Sabar itu Cerdas

14 June 2007 | Ditulis oleh: |

Michael H. Hart dalam buku fenomenal, The 100, a Ranking of the Most Influential Person in History (1978) menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai mansusia paling berpengaruh sepanjang sejarah. Tidak diragukan lagi, Rasulullah menjalani kehidupan dengan sabar, sabar sebenar-benarnya sabar.

Itulah yang mendasari pemikiran saya …. sabar bukan pasif, menerima begitu saja. Tetapi, dimaknai memperjuangan atau melakukan sesuatu dengan segenap kemampuan, semaksimal mungkin, dan ? apa pun hasilnya itulah kenyataan.

Dalam kandungan pemahaman demikian, sabar akan memicu dan memacu kemampuan terbaik kita. Sabar menjadikan jiwa teguh, semangat bergelora, dan kiat-kiat baru untuk meraih prestasi makin tertantang untuk tercipta. Bagaimana mungkin anak dusun padang pasir, tidak mampu baca tulis, menyiarkan kebenaran dalam tekanan tak terhingga dalam segala hal mampu menyebarluaskan agama Islam ke seantero dunia tanpa kekuatan material, kecuali kebenaran.

Jawabannya, hanya satu: sabar. Sabar dalam artian teguh pendirian, yakin, tidak pernah menyerah, melakukannya dengan benar. Apabila didapat penghalang bukannya ?menyerah?, tetapi mencari kiat baru. Yang penting tujuan, sasaran, dan visi yang hendak diraih jelas, menyiarkan kebenaran. Dalam perjuangan tersebut sabar menjadi andalan.

Dengan kata lain, sabar pemicu kreatifitas berlandaskan kecerdasan, dan … sekaligus mengasah kecerdasan. Segala sesuatu yang berhasil didapat melalui perjuangan dan perjuangan itu dibekali sikap sabar. Sabar adalah pantulan kecerdasan terkendali. Orang cerdas pasti berpikirnya kuat, teratur, memahami apa yang harus dilakukan, pada saat dan ketika yang bagaimana, bukan serampangan.

Jadi, adalah keliru besar manakala sabar dimaknai sebagai berserah diri. Orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang tangguh menghadapi cobaan, dan berdasarkan cobaan mendapat pengalaman demi pengalaman menuju sukses.

Saya teringat apungan Alex Inkeles tentang nAch, need for achviement, kebutuhan untuk berprestasi. Dijabarkannya lebih ekspressif dan agresif, bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih cepat, biaya murah, dan sukses. Itu telah ditampakkan Rasulullah.

Saya punya pengalaman. Saya mengambil spesialisasi pendidikan akademik S2 Pengembangan Kurikulum di Sekolah Pascasarjana IKIP Bandung. Di provinsi saya, Kalimantan Selatan, hanya ada tiga ahli kurikulum, Prof Badjuri Ali, Prof. Djebar Hapip (keduanya pensiun), dan saya. Bagaimanapun yang namanya kurikulum (perencanaan pendidikan) tidak akan pernah habis selama pendidikan masih ada.

Sejak pulang sekolah, oleh lembaga, FKIP Unlam, atau Dinas Pendidikan Provinsi, sampai hari ini tidak pernah dilibatkan untuk urusan kurikulum. Keahlian akademik terbuang percuma. Tetapi tentu tidak buat saya. Saya justru lebih kreatif.

Tidak mempersoalkan ahli pertanian, pemerintahaan, atau pamulung menangani pendidikan, urusan merekalah. Saya membantu SD, SMP, SMA, bermitra gagas dengan LPMP atau kepala daerah secara individu. Alhamdulillah, kini serius menulis. Saya punya target, tahun 2010 menjadi penulis buku paling unggul di provinsi saya. Kini baru 20-an buku.

Saya ingin mengatakan, sabar itu ibarat air yang tidak bertubuh, tapi ketika menetes setetes demi setetes bisa melubangi batu cadas gunung. Tabah, sabar, dan jadi tangguh, melahirkan hal-hal baru yang tidak terduga. Sesuatu yan berhasil guna dan berdaya guna.

Tidak ada gunanya merengut kenapa untuk sekadar penataran KBK, atau mengajar kurikulum tidak dipilih. Saya pantang meminta-minta, apalagi kalau ada bau-bau proyeknya. Memangnya kekuasaan langgeng? Yang abadi adalah kebenaran.

Rasulullah bersabda: Apabila pekerjaan tidak dipercayakan kepada ahlinya, tunggulah kehancuran. Kini mampu mengerjakan banyak hal terkarena sabar dan lebih kreatif. Jadi, sabar sesuatu yang aktif, bukan pasif. Sabar itu cerdas.

Bagaiman menurut Sampeyan?

  1. 8 Responses to “Sabar itu Cerdas”

  2. By hanna on Jun 14, 2007 | Reply

    wow,yang ini siippp.i sangat setuju.

  3. By ahmad nur irsan f on Jun 14, 2007 | Reply

    Bagaimana menurut Sampeyan ?
    Setuju banget, bahwa sabar itu terus ikhtiar.
    Sabarnya mahasiswa (UNLAM, misalnya) ya belajar yang giat/tekun serta ngikutin kuliah yang bener2 aktif gitu lho!
    Sehingga menjelang lulus, mereka tidak kaget dengan be-ujar,
    “LOH dah MAU LULUSKAH ? WAH, KAYAKNYA BELUM ADA DEH ILMU KULIAHAN YANG BISA DITERAPKAN DALAM KEHIDUPAN NANTI”.
    “NANTI DULU DEH LULUSNYA”.

    Lain lagi, kisah seorang pemuda yang MENANG mendapatkan hadiah dinikahkan dengan PUTRI RAJA, lantaran berhasil menyeberangi sungai yang penuh dengan Buaya.

    Al-Kisah:
    Sang Raja mengumumkan bahwa ada sayembara yang diperuntukkan untuk para pemuda yang perkasa (mhs PTN/PTS) serta berani melawan tantangan untuk menyeberangi sungai yang banyak buaya-nya (buaya beneran lho, bukan buaya darat yang ada di film2..he.he..)
    Berhadiah NIKAH dengan Putri sang Raja.
    Maka berduyunlah pemuda dari Kab/ Kota di seantero wilayah kekuasaan Kerajaan bahkan ada yang dari kerajaan jiran.
    Eh.., ternyata ada seorang pemuda -sebut saja IRSAN, namanya- yang sebenarnya hanya mau melihat saja pemuda-pemuda lain yang perkasa. Ternyata saat melihat, pemuda IRSAN tadi justru terdoroang oleh pemuda lain yang ikut berkerumun dipinggir sungai. Sehingga tersungkur dan terceburlah ke sungai yang banyak buaya-nya.
    Dengan sekuat tenaga, dengan kecerdikannya, dengan kekagetannya, dengan ke-sebel-annya, dan keyakinannya bisa selamat sampai tujuan tanpa menargetkan hadiah UTAMA dari Raja, Pemuda IRSAN berenang dengan gaya yang pernah diajarkan dan dipelajarinya sewaktu semester2 awal dan midle-nya, sehingga SAMPAILAH juga Pemuda IRSAN diujung sebrang sungai.
    diSambutlah oleh sang Raja, diberi selamat dan segera dinikahkan dengan putrinya yang ‘kinyis-kinyis’ memenuhi kriteria 4hal syarat perempuan yang wajib diprioritaskan untuk dinikahi. Ehem..ehem.

    Tetapi, naif sekali jawaban pemuda IRSAN tadi. Dia justru mengatakan dengan nada marah, “Siapa yang mendorong saya tadi, sehingga tercebur ke sungai, hampir saja nyawa saya melayang gara-gara nyaris dimakan buaya-buaya yang lapar”.
    “Tunggu dulu, sang Raja!”, kata Pemuda IRSAN, “saya penasaran, nih. Kenapa saya dapat hadiah nikah dengan putri sampeyan, padahal saya belum siap mendapatkannya”. “Mohon ditunda dulu hadiahnya sampai semester berikutnya”.
    “Tidak bisa, saat ini juga kamu saya nyatakan LULUS dan segera nikah dengan putri saya”, pekik sang Raja!
    Sekian dulu.

    Nah, begitu lho karakter atau Kepribadian Pemuda kita.
    Banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya segera LULUS dengan dihadiahi ‘NIKAH’ (baca:wisuda lulusan terbaik). Yang ternyata belum siap menerima kesuksesannya. Terlambat tersadarnya!!!
    Terkait dengan SABAR, bujur banar pendapat Sang Motivator kita -EWA- Sabar itu berusaha terus sekuat tenaga, seperti pemuda IRSAN yang berusaha sampai sebrang sungai dengan selamat, dalam al kisah di atas.

    Wahai pemuda jadilah MUJADDID-pembaharu- yang meraih kesuksesan dengan cara “SABAR dan SABAR maka Anda akan SUKSES”.
    Lulus lah dengan sebuah perencanaan, jangan kaget ternyata umur sudah harus lulus kuliah.
    Salam SABAR dari saya, IRSAN_GLOBAL.solusi banjarbaru.0511_746 5836.

    Wassalamu’alaikum.

  4. By dp on Jun 14, 2007 | Reply

    sabar subur

  5. By didi junaedi hz on Jun 14, 2007 | Reply

    sepakat. kesabaran menunjukkan tingkat kecerdasan dan kedewasaan seseorang. mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat saya. sah-sah saja, itu hak mereka. tapi yang jelas, kecerdasan di sini adalah berkaitan erat dengan emosi dan spiritual. orang yang cerdas emosi dan spiritualnya tentu akan mengedepankan nilai-nilai moral. kesabaran, sebagai salah satu nilai moral merupakan bukti konkret bagi kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. orang boleh tinggi kadar intelektualitasnya, tetapi ketika kesabaran sudah dinafikan, maka ia telah terjatuh pada tindakan bodoh secara emosi maupun spiritual. bagaimana dengan anda?

  6. By histo phetex bed jo on Jun 14, 2007 | Reply

    “sabar subur” kata dp, maknanya dalam loh. kalau dimaknai sinisme itu salah sendiri karena akan berakibat kembali uji kesabaran, he he he. ’sabar subur’: karena sabar itu dikasihi tuhan, karena dikasihi tuhan berarti akan berbuah (subur dengan) pahala, ide, kreatifitas, inisiatif, atau bahkan subur jiwa-raga, atau harta, atau subur lainnya, ha ini tidak termasuk (kecuali)akal bulus, dendam terpendam, dan uban, ha ha ha.

  7. By Helgeduelbek on Jun 15, 2007 | Reply

    Dari judul memang benar kesabaran hanya di miliki oleh orang yang sadar akan kesabaran diri dan sekaligus sadar akan kecerdasan yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Orang yang tidak cerdas tentu tidak akan sabar untuk menunggu. Menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan bagi setiap orang, tapi tidak bagi orang yang sabar sekaligus cerdas.
    Batu sandungan adalah kesuksesan yang tertunda, jika tak mau tetep berjuang maka tak akan sampai pada kesuksesan yg di harap. Semoga kearifan selalu ada pada kita.

  8. By hanna on Jun 15, 2007 | Reply

    ’sabar itu cerdas’,apakah berlaku untuk negeri kita ini?bukankah kita sudah terlalu sabar menghadapi ‘ORANG-ORANG’dinegeri ini.rasanya kalau kita sabar-sabar aja negeri ini akan semakin digrogoti.negeri ini sudah penuh dgn org yg tak sabar,semua mau cepat tanpa rapot maka muncullah ‘penembak’ulung.semua bisa ditembak dgn cepat,mulai dari ktp,akta lahir,siup,sim,paspor dan yang terakhir ini yang membuat saya jadi tidak sabar ‘tembak ijazah’.bagaimana negeri ini bisa penuh dgn org cerdas wong ijazah aja tinggal tembak.ini ni kalau kita sabar-sabar aja maka sabar itu tak akan cerdas.hehehe.ini cuma nurut saya lho pak,manusia kecil tapi tak kerdil.terus berjuang pak,tetap semangat.lahirkan karya yg dapat memotivasikan orang2 dinegeri kita ini untuk segera bergerak,bahu membahu berbuat sesuatu untuk kemajuan negri ini.

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 17, 2007 | Reply

    Semasa diperkuliahan dahulu, fakultas psikologi ust jogja, seingat saya belum pernah mendengar kecerdasan kesabaran (Sabar Intelligence). Yang sering sekali saya dapatkan adalah gembar-gembor IQ, IQ, dan IQ. Walaupun terkadang saja SQ, EQ, ESQ,…Q,…Q, et.all., itupun saat-saat nyaris lulus kuliah S1.
    Tetapi, subhanallah. Sebenarnya quotion-quotion yang lainnya akan terus bertambah, seiring perkembangan keilmuan ummat manusia. Dan, sabar, perlu dibuat quotionnya. Artinya dibuat alat ungkapnya (baca: tools). Sebab yang namanya quotion itu musti terstandardisasi seluruh dunia, diakui seluruh dunia. Kira-kira bakalan ada gak ya, tools untuk tingkat kesabaran? Harus ada yang memikirkan lho, jika dirasa bermanfaat bagi kita.
    Semoga quotion-quotion yang ada selama ini sudah terstandarkan. Semoga. Harapan. Salam quotion dari saya, Irsan.

Post a Comment