Sabar: Allah Mahaguru

15 June 2007 | Ditulis oleh: |

Tidak ada yang lebih sabar dari selain Allah. Dia disekutukan, diangap punya anak, tapi Dia selalu memaafkan hamba-Nya dan memberi rezeki (Hadis riwayat Iman Ahmad dan Abu Musa al-Asy?ari).

Hadis tersebut mengambarkan inti ?prinsip? eksistensi Allah dalam pandangan manusia. Allah adalah zat yang esa, tunggal, tidak beranak dan diperanakkan. Tetapi, tidak dalam pandangan (sebagian) manusia. Marahkah Allah? La, sekali-kali la. Allah tetap memberi rezki sesuai usaha manusia. Allah memberikan apa yang harus diberikan kepada manusia. Tidak kurang sedikitpun.

Ruang hidup dan berkehidupan adalah lapangan yang disediakan Allah. Bumi, dalam relasi kompak dalam tatanan jutaan bimasakti, dilengkapi penunjang kehidupan; air, tumbuhan, dan segala isinya agar dimanfaatkan mansia, diurus manusia untuk manusia. Allah memberikan dengan ikhlas dan memeliharanya. Kepada manusia dinasehati, peliharalah bumi dan isinya. Apa yang dilakukan manusia?

Merusak bumi dengan ragam ekploitasi melampaui batas. Allah sabar atas perbuatan manusia. Paling-paling memberi peringatan dan cobaan melalui bencana dan malapetaka agar manusai belajar dari kesalahan memenej alam. Memberi cobaan dan cobaan, sekalipun nampaknya manusia semakin dungu saja, Allah tidak (belum) ?membubarkan? bumi; sesuatu yang sangat mudah bagi-Nya, kun fayakun. Allah adalah mahaguru sabar.

Luar biasa positifnya, Allah justru mengajarkan cobaan bukanlah hukuman, tetapi ujian kehidupan agar manusia lebih kokoh: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS: Ali Imran, 200).

Milyaran contoh konkret betapa Allah menampakkan (tanda-tanda) sabar dan kesabaran tanpa menuntut apa pun, kecuali memperingatkan apa-apa yang dilakukan manusia di muka bumi kelak dipertanggung jawabkan di akhirat. Kita tinggal memahami dan mengaplikasikan sesuai kapasitas sebagai manusia.

Memang, tidak akan pernah manusia mampu meniru kesabaran Allah, bahkan para Nabi dan Rasul utusannya saja masih berlandasan dimensi manusia hingga perlu dicoba. Dari kisah-kisah para Nabi dapat kita petik mutiara-mutiara tindak sabar. Lebih penting lagi dari apa yang kita lakukan sehari-hari,

Sabar pada hakikinya, peratama-tama adalah untuk kebaikan diri, lalu sesama dalam relasi sosial, konunitas, masyarakat, negara dan umat manusia. Dalam kaitan tulisan ini, saya sebagai pelajar pemula bukanlah orang sabar dalam pengertian sabar sebagaimana hakiki sabar, tetapi tidak lebih dari pelajar pemula.

Ada satu tekad, akan berusaha sabar sepanjang kehidupan. Tentu saja seuai takaran diri. Bahwa itu akan berhasil atau tidak, itu soal lain. Minimal, sudah ada niat, tekad, dan melakukan dalam hal-hal kecil.

Dengan sabar jiwa akan damai dan tenteram. Allah berfirman: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS: Az-Zumar: 10).

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 12 Responses to “Sabar: Allah Mahaguru”

  2. By phetex on Jun 16, 2007 | Reply

    SABAR DAN SABARIAH
    Kalau sabar pada tingkat seperti yang sampean tulis ini saya tak sanggup menjangkaunya. Sungguhkah Allah perlu sabar? Perlukah Allah mempertimbangkan sabar menghadapi manusia? Bagi saya Allah itu mutlak absolut, maha mutlak dan maha absolut. Allah tidak memerlukan pertimbangan2 karena pertimbangan itu milik pikiran manusia. DIA maha berkehendak, tanpa pertimbangan, karenanya DIA tidak demokratis karena ini memang tidak diperlukanNya. Soal demokratis itu soal manusia. Kalau ada negosiasi antara Allah dan Muhammad soal jumlah shalat dari 50 menjadi lima, itu bukan negosiasai, bukan kompromi, juga bukan karena mempertimbangan usul2 para nabi yang dititipkan via Muhammad SAW, melainkan karena DIA berkehendak. Jadi DIA maha berkehendak, sabar atau tidak sabar bukan urusanNya jika DIA berkehendak. (Maaf, ini karena gua nyampe mikirin yang beginian)
    Kalau soal Sabar dan Sabariah, nah ini yang cocok dan gampangan aja. Ternyata, ternyata bos. Sabar itu teman saya seorang lelaki, baik waktu di S1 maupun di S2. Adapun Sabariah adalah seorang wanita, teman istri saya waktu masih di Kanwil Depnaker Kalsel. Jadi, Sabar dan Sabariah adalah nama-nama teman. Kalau Mbok Sabar, seperti sampean juga tau, pegudeg terkemuka di Jogja, iya nggak? hehehe. Sabaar, mbok sabar bos. Sabar ya mas, nanti kulayani juga kok. Sabar dong om, ntar lagu om juga nyampe kok. Eh, lagu permintaan om tadi ’sabar menanti’ ya? Sabar mas, masa gak pakai pemanasan dulu sih! daaagh, besok lagi ya mas, ya om. Nah, kalau sabar gitukan bisa puas toh? iya nggak, iya nggak!

  3. By Ersis W. Abbas on Jun 16, 2007 | Reply

    Ya Allah absolut, ya Allah demokratis tergantung pandangan antropomistis. Dalam Asmaul Husna (karangan manusia)Allah zat yang padanya sifat (tarohlah 99) Arrahman (1: penyanyang) sampai Asshobur (99: sabar), jelas bukan sabar, sabarah, atau mBok sabar, sebab mereka pada niru nama Allah.

    Dalam Al-Quran: Alam tanda-tanda Allah, kebesaran Allah, Sunnatallah. Kesemua itu harus kita cerna dengan akal budi hingga ada 40 apala taqqilun (apakah kamu tidak berpikir) dan 40 apala tatafarrakun (kenapa kamu tidak merenung).

    Hadis, kalau bisa dipercaya, begitu bunyinya. Semua urusan mansuia, tidak satupun manusia bisa menjangkau Allah, kecuali dengan qolbunya. Kita ditataran mansuia memaknai ‘tanda-tanda’ Allah, bukan bicara eksistensi Allah. Makasih

  4. By suci on Jun 16, 2007 | Reply

    manusia adalah salah satu dari sekian juta makhluk Allah SWT. dan beruntunglah manusia karena sudah dititipi bakat untuk mempunyai sifat Allah. salah satunya sifat sabar, bisa jadi ya? tapi kalau lihat komentar mas yang membahas sabariah sampe sabar menanti diatas, ya itu berpulang pada diri sendiri. Allah memang maha penentu, tanpa menimbang Ia-lah yang dapat menentukan yang terjadi di bumi dan seluruh semesta. tapiii, saya percaya kalau manusia punya sifat sabar berarti itu titipan dari Allah SWT.
    tapi ko…makin hari makin sedikit ya bangsa Indonesia yang bisa sabar? semakin menyukai segala bentuk jalan pintas dan cara instan biar bisa senang, asal jauh dari tetek bengek sabar. mungkin sabar sudah mulai jadi barang usang? entahlah?
    apa bangsa kita sudah mulai kehilangan rasa cinta pada yang Maha menciptakan kehidupan?

  5. By SQ on Jun 16, 2007 | Reply

    menurut buku dibalik keajaiban angka 7 yang pernah saya baca, shabar adalah satu dari 4 tiang surga, disamping shabar, ada tiang ridha, tiang syukur, dan tiang ikhlas. Shabar juga merupakan maqamat pertama bagi seseorang yang ingin menempuh jalan sufi dan kewalian. Saya yakin bapa juga tahu itu..he..he..he,secara puluhan buku Aidh Al-Qarni yang saya temui di rumah bapa. Namun shabar sifat tuhan jelas beda dengan manusia, siapa sih yang tidak pemula bila dibandingkan dengan khalik??? ada istilah mengatakan : Tuhan selalu mengunjungi kita, tapi kita yang tak pernah ada di rumah. Kaitannya dengan shabar ??? pikirkan saja bersama…he..he..he

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 16, 2007 | Reply

    Sabar adalah keniscayaan, artinya mau tidak mau suka tidak suka harus dimiliki oleh makhluk-Nya. Lawan dari sabar adalah al-jaza’ (gelisah). Ya ini adalah sifat manusia juga, karena dia adalah makhluk yang berkeluh kesah. Jadi, intinya imbangi al-jaza’ kita dengan keniscayaan sabar. Oke?! Oke aja lah.
    Salam sabar dari saya, irsan.

  7. By helgeduelbek on Jun 16, 2007 | Reply

    Rasul pun guru yang nyata di dunia tentang hal kesabaran… mungkin kita sedikit lebih realistis untuk meneladaninya, walaupun mungkin kemurnian tingkat kesabaran kita jauh berbeda dengan beliau. BTW perlukah sabar itu kita sadari, oh kita sedang sabar… oh kita sedang tidak sabar nih. Bukan-kah sabar itu pancaran illahiyah?

  8. By mathematicse on Jun 17, 2007 | Reply

    Apakah ke_Mahasabaran Allah itu karena Allah Maha pengasih dan Penyayang terhadap mahluknya. Saya fikir tulisan yang dimaksud di sini, bukan keMahasabaran Allah, tapi karena keMaha pengasih dan penyayanganNya.

  9. By windede on Jun 17, 2007 | Reply

    Salah satu bukti keMahaSabaran Tuhan itu adalah membiarkan orang-orang seperti kita ini ngerumpiin ihwal keMahaSabaran Dia… Justru karena kita nyadar bahwa Tuhan itu sabar, maka lantas kita kerap “menggoda” keMahaSabaran-Nya dengan berkelakuan macam-macam, termasuk mengulas sabarnya Tuhan seperti tulisan om EWA ini huehehehe… Kalau manusia sering bilang: sabar ada batasnya, hmmm… apakah sabar-Nya Tuhan itu bertepi?

  10. By Ahmad Nur Irsan F on Jun 19, 2007 | Reply

    Allah SWT maha segalanya. Allah sebagai satu-satunya sang Kholiq, Sang Pemberi Rizki kpd semua makhluk, Sebagai penguasa alam semesta ini, maha Sabar. Kita hanya manusia (hamba)saja kok gak mau sabar, sabar ya!
    Allah juga sebagai Raja manusia, Allah SWT sbg satu-satu yang yang patut disembah, maha Sabar. Seharusnya kita kudu sabar dhonk.
    Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang bersabar, Amin…

  11. By jamalts on Jun 19, 2007 | Reply

    Pikir punya pikir, Bos, sabar itu sesungguhnya hanya milik manusia. Allah sama sekali tidak memerlukan berbagai parameter kemanusiaan atau, lebih tepatnya, kemakhlukan. Akan tetapi, dalam bahasa manusia, Allah memang Mahaguru. Dan, dalam perspektif sufistik, Allah menyifati manusia dan sebagaian sifat-Nya bisa mengejawantah (beremanensi)dalam diri manusia. Karena itu, dengan takaran tertentu, boleh-boleh saja kita punya tafsiran perihal kemaha-tak-samaan Allah dengan segala makhluk-Nya sebagaimana batas pemahaman manusia (ya, individu masing-masing).

    Ketika seorang bocah kecil menanyakan di mana sesungguhnya Tuhan berada, sering orang tua menjawabnya dengan sangat mudah: di langit. Dan si bocah tentu manggut-manggut saja. Itulah batas pemahamannya tentang zat Tuhan pada saat itu. Akan tetapi, seiring perjalanan usia dan pergulatan intelektualnya, si bocah yang sudah menginjak remaja mulai memahami bahwa Tuhan tidak bertempat. Tuhan tidak di langit, tidak pula di bumi. Dan ketika si bocah telah dewasa, bahkan ia sudah bergelut dalam pikiran-pikiran sufistik, boleh jadi dalam pemahaman barunya: Tuhan ada di mana-mana.

    Sabar, sebagaimana sifat Tuhan, keteladanan yang paling relevan dan humanistik bagi manusia adalah kesabaran Rasulullah. Jadi, dalam perspektif semacam ini, saya lebih merasa nyaman menggunakan istilah Mahaguru itu adalah pribadi Muhammad SAW. Sebab, dialah ‘uswatun hasanah’ alias guru-maha-guru.

  12. By Ersis W. Abbas on Jun 20, 2007 | Reply

    Ha ha benar juga, tapi itu dia. Kita tidak menyoal dzat Allah, namun tak salah menyimak sifat dan nama-nama Allah. Faktanya, nama Allah 99, As Shobur. Disitu ada tanda-tanda pelajaran bagi manusia. Logika awan, kalau Allah maha segala, kenapa tidak Mahaguru Sabar (dalam persfektif manusia, lho. Atau Ersis, kalau salah mohon ampun-Mu ya Allah).

    Persoalannya, kita yang manusia –ciptaan Allah– menyoal tentang Allah, kan begitu. Saya ngak mau terjerumus hal-hal sedemikian, karena manusia very-very ‘cilik mentik’. Bagi saya tidak usahlah kita bersoal eksistensi Allah.

    Malam tadi, berdiskusi sampai dini hari dengan sobat Rudy Resnawan, walikota Banjarbaru, kami bicara pandangan Dr. Zakir Naik, itu tu manusia yang luar biasa pengetahaunnya dari India. VCD dan pemikirannya kini mendunia (jangan-jangan belum lihat, he … he …).

    Dalam diskusi sufistik kami, Rudy berujar: aku tak tahu lebih dekat anak sampeyan seperti juga sampeyan tentang anak saya. Yang pasti, ikatan nurani,ikatan batin, keyakinan lebih memungkinan hubungan pasti.

    Nah, kalau kita mau ‘mendekati’ Allah, yang kita dekatilah, pahamilah, sifat-sifatnya —bisa saja lewat Rasulullah— atau tanda-tanda kebesaran-nya di alam raya. Kalau Allah itu sendiri, mana mungkin boz. Tapi, ingat Allah lebih dekat dari urat leher … he … he

    Jadi, kita msih perlu banyak baca buku atau belajar lagi. Saya dalam posisi demikian, ngak mau menyoal eksistensi Allah. Saya takut terperangkap jerat para orientalis. Menyesatkan. Mereka mendorong kita berdebat tanpa membaca, he … he … Merasa paling Islamis, tapi mengaplikasikan ayat pertama iqra’ iqra’ iqra’ aja malas, bejibun alasan. Apalgi menulis.

    Malah mereka tambah, jika ada sesama Muslim menulis, menuangkan pikiran atau berdiskusi mencari kebenaran, dijadikan bahan bakar agar bertengkar dan bemusuh-musuhan. Gila, ngak? Kita bicara tataran manusia saja.

    Salam

  13. By ridlo on Jul 31, 2007 | Reply

    Kembali ke……………… content..

    Saya teringat suatu ‘mahfudlot’ arab, ketika saya nyantri dulu..

    “..assobru kassobiri murrun..lakin awaakibuhu ahla mina al’ashali…”

    artiannya :
    “..Sabar itu layaknya seperti buah yang sangat pahit rasanya..namun hasilnya lebih manis daripada madu..”

    Sekedar sharing story tarikh islam..

    Masih ingat ga? kisah Rosulullah yang dalam perjalan pulang ke rumahnya selalu di ludahi oleh seorang badui…dan itu terus terjadi…sampai akhirnya datang masa sakit bagi si-badui itu.. Kemudian ketika itu Rosul merasa aneh..karena orang yang setiap hari meludahinya tidak ada.. Kemudian Rosul menanyakan kepada orang di sekitarnya..kira2 seperti ini ” kemanakah si fulan yang suka meludahiku setiap perjalan pulang ” … dijawabnya : “dia sedang sakit ya Muhammad ” … Kemudian ketika itu Rosul menanyakan dimanakah rumahnya…dan setalah tau alamat si badui itu..Maka Rosul datang (bertamu/menjenguk) ke rumahnya..sambil membawakan roti dan buah2an kepada si badui itu…
    Pada awal ketika Rosul mengetuk pintunya..Istri si badui yg membukannya itu kaget dan takut..karena yang datang adalah orang yang setiap hari diludahi oleh suaminya… dan istrinya berfikir bahwa Muhammad ini akan membunuhnya ketika suaminya tidak berdaya… tapi ternyata Rosul malah membawa bingkisan roti dan buah2an..dah Hasilnya…si badui itu menangis..dan seketika itu juga si baudi dan istrinya mengucapkan dua kalimah syahadat…

    Satu cerita lagi..Aga2 mirip seh…

    Jadi ketika itu ada seorang pengemis yang buta..dan dia selalu mengolok2/menjelek2an/menghina Rosul..
    Namun di sisi lain..Si pengemis itu tak sadar bahwa Rosul setiap waktu (sering kali) memberikan bungkusan roti/kurma kepada pengemis itu..namun pengemis itu tidak mengetahuinya bahwa yang memberikannya itu adalah Rosul…., orang yang dia olok2/ejek2/cemoohkan/hina/ setiap waktu..
    Sampai pada akhirnya datang waktu kematian Rosulullah.. dan ketika seorang ‘khulafau ar’rhosidin’ ingin menggantikan kebiasan Rosul di masa hidupnya (dengan memberikan bungkusan roti/kurma kepada si pengemis itu)..si pengemis itu berkata..(kurang lebih seperti berikut) : “siapa kamu? kamu bukan orang yang biasa memberikan kepadaku bungkusan roti ini!!! , Orang yg biasa memberikan kepadaku bingkisan roti ini..orangnya sangat lembut..tutur katanya halus..sopan..ramah tamah..dan saya dapat merasakan kelembutan tangannya..saya mengingatnya…karena dia selalu memberikan bingkisan roti ini kepadaku… Jadi kamu bukanlah orang itu..!! Siapa kamu??? kemanakah orang yang baik itu..yang selalu memberikan kepadaku bingkisan roti ini??? ”

    Kemudian ‘khulafau ar’rhosidin’ itu berkata..dengan isak tangis dan sedih.. (kurang lebih demikian) :

    ” Orang yang bisa memberikan bingkisan roti/kurma ini kepadamu telah tiada..dia telah wafat ”

    Pengemis Buta : ” Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku ketika kematiannya ???? Siapakah gerangan yang sopan/ramah/lembut itu..yang senantiasa memberikan kepadaku bingkisan roti/kurma ini ?? Siapakah dia sebenarnya ? ”

    Khulafau ar’rhosidin (diiringin dengan isak kesedihan) : ” Orang yang senantiasa memberikan bingkisan roti/kurma ini kepadamu setiap waktu..tiada lain..dia lah Rosulullah…Muhammad….Orang yang selalu engkau olok2/hina/maki2…dialah Muhammad..”

    dan sektika itu pula..pengemis buta itu menangis..dan menyesal..dan sampai akhirnya si pengemis buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat…

    Finished..

    Well…well….

    Sudah dapat tergambar..betapa pahitnya rasa sabar itu..sangat teramat pahitt….dan betapa manisnya hasil yang di dapat sifat sabar itu..yang dapat membawa islam seorang kafir…

    “..dan sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang bersabar..”

    “..ala bi dzikrillahi tatmain al’qulubi..” - hanya dengan berdzikir kepada Allah hati kita akan menjadi tentram.

    “..was tainu bi sobri wa sholah…” - peliharalah rasa sabar dan tegakanlah solat..

    sekali lagi…

    Sabar itu layaknya sebuah buah yg pahit rasanya..namun hasilnya lebih manis daripada madu..

    Thank’s….

Post a Comment