Mahasiswa, Mode, dan Islam
13 June 2007 | Ditulis oleh:Oleh Lisnawati*
Perkembangan teknologi telah membawa manusia menuju era baru dalam kehidupan. Perkembangan tersebut menghasilkan produk-produk modern, melahirkan apa yang dinamakan mode. Mode inilah yang digandrungi sebagian besar mahasiswa.
Mode yang diikuti bisa ala Barat atau Asia. Mode Barat seperti rambut ?pirang?, pakaian ketat dan terbuka, hingga kosmetika. Mode ala Asia seperti rebonding. Bagi pria, rambutnya diponi menutupi mata. Konon, kalau tidak dicap?cupu? (culun punya).
Menilik fenomena tersebut, wajar timbul kesan, kampus adalah ?kampus mode?. Di kampus-kampus elite persaingan mode antar mahasiswa menjadi bagian tersendiri. Hal tersebut menimbulkan budaya konsumtif.
Muhammad bin Abdul Azis al-Musnid dalam bukunya Indahnya Berhias, budaya berdandan dan budaya bermode bisa menimbulkan bahaya psikologis. Wanita yang selalu mengikuti mode akan terus berusaha memperhatikan penampilan dan memikat kaum lelaki, guna mendapat pujian. Jika pujian sudah didapatkanya, dia akan semakin angkuh dan takabur. Kalau ada yang mengunggulli dia akan marah dan dengki.
Pujian membuat semakin terpedaya, kenapa saya tidak memakai pakain yang lebih bagus lagi sehingga dapat pujian lebih banyak??. Bukankah ini merupakan tekanan batin bagi si wanita tersebut?
Menurut saya, idealnya seorang mahasiswa bisa membawa perubahan mendasar ke arah yang lebih baik, menimbulkan pencerahan pemikiran bagi masyarakat. Bukankah mahasiswa mempunyai kemampuan untuk melakukan itu? Mahasiswa harus bisa jadi publik figur yang baik bagi masyarakat, bukan malah membebek budaya mode artis.
Untuk dapat mewujudkannya dikembalikan kepada tugas utama mahasiswa, yaitu belajar. Belajar untuk beropini ke masyarakat, belajar bersosialisasi ke masyarakat, belajar bersaing secara sehat dalam menerapkan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.
Bolehkah mahasiswa mengikuti perkembangan mode? Tentu saja. Tidak ada yang melarang. Mode merupakan produk teknologi kehidupan dalam berbagai fasilitas serba modern. Namun demikian, karena kebanyakan produk dari karya nonmuslim, tentu tidak memakai standar halal-haram. Apalagi mode dalam artian lifestyle.
Misalnya mode pakaian yang d dilarang keras dalam ajaran Islam. Pakaian tanpa lengan, tembus pandang, dan terbuka yang mengumbar aurat. Ironisnya, justru banyak muslimah menyukainya. Sehingga tidak lagi tampak perbedaan antara orang yang muslim dan yang non muslim. Sabda Rasulullah: ? Barang siapa yang meniru suatu kaum, berarti termasuk golongan mereka?. (HR. Ahmad).
Oleh karena itu, saran dan nasihat para ulama bahwa sebagai umat Islam jangan begitu saja mengkonsumsi berbagai kemajuan teknologi dan mode tanpa mempertimbangkan baik-buruknya, layak diikuti demi kemaslahatan bersama. Untuk itu mari waspada terhadap penjajahan melalui budaya mode. Terlebih-lebih kalau mahasiswa yang jadi sasaran korban mode. Mau jadi apa generasi muda mendatang?
*Mahasiswa Fakultas Hukum Unlam anggota Komunitas Penulis EWA?MCo.













2 Responses to “Mahasiswa, Mode, dan Islam”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 17, 2007 | Reply
Ya, itu ada betulnya. Saya setuju. Mereka yang sampai terpedaya dengan budaya yang gak senonoh, itu artinya mereka terkena ghozwul fikri-perang pemikiran- mereka diserang tapi yang diserang menyukai bom-bom serangannya (boleh dibaca: mode yang gak syar’i. Ya tugas kita adalah mulai ari diri sendiri, teruskan ke lingkaran pengaruh terkecil -keluarga- hingga kelingkaran pengaruh yang terbesar yang bisa dijangkau.
Oleh karena itu, seorang mahasiswa harus menjadi sang Mujaddid, setuju, kan? Jazakallah
By Ahmad Nur Irsan F on Jun 19, 2007 | Reply
Selamat…! tulisan pian dimuat di koran Radar.
Semoga generasi muda/ mhs bisa sedikit dapat pencerahan. Salu buat sang Motivator..(meminjam bahasa Dona dalam tulisan “I was born to write”).
Hidup Mahasiswa…Allahu Akbar…