Muaralabuh my Reading

21 June 2007 | Ditulis oleh: |

Ada yang bertanya, mengapa aku membawa Erwin D. Nugroho, pemimpin redaksi Radar Banjarmasin ke Muaralabuh. Dia sahabatku. Kami menghabiskan hari-hari bersama. Dia ‘orang besar’, punya ‘kekuasaan’, dan aku penulis. Di korannya aku menulis ratusan artikel. Tetapi, yang paling menjadi penarik, dia suka baca buku. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Kini dia ditarik menjadi petinggi Kaltim Pos di Balikpapan, kelompok media Jawa Pos.

Kalau dia dapat buku baru, aku diberi tahu, begitu sebaliknya. Terkadang saling membelikan buku terbaru. Erwin membawaku ke kenangan masa lalu. Dulu, ketika PGA aku sering bertukar buku dengan teman-teman. Masing-masing punya buku tebal, tidak cewq tidak cowok. Buku itu digilir untuk diisi teman-teman; puisi, pantun, komen, atau apa saja. Aku pernah mengunting cerita bersambung Tarik bin Ziad, dan … teman-teman senang. Tapi, Bapak agak sewot, sebab koleksi majalahnya bolong-bolong. Saya pikir, sejak itu bakatku menulis tumbuh. Aku menulis apa saja.

Aku ingin Erwin D. Nugroho menulis tentang Muaralabuh. Tidak pernah kusampaikan, tetapi dilakukannya. Begitu sampai di Kalimantan ditulis di webnya, www.windede.com. Banyak yang merespon, tertutama putera Muaralabuh. Lagi pula, karena dia sering bepergian, baik dalam negeri maupun mancanegara, aku ingin memperlihatkan bagaimana keluarga Minang sangat demokratis.

Begitulah, sahabat yang satu ini memang penuh perhatian. Sekedar info, ibunya seumur denganku, jadi dia ‘kakankan’ kalau dibandingku. Tapi, dia jauh lebih dewasa. Umur 23 tahun menjadi GM dan Pimred koran besar. Satu hal lagi, aku selalu bersemangat memotivasi anak-anak muda. Erwin baru saja melaunching buku Email dari Tanah Suci. Sebentar lagi akan keluar bukunya, Dari Sabang Sampai Dalian. Kisah perjalanan ke Muaralabuh ada di dalamnya. Erwin satu-satunya temanku yang sampai hari ini tidak pernah ma-ikami-ku. Orangnya blak-blakan, tetapi kupikir masalah umur.

Dalam perjalanan kami, saya tidak memberi keterangan berlebihan. Terserah dia saja, toh melihat dengan mata sendiri. Sayangnya tiga hari tentu bukan waktu yang cukup. Mudah-mudahan, perjalanan tersebut menjadi pemicu novelku selesai cepat. Belum pernah aku sebergairah ini menulis, setelah ‘membaca’ Muaralabuh, dan belum pernah aku sedungu ini menulis. Banyak hal-hal yang masuk ke otak. Itulah sebabnya novel itu merambat bak kura-kura. Sekali-kali aku perlu punya pengalaman lambat menulis, to?

Kepulangan ke Muaralabuh kali ini benar-berar kusimak sampai detail, “kubaca” Muaralabuh dengan pikiran dan perasaan. Hasilnya jauh beda, aku menemukan kekuatan yang luar biasa. Sungguh. Tapi, aku melakukan kekeliruan besar. Tidak sempat membawa peta detail Muaralabuh. Mudahan dalam waktu dekat aku bisa pulang dan menjalani kembali lekuk-lekuk Muaralabuh agar mampu mengungkap perjalanan kehidupan.

Sampeyan bayangkan, Muaralabuh itu bak kuali yang dikelilingi bukit-bukit penuh pepohonan. Dari utara mengalir batang Suliki, di Kotabaru bersatu dengan sungai Kotabaru yang disupor anak-anak sungai menjadi bagian untuk bergabung dengan sungai Batanghari. Alam indah itu diolah menjadi sawah berpetak-petak, yang tidak kalah dengan sawah-sawah di Bali, atau kebun-kebun yang mendatangkan kesejukkan di hati.

Jujur saja, selama ini aku memamahami sebagai hal biasa saja. Dari perantauan dan pengelanaan ke banyak tempat, berbuah satu hal: Muaralabuh itu begitu indah, eksotik. Aku dan Erwin sempat mendiskusikan ketika medapat pelajaran dimana penduduk cuek-bebek saja dengan keindahan Air Terjun seperti saya tulis terdahulu. Mereka hari-hari menikmatinya, jadi jadi hal biasa.
Mungkin benar pepatah Minang: Jika cinta kampung, tinggalkan.Setelah jarak terbentang maka segala keindahan, kenyamanan, dan hal-hal membuai lainnya akan bergabung dalam memori. Mencintai Muaralabuh dengan ‘membaca’ Muaralabuh dalam kandungan yang terlihat dan tersuirat.

Aku ingat, aku pernah menyinggahi Bengkulu membawa dua adik dan belasan keponakan pulang bersama di hari Idul Fitri. Kukuatkan memori mereka tentang tanah kelahiran. Kami datangi irigasi Balun, di depan Istano Rajo Sungai Pagu sembari mandi berkecipak-kecipak. Aku ingin mereka tidak melupakan Muaralabuh, sekalipun lahir di rantau. Cukuplah aku saja yang abai tentang Muaralabuh.

Bedanya, kini rumah-rumah sudah dibuat gaya modern, jalan-jalan mulus, tapi untunglah di Kotabaru tersusun rapi Rumah Gadang. Rumah Gadang kami malahan tidak terawat. Aku juga mendengar banyak hal kehiduan modern juga mencemari remaja-remaja Muaralabuh. Aku baru mendengar ceritanya, belum membuktikan. Mohon kepada para petinggi, hal tersebut jangan sampai dibiarkan.

Melihat perkembangan sekolah, minimal dari penampakkan fisik aku cukup gembira. Di internet, misalnya SMA I Muaralabuh mempunay prestasi bagus untuk ukran Sumatera Barat, entah seberapa, aku tak tahu pasti. Yang mengherankan, kenapa namanya ditukar menjadi SMAN I Solok Selatan. Aku punya garapan sepetak kecil sawah sebelum sekolah itu berdiri.

Pernah, beberapa anggota DPRD Solok Selatan bekunjung ke Banjarbaru. Aku katakan kepada mereka, kalau mau maju, jangan ada asalan dan ganjalan sedikitkan memajukan pendidikan. Bagiku sederhana saja: Kalau rumah pejabat, dari rendahan sampai bupati, lebih baik dari sekolah, itu pertanda tidak baik bagi pendidikan. Kalau rumah penduduk bagus-bagus, sekolah bobrok, di lingkungan itu berdiam orang-orang munafik pendidikan.

Jadi, bagiku kantor bupati yang megah, adalah lambang kemunafikan manakala sekolah-sekolah bobrok. Semoga hal tersebut tidak terjadi di Muaralabuh. Mumpung kabupaten baru, kalau mau berpkir panjang, fasilitas pendidikan perlu diutamakan, pendidikan perlu dibenah. Itu saja.

(Banjarbaru, 21 Juni 2007. Bersambung).

  1. 3 Responses to “Muaralabuh my Reading”

  2. By ahmad nur irsan finazli on Jun 26, 2007 | Reply

    Yaah begitulah kekuasaan Allah SWT tentang seluruh makhluknya termasuk bumi yang kita pijak ini, semua ada hikmah dibalik penciptaan-Nya. Subhanallahu…Subhanallah…Subhanallah. Inilah ucapan yang sehrusnya keluar secara reflek stiap kali kita melihat keindahan ciptaan Allah SWT. Dibalik itu semua bisa membangkitkan afeksi kita, yang mungkin selama ini terkungkung pada teori2 iptek yang salah. Boleh jadi kita melakukan aktivitas-action- selalu diawali dengan pertimbangan dari afeksi ini, hal apa pun. Afeksi kita itu lembut, saat kita melihat keindahan atau apa saja yang membuat kita takjub, biasanya akan berbekas pada afeksi kita. Nah kalau ini terus-menerus dirasakan dilatih atau dibiasakan, tentu saja akan berimbas pada apa yang akan kita lakukan dalam kehidupan keseharian dalam mengarungi pencapaian target pra-kematian bahkan target pasca-kematian, pasti akan dilatarbelakangi oleh pengalaman afeksi yang telah kita alami (bisa afeksi yang benar ataupun semu).
    Yaah ini hanya sekedar respon dari saya setelah membaca secara sungguh2 dari tulisan ini.
    Salam Jogjakarta my Reading dari saya, Irsan

  3. By Mega on Nov 10, 2007 | Reply

    Awak pun wkt kemaren pulang agak kaget,,15 thn yg lalu terakhir meninggalkan MuaraLabuh,jauh berubah sekarang,jadi agak senang,krn tlah maju dr sebelumnya,awak jg cibnta Muara Labih,krn disitu sebagian juga dari kehidupan awak.

  4. By unai on Dec 18, 2007 | Reply

    saya punya saudara yang tinggal di muaralabuh pak..jadi pingin ke sana

    ***Dataangi dong, sungguh sangat eksotik … kalau ngak percaya, rugi deh …

Post a Comment