Ruang Khusus Sharing Menulis

5 June 2007 | Ditulis oleh: |

Hallo, assalamulaikum WW

Setelah buku Menulis Sangat Mudah beredar secara nasional, SMS, telepon, dan email saya lincah menerima berbagai pesan. Negatifnya, banyak yang minta nasehat ini itu tentang menulis. Maaf, saya bukan guru menulis, saya motivator penulisan. Karena itu, mari kita diskusi, sharing tentang menulis. Bisa jadi, ada yang bertanya, berpendapat, atau mendebat, tak mengapa. Kita bicarakan sama-sama. Kita bangun budaya menulis. Menulis sungguh, sekali lagi, sungguh sangat mudah. Ruangan ini khusus saya sediakan untuk hal sedemikian.
Salam
Ersis Warmansyah Abbas

  1. 19 Responses to “Ruang Khusus Sharing Menulis”

  2. By x-ser on Jun 6, 2007 | Reply

    Selamat ya Pak atas kelahiran bukunya. Tapi sayang nih ya ditempatku masih susah carinya. Bisa dikirimi gak he he…

  3. By -tikabanget- on Jun 7, 2007 | Reply

    ^^
    belajar nulis itu kayak belajar masak ya, Om..

  4. By A.N.IRSAN.FINAZLI on Jun 8, 2007 | Reply

    Hallo juga, Alaikummussalam.ww

    Memang bujur banar, seorang motivator tu kudu seorang penulis juga.
    Seorang Motivator kalau mau sukses memotivatori, menurut saya, memang harus interaksi langsung dengan yang akan dimotivatori, terlebih dulu.
    Terbukti saya,ni.
    Banyak yang meminta saya agar menulis seperti waktu mhs S1 dulu, tapi ya hanya minta aja tanpa ada dikompori tanpa ada liqo’-pertemuan- yang menegaskan menulis tu mudah (terutama OPINI dikoran).
    Alhamdulillah di KP EWA’MCo saya bujur2 dipanas-panasi2 bahwa nulis itu gampang, ternyata ‘pancen gampang tenan’.
    Jazakallah Sang Motivator…!

    Al-Kisah :
    Seorang IRSAN, ‘dipaksa’ agar tiap hari harus nulis satu tulisan. Semula IRSAN anggap sangat berat, sebelum menulis. Ternyata saat dijalani, treatment seminggu nulis minimal jadi 7 tulisan terwujud juga. IRSAN kaget.
    Tapi ya baru seminggu aja yang tanpa putus. Saat ini, ya minimal seminggu 2 sampai 3 tulisanlah.
    Seorang IRSAN bertekad akan berusaha menulis tiap hari selama 30hari alias sebulan, doakan bisa.
    Tapi kayaknya Seorang IRSAN perlu ‘dipaksa’ lagi baik dr internal/eksternal untuk memulai, sekali lagi untuk MEMULAI-nya…

    Thanks

  5. By hanna on Jun 8, 2007 | Reply

    salam.
    senang sekali dapat mengenal orang seperti bapak.saya anak desa yg tidak pernah duduk dibangku sma.setelah membaca buku bapak ‘msm’saya benar2 termotivasi untuk menulis,meski dengan gaya bahasa yg menurut saya tidak beraturan.tapi pak, ada beberapa sms masuk kehp saya bunyinya:’saya menyukai tulisan anda,polos apa adanya tapi menyentuh jiwa saya’.hehehe.sejujurnya saya ingin berkata:’oh!,itu adalah hasil kerja pak Ersis juga,karna beliaulah saya jadi tidak takut lagi menulis.’lucunya saya sekarang malah bisa hadir diweb ini.’tak percaya tapi ini terjadi’persis seperti kalimat dilagu ‘Tenda Biru.’karna saran bapak akhirnya saya belajar komputer juga.terima kasih untuk petunjuk bapak.

  6. By hanna on Jun 8, 2007 | Reply

    hello,
    gini lho pak,saya jadi kebingungan tatkala saya ingin menulis sesuatu yang agak mengkritik atau agak menentang sesuatu yang sedang terjadi.bagaimana ini?tidak ditulis hati tidak terima,ditulis berbalik saya yang dikritik.duh,dunia! kok kebenaran lebih cenderung ditutupin dari pada diungkapkan.
    saya kecewa berat lho karna tulisanku itu akan dipertimbangkan oleh media saya dimuat or no.saya bukan seorang penulis teropsesi menulis karna saya tidak mampu melihat lagi apa yang sedang terjadi.bagaimana nurut bapak?

  7. By Ersis W. Abbas on Jun 8, 2007 | Reply

    Sobat X-ser, tinggal dimana sih? Dari Aceh sampai Kendari pada beli buku saya dan berkomentar. Gini aja, kirim alamat ntar saya kirimi.

    Tika, jangan dibalik, menulis jauh lebih mudah dari memasak. Memasak itu adalah pekerjaan paling susah, sekalipun saya jago masak (Padang), he … he … Baiknya dipadu: Menulis semudah memasak, memasak seenak menulis.

    ANIF: Siip menulis memang urusan pribadi, bila ‘diri’ ini mau maka kun fayakun, kalau ‘diri’ ogah ya alasan bisa bergabung bertimbun-timbun Trus aja menulis. Bagi saya: menulis itu pekerjaan 15 menit untuk satu artikel. Mau tau rahasianya: banyak membaca.

    Hanna: Semua itu hasil kerja Sampeyan, saya sekedar memotivasi. Banggalah dengan itu. Ibarat berjalan, jalan, kendaraan, dan sebagainya adalah fasilitas dan faktor pendorong, penulisnya tetap saja penulis.

    Ya terus tulis nanti akan ada titik pertemuan. Menulis itu ya apa adanya, kalau ada pertimbangan ini-itu, itu yang merusak. Saya pastikan, penghalang menulis ya pertimbangan-pertibangan yang ngak keru-keruan itu. Nanti, saya tulis artikel khusus tentang ini.

    Cuma kita harus melatih, bagaimana ungkapan itu diterima dalam sebuah setting budaya, tetapi … bukan larut. Prinsip is prinsip. Selamat berkomputerria dan bergembira di internet, mudah khan?

    Terus pada menulis wahai para handai tolan.

    Salam:
    Ersis Warmansyah Abbas
    Motivator Penulisan

  8. By Helgeduelbek on Jun 9, 2007 | Reply

    Hemmm sepertinya semua hal bisa ditulis… biar saja berupa sampah, yang penting menulis dengan enjoy. Kemasan boleh macem2 yang penting ada tindak menulis. Mari mengayuh jemari diatas tuts keyboard, walau sekedar mengeluarkan sampah otak/pikiran.
    Buat yang mau menulis … ingat tulisan tidak bisa langsung bagus/baik, tapi gak usah ambil perduli tentang baik-buruknya tulisan. Sebab menulis laksana orang belajar bersepeda untuk pertama kalinya. Yang penting semangatnya untuk menulis terus. :)
    Usul tuk bang ersis: gimana kalau dibuat halaman tersendiri di blog ini tentang segala hal terkait dengan ihwal tulis menulis?
    BTW kenapa yah akses webersis.com dari tempat saya agak lambat?

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 17, 2007 | Reply

    Oke, Pak Ersis.
    Makasih banyak atas treatment sebulan kedepan s/d 13 Juli 2007. Doakan saya bisa berhasil menulis komentar SABAR-nya EWA selama sebulan klir. Jazakallah khair.
    Salam baik dari saya, Irsan.

  10. By hanna on Jun 19, 2007 | Reply

    wah,disini banyak penulis yang keren-keren boh.barang kali cuma saya yang norak,hehe.mulai belajar nulis gara-gara buku ‘msm’karangan bapak pakai tulisan tangan sampai komputeran.dari bahasa indonesia yang ngaur, alur cerita yang ga tau keman-mana.eh,lama-lama mulai datang tu kesadaran akan kesalahan.gini lho pak,mau minta ilmunya sedikit,biasanya setelah nulis saya jarang mengoreksi kembali,bahkan langsung diedit n kirim.harusnya bagaimana?pernah saya baca kembali eh,jadi tambah lama tiba-tiba berubah sebagian.

  11. By hanna on Jun 19, 2007 | Reply

    jangan kapok ya ajarin saya.saya cuma chiness kampong yang sejak kecil belajar dagang.mulanya sih ga pengen tu jadi paenulis,suer.cuma iseng karna senang dengan keindahan kata.menulis cuma buat suka-suka.tapi sepertinya saya mulai…mulai jatuh cinta sama tulisan.kok bisa ya?

  12. By Al Fahm on Jun 21, 2007 | Reply

    Ya Allah…berikanlah hamba keistiqomahan dalam mensyukuri nikmat-Mu yang tiada terkira…sehingga akal yang ada ini bisa digunakan untuk selalu mengarah kepada kebaikan…terima kasih semoga lewat orang-orang yang selalu memotivasi saya untuk membaca dan menulis dapat dimudahkan segala urusannya…

    Sukses Pa Ersis…saya berusaha untuk memperbaiki tulisan saya

  13. By Anonymous on Jun 21, 2007 | Reply

    Oh ya, sebulan lalu saya baca buku The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita). Menurut saya, seperti Asmaul Husna, Allah SWT telah menitipkan banyak hal di ‘tubuh kita’. Penelitian Kazuo Murakami ini misanya, ada hal ‘baik’ ada hal ;buruk’ dalam DNA, tinggal kita mau menyalakan atau memadakam, in-of saja.

    Jadi, menulis itu sudah ada titipa potensiNya, tinggal kita saja lagi. Hal tersebut memperkuat tesis saya: Menulis Sangat Mudah. Kiatnya, hidupkan potensi menulis yang sudah ada di gen kita.

    Selamat mencoba.

  14. By maghfira on Jun 21, 2007 | Reply

    Assalamualaikum…
    Selamat malam pak,biasanya saya hanya sms tapi skarang dah mulai sampai tahap ini,artinya ada kemajuan kan pak..
    trimakasih atas dukungan bapak slama ini yg sudah memberikan saran dan kritiknya yg memacu saya menjadi lebih baik,Insya Allah Amin…

  15. By Maghfira Mimi on Jun 24, 2007 | Reply

    Assalamualaikum….

    Wah Pak Ersis saya senang lo memang judulnya lebih tepatnya di bawah naungan sajadah…makasih dah edit cerpen saya hehehe ternyata saya masih aja salah tapi nggak papa deh namanya juga pemula so harap di maklumi….Insya Allah dengan di asah terus kelak bisa kinclong siapa yg tau iya kan pak….Amin..

  16. By M. Rizky Adha on Jun 27, 2007 | Reply

    Assalamualaikum… Bang Haji???
    Bang Haji(mAAF AQ PANGGIL GTU YAA… SOALNYA FOTO SAMPEYAN PAKE PECI HAJI sech…???), aq mau curhat nah…!!! Aq pnya problem yang sampe skrg aq sering berpikir ribuan kali, pasalnya setiap aq menulis artikel atau opini yang menyinggung pemerintah, seringkali aq di tolak mentah2… Ju2r aq orgnya tidak pernah suka untuk membuat2 apabila yang ku lihat itu jelek ya jelek,sehingga aq mengkritik dengan gaya sindiran yang khas ala bahasa qu sendiri tanpa peduli dengan gaya bahasa orang lain yang terlalu munafik sekali dalam mendeskipsikan keadaan yang sebenarnya…Terus terang gaya bahasa qu ini di pengaruhi oleh literatur kiri yang sampe sekarang aq anut… Maklum aq penggila Marxis… Aq gak mau membunuh karakter qu sendiri… Utk itu aq akan ttp brthn memperjuangkan apa yang aq anggap itu benar!!!
    emmm…aq tunggu lach jawbn sampeyan d alamatqu???
    Bang Haji, aq mau melemparkan sebuah wacana, mengapa orang yang pandai menulis seringkali harus menjilat dan menyanjung2 dulu sang gurunya… Padahal di dalam buku sampeyan ditulis bahwa menulis itu tidak perlu berguru…
    Tetapi toh sekarang aq lihat sprti to keadaannya… Apa hanya untuk gaya2an aja atau bikin orng yang nulis itu terpesona ma tulisnnya sendiri…he..hee.hee Apa GAK MUNAFIK TOH BANG HAJI YANG TAMPAN???
    Wassalamualikum Bang Haji…
    Hidup KANGEN BAND…!!! pAK Haji aq tnya, pa Bang Haji msh make lagunya Radja d nada dering sampeyn…, Dah kd zaman lagi DeRaDam2… he

  17. By SQ on Jun 29, 2007 | Reply

    he..he..he masa iya bapa jago masak ???

  18. By EWA on Jun 30, 2007 | Reply

    M-Mimi, yoi, yang penting menulis, dan … kalau menulis dengan pikiran terbuka Allah akan membuka peluang dari yang tidak pernah terpikirkan oleh kita …

    MRA: Wow Sampeyan pantas curhat, sebenarnya Sampeyan tidak punya problem dengan org lain, tapi dengan diri sendiri. Kalau Sampeyan menulis, ya nulis saja. Orang tidak menerima, ya wajar saja. Masalah sampeyan … Sampeyan menulis mematok orang harus menerima … nah ini pemaksaan kehendak pada orang lain. Yang pusing siapa? Sampeyan toh? Jadi, antara menulis dan tulisan diterima orang itu dua hal berbeda. Pisahkan itu, jiwa Sampeyan akan tenang.

    Lalu apa salahnya orang muji gurunya, bapaknya, nabinya, Allahnya, maunya orang itu begitu, biarin aja. Ketika kita katakan dia munafik, ya dapat dosa, membenci orang itu, hati tidak tenang, yang rugi siapa? Ya, sampeyan lagi. Biarkan orang berpikir dengan pikirannya, ngapain memikirkan pikiran orang. Biarlah semut jadi semut, gajah jadi gajah, iblis jadi iblis, dan Ersis jadi Ersi. Eunak tenan.

    Siapa bilang itu kopiah haji? Salah lagi sampeyan. Kopiah ya kopiah, ngak ada tu di Firman Allah (Al-Quran) atau hadis Rasulullah tentang kopiah haji. Sampeyan itu saja yang berpkir begitu seperti orang yang berpikir begitu. Itu produk kebudayaan yang disalahmaknai, dan Sampeyan ikut yo salah kabeh, salah kaprah. Harus dibedakan haji sebagai ibadah dengan kopiah haji sebagai produk kebudayaan.

    Baru kuliah pengantar he … he …

  19. By a. on Jul 4, 2007 | Reply

    CUCUK NANG BAKOPIAH HAJI….he3x

  20. By buladigsite on Feb 9, 2008 | Reply

    thanks atas segala dorongan untuk jadi penulis….. apapun kita tulis…. hasil akhir pembaca yang menilai…. mari kita berkarya terus

Post a Comment