Sabar: Secuil Kisah

13 June 2007 | Ditulis oleh: |

Saya punya pengalaman menarik. Seorang teman yang —maaf— secara psikologis perlu dibantu. Orangnya cerdas, alumnus S2, kedudukannya strategis. Tetapi, penampilan menyedihkan dalam arti kurang percaya diri. Padahal, menurut saya kawan ini potensial dan berhati baik.

Hanya saja, seperti pengakuannya lingkungan kerja sejak mula meminggirkan. Menurut saya dia kurang dihargai. Saya perhatian secara khusus sampai titik kepercayaan dirinya tinggi. Dengan penuh sadar dan tulus merespon tanpa berharap apa-apa, kecuali memotivasi.

Ndillah, apa lacur. Pada suatu kesempatan Sang Kawan bertindak sangat kreatif. Jangankan saya, teman-teman lain dikentuti. Demi kesempatan baik —bagi dia tentunya— dengan santai ?mencoret? bau-bau saya. Itu belum seberapa, karya dari kesempatan tersebut, direkayasa membunuh keberadaan saya, hingga tergambar sebagai public enemy.

Lucunya, apa yang dilakukan, gagasan dasarnya, semut pun tahu, dari saya. Jadi, jangankan berharap etika, fakta historis juga ditenggelamkan, asal saya ?hapus?. Reaksi saya?

Itu dia. Masalahnya pada Sang Kawan, tapi pada diri sendiri. Semula hati panas juga, apalagi ada teman yang mengompori. Dasar tidak tahu diri, menembak di atas kuda. Hanya saja, ada gelitik hati, yang menjadi masalah dia atu diri sendiri?

Akhirnya menyadari, antara memotivasi dengan perlakuan orang (yang kita tolong) terhadap kita adalah dua hal berbeda. Kalau betul-betul ikhlas, pemberian tidak ada kaitan berikutnya. Termasuk disakiti. Mana tahu dia memang sangat membutuhkan berprilaku demikian. Kalau dikait-kaitkan pahalanya bisa hilang karena tidak ikhlas.

Dalam hati paling dalam, saya mohon ampuan pada Allah SWT. Terima kasih diberi pengalaman melalui kawan sendiri. Saya mendoakan agar dia mencapai apa yang dimaksud, apakah kebanggaan, popularitas, uang, dan hal-hal terkait.

Coba kalau direspon dengan emosi, kan kita rugi sendiri. Harus memikirkan, menghabiskan energi, dan kerugian-kerugian lain. Biarkan saja toh apabila tingkat kesadaran murni hampir, setiap orang punya nurani. Pesan saya, sabar menghadapi hidup dan kehidupan, apabila masih dalam koridor bisa ditoleransi, ya sabar saja.

Sabar adalah kendaraan kita menuju manusia sesungguhnya. Dengan demikian hati jadi tenang, perasaan jadi aman. Itulah bentuk menaknai dan menerapkan sabar dalam sikap hidup pada diri.

Begitu juga mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ?lingkungan? diri sebagaimana telah dituangkan dalam perjalanan kehidupan Rasulullah. Pengalaman dan cobaan-cobaan dunia adalah ujian sabar, ujian keimanan belaka. Ujian, cobaan, dan segala bentuk kekecewaan adalah medan latih agar kita kokoh dalam hidup dan berkehidupan. Lalu, kenapa harus dihindari?

Allah telah menggelar janji bagi orang-orang sabar: ?Kami sungguh akan menguji kalian dengan perasaan takut, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Namun sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berlaku sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka mengucapkan, ?Innalillahi wa inna ilaihi raji?un. Mereka itulah orang-orang yang mendapat curahan keberkahan dan rakmat daru Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.? (Q.S. Al Baqarah: 155-157).

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 17 Responses to “Sabar: Secuil Kisah”

  2. By Helgeduelbek on Jun 13, 2007 | Reply

    Konsekwensi sabar memang macam-macam… contoh lainnya adalah guru. Dengan senang hati mengajarkan secuil pengetahuannya kepada sang murid. Begitu muridnya sukses bahkan semestinya ikut memperjuangkan nasib sang guru, ternyata malah tidak perduli sedikitpun… lupa. Tapi bagi sang guru itu sudah biasa. Bahkan suatu ketika sang guru mesti harus banyak belajar dari sang mantan murid, karena kedudukannya. Jadi esesesnsinya memang tidak bisa dilihat hanya dari segi imbal-dan-imbal.

  3. By jmd on Jun 13, 2007 | Reply

    Sabar merupakan instrumen menekan naluri simpanse. Dimensinya diwaranai oleh superego. Kerjanya akan menabrak naluri kebinatangan yang dikibarkan oleh ego yang dibidani oleh id. Selamat kawan, sampian lolos dari salah satu ujian yang banyak dialami oleh orang-orang terpilih. Tapi, jangan dahulu puas karena Sang Khalik akan selalu menguji hambanya yang mengibarkan kesabaran.

  4. By histo phetex bed jo on Jun 13, 2007 | Reply

    waah sy hrs koment ky apa nih? luar biasa mendalam. Ya, God beschikt alles. Sementara pian ‘kan zich onder alle omstandigheden beheersen’. Insyaallah, god beloont den geduldige. Ik zeg U dit als vriend. Ik sloot zich aan bij jmd en helgeduelbek.

  5. By hanna on Jun 14, 2007 | Reply

    ketika rekening bank kita saldonya tiba-tiba menjadi banyak maka kita tak akan bisa sabar untuk segera mengeceknya.ketika seorg cowok mengatakan cinta pertamanya dia juga tidak akan sabar menunggu jwbannya.ketika anak kita bandel dan tidak pernah menghiraukan nasehat dan lingkungannya,apakah kata sabar berlaku disini?saya tidak tau banyak hal,cuma tau segelintir dari lingkungan n pengalaman.dari pengalaman yang pernah ada,dgn jujur harus ku akui sabar memang membuahkan suatu keindahan.ketika kita dengan sabar menghadapi seseorg yg menjengkelkan maka hati kita akan menemukan perdamaian.ketika kita dgn sabar mau belajar niscaya kita akan menjadi lebih pintar.apapun yang terjadi saya slalu percaya sabar akan lebih baik dalam hal apapun.hasil dari kesabaran jarang mengecewakan.

  6. By histo phetex bed jo on Jun 14, 2007 | Reply

    Waah, sy hrs koment ky apa nih? luar biasa mendalam. Ya, god beschikt alles. Sementara pian ‘kan zich onder alle omstandigheden beheersen. Insyaallah, god beloont den geduldige. Ik zeg U dit als vriend. Ik sloot zich aan bij jmd en helgeduelbek.

  7. By ahmad nur irsan f on Jun 14, 2007 | Reply

    Sabar yang aktif -ikhtiar- , oleh karena itu “SABAR DAN SABAR maka akan dapat jalan keluar”. apapun bentuk solusinya, yang penting bisa diterima secara manusiawi, tentu saja juga syar’i.
    Salam SABAR dari saya, IRSAN_GLOBAL.solusi.banjarbaru
    (maaf numpang jadi selebriti-iklan_)
    Wassalamu.

  8. By dp on Jun 14, 2007 | Reply

    bbbbbbbbbbbbbbb

  9. By dp on Jun 14, 2007 | Reply

    jjjjjjjjjjjjjj

  10. By phetex on Jun 14, 2007 | Reply

    Waah, sy hrs koment ky apa nih? luar biasa mendalam. Ya, god beschikt alles. Sementara pian ‘kan zich onder alle omstandigheden beheersen. Insyaallah, god beloont den geduldige. Ik zeg U dit als vriend. Ik sloot zich aan bij jmd en helgeduelbek.

    waah gua hrs ngomong apa nih? luar biasa mendalam. Ya, Allah menakdirkan segala sesuatunya.. sementara pian, telah mampu berada di dalam segala suasana. Insyaallah, tuhan mengasihi orang yg sabar. Gua katakan ini sbg sahabat. Gua setuju dengan pandangan jmd en helgedulebek.

  11. By fatchul muin on Jun 14, 2007 | Reply

    in fact, in your daily life, you seem to be emotional and unpatient when your ideas are debated by some other friends. actually, I am very happy I have a friend like you. You always give me motivation in facing my living problems; you are my friend and at the same time you are my best ‘teacher’.
    Don’t be emotional in responding any comments given by our friends.

    What is your ideas about it?

  12. By didi junaedi hz on Jun 14, 2007 | Reply

    kadang, kondisi memang menyudutkan kita. seakan tidak ada ruang untuk sekedar memberi kata ‘maaf’ kepada seseorang yang telah menyakiti hati kita. ditambah lagi provokasi orang-orang disekeliling kita yang seakan menuangkan ‘bensin’ di tengah kobaran api. tapi, kalau kita berpikir lebih jernih, apakah itu akan menyelesaikan masalah? saya kira, justru akan menambah masalah. suasana hati yang panas tidak akan pernah bisa menjadi dingin, kalau kita tetap berada dilingkungan yang ‘berhawa panas’. maka, ketika kita tengah berada dalam situasi yang ‘panas’, menghindarlah! cari tempat yang teduh, penuh kedamaian, yakni rumah Allah. basuh muka kita dengan wudlu, tenangkan hati dan pikiran kita, kita kembalikan semua persoalan kita kepada yang Maha Pemberi solusi, yakni Allah SWT. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, yakinlah!

  13. By Zaenal Anis on Jun 14, 2007 | Reply

    biasa saja, teman. itulah dinamika pertemanan, tinggal bagaiaman kita mensikapinya. bahwa teman telah mensikapinya seperti itu sesuatu yang amat luar biasa, namun hemat gua silaturahmi tidak boleh putus. dengan ini kita bisa menggapai yang kita cita-sitakan.

  14. By porda NP on Jun 14, 2007 | Reply

    Hakekatnya manusia adalah sabar, dalam konteks filsafat sudah ditegaskan untuk sabar demikian pula dalam konteks agama. Selamat atas tulisannya mudah-mudahan dapat menjadi sinar bagi ulun untuk sabar.
    Sabar berarti juga dapat memahami bahwa manusia itu macam ragamnya.
    Paling menarik bila konsep sabar dapat diintegrasikan dalam pendidikan. Guru yang sabar, subject matter yang sarat dengan nilai-nilai sabar. Insya Allah outputnya adalah manusia sabar. Pada akhirnya bangsa ini akan menjadi bangsa yang penyabar.
    Demikian ulun mendukung kesabara piyan.

  15. By windede on Jun 14, 2007 | Reply

    tidak ada yang lebih menarik kecuali satu hal: sampeyan rupanya penyabar juga ya huehehe…

  16. By phetex on Jun 15, 2007 | Reply

    bos, kayaknya sampean cocok dan pas pang sama om Porda: sabar, sabaar, sabaaar, tau-tau negeri ini lenyap tak tau rimbanya, he he he.

  17. By Ersis W. Abbas on Jun 16, 2007 | Reply

    Ya melatih diri sabar kan tidak berdosa, yang penting lagi dapat pencerahan. Dahsyatnya dari renungan, sabar itu bukan diam lho, justru aktif, dan kreatif. Di ujung usaha dan upaya letaknya sabar. Sabar menerima keadaan, itu keblinger namanya. Beliet it or not, sejak latihan sabar, saya berkarya lebih lempang. Tulisan dan buku-buku mengalir begitu saja.

    Mohon pengertian, he … he … yang saya tulis laku sabar yang dilakonai, bukan emosionalitas atau kemarahan. Itu sisi lain lagi. Ntar ditulis juga.

    Tulisan saya memang ditayangkan untuk sharing. Karena itu saya berterima atas komen, apapun bentuknya. Komen-komen para sahabat, intinya akan ditulis dalam tulisan. Insya Allah bukunya jadi best-seller. Saya akan sabar melahirkan buku Hidup Nyaman.

    Motivasii saya agar sabar ya sobat-sobat. Thank before and after, the life is change, change in progress.

  18. By Ahmad Nur Irsan F on Jun 19, 2007 | Reply

    Sabarnya Nabi Ya’kub ketika dibohongi oleh anak-anaknya (saudara-saudara tiri Nabi Yusuf), sabar yang juga harus kita teladani. Untuk zaman kekinian, hal tersebut kita jadikan teladan. Karena bisa jadi kita juga pernah dibohongi oleh orang-orang terdekat kita yang sebenarnya kita tahu dia bohong. Tetapi apa reaksi kita saat itu, semoga bisa menjadi bahan evaluasi bagi kita agar bisa lebih bersabar. Makanya, kesabaran yang baiklah, yang akan membawa kesuksesan dalam hidup sebelum mati dan hidup pasca kematian. Setuju, ya..(sebagaimana kisah Nabi Ya’kub dalam Qur’an Surat Yusuf).

Post a Comment