Wanita Karir

19 June 2007 | Ditulis oleh: |

Wanita Karir
Oleh: Nellawati*

Pergulatan hidup di zaman kapitalis memaksa kaum wanita keluar dari sarangnya dan melepas tabir kodratnya. Ada yang memang yang terpaksa bekerja untuk menambah penghasilan keluarga atau malah menjadi tulang punggung keluarga, atau sekedar menunjukkan eksistensi. Yang terakhir memahami, bisa melakukan apa saja yang bisa lakukan pria. Dalihnya, kesetaraan gender.

Wanita karir, bekerja fulltime, tidak cuma di Indonesia tetapi merupakan fenomena global. Setidaknya, ada dua hal yang penting dicermati. Pertama, berkarir dilandasi kebutuhan menghidupi keluarga. Kedua, adanya isu gender yang dipropagandakan oleh kaum feminis. Menurut mereka, laki-laki dan perempuan setara dalam segala aspek kehidupan. Apabila laki-laki bisa menghasilkan uang, mengapa perempuan tidak? Perempuan bisa mandiri dan tidak perlu tergantung pada laki-laki. Laki-laki tak boleh semena-mena karena perempuan punya hak yang sama.

Sepintas upaya kesetaraan gender sukses membawa wanita pada martabat lebih tinggi. Peolehan materi, eksistensi, ketenaran sampai naiknya kedudukan dan status sosial. Namun, benarkah demikian adanya?

Hakikatnya, perempuan secara kodrati berperan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga sesuai dengan tabiat keperempuanannya. Perempuan diamanahi memikul tanggung jawab menjadi ibu yang akan hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Sekarang mesti ditambah dengan aktivitas yang harus dilakukan oleh mitra hidupnya, laki-laki, mencari nafkah. Ketika itu terjadi, tentunya akan ada amanah yang terlalaikan.

Perempuan adalah tiang negara. Apabila seorang perempuan sudah tak bisa me-manage keluarga, gagal dalam membentuk pola generasi kini dan akan datang, maka bisa dibayangkan kehancuran yang datang perlahan-lahan.

Fenomena wanita karir bukanlah sesuatu yang kebetulan. Jika kita telusuri lebih jauh, gejala di atas merupakan hasil rekayasa Barat yang menginginkan kehancuran peradaban Islam. Bagaimana tidak, dengan gagasan wanita karir, muslimah yang semestinya mencetak generasi-generasi emas, pemimpin masa depan dan para problem solver, malah sibuk dengan dunianya sendiri serta meninggalkan peran yang sesungguhnya. Anak-anak tidak terdidik dengan semestinya, rumah tidak terurus dengan baik, dan kemungkinan terburuk kehancuran institusi keluarga.

Islam telah mengatur peran muslimah di sektor domestik dan peran di sektor publik. Mempunyai tugas dan kewajibannya masing-masing. Sebagai manusia, punya hak dan kewajiban yang sama, yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Perempuan bisa beraktivitas di luar rumah, namun dalam batas-batas yang digariskan syariat. Perempuan berhak dan wajib menuntut ilmu dan mengembangkan potensi dalam profesi yang ditekuninya. Namun, tetap tidak melupakan tugas utama sebagai ibu dan pengelola rumah tangga suaminya. Tak ada perbedaan antara keduanya kecuali dari sisi ketakwaannya.

Secara kodrati, memang ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan sesuai tabiat dan kekhasannya. Hal ini sejatinya tak bisa ditukar-tukar. Hendaknya ini justru membuat laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan bersinergis. Pastinya klop sekali!
Prestasi seorang muslimah dinilai dari sukses tidaknya ia menjalankan peran-peran yang telah ditentukan Allah SWT, bukan dari banyaknya materi atau status sosial di masyarakat.

*Mahasiswa FKIP UNLAM (EWA?MCo).

  1. 3 Responses to “Wanita Karir”

  2. By esa on Jan 24, 2008 | Reply

    Iya bener juga Pak..
    masih kontroversi sih soal perempuan bekerja..
    tp kadang ga semua lelaki sadar ut menafkahi keluarga..

  3. By Nafis on May 13, 2008 | Reply

    wanita karir sebenarnya bebannya sangat berlipat2. beban di dunia kerja, pekerjaan dirumah, ngurus anak-suami. keluarga harusnya mendukung, apalagi suami. maka suami harus benar-benar sadar kewajiban nya untuk menafkahi keluarga.

  4. By Lidya on May 19, 2008 | Reply

    benernya memang perempuan harus bisa menerima kodratnya sebagai wanita, tetapi alangkah baiknya jika wanita tersebut punya nilai lebih sehingga dihargai oleh suami, tidak harus bekerja full time, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri, atau membuat hal lain yang bermamfaat dan berprestasi sehingga para istri dapat mempraktekkan pendidikan yang sudah lama ditempuhnya tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga…..

Post a Comment