Sabar Kasih Sayang

14 June 2007 | Ditulis oleh: |

Pak, Bapak dimana? Jam berapa pulang? Lakasi bulik (cepat pulang), begitu SMS standar anak saya, Aprivisi EWA Abbas. Anak kedua yang kelas III SDN Sungai Besar 2 Banjarbaru memang secara emosional lebih dekat. Dia sering tidur bareng dengan saya. Suka bermaja-manja.

Suatu malam, ketika pulang pukul 24.00 Witeng saya dapati dia dengan mata sembab. ?Kenapa menangis, nak??, tanya saya menghibur.

?Hidung Visi sesak. Bapak pakai AC-kah??, tanyanya memelas. Rupanya AC di kamarnya terlalu dingin. Kakak dan adiknya tidak punya masalah dengan dengan AC. Justru kalau listrik PLN mati (emang listrik hidup?) kelimpungan. Malam itu kami berkisah banyak hal sampai dia tertidur pulas. Demi anak AC kamar diofkan.

Saya punya catatan khusus tentang Visi. Ketika dia lahir, di RS Banjarbaru, air susu ibunya tidak keluar (padahal saya ngak nyedot, he … he …). Hari ke dua dimasukkan inkubator dan hari ketiga dipindahkan ke RS Ulin Banjarmasin. Alaaamak, billurubin darahnya bermasalah.

Visi tergolek di box bayi. Ada selang oksigen di hidung, ada infus di tangan, matanya ditutup kain hitam, empat lampu neon 20 wat di pasang di atas box bayi menyinari tubuhnya agar peredaran darahnya normal. Konon, ketika di kandungan darahnya mengikuti aliran darah ibunya. E … begitu tali pusar diputus, setelah lahir, karena kurangnya cairan, aliran darahnya mandeg. Badannya kuning.

Konsultasi dengan dokter kurang memuaskan. Kerja dokter bagus dan memuaskan, tapi dalam memberi penjelasan payah. Saya membeli buku-buku kedokteran dan baru memahami keterangannya. Walau dalam kondisi galau, justru yang muncul dalam pikiran berusaha agar Visi selamat.

Pada hari kelima, kondisinya membaik. Selang dan infus dicabut, lampu pemicu aliran dibongkar. Namun, Allah SWT masih sayang dengan ujiannya. Anak pertama saya, Antaragama EWA Abbas, tahu-tahu lemas dan muntah-muntah, harus diopname. Itu belum seberapa, besoknya, isteri diopnamne dan dirawat inap setelah perutnya bersih terkuras karena mencret-mencret.

Sampeyan bayangkan saja kira-kira bagaimana kondisi dan suasana kebathinan seorang EWA saat itu. Anehnya, seolah-olah Allah SWT berbisik, berjuang, keluragamu pasti selamat.

Saya melakukan hal paling mungkin. Ponakan saya minta membersihkan kamar dan WC rumah sakit (yang betul-betul sakit) padahal di ruangan VIP, ruang Aster. Teman-teman, pejabat, pengusaha, dan mahasiswa datang memberi dorongan kesabaran dan ketabahan. Saya semakin kuat dan sabar. Sabar dalam berupaya.

Pak Sunarso, Brigadir Jenderal yang Wakil Gubernur Kalsel, mantan Danrem Antasari dan Ketua DPRD Kalsel tidak suni-suni setiap hari menyemangati. Apalagi ketika Mumahhad Said, gubernur Kalsel berdoa khusus di depan box Visi tergolek. Saya jarang menagis, saya betul-betul terharu. Pada kesempatan ini, kepada mereka, mengucapan terima kasih. Saya lebih sadar, betapa pertemanan membuat kita tangguh. Terima kasih kawan.

Sepuluh hari sekeluarga di RS sakit membuahkan pengalaman berharga. Saya berterima kasih diberi cobaan oleh Allah: Allah tidak akan memberi cobaan sejauh tidak mampu ditanggung oleh yang dicoba. Mengingat peristiwa itu, sampai sekarang masih lengket diingatan, bagaimana sabar menjadi kekuatan tak terhingga dalam memenej cobaan.

Dalam pikiran dan perasaan terpatri kokoh, menerima kenyataan dan berupaya mengatasi dengan segala kemampuan agar keluarga sembuh. Berserah diri sepenuhnya, sabar kaffah, memunculkan energi dalam usaha dan doa, yang luar biasa dahsyatnya. Setelah mengikuti ESQ Training, apa yang dikatakan Ary Ginanjar Agustian, berserah diri secara total akan melahirkan kekuatan dahsyat telah saya buktikan lebih dahulu.

Kita terkadang lupa, dalam kehidupan sehari-hari, banyak cobaan-cobaan ?kecil? datang dalam menguji dan memantapkan diri agar tangguh. Cobaan tersebutlah yang harus dimaknai secara tepat. Terkadang respon kita mengeluh dan mengeluh. Padahal, dengan sabar kita dapat memunculkan formula-formula baru agar lebih baik dalam menangani kehidupan ke depan.

Coba renungkan, dalam kasus saya. Sejak itu, kasih sayang hubungan keluarga semakin mantap bersemanyam di lubuk hati. Saya baru saja menyadari, sehabis pertengkaran-pertengkaran kecil dengan istri, mendapatkan hal baru. Minimal pengertian baru. Bahkan, ada kalanya, setelah bertengkar, kehiduan sex lebih nyaman he … he …

Sabar menghadapi cobaan dapat dijadikan lahan memperkokoh kasih sayang. Bayangkan kalau hidup ini datar-datar saja (emang lapangan bola) kehidupan kurang berona. Reespon kitalah yang kurang cerdas menghadapi berbagai hingga melahiran sikap emosional. Dan, pada gilirannya mengumbar marah, sakit hati. Awas, bahaya lho. Kalau emosi diperturutkan bisa stres atau malahan stroke sekalian.

Jad, mari respon segala cobaan dengan ?senjata? sabar sehingga terubah menjadi kekuatan kasih sayang. Pengalaman-pengalaman, baik yang menyenangkan atau menyedihkan, adalah bahan bakar bagi lebih bersemainya kasih sayang.

Sabar akan mempekuat kasih sayang bila direspon secara tepat dan benar.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 15 Responses to “Sabar Kasih Sayang”

  2. By hanna on Jun 14, 2007 | Reply

    ada yang mengatakan bila selalu memendam kemarahan seseorg akan lebih ngampang stress n bila tak tertahan lg maka kesabaran akan menjadi kemurkaan.tidak semau org dapat bersabar menghadapi cobaan.sabar itu ialah memiliki pandangan yg luas,selalu berpikir kedepan n berpikiran panjang. selalu menyadari bahwa hidup ini adalah pinjaman,mau menerima kenyataan dan memperbaiki kehidupan.memahami adat seseorg,tidak meladeni emosi sesaat,selalu percaya segala masalah ada pemecahanya.n selalu tersenyum.tersenyum menghadapi cobaan adalah lambang kesabaran.salut untuk bapak yang menulis tentang sabar,ada baiknya artikel ini dikemas dalam sebuah buku kecil.akan membawa manfaat yang berarti untuk dibaca oleh orang-orang yang sedang diuji kesabarannya mungkin bisa juga memberikan ketenangan ato petunjuk agar mereka tak lekas putus asa.

  3. By didi junaedi hz on Jun 14, 2007 | Reply

    sabar, sebuah kata yang mudah diungkapkan, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan. padahal, sabar adalah kunci kesuksesan, jalan kedamaian, serta pintu kebahagiaan. begitu pentingnya sikap sabar, sampai-sampai sejumlah ayat dalam al-qur’an menyebutnya sebagai jalan keluar, solusi atas segala persoalan. “dan meminta tolonglah kalian dengan sabar dan sholat”, demikian bunyi salah satu ayat dalam al-Qur’an. dalam ayat lain, Allah swt menyebutkan bahwa “sesungguhnya manusia sungguh dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran”. Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar. Kesabaran adalah sebuah proses pendakian menuju puncak kesuksesan, ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian. Maka, bersabarlah!

  4. By SQ on Jun 14, 2007 | Reply

    a lot of people said that, sense of patience is one of the pleasure which fall from from paradise. God only give this power to someone which can hold his fate. What a lucky, the choosen one who picked by god in menace and disappointment, hold his patience and stay believe that everything soon will get better. Just like everyone said too…it is easy to talk but its very hard to do.

  5. By hanna on Jun 14, 2007 | Reply

    sabar memang sesuatu yg sulit utk dipraktekkan terlebih ketika kita difitnah,dicaci maki tanpa alasan yg jelas.saya hanya bisa mengatakan orang yang sabar adalah orang yang sudah sabar tapi mendapat balasan yang tidak setimpal bahkan memperoleh hasil yg buruk,tapi dia masih tetap bersabar,tidak tergoyahkan oleh keadaan,tidak mengeluh sebab keluh kesah akan membuat masalah bertambah berat,tidak mencelah,tidak menyalahkan apapun selalu mempunyai pandangan dan pikiran yang positif,santai menghadapi berbagai masalah.sabar itu bijak,sabar itu kasih,sabar itu tenang dan damai,sabar itu tak pernah putus asa.sabar itu menjadikan kita orang yg tegar dan menjanjikan kedamaian.kita harus belajar dari para nabi.ketika mereka dihina bahkan diludahi,mereka bukan saja tak marah malah mengucapkan kata:allhamdulilah.nah,kita yg diberi ujian yg tak seberapa kenapa mesti nyerah?

  6. By Helgeduelbek on Jun 15, 2007 | Reply

    Hebat euy…! Seingat saya, saya belum pernah mendapati cobaan kesabaran seperti itu. Semoga dapat menjadi pelajaran buat saya. Kesadaran jati diri yang menjadikan kesabaran tetep bersemayam dalam jiwa. Namun semua itu adalah kekuatan proporsi ketahanan dalam uji ketabahan yang telah di berikan oleh Sang Pencipta.
    Tetep semangat…!
    Ditunggu terus sharing pengalamannya.

  7. By irsan oke on Jun 15, 2007 | Reply

    Sabar kasih sayang, sabar itu meliputi dua hal. Pertama, sabar secara horizontal, kedua secara vertikal. Horizontal, ditujukan kepada sesama makhluk Allah SWT. Sabar ketika mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan dari orang lain ataupun makhluk lain. Sabar vertikal, ditujukan kepada seluruh keputusan Allah SWT yang menurut kita baik itu yang sesuai maupun yang kurang sesuai dalam pandangan kita. Tentu saja sabar disini adalah sabar dalam arti dinamis dan progresif. Dinamis yang mengarah kepada sebuah kemajuan (solusidari permasalahan), bukan dinamis yang mengarah kemunduran (semakin terpuruk dalam permasalahan, sampai frustasi bahkan depresi).
    Salam sabar dari saya, irsan_global

  8. By willyedi on Jun 15, 2007 | Reply

    Sabar. Penting. Tidak semua manusia mampu menjalaninya. Kesabaran perlu. Pengalaman ini bagus jadi bahan renungan kita semua. Tapi watak manusia yang tidak sabaran lebih sering lebih dahulu menguasai emosinya.
    Seandainya anak-anak seperti pada iklan di TV, yang bermain lumpur karena kedua orang tuanya bertengkar gara-gara serempetan mobil. Betapa harga kesabaran jauh lebih mahal dari harga kesabaran.
    Kabar bagusnih, bang Ersis. Pak Urip dapat beasiswa S2 di UGM. Itu juga berkat kesabarannya ikut tes yang kedua kalinya.

  9. By irsan oke = ah.n.irsan.f lho on Jun 15, 2007 | Reply

    Sabar memang hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Saya manusia, EWA manusia, Sampeyan manusia artinya kita sebagai bangsa manusia kudu sabar tuh. Subhanallah, saya terenyuh membaca sepenggal kisah EWA bersama Visi, semoga Allah menjaga dengan kasih sayangnya, insyaALLAH, Amin.
    Sabar bisa menjadi penenang hati dan penguat jiwa (boleh dibaca: psikis). Penenang hati yang sedang dirundung masalah, masalah apapun. Sampai-sampai ada falsafah Jawa “Sabar, muga-muga sesuk iso kelakon”. Penguat psikis ketika Kerapuhan menggejala, sebab psikis kita mirip dengan sebuah balon (analogi saja, oke?!). Balon akan meletus ketika tekanan udara dalam balon melebihi kapasitas maksimalnya menyimpan udara. Sehingga jangankan terkena benda runcing, benda tumpulpun bahkan tidak tersentuh benda apapun bisa meletus. Inilah psikis kita, jalmo manungsa. Dengan sabar berarti kita telah mengempeskan tekanan udara (silakan dibaca: tekanan permasalahan hidup) yang ada di balon. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Salam sabar dari saya, irsan.

  10. By windede on Jun 15, 2007 | Reply

    Yang repot adalah ketika, di kantong kanan kita bertambah poin pahala, berkat sabar itu, tetapi di kantong kiri bertambah pula dosa, karena berbohong. Misalnya, ketika kepada anak kita bilang lambat pulang karena bekerja. padahal lagi nongkrong hepi-hepi hihihi… “jadi, bersabarlah nak, menunggu bapakmu yg berusaha sabar ini…”

  11. By Anonymous on Jun 16, 2007 | Reply

    Wow … jangan-jangan komentar para sahabat lebih bagus dari tulisan saya. Makasih ya, makin ‘ngak sabaran; nih menulisnya.

    Kalau menulis kita sepakat saja ya ngak usah sabar-sabaran untuk tidak menulis. Tulis, tulis, dan tulis …
    Ha … ha … one coin in two side?

  12. By phetex on Jun 16, 2007 | Reply

    OH SABAR
    Memang esensi sabar per kamus sih ‘dapat menahan penderitaan’ selain ‘tidak lekas marah dan mengeluh’dan konon ini telah menjadi mengalaman sampean di dalam ’sabar kasih sayang’. kira2 maksudnya telah terbukti dan lulus uji begitu. Tapi baiklah ulun kutipkan sumber lain terkait esensi sabar (biar beragam bos), yaitu dari Matthew 5:43-44.”kamu dengar apa yang dikatakan bahwa kamu harus mencintai tetanggamu dan membenci musuhmu. tapi kukatakan padamu, kasihanilah mereka yang telah mengutukmu (maulu-ulumu?), berbuat baiklah kepada mereka yang membencimu, berdoalah buat mereka yang menaruh dendam kepadamu dan menzalimi/menganiayamu”. Konon dari sini bos ajaran ‘kasih sayang’ itu, yang didahului dengan kalimat “…janganlah melawan kejahatan, jika mereka tampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga”. Selain itu bos dari Siddhartha dengan empat prinsipnya: 1) kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; 2) sebab ketidak-bahagiaan karena memikirkan kepentingan diri sendiri dan terbelenggu nafsu; 3)pemikiran kepentignan diri sendiri dan nafsu dapat dienyahkan jika segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan (nirvana); 4) menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar (jangan bo’ong, billaboong dosa), berbuat benar, cari nafkah benar (gak korupsi), berusaha benar (gak ngakali), mengingat benar dan meditasi benar. Nah, gitu bos. Subhanallah.
    Eeh, tapi bos gua bisa jadi gilah nih bacain koment2nya windede. abis gak bisa nahan sabar tuk ngakak sendiri di depan komputer. tuk sabar dalam hal tertawa ini gua amat gak bisa. gimana bos, apa tuk ketawa juga harus sabar? apa ada tawa terkendali? sabar di sini jadi sulit kalau yang ngegelitik sekaliber windede. ha99x (ssst, sabar sabar, kendalikan ketawanya) hmm…

  13. By Ersis W. Abbas on Jun 16, 2007 | Reply

    Bagus azza, artinya banyak pilihan di dunia ini dan setiap kita punya pilihan. Setiap orang punya pikiran, punya kebaikan, punya sinisme. Si Sinis bisa berhasil, si jahat bisa berhasil, si sabar bisa berhasil. Bila mau ketawa, ketawa aja, tapi kalau keterusan ntar miring. Ketawa itu sehat. Tujuan kehidupan berhasil dan bahagia, itu intinya dengan visi ‘berjumpa’ Allah kelak.

    Saya suka komen yang ini, ini soal ajaran moral. Itu tidak gampang, ada tataran folosofis, konsepsional, aplikatif, dan realiti. Jangan diaduk-aduk, saya ngambil mata kuliah di S2. Coba jawab: kenapa mayoritas koruptor ‘haji’ dan pemimpin?

    Ada tataran nilai, ada tataran prasis. Kita ‘belajar’ sabar memaknai dan melakukan.

  14. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 16, 2007 | Reply

    Kalo ngomong kasih sayang atau sayang-sayangan. Kita juga setuju bahwa kita sayang juga tuh sama pendamping hidup kita, seorang kaum hawa yang dicipta dari tulang rusuk kita, iya khan..?
    Dalam menyayangi, kita harus ekstra sabarnya. Kalau kita kerasi dia akan patah sebagaimana tulang rusuk yang bengkok mau kita luruskan secara ‘karbitan’, ya jelas patah alias ‘thok-lek’. Sabar, sabar, dan sabar, maka engkau akan mendapat hasilnya yang luar biasa.
    Salam sayang dari saya, irsan sang pengompor menyayangi pendamping hidup kita. Hidup istri…

  15. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 17, 2007 | Reply

    Sabarnya seorang suami yang menjemput rizky sebagai nafkah buat keluarga adalah berusaha banting tulang mendapatkan rizky yang halal dari pekerjaan yang halal pula. Bukan sebaliknya, rizky yang haram atau subhat. Juga, sabarnya suami adalah mengubah cara pandangnya terhadap masalah ekonomi (baca: penghasilan), dari anggapan konvensional bahwa ‘pengeluaran harus disesuaikan dengan pendapatan/penghasilan’ berubah menjadi pandangan bahwa ‘penghasilan harus menyesuaikan pengeluaran’. Artinya kalau penghasilan selama ini dirasa masih kurang, karena masih harus gali lobang sana-sini, maka sang suami harus memutar otak (segala kemampuannya) agar menambahpenghasilan setiap bulannya. Sehingga penghasilannya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga. Dari urusan dapur, kesehatan, rekreasi sampai urusan sekolah anak bahkan zakat infaq shodaqoh, tak kalah pentingnya investasi syariah. Iya khan?!
    Salam sabar dari saya, irsan.

  16. By Ahmad Nur Irsan F on Jun 19, 2007 | Reply

    Sabarnya seorang istri adalah ketika menanti sang suami menafkahi dirinya, baik psikis maupun materi. Psikis, ya belaian kasih sayang yang mungkin si istri berkenan atau kurang berkenan, sehingga istri harus mencari kata-kata sindiran yang pas. Materi, ya merasa cukup terhadap apa yang diberikan suami terkait materi, seperti pakaian, makan, dan tempat berlindung (baca: rumah). Dan juga menjadi pencetak generasi penerus yang cerdas segalanya. Sabar ya sayang…

Post a Comment