitas masyarakat, namun semuanya di persatukan oleh nilai-nilai budaya yang luhur. Perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam suatu masyarakat tersebut dapat di jadikan sebagai pemersatu dan pembangun mentalitas masyarakat dengan menanamkan kepada setiap pribadi agar dapat merefleksikan segala bentuk norma-norma di masyarakat untuk di aplikasikan di kehidupan sehari-hari.
2.) Seorang mahasiswa di dalam menunjang proses kegiatan belajar pada setiap perkuliahan yang diikutinya, memerlukan suatu media yang berperan untuk memberikan informasi mengenai materi apa saja yang akan ia dapatkan. Salah satu media tersebut di antaranya adalah buku atau literature penunjang perkuliahan, yang di gunakan sebagai salah satu sumber belajar dan menggali informasi lebih dalam. Namun kiranya seringkali mahasiswa memiliki keterbatasan dana dalam membeli buku atau literatur penunjang perkuliahan mereka. Untuk mengatasi hal itu setiap mahasiswa berinisiatif untuk meminjam buku di perpustakaan fakultas ataupun perpustakaan universitas (pusat). Tetapi pada akhirnya para mahasiswa seringkali juga terkendala pada kurangnya ketersediaan buku atau literatur yang mereka cari. Selain itu juga mereka mengeluhkan bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut tidak relevan lagi untuk dijadikan sebagai acuan belajar alias ketinggalan zaman. Hal tersebut secara langsung menimbulkan masalah dalam mencerna materi perkuliahan yang ada. Akhirnya mahasiswa menyampaikan keluhan mereka kepada pihak otoritas kampus agar melengkapi dan memperbaiki infrastruktur pendukung kegiatan belajar yang ada di kampus, yakni perpustakaan. Namun hal ini tidak mendapatkan respons dari pihak otoritas kampus dan masalah ini akhirnya dibiarkan berlarut-larut. Atas keadaan yang demikian tersebut akhirnya membuat mahasiswa mencari alternative lain agar aspirasinya dapat di dengar oleh pihak otoritas kampus, yakni dengan megeluarkan bentuk protesnya melalui suatu gagasan atau ide untuk menulis artikel dalam bentuk opini mengenai keadaan perpustakaan di kampusnya ke berbagai media cetak yang ada. Dengan gencar para mahasiswa mempublikasikan sekaligus mengkritik keadaan perpustakaan di kampusnya yang kurang diperhatikan. Banyak tulisan-tulisan mahasiswa menghiasi berbagai harian lokal ibukota, sehingga membuat telinga pihak otoritas kampus memerah. Langkah yang diambil mahasiswa tersebut semata-mata agar aspirasinya dapat didengar oleh pihak otoritas kampus, setelah mereka melihat keadaan perpustakaan kampus yang tidak representatif tersebut, kemudian menanggapi dalam bentuk tulisan (hasil karya) hingga akhirnya dapat di baca oleh khalayak ramai.
3.) Dalam lingkungan keluarga terdapat aturan-aturan atau norma-norma yang mengatur antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Sebagai contoh bentuk aturan-aturan atau norma-norma tersebut antara lain mengatur kedudukan antara posisi orang tua dengan posisi anaknya, kemudian memuat aturan mengenai adat sopan santun ketika anggota keluarga yang lebih muda berbicara dengan anggota keluarga yang lebih tua, dan sebagainya. Namun pada saat ini kita dapat melihat arus perubahan kebudayaan yang cukup pesat akibat adanya globalisasi yang membawa pengaruh modernisasi, mulai menghilangkan kebudayaan asli di lingkungan masyarakat kita. Sebagai contoh adanya kemajuan tekhnologi yang dating dari Barat atau Negara maju, membawa produk budaya instan seperti baran-barang kebutuhan hidup yang sifatnya dapat di kategorikan sebagai barang asing dan mewah seperti televisi, komputer, VCD, dan lain-lainnya. Akhirnya di dalam masyarakat mulai terpengaruh oleh perilaku konsumtif untuk membeli produk-produk budaya instan tersebut. Dalam kaitannya dengan konteks lingkungan keluarga masuknya produk-produk budaya instan tersebut tidak dapat dihindari. Krena hal ini merupakan penyesuaian antara tingkat kebutuhan hidup dan perkembangan zaman. Pola pikir menjadi menjadi tolak ukur didalam menentukan kelangsungan karakter dan mentalitas suatu masyarakat, dalam hal ini lingkungan keluarga. Sebagai contoh adanya media elektronik seperti televisi merupakan sarana pemberi informasi, penerangan, pendidikan, dan sebagainya. Namun di satu sisi televisi juga memiliki dampak negative, terutama terhadap perilaku seorang anak yang menjadi malas belajar karena terlalu sering menonton televise. Dari gambaran tersebut keluarga yang merupakan unit terkecil dari suatu masyarakat, hendaknya dapat memberikan suatu pedoman dalam hal cara mendidik anak-anaknya terhadap adanya arus perubahan budaya yang dinamis, khususnya hal ini dilakukan oleh orang tua. Hendaknya orang tua yang memiliki kedudukan tertinggi di dalam keluarga dapat mengarahkan anak-anaknya dalam memfilterisasi budaya asing yang datang, sehingga budaya yang ada tersebut mempunyai sifat tepat guna dan positif bagi perkembangan kondisi mentalitas dan kepribadian anak-anaknya, agar ia tidak menghilangkan nilai-nilai budaya asli (lokal) yang sudah melekat di dalam lingkungan keluarga.
4.) - Internalization
Kampus merupakan suatu tempat yang mempunyai fungsi sebagai sarana pendukung didalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Saya sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari elemen kampus harus menaati segala bentuk norma atau aturan yang berlaku apabila masih berada dalam lingkangan kampus. Di dalam norma atau aturan tersebut terdapat hak dan kewajiban seorang mahasiswa. Akan tetapi apabila saya melanggar segala bentuk norma atau aturan tersebut, maka saya akan mendapatkan sanksi yang tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk itu saya harus belajar mengaplikasikan segala macam bentuk norma atau aturan tersebut agar nantinya dapat membentuk karakter pribadi yang selaras untuk menunjang tercapainya proses kegian belajar mengajar yang kondusif di lingkungan sekitar saya, khususnya lingkungan kampus.
- Sosialization
Di dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak lepas dari adanya usaha untuk melakukan kegian interaksi sosial pada lingkungan pergaulan. Untuk itu sejak kecil saya di berikan suatu proses pembelajaran oleh orang tua terhadap tata cara bersopan santun/tata krama dan etika pergaulan untuk berhadapan dengan orang lain (baik kepada orang yang tua maupun orang yang lebih muda). Apabila saya tidak mengindahkan tata krama/sopan santun dan etika pergaulan dengan karakteristik setiap individu yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, maka saya tidak mungkin dapat melakukan hubungan interaksi sosial.
- Enculturation
Pada kehidupan di lingkungan masyarakat tempat tinggal saya terdapat aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan setiap warga. Namun setiap sebulan sekali sertiap warga di lingkungan tempat tinggal saya di haruskan untuk melakukan kegiatan rutin gotong royong membersihkan sekitaran area perumahan. Melihat hal tersebut saya sebagai salah satu bagian dari warga, sudah seharusnya ikut berpartisipasi di dalam kegiatan gotong royong demi terjaganya keasrian dan kebersihan keadaan tempat dimana saya tinggal.
5.) Discovery dapat kita artikan sebagai mekanisme atau bagian dari proses terjadinya perubahan kebudayaan yang pada dasarnya merupakan penemuan unsur kebudayaan yang baru. Penemuan tersebut dapat berupa kebudayaan material seperti peralatan atau benda-benda konsumsi, maupun di bidang ide, gagasan, atau aturan-aturan yang terjadi di dalam visualisasi keadaan masyarakat. Untuk memahami konsepsi discovery, kita dapat melakukan kajian kritis mengapa discovery dapat timbul didalam komponen kebudayaan? Dalam konteks tersebut kita menyadari bahwa suatu discovery dapat timbul dan berkembang karena di sebabkan oleh faktor pendorong, yakni :
- Kesadaran dari orang perorangan akan kekurangan dalam kebudayaannya.
- Kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaan, dan
- Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.
Sedangkan Inovation dapat kita artikan sebagai suatu pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, modal, pengaturan tenaga kerja, dan penggunaan tekhnologi yang menyebabkan adanya sistem produksi dan produk-produk baru. Secara garis besar dapat kita pahami bahwa Inovation pada saat sekarang ini merupakan suatu hal yang berkaitan dengan pembaharuan kebudayaan, khususnya mengenai unsur tekhnologi dan ekonomi.
Contoh dari discovery dan Inovation dapat kita ambil dari daerah kita sendiri, yakni Kalimantan Selatan. Kita tahu bahwa daerah kita memiliki berbagai macam corak kebudayaan yang bernilai tinggi. Salah satunya kita mengenal akan kerajinan kain Sasirangan di tempat kita. Kain Sasirangan ini di temukan oleh salah satu suku di daerah Kalimantan Selatan yakni suku Banjar. Pada awalnya kain Sasirangan merupakan suatu kain yang berfungsi sebagai media penyembuh bagi orang yang sedang menderita sakit. Namun kain ini juga dipakai pada saat upacara adat suku Banjar dan dipakai para bangsawan. Seiring dengan perkembangan zaman muncullah inovasi-inovasi baru di dalam pembuatan kain Sasirangan, Pada sekarang ini kain Sasirangan banyak di modifikasi kedalam berbagai macam bentuk dan motif yang bervariasi. Selain itu pengerjaannya sekarang di buat secara modern sehingga hal ini berpengaruh terhadap kualitas kain Sasirangan yang lebih baik lagi dan dapat bersaing dengan produk-produk budaya dari daerah lain.
By rahmadi on Jun 27, 2007 | Reply
1. adanya mesintraktor sebagai penganti bajak dan cangkul dalam menggemburkan tanah disawah. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang di desa lebih mudah dan lebihcepat untuk melakukan cocok tanam. Dengan adanya mesintrasktor ini orang tidak perlu lagi mencangkul atau membajak tanah dengan kerbau, yang memakan banyak waktu dan tenaga.
2. di dalam kampus setelah seseorang menempuh perkuliahan selama beberapa waktu, ia akan menemukan suatu cara untuk membuat suatu tugas akhir. Ia melakukannya karena ingin membuat suatu karya yang akan mempredikatkannya sebagai sarjana nantinya. Setelah lulus pun tugas akhir itu nantinya akan berguna untukmelamar pekerjaan. Idenya disini adalah ia mendapatkan pemikiran setelah melakukan perkuliahan, karyanya adalah tuga akhir yang ia susun yang nantinya bisa digunakan baik dalam hal memperoleh gelar kesarjanaan, maupun dalm melamar pekerjaan.
3. mencernanya dengan cara menyaring antara dimana yang baik dapat diterima dan yang buruk dijauhkan. Yang ada disekitar aya adalah pada saat saya kecil, orang tua mentabukan malam jumat, karena mengandung makna religius. Tetapi sekaragng, malam jumat sepertinya bukan suatu malam yang dikeramatkan, karena orang-orang sekarang mnganggapnya sama saja engan malam lain. Orang tua mereka sepertinya tidak menasehati atau memberitahu akan hal itu dan membiarkan begitu saja. Sehingga mereka lepas kontrol dan kelayatan dimalam jumat tersebut.
4. mengadakan hubungan baik debgab lingkungan sekitar dengan cara menghormati orang yang lebih tua, ikut gotong royong jika ada kegiatan di lingkungan dan bersilaturahmi dengan tetangga sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat.
5. menerima konsep discovery dan inovasi pada kehidupan saya dengancarw melakukannya secarta rutin supaya tidak hilang dan tetap membekas dalam kehiduan. Contoh yang ada pada kehidupan saya adalh ketika dulu sebelum diBanjarmasin saya hampir tidak pernah pergi ke langgar untuk shalat shubuh, karena sering bangun telat (bukan kesiangan lho). Tetapi setelah saya berada di Banjarmasin sayua jadi sering dan hampir tiuap subuh ikut shalat shubuh dimushalla dekat kost saya. Habis itu saya jalan santai mengelilingi gang selama 15 menitan. Kegiatan ini terus saya lakukan dan akihirnya berefek snagat bagus buat kesehatan dan p-ernafasan, sehingga dalam menanggapi inovasi ini saya sangat senang dapt melakukannya secara terus menerus (walau sekarang mulai agak berkurang).
By sontami perida on Jun 28, 2007 | Reply
1. Antropologi bersifat praktis dengan tujuan untuk membangun masyarakat merupakan suatu bentuk perkembangan ilmu antropologi yang dari waktu ke waktu kian mngalami peningkatan yang signifikan. Di dalam lingkungan masyarakat pada saat ini perlu diketahui perubahannya dan keberagaman yang sudah ada sangat perlu dilakukan pendataan sehinggga dapat mengurangi angka kriminal, kejahatan, dan penyakit masyarakat lainnya. Dan juga dapat membantu pemerintah dalam mengetahui keadaan penduduk, jumlahnya, mata pencaharian penduduk sehingga pembangunan daerah dapat terus berjalan.
2. Wujud kebudayaan dapat didekati sebagai ide, karya, dan hasil karya. Di kampus saya di Unlam sangat sulit dan dalam kurun waktu yang lama jika ingin melihat perubahan, baik itu dari segi struktur pola pendidikan, bangunan kampus apalagi fasilitas kampus yang kurang lebih seperti sekolah – sekolah SMA di Kota metropolitan seperti Jakarta. Semua orang ingin sekali melihat penggembrakan Unlam, kualitas Unlam lebih berkompeten lagi. Namun, fasilitas – fasilitas kecil saja tidak diperhatikan bagaimana dengan hal – hal besar pasti membutuhkan tenaga dan dana yang tidak sedikit. Seandainya saja para pejabat kampus lebih memperhatikan dan lebih aktif , dan kinerja kerjanya tidak sebegitu saja. Maaf bukannya saya mengatai orang yang lebih tua. Para pejabat kampus itu sepertinya merasa dituakan saja, sehingga para mahasiswanya di kira sebagai orang yang selalu nurut dengan aturan – aturan yang ada. Padahal kami juga ingin melakukan perubahan dan penggebrakan di semua tempat dilingkungan kampus.
3. Evolusi sosial atau perubahan yang terjadi secara lamban berbeda dengan revolusi yang terjadi radikal dan capat. Contoh proses evolusi sosial di lingkungan tempat tinggal saya yaitu pola sikap dan pemikiran teman – teman saya dilingkungan kost. Dalam menghadapi setiap orang perlu adaptasi dan apalagi jika menghadapi lingkungan yang tidak sama dengan pemikiran kita. Ada yang suka sekali shopping, ada yang suka sekali dugem, dan ada yang suka ngaji dan suka sekali baca buku. Perubahan sikap ini dapat dimaklumi oleh masing – masing orang dan hal ini juga berkaitan dengan berkembangnya budaya dan pola kehidupan di kota besar yang dulunya tidak pernah kenal dengan hal – yang berbau maksiat ternyata sekarang malah ketagihan. Perlu filterisasi yang sangat baik supaya dapat memilih pemecahan masalah yang benar. Dan kekuatan spiritual selalu menjadi pemfilter yang paling bagus disamping intelektual yang bagus pula.
4. Jalur Internalization merupakan perubahan dan perkembangan dalam diri individu. Dilingkungan ditempat saya berdomisili saya melihat pertumbuhan dan perkembangan pola kehidupan saudara sepupu saya dari dia bayi hingga sekarang sudah beranjak remaja. Jelas manusia mengalami proses pendewasaan pikiran dan sikap sesuai arahan dan pembenyukan lingkungannya. Sepupu saya pola pikirnya jauh lebih dewasa dan cakap bekerja karena terbiasa melakukan pekerjaan sendiri. Kemudian socialization merupakan proses pengenalan dan belajar dengan ruang lingkup sosial. Saya tinggal dilingkungan asrama. Di lingkungan ini pada awalnya saya merasa kurang nyaman karena lingkungannya baru. Kemudian saya menyadari bahwa perlu penyesuain diri dulu terhadap lingkungan sekitar diiringi dengan penyesuaian dan pengenalan dengan orang – orang yang ada di lingkungan tersebut. Dan kemudian saya kuliah menghadapi lingkungan yang beragam dan lebih kompleks lagi adaptasinya pun lebih banyak dan lebih bagus lagi. Jadi penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar sangat perlu. Jalur enculturation merupakan prosesterapan sikap dalam lingkungan yang baru. Seorang remaja, sebelum dia remaja sikapnya seperti anak – anak karena memang lingkungan disekitarnya memposisikannya sebagai anak – anak. Dia diberikan kasih sayang, dan perhatian. Kemudian beranjak remaja dia juga diberikan arahan supaya bersikap lebih dewasa dan melakukan semuanya sendiri. Dari sini lah terjadi proses interaksi individu terhadap lingkungannya.
5. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus meningkat dan berkembang. Sangat disayangkan apabila disia - siakan dan tidak kita manfaatkan. Dengan banyak membaca dan lebih aktif dalam memfilternya dan menerimanya maka akan dirasakan manfaat dari teknologi. Dan fasilitas computer kampus yang pada saat ini ada di Unlam tidak digunakan dengan benar. Mahasiswa selalu saja menggunakan fasilitas umum yang letaknya jauh dari lingkungan kampus.
By haris zaki mubarak on Jun 28, 2007 | Reply
By : Haris Zaky Mubarak
1. Dalam kontekstual antropologi secara umum, fase ke-4 merupakan tahap dimana antropologi bersifat taktis, hingga dapat mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat guna membangun masyarakat. Bila direlevansikan dalam tataran kehidupan saya pribadi, secara implisit konseptual tersebut dapat dibangun dalam suatu analisa lingkungan kehidupan anak kost. Visualisasi kehidupan di dalam kost-kostan sebagaimana yang saya alami merupakan evidensi riil dari sifat taktis yang dimiliki antropologi. Dengan berangkat dari perbedaan tempat asal, adat istiadat maupun kebiasaan sehari-hari, kehidupan di lingkungan kost-kostan telah memberikan suatu suasana yang beragam, sesuai dengan aneka warna yang telah dimiliki pada masyarakat sebelumnya. Ada yang berangkat dari masyarakat yang introver, terbuka bahkan masyarakat maling sekalipun. Kesemua perihal itu telah melebur menjadi satu di dalam suatu konsepsi “Masyarakat Banjar”. Pencirian symbol ini bukan hanya sekedar mereduksi keberagaman di kost-kostan semata, tapi juga dilandasi dari berabgai konsiderasi yang matang untuk membangun masyarakat Banjar seutuhnya. Intinya, jika kita telah mampu mempelajari satu aneka warna manusia di dalam lingkungan kost-kostan, berarti secara tidak langsung kita telah mampu menghadirkan satu pilar untuk membangun masyarakat.
2. Di dalam aplikasi kehidupan kampus saya, wujud kebudayaan dapat di dekati dalam ide, karya dan hasil karya, yang terkonkretisasi secara terang di dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNLAM. Sebagai suatu lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan, Fakultas tersebut merupakan suatu elemen yang ideal, terlebih pada gagasan – gagasan, cita-cita maupun norma-norma yang berlaku bagi mahasiswa, dosen maupun karyawannya, sebaliknya, FKIP UNLAM juga terdiri dari beberapa aktivitas dan tindakan-tindakan yang melibatkan manusia dalam berinteraksi. Adapun di dalam wujud hasil karyanya, FKIP UNLAM dapat dipandang sebagai gedung yang mampu mencetak berbagai calon guru yang profesional dan semua ini sudah terkonfigurasi dalam wujud kebudayaan.
3. Terkait dengan bagaimana mencerna proses evolusi sosial di dalam kaitan evolusi kebudayaan di lingkungan terdekat dan unit terkecil dari saya yakni keluarga, rasanya tidak terlalu sulit layaknya mencerna makanan, walaupun diakui kalau evolusi sosial atau kemasyarakatan dan kebudayaan telah mengambil interval waktu yang panjang. Untuk terjadinya suatu perubahan besar. Begitu pula untuk unit terkecil seperti keluarga, tentunya tidak akan lepas dari posisi ini. Ambil contoh perihal tentang tidur sekamar dengan orang tua. Berpijak pada kebiasaan di masyarakat sekitar tempat tinggasl saya, bagi anak yang sudah dianggap sudah baligh harus pisah dari kamar orang tuanya. Kondisi ini tentunya menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi si anak, karena merasa “dipinggirkan” oleh orang tuanya. Polemik ini menjadi semakin berkembang ketika si anak bercerita pada temannya atas perlakuan ini, dan tanpa sadar inipun membentuk suatu evolusi kebudayaan bagi lingkungan diseklitarnya, yang pada gilirannya dapat membentuk pemikiran pemisahan kamar tidur lebih awal, seperti ketika masih bayi ataupun ketika menjelang balita.
4. Proses belajar kebudayaan melalui internalitation, sociation dan incultiretuon di dalam kehidupan saya, sebenarnya sederhana sekali karena mulai kecil, sudah di tempa dengan didikaan sabar (internalitation) oleh keluarga saya maka di dalam perkembangannya pun ketika berinteraksi akan tampak sabar di dalam menyikapi situasi-situasi yang terkadang menggoreskan kepedihan yang mendalam untuk dihadapi, dan karena “terbiasa”, prosesual itupun telah berubah menjadi satu inculturation (pembudayaan).
5. Persoalan mencerna lagi neh, semua persoalan mencerna baik itu discovery maupun inovation, sebenarnya bukan persoalan yang rumit untuk dientaskan. Apapun konsepsinya asalkan ada keinginan (desire) dalam diri sendiri untuk mau mencoba, it’s no problems.
Contoh simplitisnya dapat kita ambil dari limbah cempedak yang bagi urang Banjar biasa disebut dengan harfiah “manday” pengubahan kulit cempedak (limbah cempedak) untuk diolah menjadi “manday” merupakan aplikasi dari discovery, artinya penerapan tersebut hanya akan di jumpai di Banjarmasin saja. Legalitas potongan-potongan kulit cempedak untuk digoreng dan dijadikan sebagai menu utama sehari-hari merupakan wujud discoverynya urang Banjar, dan tindakan untuk menjadikan manday sebagai manifestasi makanan dimasa depan merupakan inovation-nya urang Banjar juga. Konseptual ini tentunya merujuk dari fenomena manday sebagai makanan yang dapat diawetkan. Dengan kata lain, pengembangan dari penemuan yang sebelumnya pernah ada. Kira-kira begitu……….. boss ae..
By haris zaki mubarak on Jun 28, 2007 | Reply
1. Kasus dilingkungan terdekat yang bisa saya lihat adalah keanekaragaman penduduk yang mendiami sebuah komplek perumahan.Kebetulan karena saya juga bertempat tinggal disebuah komplek perumahan diBanjarbaru,saya dapat melihat sendiri bagaimana perbedaan tersebut mewarnai kehidupan masyarakatnya.Perbedaan tersebut adalah perbedaan daerah asal dari setiap penghuni komplek tersebut,ini dikarenakan kebanyakan dari penduduk Banjarbaru adalah masyarakat pendatang dari berbagai daerah.Perbedaan tersebut otomatis mempengaruhi pola interaksi social mereka,ini disebabkan perbedaan budaya dari tiap-tiap daerah,misalnya ada orang Banjar, Jawa, Sumatra, dll.Tapi perbedaan tersebut tidak menghalangi interaksi dikalangan mereka,semuanya tetap merasa dirinya adalah bagian dari komplek tersebut,dan ini membentuk satu kesatuan masyarakat yang baru lagi
2. Mengenai aplikasi wujud kebudayaan dikampus saya, yang dapat saya tangkap dengan jelas adalah adanya suatu perkumpulan menulis yang dipimpin oleh salah seorang dosen FKIP,yaitu Bapak Ersis Warmansyah Abbas.Didalam perkumpulan tersebut terdapat ide-ide,nilai-nilai,dan gagasan yang diaplikasikan atau diterapkan kedalam tulisan-tulisan,dan nantinya tulisan tersebut akan dipublikasikan ataupun nantinya dijadikan sebuah buku.Hal ini sudah mencakup tiga wujud kebudayaan tersebut,yaitu topik-topik tulisan(ide-ide,nilai-nilai, dan gagasan),kemudian kegiatan penulisan ide-ide tersebut menjadi sebuah tulisan(karya),serta artikel-artikel sampai menjadi sebuah buku(hasil karya).
3. Unit terkecil dan terdekat saya adalah keluarga,contoh yang dapat diambil adalah mengenai perjodohan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya.Kalau zaman dahulu,sekitar era 50-60an seorang anak apalagi anak perempuan biasanya sudah dijodohkan oleh orang tuanya walaupun umur sianak masih sekitar 11-13 tahun.Didalam keluarga hal ini sudah dianggap biasa,karena memang juga dilakukan oleh orang kebanyakan atau dengan kata lain sudah menjadi budaya.Pada saat sekarang ini,perjodohan anak sudah jarang dilakukan apalagi perjodohan anak yang masih dibawah umur,ini dikarenakan pola pikir masyarakat yang semakin maju dari waktu kewaktu.Sehingga perjodohan itu semakin lama semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya dan lama kelamaan sudah tidak begitu berlaku lagi dimasyarakat.Hal ini menandai telah terjadi evolusi social yang akhirnya berimbas pada evolusi budaya yang ada.Contoh lain yang bisa diambil juga adalah mengenai anggapan masyarakat bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggi,karena nantinya tugasnya akan didapur juga.Sehingga banyak wanita yang tingkat pendidikannya rendah bahkan sampai tidak bersekolah,tapi pada saat sekarang ini anggapan tersebut juga sudah tidak berlaku lagi.
4. Internalization : Didalam keluarga saya selalu diberi nasehat-nasehat sejak dari kecil,nasehat tersebut bisa berisi tentang kewajiban untuk berbakti dan menyenangkan hati orang tua,untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan dianjurkan untuk selalu melakukan perbuatan baik dan terpuji,dll.Apabila saya melakukan kesalahan atau berbuat yang tidak disenangi orang tua saya,maka akan ditegur dan dimarahi,dari situ saya belajar bahwa sesuatu yang tidak baik akan membawa dampak yang tidak baik pula,sedangkan sesuatu yang baik akan mendatangkan kebaikan.
Sociation : Dilingkungan tempat saya tinggal,karena kekeluargaannya masih kuat dan jiwa kebersamaannya masih kental,biasanya para anggota keluarga sering ngumpul-ngumpul dirumah salah satu keluarga.Karena kebiasaan saling berkumpul tersebut saya atau orang disana jadi merasa bahwa kehadiran sosok keluarga dalam kehidupan amatlah begitu penting,karena dengan adanya keluarga dapat membantu apabila kita ada dalam kesulitan dan begitu pula sebaliknya.Dari sini saya belajar bahwa kehadiran keluarga dalam kehidupan sangatlah berarti.A
Enculturation : Didalam lingkungan masyarakat ditempat saya,dari interaksi yang terjadi baik langsung maupun tidak langsung seseorang dapat belajar untuk menghargai sesama misalnya pendapat orang lain.Dengan menghargai orang lain,maka didalam masyarakat kitapun akan dihargai orang juga.Sehingga budaya menghargai orang lain harus kita terapkan.Contoh lain lagi adalah karena dikampung halaman saya masih berupa daerah pedesaan,maka nilai kerjasama seperti gotong royong masih kuat.Dari nilai tersebut saya juga belajar mengenai budaya kerjasama untuk mencapai suatu tujuan.
5 Mencerna konsep discovery dan innovation dalam konteks kemajuan kebudayaan bisa dilakukan dengan menanamkan pemahaman bahwa discovery dan innovation adalah sesuatu yang berkelanjutan atau selalu berproses dari waktu kewaktu.Artinya suatu penemuan baru yang muncul,jarang merupakan suatu perubahan mendadak dari keadaan tidak ada menjadi ada.Suatu penemuan baru biasanya berupa suatu rangkaian panjang,dimulai dari penemuan-penemuan kecil yang secara akumulatif menjadi banyak.Bisa juga dikatakan proses discovery dan innovation sama dengan proses evolusi,walaupun ada perbedaan tanggapan individu terhadap keduanya. Contoh terdekat yang bisa diambil adalah MP3/MP4.Sebelum adanya MP3/MP4 orang-orang mendengarkan lagu dengan menggunakan piringan hitam,kemudian setelah itu ditemukan kaset dan tape yang lebih praktis,lalu saat sekarang ini sudah menggunakan MP3/MP4.Penemuan terhadap alat-alat diatas tidak semata-mata langsung ada,melainkan diiringi dengan penemuan-penemuan lain yang mendukung penemuan alat tersebut seperti penemuan pita kaset,penangkap suara ditape,speaker,alat pentransfer data,dll.
Nama : EDWIN NORJAMI
NIM : A1A105033
By humaidi on Jun 28, 2007 | Reply
1.adanya kesenjangan sosial di lingkungan karena adanya sikap senang berprasangka dimana ego menjadi hal utama dalam menilai orang atau obyek lain menurut pendapatnya saja tanpa memperdulikan pendapat yang lain. Fenomena di atas dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk antisipasi masalah sosial tersebut, utamanya untuk diri sendiri agar dapat menghindari watak bermasalah tersebut( berprasangka ), antisipasi dapat ditempuh melalui diskusi dengan ahli sosial baik dengan teman dari pendidikan BK, Psikolog, PKN dan utamankan berkonsultasi pada teman yang lebih paham mengenai agama sebagaimana “lembaga dakwah kampus” atau LDK, bisa juga dengan mengikuti acara semacam ceramah yang mereka adakan dengan mereka diantaranya sebagai penceramah atau dengan menghadirkan ustad ataupun ustadzah.
Kenapa berprasangka saya paparakan sebagai hal yang bermasalah seperti yang telah dijelaskan pada paparan di atas, yakni karena beberapa hal sebagai berikut:
- Lebih mengutamakan ego dibanding pendapat lain.
- dari hal di atas sekilas menunjukkan bahwa sikap berprasangka sifatnya lebih kepada hal berbau negatif secara normatif.
- Tentunya hal-hal yang bertentangan dengan norma akan cenderung membawa kepada keadaan seperti kesenjangan sosial.
2.Gedung serba guna yang ada di UNLAM tidak hanya berguna bagi unlam namun juga berguna bagi “Penyewa” yang digunakan sebagai tempat acara formal maupun nonformal, seperti pernikahan atau bahkan untuk ajang muda-mudi seperti pentas musikuntuk kepentingan nonakademik, untuk akademik dapat kita lihat pada bulan Juni tahun 2005 ini dimana dipakai untuk acara SPMB atau seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2007-2008 yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 29 nanti yang direncanakan pihak universitas lambung mangkurat Banjarmasin. Hal yang memprihatinkan adalah gedung ini sangat jarang dipakai sebagai tempat kelulusan para mahasiswa atau hal-hal berkenaan keakademikan UNLAM bahkan condong kepada tempat komersialisasi, hal ini dilihat dari fenomena yang ada muali dari sewa untuk pesta pernikahan hingga pendaftaran maba atau mahasiswa baru yang mana memiliki unsur penarikan secara finansial yang kebanyakannya datang dari luar lembaga pendidikan UNLAM ini, meskipun patut disyukuri masih tetap digunakan untuk pihak UNLAM sendiri selain untuk kepentingan luar, walaupun penggunaan intern bisa dibilang jarang, inilah fenomena yang saya tangkap mengenai produk budaya ini dan mungkin “agak” kurang ajar menilai tanpa tahu keseluruhannya.
3.Dari lingkunga keluarga pribadi saya hingga “keluaga” saya yang saat ini yang saya nilai keluarga karena menetap di kost dan secara otomatis saya senantiasa bertemu langsung dengan pemilik kost sewaktu di kost selain untu lingkungan akademik UNLAM. Dari pemikiran dan pola hidup yang masih kurangkesadaran nasionalisnya dan masih kedaerahan kala mengenyam pendidikan tingkat perkuliahan ini tentu saja saya mengalami perombaklandan penambahan nilai-nilai budaya baik akademik maupun nonakademik disaat jauh dari orang tua yang senantiasa konsisten menjaga etika sang anak, ketika adanya jarak dengan orang tua mau atau tidak saya dihadapkan dengan budaya yang sedikit berbeda bahkan mungkin berlawanan.
Untuk menghadapi evolusi budaya itu secara normatif sebagaiman say pelajari dari masa perkembangan saya selam di daerah, tentu sesuatu yang baru memilik 2 kemungkinan, yakni baik atau buruk. Tapi sebagai manusia juga sangat manusiawi tapi bukan berarti benar untuk dilakukan, yakni kebiasaan lalai, sehingga kedua nilai tersebut tetap merasuk menjadi pola hidup saat ini. Kebiasaan itupun bisa muncul karena danya kebebasan yang lepas dari pengawasan orang tua, tetapi keadaan ini tetap sebisa mungkin saya perbaiki meski secara bertahap agar dapat terbangun pola hidup sesuai yang diharapkan diri pribadi maupun keluarga.
4.Dari segi internal, saya dihadapkan dengan “proses” kemandirian walau belum sepenuhnya yang dilatar belakangi segi ekonomi, transportasi dan komunikasi, karena jauh dari keluarga pribadimemicu adanya usaha penanggulangan situasi yang saya jalani dengan menentukan pengelaran untuk tinggal di kost saat ini. Antisipasi tentu tidak secara langsung saya terapkan sebab bisa dibilang masih awam karena baru saat inilah yang berada jauh dari orang tua.
Dari segi sosial perbedaan keadaan dan situasi diperkotaan dibanding pedesaan memerlukan adanya adaptasi serta filtrasi.
Secara enkulturisasi perpindahan kebudayaan secara tidak langsung membebani finansial seorang mahasiswa menuntu pola hidup sistematis-kuantutatif disertai fltrasi sebagai penanggulangannya.
5.Sebagai masyarakat normatif yang bukan berarti dengan hal ini dapat mencegah perkembangan IPTEK namun diharapka dan diterapka agar mampu memfitrasi dari discovery dan berinovasi secara bijak tanpa mengabaikan perkembangan yang ada. Conto penggunaan HP, media ini bisa mempermudah komunikasi tapi juga dapat menjadi sarana untuk yang senang iseng , sikap ini secara sosial dan ekonomi sangatlah mengganggu bila tidak dibijaksanai secara normatif.
Maaf! jawaban saya persingkat karena berbenturan dengn masalah waktu di internet MIPA-FKIP!!!!
By humaidi on Jun 29, 2007 | Reply
Ini perbaikan tugas FINAL TAKE HOME :
1. Fenomena kota di Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin sangat bernasalah dalam hal kebersihan, hal ini dapat dipastikan dengan adanya cap terkotor se-Indonesia. Untuk itu muncul usaha kebersihan lingkungan kompleks untuk zona terkecil di kota ini, bahkan dewasa ini sudah diwujudkan beberapa usaha penanggulangannya dengan menghadirkan “Petugas Kuning” sebagai pelaksana pembersih lingkungan di perkotaan, selain kampanya pemerintah kota bagi masyarakat agar sadar kebersihan lingkungan.
2. Tempat sampah FKIP dibuat dari kayu berbentuk balok yang salah satu sisinya tanpa diberi penutup sebagai tempat pembuangan sampah yang lebar setiap sisinya kira-kira 50cm. Dibuatnya sarana ini untuk menjaga kebersihan lingkungan FKIP maupun mempermudah pelaksanaan kebersihan dari petugas FKIP. Hasilnya demi kenyamanan anggota FKIP selama berada di lingkungan lembaga tersebut agar tidak mengganggu kelancaran proses kegiatan pembelajaran di fakultas khusus keguruan ini.
3. Perubahan yang terjadi secara evolusioner di dalam keluarga yang dipicu kebutuhan demi tetap terjalinnya hubungan kekeluargaan, khususnya berkenaan pemisahan jarak dengan adanya tanggung jawab sebagai mahasiswa, hal ini biasa dialami oleh mahasiswa daerah maupun pelosok Kalimantan lain yang ke UNLAM Banjarmasin, keadaan demikian mengharuskan untuk adanya produk budaya yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut dari pemenuhan ini secara tidak langsung menghadirkan nilai budaya baru juga pola hidup yang terpengaruh dengan kehadiran produka tersebut. Untuk menghadapinya saya harus menerapkan pola hidup yang diajarkan selama masa perkembangan saya yang bersifat normatif sebagai filter nilai negatif yang ada disertai pengkondisian diri dengan keadaan yang muncul dari nilai budaya tersebut yang dijalani secara bertahap.
4.- Segi internal, perubahan diri dari sudut pola hidup sewaktu menghadapi hadirnya nilai budaya yang menjadi pelengkap hidup, dalam prosesnya saya hadapi dengan pola sikap hidup normatif yang disertai pengamatan yang terbangun dari pola sikap tersebut agar terjaga nilai etika dari budaya yang hadir pada diri pribadi.
- Segi sosial, menjalani proses adaptasi dengan lingkungan baru saat ini sebagai mahasiswa yang dituntut tanggung jawab sesuai peran dan usaha untuk membangun sikap yang mandiri, untuk terpenuhnya tujuan tersebut saya diharuskan mengenal lingkungan formal(akademik) dan nonformal, untuk itu diperlukan tanggapan atas keadaan tersebut secara positivisme sesuai latar belakang pola hidup yang normatif.
- Segi enkulturisasi, perbedaan keadaan dan situasi dari kehidupan pedesaan ke perkotaan yang mana pada masa adaptasi terdapat variasi untuk sandang, pangan dan pakaian yang memicu perubahan pola hidup yang juga decara tidak langsung membebani finansial saya, untuk menyikapinya diperlukan sikap hidup sistematik selain sikap normatif untuk pengamatan/pengawasan atas nilai-nilai yang diukur dari nilai hidup yang ada untuk menetahui kelayakannya.
5. Sebagai masyarakat normatif yang mengenal nilai agama, hukum dan adat dalam menyikapi perkembangan budaya terutama yang dipengaruhi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dominan dalam perkembangan sendi kehidupan lainnya. Filtrasi dijalankan secara bijak dengan mengikuti kode etik individu juga sosial agar nilai budaya dapat ditarik nilai positive-nya. Misal pemanfaatan tempat sampah yang tersedia di FKIP ataupun fasilitas publik lainnya yang merupakan hasil budaya untuk melengkapi dan memelihara nilai budaya yang telah ada dengan tidak hanya membiarkan pruduk budaya tersebut hanya sebagai “PAJANGAN” pelengkap tata kota namun lebih kepada penggunaannya agar tercapai pola hidup bersih yang merupakan efek positive yang kita harapkan dari perkembangan yang ada.
By Anton Wiranata on Jul 1, 2007 | Reply
Perbaikan Final Antropologi
1. Proses membangun masyarakat di desa saya merupakan hal yang mendasar bagi lingkungan kami. Misalnya saja pada bulan Rabiul Awal di mana tidak sedikit anggota keluarga yang merayakan Maulitan di rumahnya masing-masing. Tujuannya adalah untuk lebih mencintai serta mengambil berkat dari bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Di samping itu juga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kerukunan, dan kekeluargaan di lingkungan desa kami. Puncak dari acara ini pada tanggal 12 Rabiul Awal, seluruh warga desa kami berkumpul di Masjid untuk merayakan Maulitan bersama-sama dengan membacakan Maulid Al-Barjanji yang biasanya ada juga mengundang pembacanya dari desa lain demi menjaga hubungan baik denga warga desa lain. Kebudayaan Agamis inilah yang bisa membangun desa saya menjadi damai, aman, tentram dan ruhui rahayu.
2. Wujud kebudayaan dapat kita lihat dari kepribadian dan segala aktifitas yang dilakukan pada lingkungan masyarakat yang menjalaninya. Di lingkungan kampus saya dapat kita lihat sekarang ini telah dilakukan pembangunan lokal-lokal kelas baru yang tujuannya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas kampus tersebut, khususnya di FKIP UNLAM. Dari dalam itu tersirat suatu ide-ide dan pemikiran semua unsur kampus yang terkait dan dari situ memunculkan suatu inspirasi. Hal tersebut nantinya di harapkan beroreantasi pada pendidikan akademik yang lebih maju serta menumbuhkan potensi-potensi mahasiswa-mahasiswi yang memiliki profesionalisme yang tinggi. Semua itu tentunya sebuah karya akal pikiran manusia yang ingin mencapai tujuan Pendidikan Nasional untuk mengembangkan karakteristik yang berprestasi dan mampu bersaing.
3. Dalam proses aplikasi budaya di keluarga saya tentulah sangat berpengaruh kepada perubahan dan perkembangan dari proses sosial di lingkungan saya. Di tunjukan dengan ramainya majelis-majelis ta’lim yang sekarang sudah memasyarakat dan merupakan suatu kebutuhan yang mendasar bagi setiap masyarakat untuk lebih luas mengenal ilmu-ilmu agama Islam tentunya. Karena terkontaminasi dan terbawa oleh kegiatan masyrakat yang memang positif, maka di keluarga saya membudayakan untuk mencintai majelis-majelis ta’lim dan pengajian-pengajian agama yang berguna untuk pembersih hati, menambah juga mengamalkan ilmu-ilmu agama serta memupuk rasa keimanan pada keluarga kami untuk berbuat di jalan yang di ridhoi Allah SWT.
4. Dalam kehidupan pribadi saya untuk membentuk kebudauyaan dalam penemuan jati diri tentulah melalui proses dan perjalanan dalam penerapannya. Sebab suatu budaya perlu dipahami dan sifatnya berjenjang agar kita benar-benar fokus dalam pengaplikasiannya. Di mulai dari diri sendiri saja tidak cukup, dalam memahami Islam sendiri menurut saya itu benar-benar saja dan ulmu yang saya dapat itu sudah cukup buat bekal saya. Ternyata tidak, semua itu perlu ada perlu ada pembaharuan dan pembelajaran yang lebih luas di lingkungan masyarakat agar kita benar-benar tahu serta memahami suatu ilmu dalam mendalami supaya kita tidak salah dalam penerapannya. Setelah itu kitapun perlu juga menyerap buday-budaya dari orang-orang tua terdahulu yang memang pernyataan dan ilmu-ilmu yang dibawanya lebih pasti dan benar kenyataannya. Di bandingkan dengan ilmu-ilmu agam orang-orang sekarang yang ingin memodernisasikannya dan jelaslah itu salah.
5. Unsur dari suatu wujud kebudayaan baru (Diskovery) yang saya temukan di lingkungan tempat tinggal saya adalah dari anggota masyrakat yang hobinya senang dalam mencari ikan. Mereka menciptakan alat penangkap ikan yang sangat unik, karena tidak harus menggunakan tenaga yang banyak dan waktu untuk menunggunya dalam menangkap ikan. Alat itu adalah Banjur, terbuat daru bambu kecil panjangnya kira-kira 3 jengkalyang di beri marlon dan kawat tembaga sebagai tempat umpan bagi ikan. Alat penangkap ikan ini cukup diletakkan di sungai-sungai yang di anggap ada ikannya dengan cukup di beri umpan kodok kemudian di tinggalkan saja maka dengan sendirinya umpan tadi akan dimakan oleh ikan dan terperangkaplah ikan itu. Kegiatan dan cara ini sangat di teriam dan banyak di terapkan sebagai wujud dari (Invention) masyrakat di lingkungan saya, karena hal ini sangat mudah dan efisien di gunakan. Dari sinilah membuat dan menjadikannya suatu inovasi yang baru.
By Helmiansyah on Jul 1, 2007 | Reply
Perbaikan
1. Untuk membangun suatu masyarakat disebuah tempat harus mempunyai ide, yang diwujudkan melaui karya dan hasilnya berupa hasil karya. dalam masyarakat Pulau Alalak khususnya desa Pulau Sewangi, pros pembangunan dialakukan dengan cara meminta pungutan setiap ada warga yang perahu mereka laku terjual. hal tersebut dilakukan karena mayoritas penduduk disana bermata pencaharian sebaga pengusaha jukung (perahu). hasilnya sangat memuaskan karena sekarang sudah mulai ada pembangunan seperti perbaikan jalan, tempat ibadah dan lain-lain.
2. Dalam kehidupan kampus kita banyak mendapati orang-orang yang penampilannya seakan-akan menunjukkan orang yang mempunyai intelektual yang tinggi walaupun tidak banyak juga yang berpenampilan tidak mencerminkan penampilan sebagai seorang calon guru yang akan digugu dan ditiru oleh anak didik. tapi apalah arti penampilan karena penampilan tidan dapat diambil patokan bahwa seseorang punya intilektual yang tinggi. didalam kehidupan kampus, kita mendapati banyak orang yang bersal dari berbagai daerah. didalam diri warga kampus pasti minimal ada satu ide yang tersirat didalam pikirian mereka tetapi hany sedikit ide-ide tersebut diwujudkan dalam karya atau berhasil menjadi hasil karya. tetapi akhir-akhir ini banyak mahasiswa yang menuangkan idenya dalam sebuah karya dan berhasil menjadi hasil karya yang berupa tulisan. hal tersenut juga dilakukan oleh para dosen-dosennya yang menuangkan idenya dalam bentuk tulisan bahkan buku. tetapi tidak sedikkit juga dosen yang hanya memiliki ide tetapi tidak mampu menuangkannya didalam sebuah karya.
3. Dalam suatu masyarakat lambat laun pasti akan mengalami perubahan tetapi kita tidak tahu kalau perubahan tersebut akan membawa kearah kemajuan atau kemunduran. demikian juga dengan kebudayaan pasti akan mengalami perubahan tetapi memakan waktu yang cukup lama yang mana didalam ilmu Antropologi dapat disebut dengan Evolusi Kebudayaan. pada masyarakat Banjar, perubahan kebudayaan juga terjadi dan hampir tidak dapat dihindari. sebagai contoh masyarakat Banjar yang dulunya masih erat dengan budaya-budaya asli mereka seperti Mamanda, Bejapin, Belamut, Madihin yang mana bentuk-bentuk budaya tersebut menjadi primadona pada zamannya. dibandingkan dengan sekarang, masyarakat Banjar khususnya para remaja seakan -akan merasa asing dengan budaya asli mereka. merasa terasingnya remaja banjar kepada budaya mereka sendiri dikarenakan adanya arus globalisasiyang sangat deras melanda masyarakat Banjar, arus globalisasi ini juga didukung dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. derwsnya arus globalisasi dan majunya IPTEK mengakibatkan masyarakat BAnjar (remaja Banjar) menyukai budaya barat yang masuk kedaerah kita sehingga hal ini lambat laun dapat mengesampingkan buday asli Banjar dihadapan masyarakat Banjar khususnya para remajanya
4. Proses belajar kebudayaan dapat dilakukan melalui 3 cara:
Pertama:Internalisasi, pada tahap ini seorang individu dapat belajar suatu kebudayaan dari keluarganya senditi. proses belajar ini tergantrung dari mana asal keluarga tersebut. sebagai comtoh, orang tua dari seorang individu (anak) berasal dari Jawa maka kebudayaan yang didapat individu tersebut adalah budaya Jawa.
kedua: Sosialitation, pada tahap ini seorang indivbidu akan mendapati suatu lingkungan yang cukup luas, individu tersebut pasti akan terjun kelingkungan tersebut seperti sekolah dan masyarakat. pada tahap ini juga seorang individu akan dituntut akan menyesuaikan diri kepada lingkungannya tersebut. hasil dari penyesuaiaan diri individu kepada lingkungannya akan berdampak positif dan negatif tergantung dari individunya tergabtung bagasimana tanggapan sang individu yang bersangkutan.
ketiga: enkulturation, ketika seoarang individu sudah terjun kesebuah masyarakat maka individu tersebut secara tidak langsung sudah terikat kepada peraturan-peraturan yang berlaku dimasyarakat. seperti dimasyarakat alalak, seorang individu dilarang berdua-duaan ditempat tertutup maka remaja tersebut pasti akan mendapat teguran dari warga bahkan kalau mengulangi perbuatan mereka tersebut maka akan dialporkan kepada ketua RT setempat.
5. Suatu masyarakat pasti akan terjadi yang namanya Discoveri dan Invention, karena hal tersebut tidak lepas dari sifat masyarakat itu sendiri yang bergerak dinamis. Seperti halnya masyarakat lain, orang Banjar juga mempunyai Discoveri yang berupa jenis masakan, kue, pakaian adat ataupun kain khas Banjar. Discoveri orang Banjar diantaranya adalah kain Sasirangan yang mempunyai motif sedikit mirip dengan batik tetapi ada perbedaan yang mencolok diantara keduanya. sedangkan Invention yang dilakukan oleh orang Banjar penggunaan mesin pada perahu (kolotok) yang mana bentuk perahunya tidak pernah kita temui dimasyarakat lain diluar Kalimantan Selatan.
By Taufik Rozana Rahman on Jul 1, 2007 | Reply
Perbaikan Antropologi :
1.Mengenai Antropologi bersifat praktis yang tujuannya untuk membangun masyarakat, salah satu aplikasinya dapat ditemukan di komplek-komplek perumahan, khususnya di Komplek Kelapa Gading I Sei-Besar Banjarbaru. Secara berkala di komplek tersebut ada kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan komplek. Kegiatan ini di koordinir langsung oleh ketua RT. Tentu saja hal ini di respon baik oleh warga komplek. Kegiatan ini biasanya dilakukan hari minggu secara berkala.
2.Wujud kebudayaan salah satu contohnya dapat di lihat di kampus kita tercinta. Salah seorang mahasiswa mempunyai sebuah gagasan untuk membuat sebuah warung di belakang kampus, kemudian setelah segala yang diperlukan telah ada maka dia mendirikan warung tersebut. Sampai sekarang warung tersebut masih eksis. Bahkan harga yang ditawarkan cenderung cocok dengan rata-rata kantong mahasiswa, sehingga selalu di datangi oleh para mahasiswa. Kita dapat mengenal warung tersebut dengan “warung pojok”.
3.Proses evolusi dalam keluarga contohnya ketika masih kecil perlakuan orang tua sangat memperhatikan apa yang saya perlukan, ketika adik perempuan saya lahir perhatian tersebut mulai dirasakan berkurang, namun itu wajar karena perhatian orang tua lebih tercurah kepada adik yang baru lahir. Ketika adik kedua saya lahir saya lebih mandiri dalam keseharian tidak lagi terlalu bergantung kepada orang tua dalam mengerjakan sesuatu.
4.Proses belajar kebudayaan melalui jalur internalisasi contohnya penanaman nilai-nilai moral oleh diri sendiri dengan kata lain kita sebagai individu dapat membedakan mana hal-hal yang baik dan mana hal yang buruk juga ditambah oleh andil orang tua dalam penanaman moral ini, misalnya saja mencuri itu tidak baik dan lain sebagainya.
Melalui proses sosialisasi ketika mulai bergaul dengan lingkungan sekitar saya mendapat hal yang baru, tentu tantangannya sangat besar. Kita jadi tahu apa itu organisasi dan lain sebagainya. Tergantung bagaimana kita bisa menyikapinya. Hal ini terjadi baik dilingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.
5.Berkaitan dengan discovery, ketika bulan puasa tiba tentu ada tradisi yang lazim kita temui setiap bulan puasa tiba, yaitu pasar wadai. Di pasar ini kita dapat temui berbagai macam panganan buka puasa yang lumayan membuat tergiur. Macam-macam panganan ada di pasar ini, mulai dari laku hingga kue-kue. Uniknya yang menjadi daya tarik di pasar ini adalah hadirnya kue-kue tradisional yang sekarang jarang ada. Bahkan salah seorang teman yang tinggal di Palangkaraya mengaku dia menyempatkan diri ke Banjarmasin ketika bulan puasa tiba untuk membeli kue tersebut. Sehingga pasar wadai terlihat ramai ketika sore hari hingga waktu berbuka tiba.
By Angki Hardanika(A1A105048) on Jul 1, 2007 | Reply
Perbaikan………………
1. Di dalam lingkungan terdekat saya, terdapat berbagai aneka ragam etnis dan budaya yang tujuannya memajukan bangsa ini, saya sendiri tinggal di rumah kos yang terdapat di lingkungan masyarakat yang dihuni oleh beragam etnis dan toleransi antar etnis.Saya sendiri dan teman-teman kos merupakan orang perantauan yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda, yang bertujuan untuk kuliah walaupun UNIVERSITAS tempat kami kuliah berbeda. Walaupun tempat kuliah, asal daerah, etnis dan agama berbeda, saya tidak merasakan perbedaan yang mencolok, karena kami merasa senasip sepenanggungan.
Budaya yang nampak dalam lingkungan saya hanya satu yaitu budaya Banjar karena kami bertempat tinggal di Banjarmasin walaupun kami memiliki budaya yang berbeda dengan kalimantan selatan. Menurut saya sifat budaya yang dimiliki manusia seperti air mengalir, yaitu dimanapun seseorang menetap, maka ia akan terbawa kedalam aliran budaya masyarakat setempat.
Selain saaya berhadapan dengan lingkungan kos yang beraneka ragam individunya, saya juga dihadapkan pada masyarakat yang beraneka ragam yang membuat saya harus bias beradaptasi dengan lingkungan yang saya tempati dengan sebaik-baiknya dan tidak hanya saya tetapi juga semua teman-teman saya juga harus berinteraksi dengan masyarakat agar menciptakan lingkungan yang damai.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu ide, karya dan hasil karya terkadang tidak selamanya sempurna, sempurna di sini dalam artian ide tidak sesuai dengan karya atau hasil karya. Hal itulah yang terjadi di kampus FKIP, yaitu ide atau visi dari FKIP itu sendiri, yaitu “Menjadi lembaga pendidikan, tenaga kependidikan yang terkemuka, yang lulusannya memiliki kemampuan akademik, professional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing yang tinggi”, Ide tersebut tidak sesuai dengan karya yang ada ,untuk menjadi tenaga kependidikan yang terkemuka dan memiliki lulusan yang mempunyai kemampuan akademik, professional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing tinggi diperlukan berbagai fasilitas yang menunjang tentunya, seperti perpustakaan dan internet agar para lulusan tidak GAPTEK. Perpustakaan yang ada keadaannya sangat memprihatinkan, sedangkan dalam proses perkuliahan buku menjadi media utama sebagai sumber informasi .
FKIP memang memiliki komputer, tetapi komputer tersebut tidak bisa dipakai oleh para mahasiswanya karena komputer tersebut dikerangkeng, bahkan kalau dibuka isi dari komputer itu kosong, atau hanya menyediakan informasi yang itu-itu saja tidak memberikan informasi yang berguna.
Ide dari FKIP juga tidak sesuai dengan hasil karya yang ada, hal ini dapat dilihat dari lulusan FKIP yang masih banyak menganggur, entah di mana salahnya, tapi yang jelas visi serta ide dari FKIP masih belum sesuai dari karya dan hasil karya yang ada.
3. Upacara, aktivitas, serta tindakan yang menyimpang yang terjadi karena berbagai situasi dan keadaan khusus yang dapat berulang-ulang, umumnya diabaikan atau kurang diperhatikan. Karena manusia terutama memikirkan dirinya sendiri,maka ia sedapat mungkin akan berusaha menghindari adat atau peraturan apabila hal-hal itu tidak sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
Pada zaman dahulu di lingkungan tempat saya dibesarkan, dalm membangun sebuah rumah, dibantu oleh orang-orang sekitar/para kerabat dengan cara bergotong royong tanpa upah sedikitpun, tetapi lamakelamaan budaya tersebut mulai hilang karena sifat materialistik yang semakin menguat, sehingga apabila membangun sebuah rumah diperlukan biaya yang tidak sedikit.
4. Kajian analitik dalam kehidupan saya tentang proses belajar kebudayaan melalui internalization adalah terjadi sejak lahir sampai akhir hayat. Sepanjang hayat saya terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadian. Saya sendiri dilahirkan dilingkungan keluarga etnis Jawa tetapi tumbuh dilingkungan etnis Banjar , pada awalnya saya dikucilkan oleh teman-teman sebaya sewaktu kecil karena saya adalah etnis Jawa dan teman-teman etnis Banjar, lama kelamaan saya mulai beradaptasi dengan mereka dengan cara membaurkan diri kedalam budaya mereka serta berusaha belajar untuk mengolah perasaan ,hasrat, nafsu, dan emosi mereka ke saya.
Proses sosialisasi sejak saya dilahirkan dalam keluarga yang harmonis, keluarga saya merupakan pegawai negeri yang tinggal di wilayah pedesaan sehingga orang tua saya cukup dihormati oleh masyarakat sekitar dan hal tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan saya, tetapi proses sosial yang saya hadapi tidak segambang yang dapat dibayangkan semua orang, karena keluarga saya adalah etnis pendatang sehingga saya merasa asing terhadap masyarakat sekitar. Pada saat sekolah saya mulai mengalami sosialisasi yang lebih luas dan mencoba beradaptasi apalagi sewaktu pindah ke kota besar. Di kota besar saya menghadapi berbagai etnik dan budaya yang beraneka ragam serta unsur-unsur kebudayaan yang ada.
Dalam proses enkulturasi, saya belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adat, sistem norma serta semua peraturan yang terdapat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sejak kecil saya telah di ajarkan untuk menggunakan bahasa yang halus kepada orang yang lebih tua dan menundukkan badan apabila lewat di depan orang yang lebih tua atau dihormati dan hal itu melekat sampai sekarang.
5. Dalam mencerna konsep Descovery dan Inovation dalam konteks kemajuan kebudayaan diperlukan suatu tahap, Descovery menjadi Inovation apabila suatu penemuan baru telah diakui, diterima dan dipakai oleh masyarakat.
Sebenarnya masyarakat Kalimantan Selatan telah banyak melakukan Descovery yang telah memajukan budaya Kalimantan Selatan , seperti pakaian, makanan, kue, dan kesenian.
Dilihat dari pakaian seperti pakaian adat Banjar yaitu kain sasirangan dan pakaian perkawinan orang banjar. Descovery makanan seperti pakasam dan mandai. Descovery kue seperti(wadai) seperti Bingka, Cincin, Uulin, Kukoleh, Lupis, Puracit dan Apam Surabi. Descovery kesenian sepeti anyaman purun yang dapat berupa toopi, tas, tikar, dan kipas.
Pakaian, kue, makanan, dan kesenian yang awalnya hanya berupa Descovery berkembang menjadi Invention yang antara Descovery dan Invention terkait lagi dengan Inovation, tetapi ada sisi gengsi atau merasa ketinggalan jaman bagi masyarakatnya sendiri apabila memakai atau mengkonsumsi produk khas kalimantan ini sendiri, sehingga eksestensinya mencolok di kota besar, tetapi berbeda dengan wilayah pedesaaanyang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan diharapkan akan selalu dipertahankan agar dapat dilihat oleh generasi yang akan datang.
By Anton Wiranata on Jul 1, 2007 | Reply
DEWI KOMALASARI
A1AI05002
Perbaikan
1.fase perkembangan antropologi yang bertujuan untuk membangun masyarakat dapat kita ambil contoh dilingkungan saya tepatnya didaerah sungai lulut setelah melakukan analisis kritis saya menemukan banyak sekali pembangunan perumahan dimana tanah penduduk sekitar yang awalnya untuk bertani dijadikan lahan perumahan,karena banyaknya perumahan tersebut membuat orang dari luar lingkungan tertarik untuk bermukim disana,awalnya masyarakat kota yang sangat cuek tidak tau menau akan pergaulan dilingkungan sekitar tetapi setelah meliat kebudayaan masyarakat desa disitu yang sangat ramah ,kebanyakan masyarakat kota tersebut banyak yang menyesuaikan dengan kebudayaan dilingkungan tersebut
2.dapat diambil contoh dilingkungan kampus yaitu pembangunan balai serbaguna dilingkungan FKIP dengan adanya bangunan balai tersebut merupakan hasil yang baik untuk pembangunan FKIP karena dengan balai tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai sarana diskusi,acara-acara kampus lainnyal.
3.proses evolusi dalam kontek budaya masyarakat setempat yaitu pada masyarakat sekarang dengan kemajuan tekhnologi dan dibukanya jalan-jalan tidak lagi menggunakan transportasi air seperti jukung ,klotok diganitkan dengan kendaraan darat seperti sepeda motor ,mobil dan lain-lain dari kejadian tersebut dapat diketahui dalam kehidupan masyarakat sosial terjadinya perubahan kebudayaan dari kebudayaan air menjadi kebudayaan darat.
4.melaluli jalur internatization dapat kita ambil contoh dari kebiasaan saya sejak kecil tentang disiplin misalnya bangun pagi dan sebagai anak perempuan harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu.melalui jalur sosialization yaitu dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar misalnya mengikuti yasinan untuk menjalin silatuhrahmi.melalui jalur enculturation yaitu dengan menanamkan sikap disiplin sejak kecil kepad anak agar bisa menghadapi kehidupan kedepannya.
5.konsep discovery dan inovation dapat kita lihat dalam kehidupan sekarang yaitumasyarakat berlomba-lomba untuk bersekolah lebih tinggi guna mengubah penghidupan mereka agar lebih baik karena masyarakatr sekarang lebih menyadari tentang pentingnya kemajuan pendidikan ,dengan pendidikan kita bisa menguasian tekhnologi.
By Adi Fitriansyah Rizqoni on Jul 1, 2007 | Reply
Perbaikan…
1. Banjarmasin adalah kota yang di aliri banyak sungai. Keadaan geografis yang demikian rupa membuat corak kehidupan masyarakat bertumpu pada sungai, mulai dari mandi, mencuci, bahkan kegiatan perekonomian pun juga dilakukan di sungai. Contohnya adalah pasar terapung, aktivitas jual beli dilakukan diatas sungai dengan menggunakan perahu atau jukung. Pedagang-pedagang yang berjualan berasal dari daerah Banjarmasin dan juga berasal dari Nagara. Pasar terapung menjadi ciri khas Banjarmasin, budaya sungai pun menjadi begitu melekat pada masyarakat Banjar. Dan yang paling penting adalah pasar terapung selain menjadi tempat mencari nafkah, juga menjadi salah satu objek yang bernuansa budaya di Kalimantan Selatan.
2. FKIP merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak calon-calon guru profesional yang tanggap terhadap lingkungan dan tidak ketinggalan terhadap IPTEK. Untuk memenui semua itu salah satu cara yang dilakukan FKIP adalah menfasilitasi gedung FKIP dengan komputer yang ditempatkan di depan ruangan-ruangan. Ide pengadaan komputer itu dimaksudkan agar mahasiswa bisa lebih mudah mendapatkan informasi tentang masalah seputar kampus dan juga memberi kesan bahwa FKIP tidak ketinggalan terhadap tehnologi yang sedang berkembang saat ini.
3. Dulu ketika Banjarmasin masih belum menjadi seperti saat ini, transportasi sungai menjadi alternatif kunci untuk setiap aktivitas yang akan dilakukan. Perahu kelotok, feri penyebrangan juga speed boat merupakan alat transportasi yang banyak digunakan masyarakat Banjar pada waktu itu untuk menuju daerah-daerah sekitar. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan kota di Banjarmasin pun semakin maju. Banyak jalur jalan dan jembatan yang dibangun untuk menghubungakan daerah-daerah sekitar wilayah Banjarmasin, sehinggga masyarakat pun mulai beralih dari transportasi sungai ketransportasi darat yang lebih mudah dan cepat. Speed boat dan kelotok banyak yang tidak laku, hal itu dapat dilihat disetiap sungai-sungai di mana speed boat maupun kelotok hanya bersandar di rumah-rumah penduduk.
4. Proses belajar kebudayaan melalui internalisasi, sosialissi, dan enkulturasi dimulai dari sejak individu dilahirkan, keberadaannya dalam keluarga dan juga lingkungan sosial tempat tinggal. Bagi anak yang tinggal di pedesaan, dan berasal dari keluarga petani kebanyakan dari mereka sejak kecil sudah bisa membantu orang tua. Bekerja di sawah disaat mulai menanam padi dan saat panen menjadi hal yang biasa bagi mereka. Masyatakat di desa cenderung kuat agamanya, para orang tua menyuruh anak-anak mereka belajar mengaji di mushalla yang ada di setiap RT. Dari situ mereka berkumpul dengan teman-teman sebaya yang akhirnya terjadi interaksi antar meraka. Sopan santun dan tata krama juga masih melekat di pedesaan, contohnya adalah anak-anak diajarkan untuk memakai bahasa yang halus jika berbicara dengan orang yang lebih tua dan membungkukkan badan jika lewat di depannya. Gotong royong menjadi ciri khas pedesaan telah membuat anak secara tidak langsung memahami kerjasama dengan orang lain.
5. Dalam mencerna konsep discovery dan invention kita harus menjadi individu yang aktif, yang berusaha untuk berbuat sesuatu yang menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh discovery yang ada di daerah kita adalah jamu Sarigading, jamu ini merupakan jamu asli Kalimantan yang dibuat pertama kali oleh Hasan Mahdan di daerah Barabai. Dulu pengolahannya masih menggunakan tangan dengan alat tumbuk. Hasil produksi yang pertama ialah berupa jamu serbuk. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan tehnologi penggolahannya sekarang sudah menggunakan mesin dan hasil produksinya pun bervariasi, ada yang berbentuk kapsul dan serbuk. Jamu ini telah diakui dan diterima oleh masyarakat, khasiatnya di dunia kesehatan membuat jamu ini tetap eksis dan mendapat tempat dihati masyarakat terutama orang Banjar.
By Bahruddin on Jul 1, 2007 | Reply
1 Lingkungan tempat saya berdomisili selama ini kecamatan Bati-bati, merupakan wilayah kecamatan yang padat akan tempat berdirinya, perusahaan-perusahaan industri sebut saja PT. Indofood perusahaan air minum : Prof, Tim, club dan jenis perusahaan lainnya. Hal ini mengundang banyak orang untuk mendapat pekerjaan, ada yang datang dari luar kecamatan, kabupaten bahkan luar propinsi akibat yang ditimbulkan dalam masyarakat adalah komposisi masyarakat menjadi Hetrogen akan suku bangsa. Seperti jawa, Sumatra, Madura Bali bahkan warga keturunan (cina). Semua ini menimbulkan berbagai macam kebudayaan disekitar lingkungan saya. Lambat laun terjadi akulturasi bahkan bisa terjadi benturan. Tapi dari semua, itu juga terjadi kebiasaan kebudayaan atau kebiasaan yang membawa kearah kemajuan masyarakat.Dari itu memunculkan ide/gagasan dari individu yang ada di masarakat terutama para pemilik modal. Para pemilik modal ,ada yang datang dari luar,Banjarmasin,Banjarbaru dan terutama dari daerah Bati-Bati sendiri,dengan pertimbangan bayaknya tenaga kerja yang tersedia. Ini menunjukkan bagaimana seseorng memberdayakan masyarakat sekitar (dipandang dari ilmu Antropologi ),memajukan dan memberdayakan masyarakat disamping mencari keuntungan dengan mendirikan perusahaan.
2 Kampus merupakan sumber unit perubahan, dan perubahan itu sendiri bersumber dari ide / gagasan yang kemudian diwujudkan melalui kerja / karya maka timbul yang namanya hasil karya membuat suatu perubahan. Baik itu ke arah kemajuan atau sebaliknya kemunduran.
“Memang harus diakui selama ini FKIP miskin sekali akan ide / gagasan sehingga perubahan yang terjadi di Kampus tidak begitu terlihat” Tiga wujud kebudayaan berupa ide, karya / aktivitas dan hasil karya, untuk FKIP terlihat dalam bentuk fisik seperti pembuatan gedung-gedung baru. Tapi untuk ide pemberdayaan SDA masih kurang demikian juga dengan mahasiswanya.
3. Dalam evaluasi kebudayaan terjadi karena adanya suatu tuntutan yang memaksa kebudayaan itu harus berevolusi. Sebagian orang Banjar dalam hal pendidikan tidak terlalu memperhatikan. Karena dianggap biasa saja.
Tapi yang terjadi sekarang ini di sekitar tempat tinggal saya. Komposisi masyarakat yang heterogen dan terjadi persaingan hidup, menuntut adanya pendidikan tinggi sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Maka pandangan orang tua dalam keluarga pun berubah untuk menyekolahkan anak. Dari kasus ini evaluasi itu harus diterima. Selagi hal tersebut membawa ke arah kemajuan dan tidak bertentangan dengan nilai – aturan sekitar.
4. Proses Belajar kebudayaan melalui internalisasi. Terakhir dari keluarga yang kehidupan seharinya tenang dengan masing-masing anggota keluarga melakukan aktivitas kesehariannya, dimulai pagi hari sudah meningkatkan rumah dan sore baru pulang sehingga untuk berinteraksi dengan individu lain (Anggota Keluarga) kurang terkecuali ibu. Dari ibu yang berhasil budaya Banjar diajarkan bagaimana cara bersopan santun dengan orang lain. Missal kepada orang tua menggunakan kata ulun / pian.
Sosialisasi. Ketika memasuki ruang lingkup yang lebih luas, sekolah bahkan masyarakat, banyak diajarkan sesuatu yang baru, baik itu buruk / baik mau tidak mau semua itu sebagian tertanam dalam kebiasaan hidup sehari-hari.
Enkulturasi ketika lebih jauh memasuki dunia luar atau dalam keluarga sendiri. Dikenalkan adanya suatu aturan / norma yang harus diperhatikan, sebab dari saluran banyak aktivitas sehari-hari ada sebagian yang tidak boleh dilakukan atau harus mengeluti aturan tersebut. Contoh kecil dilarang mengambil barang (hak) orang lain. Semuanya itu tertanam dalam diri dan menjadi suatu kebiasaan.
5. Discovery dan Inovation pada kebudayaan masyarakat Banjar, dapat dilihat pada jenis kerajinan tangan seperti Tamburu, Lukah (Alat penangkap Ikan), wadai Bingka. Pada perkembnagan selanjutnya contoh terkecil seperti wadai Bingka, oleh masyarakat Banjar dirubah lagi menjadi beberapa jenis seperti Bingka Tapai, Bingka Kentang dll. Hal ini muncul dengan adanya ide/gagasan dari masyarakat Banjar sendiri sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakatnya.
By Ridhani R.Utami on Jul 1, 2007 | Reply
1. Umumnya dalam membangun suatu masyarakat terutama masyarakat yang terdiri dari masyarakat heterogen, perlu adanya kekuatan mental dan rasa persaudaraan yang tinggi yang bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dalam lingkungan saya di Kota Banjarbaru, umumnya msyarakatnya adalah masyarakat heterogen namun masyarakat yang berasal dari luar daerah tersebut entah bagaimana caranya harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Contoh nyatanya adalah bila ada sebuah perumahan atau komplek baru di Banjarbaru pasti akan dihuni oleh bermacam-macam orang dari berbagai etnis, yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat yang baru tersebut bisa berinteraksi dan saling membahu untuk membangun masyarakatnya. Disinlah peran antropologi dalam membangun masyarakat baru yang heterogen tersebut, bagaimana interaksi masyarakat baru tersebut sehingga menimbulkan ide-ide/gagasan berupa kebudayaan dan corak khusus bagi kemajuan masyarakatnya.
2. Banyak ide/gagasan yang terlintas oleh civitas akademika di UNLAM, umumnya ide-ide ini adalah hasil ketidakpuasan atas institusi mereka di Kampus FKIP UNLAM, seperti: Pungutan parkir, keadaan toilet yang kurang dan jorok dan selokan yang mampet. Namun ide-ide ini sulit untuk mereka jadikan sebuah karya karena terhalang oleh “orang-orang atas” dan biasanya ide-ide dari mahasiswa ini sering disepelekan. Hal inilah yang menjadi penghalang untuk mereka mewujudkan sebuah karya apalagi hasil karya. Seperti keadaan wc yang cuma 2 buah sedangkan mahasiswanya 4000 orang sehingga 1 wc untuk 2000 siswa. Sebenarnya sudah ada ide-ide/gagasan dari mahasiswa tersebut untuk memperbaikinya namun terkendala oleh berbagai hal, padahal jika mereka berniat kuat maka ide ini akan direalisasikan sehingga akan timbul suatu hasil karya berupa penambahan wc di kampus.
3. Dalam suatu masyarakat pasti akan terjadi proses evolusi sosial yang lambat laun juga akan mengarah pada proses evolusi kebudayaan. Di kota-kota yang baru berkembang, misalnya Banjarbaru yang mulai kental dengan budaya individualisnya proses evolusi kebudayaan yang nampak adalah menipisnya rasa dan kegiatan GOTONG ROYONG. Pada masa dulu, gotong royong merupakan kegiatan yng paling menarik perhatian masyarakat karena akan mengikat hubungan sesama mereka dengan lebih erat. Apalagi masyarakat Kalimantan Selatan yang terkenal kuat dengan ikatan persaudaraannya dalam satu istilah yaitu ikatan “BUBUHAN”. Namun sekarang terutama yang kita dapati di kota yang sedang berkembang seperti Banjarbaru kegiatan seperti itu sudah jarang ditemui karena mereka sudah banyak yang bersifat individualistis. Paling-paling kegiatan itu terjadi hanya 1 tahun sekali seperti bila ada perayaan besar Hari Raya maupun HUT kemerdekaan. Inilah salah satu contoh bukti evolusi sosial dalam konteks evolusi kebudayaan sekarang ini
4. Proses belajar kebudayaan melalui:
-Proses internalization dalam kehidupan saya sangat tergantung pada penanaman nilai dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua. Karena saya dilahirkan dalam adat dan kebiasaan orang Banjar maka saya juga menanamkan sikap dan kepribadian seperti orang Banjar.
-proses socialization saya mulai menerima lagi nilai-nilai dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang lain terutama teman yaitu bagaimana saya berteman dan menempatkan diri dengan orang lain.
–proses enkulturasi, saya dihadapkan pada nilai-nilai yang lebih kompleks lagi seperti norma adat dan norma hukum yang berlaku pada masyarakat sekitar saya.
5. Dalam mencerna konsep discovery dan inovation dalam konteks kemajuan kebudayaan harus dilihat dari individu yang membangunnya dalam hal ini bagaimana individu tersebut mencerna dan mempertahankan hasil penemuannya tersebut agar bisa digunakan dan dipakai oleh orang lain. Namun hal itu tidak mudah, diperlukan kekuatan mental dan kecermatan dalam mengamati perubahan kebudayaan. Dalam kultur Banjar sudah banyak yang berupa discovery baik itu sejenis makanan, pakaian, kebiasaan atau hal-hal baru lainnya. Misalnya: warung 41 di Cempaka yang menyediakan berbagai jenis kue khas Banjar hal ini menunjukkan kumpulan discovery masyarakat Banjar seperti berbagai jenis wadai Susumapan hal ini telah berhasil diterima masyarakat dan diinovasi menjadi berbagai jenis dan rasa oleh masyarakat Banjar.
By Haris Zaky Mubarak on Jul 1, 2007 | Reply
Haris Zaky Mubarak
Perbaikan…..
1. Dalam kontekstual antropologi secara umum, fase ke-4 merupakan tahap dimana antropologi bersifat taktis, hingga dapat mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat guna membangun masyarakat. Bila direlevansikan dalam tataran kehidupan saya pribadi, secara implisit konseptual tersebut dapat dibangun dalam suatu analisa lingkungan kehidupan anak kost. Visualisasi kehidupan di dalam kost sebagaimana yang saya alami merupakan evidensi riil dari sifat taktis yang dimiliki antropologi. Dengan berangkat dari perbedaan tempat asal, adat istiadat maupun kebiasaan sehari-hari, kehidupan di lingkungan kost-kostan telah memberikan suatu suasana yang beragam, sesuai dengan aneka warna yang telah dimiliki pada masyarakat sebelumnya. Ada yang berangkat dari masyarakat yang introver, terbuka bahkan masyarakat maling sekalipun. Kesemua perihal itu telah melebur menjadi satu di dalam suatu konsepsi “Masyarakat Banjar”. Pencirian simbol ini bukan hanya sekedar mereduksi keberagaman di kost semata, tapi juga dilandasi dari berbagai konsiderasi yang matang untuk membangun masyarakat Banjar seutuhnya. Intinya, jika kita telah mampu mempelajari satu aneka warna manusia di dalam lingkungan kost, berarti secara tidak langsung kita telah mampu menghadirkan satu pilar untuk membangun masyarakat.
2. Di dalam aplikasi kehidupan kampus saya, wujud kebudayaan dapat di dekati dalam ide, karya dan hasil karya, yang terkonkretisasi secara terang di dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNLAM. Sebagai suatu lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan, Fakultas tersebut merupakan suatu elemen yang ideal, terlebih pada gagasan – gagasan, cita-cita maupun norma-norma yang berlaku bagi mahasiswa, dosen maupun karyawannya, sebaliknya, FKIP UNLAM juga terdiri dari beberapa aktivitas dan tindakan-tindakan yang melibatkan manusia dalam berinteraksi. Adapun di dalam wujud hasil karyanya, FKIP UNLAM dapat dipandang sebagai gedung yang mampu mencetak berbagai calon guru yang profesional di Banjarmasin dan semua ini sudah terkonfigurasi dalam wujud kebudayaan.
3. Diakui kalau evolusi sosial atau kemasyarakatan dan kebudayaan telah mengambil interval waktu yang panjang. Untuk terjadinya suatu perubahan besar. Begitu pula untuk unit terkecil seperti keluarga, tentunya tidak akan lepas dari posisi ini. Ambil contoh perihal tentang tidur sekamar dengan orang tua. Berpijak pada kebiasaan di masyarakat sekitar tempat tinggal saya, bagi anak yang sudah dianggap sudah baligh harus pisah dari kamar orang tuanya. Kondisi ini tentunya menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi si anak, karena merasa “dipinggirkan” oleh orang tuanya. Polemik ini menjadi semakin berkembang ketika si anak bercerita pada temannya atas perlakuan ini, dan tanpa sadar inipun membentuk suatu evolusi kebudayaan bagi lingkungan disekitarnya, yang pada gilirannya dapat membentuk pemikiran pemisahan kamar tidur lebih awal, seperti ketika masih bayi ataupun ketika menjelang balita.
4. Proses belajar kebudayaan melalui internalitation, sociation dan inculturation di dalam kehidupan saya, begitu sederhana sekali karena sejak kecil, pribadi ini sudah ditempa dengan didikan sabar (internalitation) oleh keluarga saya, maka di dalam perkembangannya pun ketika berinteraksi akan tampak sabar di dalam menyikapi situasi-situasi yang terkadang menggoreskan kepedihan yang mendalam untuk dihadapi, dan karena “terbiasa”, prosesual itupun telah berubah menjadi satu inculturation (pembudayaan).
5. semua persoalan mencerna baik itu discovery maupun inovation, sebenarnya bukan persoalan yang rumit untuk dientaskan. Apapun konsepsinya asalkan ada keinginan (desire) dalam diri sendiri untuk mau mencoba, tidak akan pernah menjadi masalah rumit.
Contoh simplitisnya dapat kita ambil dari limbah cempedak yang bagi urang Banjar biasa disebut dengan harfiah “manday” pengubahan kulit cempedak (limbah cempedak) untuk diolah menjadi “manday” merupakan aplikasi dari discovery, artinya penerapan tersebut hanya akan di jumpai di Banjarmasin saja. Legalitas potongan-potongan kulit cempedak untuk digoreng dan dijadikan sebagai menu utama sehari-hari merupakan wujud discoverynya urang Banjar, dan tindakan untuk menjadikan manday sebagai makanan yang dapat diawetkan merupakan kata lain, pengembangan dari penemuan yang sebelumnya pernah ada (inovasi).
By Elma Khairina on Jul 1, 2007 | Reply
1. Maksud dari fase ini adalah dengan adanya keanekaragaman kita tetap bisa membangun suatu masyarakat. Sebagai contoh yaitu kehidupan yang ada di kampus yang bisa juga disebut masyarakat. Terdiri dari berbagai macam keanekaragaman seperti suku, agama, budaya, bahasa, ide, cara pandang ataupun prisip hidup. Kita lihat dari ide saja setiap orang tentu mempunyai ide yang berbeda-beda. Nah dari ide yang beragam inilah kita bisa membangun kebersamaan masyarakat kampus karena kita memiliki tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu.
2. FKIP sebagai Lembaga Pendidikan harus mempunyai ide-ide atau gagasan untuk memajukan FKIP. Contohnya yaitu dengan membangun gedung baru untuk menunjang aktivitas kampus. Seperti baru- baru ini telah dibangun aula kampus dan ruang prodi serta ruang belajar. Pembangunan itu cukup mengingat kondisi ruangan yang ada saat ini tidak mencukupi untuk proses belajar-mengajar, tepatnya adalah FKIP kekurangan ruangan. Mudah-mudahan dengan adanya ruangan baru tersebut bisa memudahkan aktivitas dosen maupun mahasiswa.
3. Pertama-tama kita harus mengetahui dan mengenal lingkungan tentang bagaimana kebudayaan yang ada di tempat itu. Setelah itu kita bersosialisasi atau melakukan adaptasi. Kemudian kita menyaring atau memfilter kebudayaan mana yang baik dan buruk sehingga kita dapat berada dilingkungan yang baik dan benar sesuai dengan prinsif kebudayaan itu sendiri. Contoh dari unit terkecil dan terdekat adalah dalam keluarga yaitu dari mata pencaharian keluarga yang secara turun temurun sebagai pedagang, tapi kemudian berganti karena perkembangan zaman ada yang menjadi guru.
4. Jalur internalization dilakukan dalam lingkungan keluarga melalui penanaman nilai-nilai kehidupan, atau kebiasaan- kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tua dalam diri kita. Hal ini dilakukan sejak masih kecil. Misalnya tentang cara bergaul dalam keluarga, seperti menghormati orang yang lebih tua, menghargai yang lebih muda, tidak mengucapkan kata-kata yang kasar dan jorok. Selain itu juga diibiasakan mandi pagi-pagi, dan makan bersama dengan keluarga. Proses sosialization, dimulai saat anak masuk sekolah atau mulai berbaur dengan orang – orang disekitar rumahnya, dimana pergaulan semakin luas dan hal ini lebih mudah dijalani karena kita telah diajarkan bagaimana cara bergaul dalam lingkungan keluarga dulu. Melalui jalur enculturation atau pembudayaan. Anak belajar meniru apa yang dilakukan oleh orang tua. Misalnya budaya orang tua yang dari dulu, pada saat hari raya atau lebaran membuat makanan dan kue-kue yang kemudian dibagi-bagikan pada keluarga dan tetangga. Nah hal ini lama –lama akan menjadi budaya dalam diri anak hingga dewasa.
5. Mencerna konsep discovery dan inovation adalah dengan menanamkan dalam diri bahwa mencoba sesuatu itu tidak ada salahnya. Contoh Discovery yang ada di kalimantan Selatan adalah makanan khas Dodol dari Kandangan .Kemudian pembuatan dodol ini dikembangkan dengan berbagai macam rasa, seperti dodol Kandangan rasa kacang, rasa durian, dll. Dodol ini berhasil menarik minat maasyarakat dan menjadi panganan khas Kandangan, bahkan dodol ini sudah terkenal diberbagai daerah di Kalsel.
By DEWI KOMALA on Jul 1, 2007 | Reply
DEWI KOMALASARI
A1AI05002
Perbaikan
1.fase perkembangan antropologi yang bertujuan untuk membangun masyarakat dapat kita ambil contoh dilingkungan saya tepatnya didaerah sungai lulut setelah melakukan analisis kritis saya menemukan banyak sekali pembangunan perumahan dimana tanah penduduk sekitar yang awalnya untuk bertani dijadikan lahan perumahan,karena banyaknya perumahan tersebut membuat orang dari luar lingkungan tertarik untuk bermukim disana,awalnya masyarakat kota yang sangat cuek tidak tau menau akan pergaulan dilingkungan sekitar tetapi setelah meliat kebudayaan masyarakat desa disitu yang sangat ramah ,kebanyakan masyarakat kota tersebut banyak yang menyesuaikan dengan kebudayaan dilingkungan tersebut
2.dapat diambil contoh dilingkungan kampus yaitu pembangunan balai serbaguna dilingkungan FKIP dengan adanya bangunan balai tersebut merupakan hasil yang baik untuk pembangunan FKIP karena dengan balai tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai sarana diskusi,acara-acara kampus lainnyal.
3.proses evolusi dalam kontek budaya masyarakat setempat yaitu pada masyarakat sekarang dengan kemajuan tekhnologi dan dibukanya jalan-jalan tidak lagi menggunakan transportasi air seperti jukung ,klotok diganitkan dengan kendaraan darat seperti sepeda motor ,mobil dan lain-lain dari kejadian tersebut dapat diketahui dalam kehidupan masyarakat sosial terjadinya perubahan kebudayaan dari kebudayaan air menjadi kebudayaan darat.
4.melaluli jalur internatization dapat kita ambil contoh dari kebiasaan saya sejak kecil tentang disiplin misalnya bangun pagi dan sebagai anak perempuan harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu.melalui jalur sosialization yaitu dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar misalnya mengikuti yasinan untuk menjalin silatuhrahmi.melalui jalur enculturation yaitu dengan menanamkan sikap disiplin sejak kecil kepad anak agar bisa menghadapi kehidupan kedepannya.
5.konsep discovery dan inovation dapat kita lihat dalam kehidupan sekarang yaitumasyarakat berlomba-lomba untuk bersekolah lebih tinggi guna mengubah penghidupan mereka agar lebih baik karena masyarakatr sekarang lebih menyadari tentang pentingnya kemajuan pendidikan ,dengan pendidikan kita bisa menguasian tekhnologi.
By EDWIN NORJAMI on Jul 1, 2007 | R