Sabar: Meng-Quantum Diri

21 June 2007 | Ditulis oleh: |

Bagi saya, untuk sampai kepada kesimpulan, Menulis Sangat Mudah, yang ditancapkan menjadi judul buku yang tengah menasional, tidak didapat begitu saja. Ada proses panjang penyertanya. Banyak hal penganggu, pematah semangat, dijadikan terbalik, pemotivasi. Bahkan, dijadikan pijakan untukmeng-quantum diri, gitu.

Seorang teman berkomentar, mengumbar kemarahan saja bisa jadi buku. Ketika membuat buku sastra ada yang mengatakan, Ersis menulis sastra sesukanya. Pokoknya macam-macam. Saya memang punya ?style?, he … he …

Ratusan artikel di media cetak ?dinilai? dengan beragam pandangan. Sesuatu yang wajar. Tetapi, tidak sedikit yang menghina. Apa saja tulisan saya dikritik. Sampai ke hal lucu, menulis mudah, tapi bagaimana prakteknya. Menulis hal-hal ?baik?, dituntut ?baik?, tentang yang ideal, dituntut mempraktekkan. Jangan-jangan ketika menulis tentang kesempurnaan akhlak Rasulullah, dituntut pula jadi rasul, he … he … Pernah dikatakan seperti tukang obat pinggir jalan.

Jujur saya, lebih banyak ketawanya. Sama dengan nasehat beberapa orang hebat. Harap maklum, penampilan saya (memang) norak kali, bicara tidak basa-basi, bahkan kata teman-teman cenderung kasar. Saya dinasehati begitu begitu tentang etika pergaulan. Alhamdulillah.

Anehnya, bisa SMS-an dengan gubernur, wakil gubernur, walikota, bupati, rektor, sampai preman. Kenal sebagian besar pengusaha, petinggi-petinggi politik, orang-orang kalangan atas di provinsi saya. Dengan beberapa orang menjalin kerjasama. Padahal yang menasehati untuk ?menghadap? saja susah. Sering bercanda dimana bersua. Saking penasaran, kepada seorang kepala daerah saya tanya: Kenapa betah berteman dengan saya?

Sampeyan ngomongnya apa adanya, jawabnya. Bagi saya, yang penting tidak berniat jelek. Kepada Mendiknas Bambang Sudibyo, di Radar Banjarmasin ketika berdialog terbatas dengan gubernur, rektor Unlam, Kadinas Pendidikan, saya katakan: Pak. Sampeyan sekali saja ya jadi Mendiknas. Sebagai ekonom, mendingan mengurus ekonomi negara yang morat marit. Pendidikan serahkan kepada ahlinya.

Saya ingin menyampaikan, dengan pola dan ?kelakuan? demikian wajar disorot, dikritik, dicaci-maki, atau setaranya. Saya pernah diancam atau dipermalukan, baik langsung ataupun tidak langsung. Macam-macam hal yang tidak saya lakukan ditimpakan begitu saja.

Intinya, yang tahu diri saya adalah saya. Yang tahu niat saya adalah saya. Ada tiga pesan orang tua ketika akan merantau: Jangan pernah punya niat tidak baik pada siapapun, jangan gusar dengan apa yang tidak dilakukan dan maafkan orang yang menfitnah, dan … jangan makan uang haram,

Belakangan saya menyimpulakan, hal dimaksud berarti sabar. Minimal dalam hati, saya lakukan serius. Saya sangat memperhatikan, tidak mau terjerumus. Prakteknya, entahlah. Terkadang ragu.

Yang menganjal, yang ketiga. Saya wartawan, punya tabloid dan majalah. Jangan-jangan orang membantu karena itu. Tapi yakin, tidak memeras. Lain kali didiskusikan

Nah, kesemua salah paham, salah mengerti, sampai ejekan dan pelecehan atau penimpaan kekuasaan untuk mematikan kreativitas, terutama dalam tulis menulis, tidak menjadi penghambat, tidak akan dibiarkan mematikan semangat.

Kalau tulisan dikatakan orang jelek, dalam hati menyembul tekad, akan menulis lebih baik. Kalau dikatakan, tidak bermutu, semakin giat membaca dan akan membuat tulisan lebih berkualitas. Pokoknya, tidak mau terganggu dengan penilaian orang, apalagi penghinaan.

Bersamaan dengan itu, itu pula jeleknya saya, melakukan sesuatu, ya lakukan. Selama senang kerjakan secepat mungkin. Terkadang, niat untuk berbuat lebih baik dalam berkarya, ?hilang? entah kemana. Kerepotan konsisiten. Alasan sebagai penenang, bagaimana mungkin Perfeksionis kalau ?beban? begitu menumpuk. Harus membaca sekian buku, menulis berbagai hal, dan … belakangan mengedit begitu banyak tulisan orang yang mengaku-ngaku sebagai murid.

Dus, dalam segala itu sabar adalah penjaga hati, berkarya, dan karya paling mujarab. Tidak perlu menyalahkan orang lain, tidak perlu risau dengan penilaian orang. Jagalah hati nan sabar agar bisa menimbang baik buruknya untuk dijadikan pemicu dan pemacu agar berbuat lebih baik.

Sering saya teringat filsafat yang diapungkan dalam karya Kho Ping Hoo tentang cinta: orang yang mencinta dan membenci pada dasarnya berangkat dari hal sama, menyayang. Yang mencinta (dan bercinta) keinginan tercapai, yang membenci karena keinginannya tertolak. Pangkalnya sama-sama dimulai dari tertarik, memperhatikan. Respon dari kehendak yang berbeda melahirkan tindakan berbeda. Cinta dan benci sama saja, to side in one coin.

Maksud saya, sabar itu di relung hati. Tindakan pada praktek adalah aplikasi dari apa yang ada dalam diri. Kalau mau melatih sabar dan kesabaran harus dimulai dari dalam, dari qalbu. Qalbu kita telah dititipi oleh Allah SWT dengan sabar. Mari bangkitkan dan latih agar maksimal. Tidak usah takut sekalipun mungkin bisa ?membangunkannya? baru secuil. Namanya saja manusia yang bertugas belajar dan selalu belajar. Kalau mau menjadi loyalis sempurna, jadi saja malaikat.

Pada tataran dan takaran tertentu, semua kita telah memiliki dan mempraktekkan. Tugas kita menjadikan semaksimal mungkin agar potensi diri lebih berkembang. Sabar berarti mengkreatifkan diri untuk lebih baik.

Dalam renungan ketika menulis artikel ini, tiba-tiba mencuat ide: Ersis, coba pelajari lebih dalam, sabar itu adalah kecerdasan (Sabar quontion) dan kekuatan (Sabar powerfull). Mana tahu suatu saat mampu membuat formulanya, Teori sabar. Mana tahu sampeyan memberi masukan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 7 Responses to “Sabar: Meng-Quantum Diri”

  2. By helgeduelbek on Jun 21, 2007 | Reply

    Sepertinya bertentangan antara sabar dengan meng-quantumkan diri. quantum dalam artian loncatan besar. Kalau meloncat berarti tidak sabar donk… tidak sabar untuk menyusuri proses. Jadi gimana nih?
    Maaf gak nyambung saya

  3. By Anonymous on Jun 21, 2007 | Reply

    Ya ngaklah, sabar itu kan ‘kekuatan’ detail yang bermuara pada hasil. Sabar yang rejit mengikuti proses itu bukanlah sabar yang sempurna. Bila kita bicara refleks, naluri, atau sejenisnya adalah quantom. Ini yang kita cari. Misal begini, otak kita punya semilyar syaraf yang mampu berkoneksi sekitar 20 ribu persyaraf. Awalnya digunakan dia akan menelusuri satu persatu, kalau sudah dbiasakan, begitu di-on dia akan langsung ke tujuan, lahirlah reflek, itulah quantum. Jadi, sangat nyambung.

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply

    Yaah, itulah sabar. Terkadang kita dihambung-hambung tapi sebenarnya dihambung untuk segera dihantakkan. Tapi bagi pribadi yang kurang baik (baca: mental kurang yahud), dihambung bisa jadi malah memperosokkan yang dihambung. Makanya kala kita mau menasihati siapapun orangnya, entah nasihat tau kritik, lihat dulu lah siapa dia( dari latar balakang s/d visi misinya). Sehingga nasihat kita sampai ke tujuan.
    Yaah, sabar lah bagi yang dinasihati dan sabar lah bagi yang menasihati, itu lebih baik, oke?.
    Terkait Quantum, saya suka itu. Dalam setiap target kehidupan yang akan kita capai, memang terkadang harus ada loncatan atau lompatan. Kesabarang kita , taruhlah contoh masih sabar grade awal, ternyata harus menghadapi problem yang tidak cukup menggunakan grade awal itu, nah disinilah kita perlunya sebuah quantum itu. Tentusaja dilatih sehingga akan menjadi sebuah kepribadian/ karakter/ akhlak/ reflek.
    Selamat bagi yang akan melakoni self-quantum. Saya setuju itu.
    Mengenai hal lain yang mengatakan, kalau kita menulis/ mengatakan sesuatu haruslah kita melaksanakannya, menurt hemat saya: itu benarlah adanya, intinya lakukan apa yang kita tulis dan tuliskan apa yang kita lakukan. Itulah sebagai sumber motivasi kita melakukan hal tersebut.
    Wallahua’lam.
    Salam self-quantum dari saya, Irsan.

  5. By hanna on Jun 22, 2007 | Reply

    wah,ini dia nih,penguji kesabaran.masa saya dicuekin,emang enak?enak ga enak,harus sabarlah, tunggu teman yang satu ini mau berteman.saya serius lho mau ngobrol lebih jau tentang kejiwaan.dijakarta psikiaternya pada pelit ilmu,tanya kebanyakan roman muka bisa kurang senang.lha,bukannya orang kepsikiater itu karna butuh teman curhat,mencari solusi untuk
    gangguan jiwa yang dialami.kelihatannya saudara IRSAN ahli dalam hal kesabaran.saya termasuk orang yang sabar(terlalu PD)tapi orang-orang menasihati saya jadi orang tu jangan terlalu sabar,atau menyalahkan:” kamu sih terlalu sabar jadi orang”.sabar disini sabar menghadapi orang.saya hidup dilingkungan orang-orang yang ego,yang tak pernah mau lihat dirinya sendiri,selalu menyalahkan orang,dikit-dikit mengeluarkan kata kasar.ada hal-hal yang memang ingin saya konsultasikan.saudara bersedia?sebelum ada tanggapan saya cuma bisa sabar,sabar,sabar DAN buah kesAbaran itu ada ditangan saudara IRSAN.HEHEHE,Ditunggu ya.

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply

    Maaf, saya belum bisa merespon via kotak komen bukan karena tidak mau merespon, tapi karena biar melatih kesabaran saya dalam belajar nge-net. Sekarang saya respon, tapi lewat sini. Maaf, ya. Sekali lagi maaf telah menunggu direspon. Salam kenal dari saya, lebih jauh bisa kontak di email saya

  7. By hanna on Jun 22, 2007 | Reply

    email saya h4n4_1979@yahoo.com.EMAIL nya juga kasih kesaya ya.malaman saya email.sekarang lagi ada urusan,maklum super sibuk,hehehehe.jangan ucap kata maaf atu.saya cuma bercanda,jadi ga enak.maaf juga lho baru balas.ditunggu diemail ya.da…………………………..

  8. By ridlo on Jul 31, 2007 | Reply

    “…yaa naaru kuunuu bardan wa as’salaman ‘ala Ibrohim…

    Innalaha ma’a shobirin..!!!

Post a Comment