Sabar: Melatih Diri

15 June 2007 | Ditulis oleh: |

Banyak cara melatih sabar. Pengetahuan tentang sabar sudah kita dapatkan sejak kecil. Lengkap dengan manfaatnya yang tidak terhingga. Yang sulit, seperti hal baik lainnya, mempraktikkannya. Jujur saja, bisa jadi saya bukanlah orang yang sabar, setidaknya tidak sabaran.

Karena itu, sejak beberapa tahun belakangan serius melatih kesabaran. Saya membeli puluhan buku-buku agama dan psikologi setelah ?sadar? pemahaman tingkat sabar dan kesabaran perlu dibenahi. Langkah pertama, mengaku pada diri, jujur pada diri, bahwa kesabaran perlu dilatih.

Berikutnya, memahami apa saja yang dialami, mengkaji perbuatan dan kelakuan sehari-hari. Tidak mudah tenyata sobat. Sebab, saya memang bukan malaikat atau orang baik seperti Sampeyan. Saya menemukan suasana batin luar biasa sedap. Bercengkrama dengan diri, memaki dan mengingatkan, namun tentu melalui perjuangan keras. Pada awalnya, tertatih-tatih. Tetapi, jalan terus.

Misalnya begini. Kampus tempat saya bekerja, universitas Lambung Mangkurat (Unlam) sering dipahami ?orang luar? sebagai universitas Lampung. Teman-teman mengeluh soal website Unlam yang, gimana gitu. Muncul ide membuat majalah UnlamView. Tidak tanggung-tanggung, saya cetak dengan kertas luks, bahkan jauh lebih bagus dari majalah Tempo dan Gatra. Tapi, jangan bandingkan isinya ya, bisa malu kawanmu ini, he … he …

Itu belum seberapa. Dibantu Erwin D. Nugroho, saya tampilkan edisi mayanya, www.unlamview.com. Tentu saya harus mendulang uang puluhan juta untuk membiayainya. Karena punya link cukup bagus, dana tidak masalah. Nah, kemudian banyak yang menduga didanai Unlam. Demi Allah, sama sekali tidak. Tidak sepeser memakai dana Unlam.

Mungkin saja mereka yang menduga-menduga, sesuai pengalamannya. Kalau berinisiatif berarti ?proyek?. Lucunya, ada yang marah-marah, kenapa tidak tiap bulan terbit, kenapa up date website tidak kontinyu, dan berbagai hal ?baik? lainnya.

Dongkol juga —namanya latihan sabar— kenapa tidak Unlamnya yang disoal. Saya kan sudah berinisiatif, mengeluarkan dana, tenaga, waktu, dan mengorbankan perasaan. Kalau berani soal dong situs resmi Unlam yang tentunya ada yang mengurus. Orang-orang logikanya kog demikian sih. Akhirnya saya bawa ketawa saja, dapat bahan lelucon ?kebodohan massa?.

Dari situlah muncul kata-kata saya: Jangan pernah memikirkan orang lain, biar orang lain sibuk memikirkan apa yang kita lakukan. Sungguh tidak mungkin menghabiskan waktu untuk mengurus UnlamView baik versi cetak maupun versi maya. Itu hanya pekerjaan selingan, iseng yang menyenangkan.

Karena itu, manakala harus meneliti, menulis buku, artikel, memelihara ikan dan ayam —sumber finansial saya, itu yang diutamakan. Bila uang agak lumayan dikerjakan lagi. Saya tidak terlalu yakin apakah terkategori sabar atau tidak.

Yang pasti, tidak merespon berbagai pelecehan atau pun tuduhan. Biarlah. Itu urusan orang bukan urusan saya. Saya tidak menuntut apa-apa. Hanya bekerja manakala menyenangkan, dan . . . meninggalkan apabila ada yang lebih penting. Sederhana sekali.

Maksud saya, banyak hal menyangkut relasi sosial, kehiduan sosial, dan sebagainya yang dimaknai dengan tidak mau berperkara. Saya tahu apa yang dilakukan. Mungkin berbau egois, tetapi begitulah satu kiat melatih sabar. Suatu saat kelak mungkin akan sabar memberi keterangan. Kini, gua udah berkontribusi kog disoal, yang tidak berkontribusi aman-aman saja.

Kini, banyak hal menimpa diri, dibiarkan saja dengan sabar, tidak disoal balik. Saya sedang mencari kiat-kiat jitu lainnya melatih sabar. Sampeyan mungkin punya resep sendiri. Kalau ada yang khas, bagi-bagi dong biar manfaatnya melebar.

Sabar tidak datang sendiri, sebab perlu dilatih. Mari melatih sabar agar kita lebih arif dalam hidup dan berkehidupan. Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 7 Responses to “Sabar: Melatih Diri”

  2. By phetex on Jun 15, 2007 | Reply

    soal speedy bos, untuk orang-orang yang gak betah sabar sangat pas loh, hi hi hi. apalagi dengan komputer secanggih anda punya berspeedy waah bisa2 itu jari belum nyentuh tuts keyboard kalimat udah nonggol di monitor, atau jangan2 malah tulisan jadi yang nongol, misalnya mau nulis artikel ’super speed’ atau ’speed king’ tau-tau nongol ’speed king versus as sobar’dengan segala isinya, he he he. sabar bos-lah, sabaar, bakawan tukang maulu-maulu pang pian.

  3. By didi junaedi hz on Jun 16, 2007 | Reply

    Practice makes perfect! Demikian ungkapan sebuah kalimat bijak sarat motivasi. Ya, kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan latihan yang ulet, tekun, sinambung, pantang menyerah dan tentunya, sabar.
    Kesabaran adalah sebuah tindakan bijak, proses melatih diri, memenej sikap, mengatur ritme kehidupan, kapan bertindak dan kapan diam. Ketika hidup berjalan sesuai ritme, maka ketenangan dan kedamaian yang akan kita dapatkan. Sebalimnya, hidup tanpa ritme, ibarat berjalan tanpa arah. Kesabaran adalah cara kita mengatur ritme hidup, melatih diri menentukan arah yang hendak kita tuju. Hanya dengan kesabaran, hidup lebih tertata, teratur dan terarah. Maka, jangan pernah berhenti berlatih mengatur ritme hidup. So, bersabarlah, maka kesempurnaan hidup akan kita raih.

  4. By suci on Jun 16, 2007 | Reply

    beneran nih pa, Unlam View cuma proyek selingan? wah, in fact I’m dying to involve in it. it’s a real magazine-a-must-to-have 4 everyone who “breathe” in Unlam. anyway, saya “sabar” kok nungggu majalah ini terbit lagi.
    talk about passion, pelatihan 30 hari dari Bapak sudah ngasih saya latihan kesabaran. sabar saat komputer saya yang memang sudah artefak (apalagi menurut Bapak) itu kambuh penyakitnya dan sekejap tulisan yang saya buat selama dua jam hilang, sabar saat jaringan internet eror waktu mau ngirim tulisan ke Bapak, sabar untuk melawan ngantuk karena harus menyelesaikan artikel yag harus segera dikirim. dan akhirnya kesabaran berbuah manis, saya jadi cinta menulis. kalau jago? tentu masih sangaaat jauh.
    one question, do you think you are the one who can be passion when you face someone who always argue with everything you’ve said?hehe…

  5. By helgeduelbek on Jun 16, 2007 | Reply

    Pertempuran antara hasrat kuat kadang memang mengalahkan kesabaran. Orang mau kaya kalau gak sabar, kemudian ada kesempatan yah korupsi.
    Orang mau pinter tapi gak pinter yah beli gelar, herannya orang mau saja ditipu dengan manusia pembeli gelar.
    Sebuah kalimat jawa ” alon-alon waton klakon alias santai saja.

    Seperti orang yang pingin hebat menulis tapi gak sabar pingin langsung bagus tulisannya yah susah, tidak sabar untuk mengayunkan penanya di atas kertas. Yang ini mah seperti saya hahahaha. Makasih supportnya bang.

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 16, 2007 | Reply

    Seorang manusia yang berjiwa mujaddid (pembaharu) adalah dia yang bisa mendidik, mengelola, melatih, memperbaiki, mengevaluasi diri sendiri. Sehingga ketaqwaannya semakin meningkat dan derajat keimanannya juga meningkat.
    Oleh karena itu setiap kita haruslah berusaha menjadi seorang mujaddid itu. Hidup sang mujaddid..!!! Allahu Akbar!!!
    Salam mujaddid dari saya, irsan.

  7. By hanna on Jun 17, 2007 | Reply

    mungkin pernah dengar kata ini”KAMU SIH JADI ORG TERLALU SABAR”.apa benar terlalu sabar juga ga baik?pernahkan ketemu org yg jelek adatnya?menghadapi org yg emosional,auban alias keras kepala kan rada susah, malah dianggap bloon lg,padahal kita sedang bersabar.1lg sabar itu kan ada batasnya,setuju?ini kisah seorg guru bahasa inggris yang mengelesin seorg anak yg bandelnya luar biasa.mending gurunya itu didengarin,setiap belajar dia asyik mencet tombol hpnya,ketika gurunya mengingat untuk lebih serius dan tidak membw hp pd jam belajar sang anak malah berkata:”suka-suka saya,hp hp saya apa urusannya,tidak senang ajari sy ya udah pulang aja,uda tau saya ga suka belajar”.sang guru masih dgn sabar memberikan pengertian tapi si anak kagak mau ngerti2 juga akhirnya guru itu pun segera melaporkan kepd ortunya.ortunya malah mengatakan:ibu yang tidak bisa mengajar.sang guru cuma berucap astafirulloh alazim.

  8. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 20, 2007 | Reply

    Yang namanya melatih diri itu adalah menggembleng terus menerus diri kita secara kontinyu yang mengarah ke progres dan diusahakan ada evaluasi-mutaba’ah/ muhasabah- dalam pencapaian target-target baik jangka pendek atau panjang, sehingga hasil dari latihan-tadrib- yang kita lakukan bisa terukur dan bisa dicapai. Oke?!, selamat melatih diri… Salam tadribat dari saya, irsan.

Post a Comment