Kasih Tak Bertepi
20 June 2007 | Ditulis oleh:Kasih Tak Bertepi
Oleh Hanna Fransiska
Malam itu, mimpi burukku. Ibu memanggil saat sedang asyik membaca buku pertama serial Harry Porter, And The Sorcers Stone. Seorang teman bermurah hati meminjamkan tadi siang. Begitu selesai makan malam, masuk kamar dan mulai membaca dengan asyik.
Aku tak pernah membayangkan. Kenapa ibu tiba-tiba mengumbar marahnya begitu dahsyat. Dua tamparan mendarat dipipi mengirim sakit tak terperi menusuk ke jantung hati. Sakit sesakit sakit merobek luluh lantak rasa hati nan tertikam dalam. Begitu kejamkah ibu yang sangat menyanyangiku?
?Dasar anak durka?, teriak Ibu kesetanan.
Tidak cukup sampai disitu: ?Anak tidak tau balas budi. Tidak tau terima kasih?.
Aku tidak menyalahkan. Ibu sudah jenuh dengan kemiskinan yang tak mau menjauh. Tapi, kenapa tega-teganya mengorbankan anaknya, buah hatinya. Kenapa Ibu berubah sedemikian cepat. Memaksakan kehendak yang tidak mungkin kupenuhi.
Aku baru saja lulus SLTP, remaja berumur 16 tahun. Karena ketiadaan biaya terpaksa putus sekolah. Mengikis cita-cita melanjutkan pendidikan, cita-cita yang akan membawaku terbang setinggi impian yang kandas dalam hardikan dan tamparan Ibu. Ibu ingin segera menikahkanku.
Yang menyilet hati, aku akan di ?ekspor?ke Taiwan ?ditukar? dengan fulus sebagai mahar Rp25 juta. Suatu jumlah yang tidak sedikit dalam hitungan keluarga kami yang papa. Tentu aku menolak.
Aku memaklumi Ibu. Batas kesabaran dalam kepapaan sudah tidak tertanggungkan lagi. Tetapi, ?menjualku? tentu bukanlah penyelesaian. Ibu yang sedari kecil memelihara, kog tega-teganya. Setan apa yang tengah menuntun Ibu.
Ibu murka. Mak Comblang yang mengiming-ngiming Ibu, tak kalah naik darah. Aku dimaki, sok cantik tidak tau diuntung. Aku tak peduli. Bagiku perkawinan bukanlah sesederhana itu. Ukuran kehidupan bukanlah materi, tetapi ada di relung hati.
Memang, sebagai anak Cina Singkawang aku banyak mendengar, teman-temanku dinikahkan dengan orang-orang sukses di Taiwan. Orang-orang kaya. Rata-rata telah berumur. Mereka mencari isteri orang Indonesia, khususnya amoy Singkawang yang terkenal cantik-cantik itu. Kini, kisah itu menghampiri diriku.
Aku betul-betul tidak mempedulikan Ibu, apalagi Si Mat Coblang. Sikapku bukan karena tidak tahu diuntung seperti kata Mak Comblang, justeru karena tau diuntung. Aku tidak akan membuatnya beruntung dengan ?menjual? peruntunganku. Aku betul-betul tidak mau bernegosiasi sedikitpun.
Walau dalam galau, aku bangga. Ibu tak bisa memaksaku, dan … memaksa Mak Comblang pergi dengan tangan hampa. Sakit makian dan tamparan Ibu, apalagi kata-kata Mak Comblang, sirna dalam ?kemenangan? mempertahankan prinsipku.
Sejak peristiwa memilukan tersebut, perdebatan segit menjadi hari-hari buruk dalam hubungan dengan Ibu. Aku tidak peduli dengan cacian ibu,masa bodoh mau dicap apa, aku lebih peduli bagaimana hari esokku.
Aku tidak mau bertengkar dengan Ibu dalam mengisi hari-hari kehidupan, dengan wanita yang melahirkan. Tapi, wajib membela hak, membela milikku. Aku memilih merantau meninggalkan kampung halaman dan keluarga tercinta.
***
Setahun berlalu. Di ibukota, kota Jakarta yang ganas, menantang, dan menggelar miliaran peluang, memulai perjuangan hidup dari bawah. Allah memberi pertolongan terbaiknya, sedikit demi sedikit. Aku diberi rezki. Alhamdulillah, kini hidupku agak layak. Aku bisa meringankan beban keluarga. Keluargaku bukan lagi bersarang di medan lumpur kepapaan.
Rupanya, kegalauan belum berakhir. Bak petir di siang bolong, rupanya adikku menjadi ?pahlawan? keluarga. Apa yang selama ini kutentang, dilakukannya.
Kakakku tercinta, begitu awal suratnya. Maaf sebelumnya bila mengecewakan kakak. Adik meninggalkan bangku sekolah. Adik tidak sekuat kakak. Adik tak tahan melihat ayah menganggur, menatap ibu yang tertekan. Sakit di hati kak. Jangan menyalahkan ibu. Pilihan adik tiada paksaan. Menikah akan lebih baik. Kutitipkan ayah dan ibu beserta adik-adik. Sesampai di Taiwan adik kabari kakak. Doa adik selalu menyertai kakak.
Salam rindu.
Aku membalas satu kalimat: ?Jangan! Jangan menjual hatimu, adikku?. Tapi, adikku sudah bertekad bulat. Aku cuma mengiringi dengan doa. Aneh, orang-orang berbahagia adiknya menikah, tetapi aku malah was-was dan gundah.
Tak berapa lama, aku mendapat surat kedua.
Kakakku yang manis.
Ini cerita perjalanan adik. Sungguh mengerikan. Dari Singkawang setiba di Malaysia, kami menginap di hotel. Mak Comblang meracuni pikiran kami agar mau menjual kegadisan. Mereka merayu dengan segepok dollar. Adik ketakutan dan mengancam akan melompat dari jendela bila mereka berani bertindak.
Bersyukurlah selamat sampai di Hongkong. Di Hongkong diperkenalkan dengan orang-orang yang lebih tua dari ayah. Adik dipaksa memilih satu diantaranya. Adik menolak. Bertahan sampai di Taiwan hingga tidak ada jalan untuk menolak. Pernikahan terjadi.
Kami mirip tarzan kota kak. Bahasa tarzan adalah alat komunikasi. Adik kini les bahasa mandarin. Kini, adik menjalani hidup normal.
Sampai sini dulu. Miz u …, bye.
***
Aku boleh bernafas lega karena adikku beruntung. Teman-teman ?seangkatannya? ada yang berusia 14 tahun. Paspor, visa tinggal, tembaaaaak … beres. Tembakan yang bisa mematikan masa depan generasi muda. Berapa banyak korban yang telah ?ditembak?.
Kehidupan adik kini mapan. Dia bersuami orang kaya, bekerja, dan berpenghasilan bagus. Dan … ibu pun bangga.
***
Roda kehidupan berputar. Ibu jatuh sakit, tiada yang merawat. Aku menunaikan rasa bakti. Ibu baru menyadari pentingnya anak-anak disisinya. Ibu merasa kesepian, anak-anaknya semua di rantau.
Satu-satunya yang menghibur hati dalam derita kesepian, Ibu menunjukkan ketabahan. Tetangga kami, banyak yang lebih malang. Sampai diakhir hidupnya tidak bertemu anak-anaknya. Bahkan, dihari penguburannya anaknya hanya mengirim uang.
Kedua adik lelakiku menjadi remaja, tak tahu penderitaan kakak-kakaknya. Mereka tingggal senangnya, ngak perlu kerja keras. Ada kakak di Taiwan, so gak perlu kerjalah. Angkat telepon, uang kiriman datang. Mereka bersandar kasih saudara.
Aku tak ingin mereka meraup derita seperti yang kami alami. Bekal kehidupan, kerja, kerja, dan kerja. Tabah, tabah, dan tabah. Sabar, sabar, dan sabar. Berjuangalah untuk hidup dan kehidupan dalam kasih. Hidup ditentukan dari usaha kita dalam kasih kehidupan.
***
Aku merenung perjuangan kehidupan, pahit getir adalah bumbu penyedap sukses. Tidak ada yang gratis di dunia, kecuali kasih Allah yang tak bertepi. Kita menangkap kasih Allah dalam perbuatan. Kasih tidak mengenal hitungan selain kekasihan. Hidup adalah samudera kasih.
Jakarta, 20 Juni 2007













10 Responses to “Kasih Tak Bertepi”
By Dp on Jun 21, 2007 | Reply
lho koq pada ke mane anak buahnya. posting dah lama blom ada yang respon
By yamin soedjiman on Jun 21, 2007 | Reply
Hai, teman baikku
maju terus, pantang mundur.
tulis lagi artikel yang menyentuh, menarik, mengharukan yang edukatif.
salam mesra
dari yamin.s
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 22, 2007 | Reply
Asslamu’alaikum.wr.wb.
Salam kenal dari saya, Irsan Finazli.
By hanna on Jun 22, 2007 | Reply
walah,nulis harus pakai respon anak buah ya,hehehe.baru tau lho.maklum baru belajar, saya anak kampoeng yang cuma punya ijazah sltp termotivasi menulis karena buku sang motivaror pemilik web ini.dari tidak bisa komputer sampai bisa hadir disini,brani tampil sudah menang selangkah dari pada cuma duduk dan melihat saja,iya ga? bagi saya:”kritik,ejekan bahkan penghinaan adalah pemicu semangat dan langkah saya untuk lebih maju.,tunjukan keroang-orang bahwa penilaian mereka itu salah,gitu lho.pujian justru penghancur langkah”.sabar ya,sabar itu dikasihi TUHAN lho,sabar itu ga pernah jamuran lho,hehehehe.trims ya………….
By hanna on Jun 22, 2007 | Reply
terima kasih kawan baikku,akan ditulis nanti bagaimana arti persahabatan itu.ceritakan keorang-orang bagaimana cara kita berteman yang bisa mendatangkan kesalahpahaman orang,hehehe.berbagi rasa tanpa peduli perbedaan usia atau sebagainya.
By Dp on Jun 22, 2007 | Reply
hanna, hanna ke mane aje. masi untung cuma jamuran. coba jadi dendeng. hi3
By hanna on Jun 23, 2007 | Reply
dendeng malah lebih lezat dari pada jamur.he5.saya baru aja mencari tempat yang udah jamuran,karna ditempat yang sudah jamuran saya mendapat sesuatu yang sudah dilupakan orang,serius lho.
By hanna on Jun 23, 2007 | Reply
salam perkenalan untuk saudara Irfan,meski tangan tak saling berjabat masih ada kata:”senang dapat berteman dengan anda”.saya baru belajar komputer n baru bisa dikit-dikit,kalau tidak keberatan minta emailnya ya.
By fLo on Jun 25, 2007 | Reply
bagus koq story nya….
nyentuh banget tapi banyak koq org yg ngalamin hal yg lebigh buruk en derita dari kmugh…. tapi salut koq ama perjuangan nya….
By Maghfira Mimi on Jun 25, 2007 | Reply
Wow emang benar perjuangan hidup masih panjang so jangan kalah ama yg namanya penderitaan ya nggak han…begitu juga dengan cerpen-cerpenmu semakin lama semakin so good, nggak memuji tapi kenyataan lo…