Senandung Kehidupan

19 June 2007 | Ditulis oleh: |

Senandung Kehidupan
Oleh Hanna Fransiska *

Hari ini pembagian rapor. Seperti tahun-tahun lalu, namaku tetap menjadi yang pertama. Juara umum. Kebanggaan yang mestinya dapat kutunjukkan kepada orangtuaku. Tapi sayang, aku tidak bisa membawa buku rapor pulang. Ayahku hanyalah kuli dengan pekerjaan tidak menetap. Ibuku pembantu Rumah tangga.

Setiap pembagian rapor, aku mendapat panggilan guru. Tentu bukan karena aku murid nakal, melainkan uang sekolah yang belum dibayar. Kali ini, setahun tidak mampu kubayar sepeser pun hingga harus menghadap Kepala Sekola. Aturan sekolah sederhana saja, bila tidak melunasi uang sekolah, rapor tidak dibagi.

Sekalipun demikian, aku tetap merasa beruntung. Kalau siswa-siswa lain membayar tiap bulan, aku dipanggil tiap bulan karena tidak mampu membayar uang sekolah. Untungnya aku masih diperbolehkan sekolah. Belajar seperti biasa, tetapi buku rapor tidak bisa dibawa pulang.

Guru-guru dan Kepala Sekolah selalu berbaik hati. Mungkin, mereka iba melihat tubuh kecilku yang ringkih, namun punya keinginan belajar yang besar. Yang pasti, prestasi selalu yang terbaik.

Sesampai di rumah aku bingung. Bagaimana caranya menyampaikan masalah ini kepada Ibu dan Ayah. Uang sekolah harus segera dilunasi sementara aku tahu persis, nasi yang kami makan hari ini didapat dari pinjaman beras tetangga.

Kutatap keempat adik-adikku yang asyik bermain. Mereka gembira berlarian kesana-kemari di ruang yang sejuk dimana angin terbang bebas karena dindingnya berlubang-lubang. Kalau malam datang menebar dingin menyelimut tubuh. Sebuah tikar usang terhampar disana. Tidak ada bantal atau guling penghangat. Kala hujan tiba, kardus yang mengatapi rumah tak mampu menahan rintikan air hujan. Semua itu hampir membuatku menyerah.

Aku ingin sekolah, aku ingin menjadi pintar. Setiap hari doa kupanjatkan agar Tuhan memberikanku penyelamat. Aku belajar dengan tekun walau hanya diterangi sinar dari lentera minyak tanah. Semuanya itu aku lakukan agar aku bisa mendapat beasiswa.
Seragam putih yang sudah mengecil dan penuh tempelan kain sisa tak pernah bisa berganti. Rok merahku warnanya memudar menjadi pink dan semakin memendek. Sepatuku semakin sempit dengan robekan di ujungnya menampakkan kedua ibu jari kaki, seolah menertawakan nasibku. Kantong kresek adalah tas sekolah resmiku.

Jarak yang cukup jauh antara rumah dan sekolah tidak mampu mengalahkan semangatku untuk menuntut ilmu. Panas sinar mentari, sejuknya dingin air hujan, justru menjadi pemacu langkah untuk terus dan terus pergi-pulang ke sekolah.
Aku ingin menimba ilmu. Ejekan dan cemoohan teman-teman tidak pernah kutanggapi. Ke sekolah bukan untuk dinilai, tetapi menuntut ilmu. Aku pun bekerja menjadi pencuci pakaian walaupun di upah minim. Yang penting dapat membiayai sekolahku. Akhirnya berhasil lulus sekolah dasar sekalipun rapor belum di tangan.
—*—
Kini aku seorang remaja. Aku bersyukur dapat melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku tidak ingin adik-adikku tidak bersekolah karena ketiadaan biaya. Aku bekerja lebih keras dan lebih giat. Seusai sekolah berkeliling menjajakan kue setelah itu mencuci pakaian. Malamnya aku belajar.

Meskipun uang yang kudapat merupakan usahaku sendiri, aku tidak pernah menikmatnya untuk jajan. Buku yang kupakai pun kusalin sekecil mungkin agar tidak cepat habis. Aku berusaha sehemat mungkin, menggunakan uang sebaik-baiknya.
Cobaan memang tidak pernah diundang. Hari yang berat itu tiba. Sehari sebelum ujian, Ibuku mengalami kecelakaan. Petaka yang seolah mengkiamatkan dunia. Secepat angin, aku berlari menuju ke rumah sakit. Air mata yang sangat kubenci untuk keluar tak dapat kutahan lagi. Kupeluk ibu yang bersimbah darah.

Ibu banyak kehilangan darah. Kepala ibu yang bocor. Aku syok. Entah harus bagaimana. Aku begitu terpuruk dengan beban derita. Ibu harus dirawat inap. Semalaman kutunggui dengan perasaan tegang dan tak menentu. Tak hentinya berdoa untuk keselamatn Ibu. Tapi Ibu tak kunjung jua terjaga.

Denting suara jam dinding menandakan hari sudah pukul lima pagi. Aku hampir mati kebingungan. Apakah berangkat ujian tanpa persiapan ataukah menjaga Ibu saja? Ibu sadarlah, ananda harus ujian pagi ini, aku lirih memohon dalam hati. Ingin kutinggalkan ibu dan membiarkan ayah yang menjaga tapi rasa khawatir membayangiku kalau terjadi apa-apa. Ayah kan tidak bisa berbahasa Indonesia.

Ketika jam menunjukkan pukul enam pagi kuberanikan ke sekolah mengikuti ujian. Aku mohon maaf kepada ayah, terpaksa meninggalkan ibu untuk sementara. Bukan! Bukan karena aku anak yang tak berbakti. Sungguh bukan karena itu.
Di hari ketiga opname barulah Ibu sadar. Rasa syukur dan terharu tak terbendung hingga kami sekeluarga menitikkan air mata. Satu masalah usai sudah walau menyisakan satu masalah lainnya. Bagaimana biaya pengobatan? Kemana harus kucari uang sebanyak itu?
—*—

Dengan langkah gontai seolah tak bertenaga, aku berjalan menuju kantor polisi berharap agar orang yang telah menabrak ibu bermurah hati membantu biaya pengobatan. Malang, lain yang diharap lain yang didapat. Aparat kepolisian malahan menyalahkan: ?Ibumu yang salah kog sampai ditabrak ?orang besar??. Saran saya, katanya, ?jangan mempersulit diri sendiri?.
Ya, kami memang ?orang kecil? yang seharusnya dilindungi. Tetapi dunia ini bukanlah dunia seharusnya, dunia adalah realitas.

Realitas sosial tidak pernah berpihak pada ?orang kecil?, dunia adalah milik ?orang besar?. Padahal, mereka adalah orang kerdil. Mereka boleh saja ?orang besar? yang berkuasa, tapi hati mereka kerdil. Dompet mereka memang tebal, tetapi rasa kemanusiaan mereka begitu tipis. Uang seratus perak pun jauh lebih tebal dari pada perikemanusiaannya. Kasihan mereka, berekonomi kelas tinggi tapi bertingkah laku bawahan.

Tidak ada jalan lain selain memecahkan tabungan. Lembaran-lembaran uang dan recehan berhamburan di lantai ketika celengan kupecahkan. Kupandangi pecahan celengan yang membaur bersama rupiah yang terhambur di depanku. Celengan yang menyimpan harapanku hancur sudah, sama hancurnya seperti impianku. Tamat sudah. Kandaslah semua.
Tetapi semua itu tidak cukup. Satu-satunya jalan meminjam uang kepada tetangga untuk menutupi biaya perawatan Ibu. Hutang keluarga semakin menumpuk.
—*—
Cobaan demi cobaan, derita demi derita, nampaknya nyaman menemani hidupku. Niatku bulat, bertekad memperbaiki nasib, ke ibukota. Sayangnya niat dan tekad saja tidak cukup. Untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah perkara mudah. Apalagi, sandal jepit dan baju usang yang kukenakan membuahkan tampilannku bak pengemis. Setiap tempat yang kudatangi tak mau menerima.

Akhirnya aku tiba di sebuah toko. Dengan segala pengharapan tersisa, kumohon dengan amat sangat kepada pemilik toko aku diterima bekerja. ?Diupah sesuap nasi dan tempat berlindung saja cukup dengan imbalan semua tenaga yang kupunya. Tolonglah Pak, jangan lihat penampilanku. Walau dekil hatiku tak sedikit pun berdebu. Biarpun pakaianku jelek, kerjaku tak akan sejelek pakaianku?, kata-kataku keluar begitu saja.

Aku diterima. Semua pekerjaan kukerjakan sungguh-sungguh, berkobar seperti semangat hidupku yang besar. Karena kerja keras dan ketekunanku, Sang Majikan memberi upah lebih. Akhirnya aku mampu melunasi hutang keluarga dan membantu keluarga.
Hanya saja, ratap kesedihan masih saja menggoda. Karena penampilanku yang terkesan dekil, teman sekerja tak ada yang mau berteman denganku. Entahlah, mungkin mereka merasa lebih cantik dan lebih hingga tidak sudi berdekatan denganku. Mereka boleh saja takut dengan penampilanku yang kotor namun seharusnya lebih takut pada kekotoran hati mereka sendiri.

Hari-hari kulewati berakibat aku tak bisa melanjutkan sekolahku. Aku tidak menyerah. Aku giat membaca. Aku yakin dengan membaca bisa belajar. Buku-buku kupinjam kepada majikan. Disamping menambah ilmu dan rekreasi pikiran, membaca untuk mengisi waktu luang. Satu lagi kegemaran baruku, ketika kesedihan merudung hati, kepada kertaslah aku bercerita. Bersama pulpen yang menari di atasnya aku berbagi rasa. Aku jatuh cinta pada kata. Kutemukan keindahan disana.

Keinginan untuk terus belajar membawaku pada suatu keberuntungan. Dari seorang pembantu yang kerjanya mencuci pakaian, mengepel lantai hingga memasak, aku dipercaya bekerja di toko. Sungguh sesuatu yang tak kusangka-sangka.
Dengan semangat yang tinggi kujalankan pekerjaanku itu. Dalam waktu relatif singkat aku sudah lihai dan menguasai pekerjaanku. Gaji semakin besar karena hasil kerjaku memuaskan Sang Majikan.
—*—

Suatu hari aku meminta majikanku untuk mengajariku pembukuan. Aku ingin membalas kebaikannya dengan membantunya sebisaku, aku ingin meringankan beban kerjanya. Sekaligus ingin membuktikan bahwa potensi manusia tidak bisa dilihat dari apa yang dikenakannya juga bukan dari apa yang dikatakannya atau juga dari bagaimana rupanya, melainkan dari apa yang bisa ia lakukan.

Setelah tiga bulan mendalami pembukuan aku menguasai seluk-beluknya. Majikanku sangat senang. Aku dipercaya mengurusi semua toko milikinya. Tentu merupakan kehormatan dan sanjungan bagiku. Dengan kerja keras dan keuletan untuk bekajar, aku bisa meraih hasilnya sekarang.

Dengan kepercayaan yang diembankan padaku, tentulah diiringi gaji yang cukup besar. Dari penghasilan inilah, perlahan aku dapat mengangkat perekonomian keluarga. Dengan semua hasil yang kuperoleh ini, banyak hal yang bisa kuraih. Nasi putih yang dulu tak pernah kunikmati sekarang dapat kusantap dengan bebas.

Namun semua keberhasilan tak lantas membuatku puas. Aku masih ingin terus belajar dan belajar lagi. Belajar dari alam, belajar dari pengalaman, belajar dari orang lain, belajar dari buku, pokoknya aku ingin terus belajar pada apa pun dan pada siapa pun. Bahkan aku ingin belajar dari kemiskinan sekalipun. Karena dari kemiskinan itulah menyadari bahwa aku telah belajar banyak.
Di dalam kemiskinan aku mengerti bagaimana kesusahan. Di dalam kesusahan aku memahami perjuangan. Di dalam perjuangan kuperoleh ketegaran. Dan ketegaran itulah yang menghadiahkanku arti kehidupan.

Jakarta, medio April 2007

  1. 9 Responses to “Senandung Kehidupan”

  2. By budi gunawan jaya on Jun 20, 2007 | Reply

    c,saat g baca karangan u,air mata g uda keluar,g sgt bangga punya cici kyk u.g pgen bs kyk c,bjr n bjr.

  3. By budi gunawan jaya on Jun 20, 2007 | Reply

    g adalh slh stu saudara yg punya karangan cerita senandung kehidupan,cerita ini emank asli khidupan hanna.c wo yung yen hui gei ni cia yu.

  4. By Corina Cong on Jun 22, 2007 | Reply

    Me………… bagus banget karangan na, hik2 T.T
    cor bnr2 salut ma me, ternyata apa yg me perjuangin semua itu ga sia2 yar, moga me ga pna berubah sampe kapanpun.. tetep me yg dulu, me2 yg cares, me2 yg understanding, n me2 yg berhati emaz.. cor will always support me. acha2 fighting ^^
    cor juga mo blajar jejak me yg bae, sukses 4 me yar..muach!
    luv ya aunt^0^

  5. By roy on Jun 22, 2007 | Reply

    om apak kami diijinkan untuk copy paste tulisanya terutama yang menyangkut kepahitan hidup.

  6. By merry on Jun 25, 2007 | Reply

    Nice nice cerpen

  7. By Romy Ariesta on Jun 25, 2007 | Reply

    Itu cerita bagus banget.jarang sekali orang punya fighting spirit kayak gitu.semoga cerita di atas bs menjadi patokan bagi kita semua,bahwa masih banyak jalan untuk memecahkan suatu masalah,selagi kita masih mau berusaha.

  8. By Shintya Oktora on Jun 26, 2007 | Reply

    cerita na bagus banget..
    jaman skrg udah sedikit org yg bisa punya fighting spirit kek gt biasa na mereka pasti nyerah gt aj…
    setelah baca cerita d ats jd nambah fighting spirit ^^
    jd mo mengikuti jejak kek gt ^^

  9. By bustomi on Jul 6, 2007 | Reply

    Hidup memang sebuah pilihan. Tidak memilih pun merupakan suatu pilihan. Begitupun dengan cara memandang kehidupan, pepatah mengatakan takkan pernah cukup bila seluruh dunia dan isinya diberikan kepada seorang manusia. Yang merasa tidak pernah berkecukupan sepanjang waktunya.

    Hiduppun akan selalu merasa kurang, ketika orang lain mendapatkan lebih. Sujud syukurpun akan terlewat ketika yang diterima tidak sebanyak harapan.

    Sebaliknya terdapat seorang insan manusia selalu merasa berkecukupan atas karuniaNya, karena hatinya selalu menerima dengan keiklasan. Yang diterima dan dikuasainya sesungguhnya bukannya hartanya, sesungguhnya harta bendanya adalah segala nikmat didunia yang diberikan kepada sesamanya.

    Cerita ini mengilhami kita untuk selalu belajar dan memandang kehidupan dari sisi positif. Belajar tidak harus selalu memiliki, belajar tidak hanya milik orang yang berpunya. Semua manusia haruslah belajar, untuk bisa hidup kita harus selalu belajar.

    Hari ini kita telah belajar.

  10. By Theresia Esti Wulandari on Jul 19, 2007 | Reply

    I have known hanna francisca for years, first time I met her she looked very ordinary, in fact there is something special inside her…then I have realised that she is such a very tuft woman just like unbeatable sword. She has been working hard to improve herself, she gives endless efforts, unlimited time in order to take any learning opportunities. Under any circumstances she has made a great job by writing short stories. Now, she has been left by her english classmates but I know for sure she won’t stop learning.

    I always admire her as one of my best students, hope we learn a lot from what she wrote as she has given us the truth of what life is…By reading her stories, we will be more motivated and look this world in a very positive way. Suffering and happiness are the colors of life itself..we should not be afraid of anything…we just have to fight endlessly to win this life in the hands of God…

    KEEP ON FIGHTING….!!!!

Post a Comment