Sabar: Sebuah Anatomi

15 June 2007 | Ditulis oleh: |

‘Amru Khalid, penulis buku Kal?am Min al-Qalbi, edisi bahasa Indonesia Dengarkan Suara Hati (2005: 215) menulis tentang tingkatan sabar, sabar dalam taat, sabar untuk tidak bermaksiat, dan sabar menghadapi cobaan. Mana yang paling tinggi?

Sabar untuk kategori pertama adalah yang paling tinggi. Sabar pada tingkat paling tinggi ini langsung berkoneksi ke Allah dalam pengertian, pabila dipraktekkan akan mendapat ganjaran berlipat dari Allah. Lagi pula bukankah apabila sesorang taat kepada Allah otomatis tidak akan melakukan selain yang diperintahkan-Nya?

Sabar untuk tidak melakukan (ragam) maksiat, mungkin paling berat dijalani karena mencakup ranah melawan nafsu. Melawan nafsu, ego, dan hal-hal menyangkut diri sendiri tidak akan pernah habis selama manusia hidup. Inilah medan perjuangan manusia, kalau perlu berjihat fisabillah untuk yang satu ini.

Dalam kehiduan sehari-hari, dalam berbagai hal tersedia moda ?penyaluran?. Intinya bagaimana memenej diri agar jangan terseret. Ini seni tersendiri dalam kehidupan. Allah telah menunjukkan dan memberi petunjuk mana hal-baik, mana yang buruk, mana halal mana haram. Artinya, tergantung inisitaif manusia.

Sebenarnya, apabila tingkat sabar paling tinggi telah melekad otomatis kita akan terhindar dari segala bentuk nafsu maksiat, apalagi ?hanya? sekadar sabar menghadapi cobaan. Sabar dalam taat adalah puncak sesungguhnya kehidupan manusia.

Persoalan kita, untuk sekadar menghadapi cobaan, baik yan datang dari Allah, menghadapi cobaan dalam keluarga, isteri, anak, orang tua, dan kolega saja kita tidak sabar. Menjadi persoalan besar yang bisa merusak sendi-sendi kehidupan. Betapa dangkalnya tingkat kesadaran sabar kita.

Tetai tidak mengapa, kita selalu punya alasan, kita kan manusia, bukan malaikat. Yang penting menyadarinya dan berusaha melakukan. Janji Allah, jangankan melakukan apa yang diperintahkan, berniat saja sudah dihitung sebagai pahala. Waduh, betapa mudahnya aturan Allah dalam memberi reward.

Sabar karena itu, jangan sampai diartikan berserah diri sepenuhnya, fatalis, begitulah takdir, ya jalani saja ketika menerima cobaan. Toh, cobaan it datangi dari Allah juga. Kalau demikian, sungguh logika yang salah dari premis awalnya.

Sabar adalah pantulan aktif, pantulan prediktif, dan korektif setelah sesuatu terjadi agar semua itu dijadikan untuk lebih baik dalam tindak ke depan. Sabar, jangan sekali-kali dimaknai sebagai menerima apa adanya. Menerima setelah berusaha dan berupaya melakukan sesuatu yang baik sebaik mungkin, hasilnya yang diterima sebagai reaksi sabar.

Tidak jarang kita keliru memaknai cobaan. Cobaan dianggap sesuatu yang selalu negatif. Padahal, bukankah dibalik cobaan, dibalik kegagalan, selalu ada pelajaran? Bukankah pelajaran adalah tuntunan kehidupan sesungguhnya apalagi langsung dialami.

Sekali lagi, mari kita melatih diri menghadapi berbagai cobaan dengan sabar, memenej diri melawan nafsu, dan kemudian sabar dalam taat kepada Allah SWT. Jalan pintas paling ringkas, dapat dimulai dari yang pertama, taat kepada Allah dan hal-hal dibawahnya akan otomatis ikut. Kalau Sampeyan mampu melakukan yang terakhir, sungguh karunia tak terhingga.

Selamat sabar dan bersabar, sabar datang dari dalam diri.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 5 Responses to “Sabar: Sebuah Anatomi”

  2. By phetex on Jun 15, 2007 | Reply

    menulis perlu sabar, begitupun menulis ’sabar’ perlu sabar. berkat sabar tumbuh subur inspirasi, inisiatif, dan kreativitas. bermunculanlah judul-judul mengenai ’sabar’. ditulis dengan sabar untuk menulis ’sabar’. berkat sabar lalu kebanjiran (subur pula)dengan pahala dari Allah SWT. pada urusan ini oleh Amru Khalid, sebagaimana di tulisan ’sabar:sebuah anatomi’ini, ternyata karena sabar pada tingkatan kepala dari anatomi sabar itu. Waah benar ya, sabar menyebabkan subur pahala, subur kreativitas. ini bukan bela-belain dp loh, tapi dari ’sabar subur’-nya itu, yash terinspirasilah begitu kira2. he he he. soal ‘bisa jualah sampean sabar’-nya windede, lagi2 sesak makna dan tafsir. ha ha ha ha ha, sabar bos, sabaaaar! utk itu komentar berikut deh.

  3. By windede on Jun 15, 2007 | Reply

    sungguh, butuh kesabaran ekstra untuk meng-anatomi-kan serial tulisan sabar sampeyan ini; setidaknya untuk satu pertanyaan penting: sesabar apa sih sampeyan sekarang? hihihi…

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 16, 2007 | Reply

    Biasanya kita termotivasi untuk melakukan sebuah perubahan setelah mengetahui ada yang aneh dalam diri kita, entah itu dari sadar intern maupun ektern (orang lain). Nah, saya belajar sabar salah satunya ya dari menulis tentang sabar dan lebih baik lagi sebelum menulis tentang sabar, kita membaca dulu buku-buku tentang sabar yang ditulis oleh ulama. Sehingga apa yang akan kita capai tidak melenceng dari syar’i artinya bukan sabar semaunya sendiri.
    Resep manjur untuk bisa sabar, ya membaca buku2 tentang sabar, mendengarkan taujih2 kesabaran, mendatangi ustadz atau tuan guru untuk diberi nasihat tentang sabar. Intinya adalah kita kudu menjemput hidayah sabar ini, bukannya nunggu datangnya ilham agar sabar. Sekali lagi jemputlah kesabaran itu, setelah didapat segera di-ri’ayah (maintenance) jangan dilepaskan atau ditanggalkan ditempat recycle bin dll.
    Do’a saya, semoga kita TERMASUK salah satu dari mereka yang tergolong orang-orang yang sabar, amin yarobbal’alamin.
    Salam sabar dari saya, irsan.

  5. By helgeduelbek on Jun 16, 2007 | Reply

    Benar bahwa nyawanya sabar adalah soal kedekatan dengan Yang Maha Pencipta. Raganya ada dalam setiap manusia yang bernyawa. Nutrisinya adalah siraman-siraman berupa perenungan yang mendalam, penyadaran akan tujuan hidup. Dan itu adanya tidak di awang-awang tapi ada di bumi, maka setiap saat uji sabar selalu kita hadapi, masalahnya kembali sejauh mana tingkat kedekatan diri kepada sang Kholiq, lulus uji atau tidak, mari kita lihat ke dalam diri masing-masing.

  6. By ari on Nov 6, 2008 | Reply

    sabar :adalah mengikuti kehendak Allah Semata,
    dan mencampakan kehedak diri sendiri!!!

Post a Comment