Muaralabuh my First Love

21 June 2007 | Ditulis oleh: |

As. WW
Salam kenal uda Ersis. Awak Urang Muarolabuah juo, kini di Kotobaru, Kalimantan Selatan. Awak jauah dibawah uda, kalahiran tahun 66. Mambaco tulisan Uda tantang Muarolabuah bakaco-kaco mato awak … lah lamo indak pulang … taubek hati awak mambaco nyo …awak minta lanjuikan tulisan Uda tu … kalau bisa jadi sabuah buku … Tarimokasih Da.
Wassalamualaikum WW.
Alfi Nasri


Terus terang serial tulisan tentang Muaralabuh telah ‘dihimpit’ berbagai tulisan lain. Untungnya Alfi mengingatkan ketika menulis di buku tamu www.webersis.com. Aku teringat masa-masa kecil sampai sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun Muaralabuh. Sebenarnya aku ingin masuk SMP, dimana hampir seluruh teman-teman SRku kesana.

Tapi, keluargaku bersikeras ke PGA. Kata mereka biar dasar agama kuat, dan … aku nakal, kali he … he … Ketika berkumpul dengan ponakan, Bapak menikmati ketawa bercerita: Mak (mamak, paman) Ersis pernah Datuk (kakek) masukan ke karung goni, keras kepala tu orang. Yang kusenangi, tapinya. Tapi, … Mak Ersis itu orangnya pintar, rajin, suka membaca, mandiri, telinganya saja lebar, kaya Datuk, katanya terkekeh-kekeh. … Ih bangganya aku dipuji Bapak. Dan, itu benar kan.

Mungkin dari situlah ‘sikap memberontakku’ muncul. Aku berontak tapi tetap patuh pada kehendak orang tua. Sesuatu yang menjadi ‘gaya’ hidupku kelak. Aku selalu protes kepada siapa dan tentang apa saja kalau tidak sependapat, tetapi kalau tidak diacuhkan, yah sudah. Aku bukanlah revolusioner sejati.

Aku masih ingat, tugas utamaku ‘memelihara’ air sawah. Dari Tayeh, Sigintir, sampai Lolo. Sepulang sekolah tugas kulakukan. Kalau senja menghidupkan lampu strongkeng (dua buah) lalu ke mesjid. Yang paling menyenangkan, sekitar jam 9-10 mencari belut di sawah. Aku suka belut, kata Bapak bergizi.

Aku bangga punya Bapak yang berselera makan bagus, makanan kami pada dasarnya bergizi. Kami memelihara kolam, kalau sudah panen, sawah kami jadikan kolam ikan dan bila musim menanam tiba, dipindahkan ke kolam rumah. Kami juga memelihara ayam, kebun sayur, dan sebagainya. Kata Bapak, sumber makanan bergizi tidak perlu dibeli, bisa diusahakan sendiri. Lagi pula, Ibuku dan Uni Er adalah tukang masak paling enak di dunia. Duh, luar biasa kehidupan masa itu. Tidak keluarga kaya, tapi cukuplah.

Kebiasaan itulah yang menjadikan aku petambak ikan dan peternak ayam. Aku menanami sinkong, lengkuas, janar, dan lombok di tanah kami di Banjarbaru. Tetapi, yang paling menyenangkanku, Bapak banyak punya buku. Dari cerita ringan seperti Si Kecil sampai Ihya Ullumuddin, dari langganan Haluan sampai Kiblat. Inilah yang membentuk kepribadianku.

Bapakku, kalau membaca sembari tidur-tiduran. Filsafat beliau, membaca itu dimana saja dan kapan saja. Hal itu yang aku salin sepenuhnya. Padahal, Beliau tidak bersekolah tinggi. Kalau kecerdasaannya memang tidak diragukan lagi walau hanya sebagai tukang (pemborong) bangunan. Ya itu tadi, telinganya lebar, he … he …Kini, anak-anakku, mau membaca sambil makan, tidur-tiduran, atau apa, silahkan saja. Mau buka internet subuh, tengah malam, OK-OK saja. Mau baca Harry Porter atau pelajaran sekolah, atau nonton bola, tidak kuatur. Terserah saja. Yang penting membaca, membaca, dan membaca.

Jatuh Cinta

Semasa kelas dua PGA aku jatuh cinta untuk pertama kali. Waduh … gimana ya menulisnya. Di desaku, Batang laweh —ah ngak usah deh ditulis nama orangnya— aku punya perhatian, tepatnya jatuh cinta ala anak ingusan waktu. Kami mengaji di rumah Angku Parit dan sama-sama sekolah di PGA. Dia adik kelasku. Aku ketawa-ketawa mengingatnya, saking ingin ‘bergaya’ aku minta ke Bapak menukar sepeda relight-nya dengan sepedaku. Kukira bapak paham aku mau melagak. Beliau pernah muda juga kan. Sejak itu, Beliau rajin memberiku duit. Aku membeli minyak rambut, dan he … he … aku betul-betul geli saat menulis ini.

Suatu malam, di bawah pohon kelapa aku ditanya tu oleh Si Ceweq Paling Cantik Di Dunia: Apo nan akan Uda katokan? Nah, lho … Sampeyan lanjutkan sendiri ya. Yang kusesali sampai sekarang, aku tidak bisa jalan-jalan di alam terbuka, begandengan tangan, apalagi … cipika-cipiki (syukuuuur). Begitulah model cinta masa itu. Pernah dengan dengan cewq lain, belajar bersama, bepergian saat libur sekolah, dan … jatuh cintah selayang pandang, tapi … Ceweq Paling Cantik Di Dunia itulah cinta pertamaku.
Sejak aku sekolah ke Padang, kemudian ke Jogya, ke Bandung, hanya pernah sekali bertemu di rumahnya di jakarta, dia sudah punya anak waktu itu. Tapi aku yakin, ada sesuatu di hatinya, seperti di hatiku. He … he …

Dibalik semua itu, aku ingin mengatakan, banyak hal dalam kehidupan kecil kita yang melengket di memori dan dalam perjalanan kehidupan akan berpengaruh di masa datang. Muaralabuh bagiku bukan sekedar tempat lahir, bukan sekedar tempat dimana kureguk indahnya keluarga dan pendidik keluarga yang tak terkira positifinya, tetapi secara keseluruhan adalah ‘pembentuk’ diriku saat ini. Aku minta maaf padamu Muaralabuh, perantauan memang bisa membuat lupa akan kampung asal, tetapi … kini aku sadar: Muaralabuh adalah landasan pacu cintaku sejak awal.

(Banjarbaru, 21 Juni 2007. Bersambung).

  1. 5 Responses to “Muaralabuh my First Love”

  2. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply

    Selamat bernostalgia dan menapak tilas landasn pacu untuk lebih melejitkan potensi diri. Sejarah hidup dari kecil sampai sebesar ini, memang sebaiknya kita tulis. Sehingga menjadi sebuah Sirah Hidup Person.
    Salam.

  3. By hanna on Jun 22, 2007 | Reply

    beruntunglah yang bisa bernostalgia tentang first love.lalu bagaimana dengan orang-orang yang belum sempat merasakannya keburu”diexpedisikan dan diekspor”,meraka berkeluarga tanpa rasa cinta.kata orang cinta bisa tumbuh perlahan,benarkah?apa yang terjadi kalau cinta yang tumbuh bukan dengan pasangan hidupnya.bersabarkah?seberapa mampu manusia itu bersabar dalam kehidupan yang tertekan?setahun dua tahun mungkin juga 20thn,apa yang terjadi bila suatu hari kesabaran disini tiba-tiba terbang,hilang dan sirna?

  4. By irsan on Jul 3, 2007 | Reply

    Witing tresna jalaran saka kulino, ada benarnya.
    Harus ditilik kebelakang, dhonk. Kenapa sampai terjadi seperti itu.
    Sabarnya ya, cari solusi agar cinta kita tepat pada sasarannya. Solusinya, ya harus tahu dulu latar belakangya dari semua sisi. Selamat berkonsul dengan ahlinya.

  5. By Mega on Nov 10, 2007 | Reply

    On The Man The…**bc/Ondeh mande,,,hahaha..siUda punya kenangan jg toch..
    tak pikir dr kecil cintanya cuma ma kertas dan pencil aja..~(”_”)~
    Jadi ingat juga awak,,wkt sekolah tergila2 ma orang Muara Labuh juga,,hahaha,,kapan2 nulis jg ach tentang nostalgia pacaran ma orang Muara Labuh,,huhuhuuu…

    ***Ya iyalah, emangnya langsung jadi kakek? Pernah jadi anak muda juga la yaw

  6. By unai on Dec 18, 2007 | Reply

    kenapa saya baru menemukan tulisan tulisan ini??? saya suka pak. Hmmm nostalgila :)

    ***He he … masa lalu adalah kehidupan ril, saat ini kondisi obyektif, esok kenyataan, kita hidup di lintasan waktu. Salam.

Post a Comment