Guru dan Solidaritas

5 June 2007 | Ditulis oleh: |

SEJUMLAH guru yang mengungkap kecurangan pelaksanaan unjian nasional (UN) di Medan meminta perlindungan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Guru-guru ‘gagah berani’ yang menjiwai inti sari pendidikan berteguh pendapat, pelaksanaan UN curang merusak sendi-sendi utama pendidikan. Apa yang didapat?

Intimidasi. Bukan saja diancam akan dipecat, tetapi diteror akan dibunuh. Hal serupa menimpa sekelompok guru di Bandung yang juga mengungkap keculasan pelaksanaan UN 2007. Saya yakin, mereka orang-orang beragama. Berlaku curang adalah perbuatan dosa.

Gilanya, ada yang berpendapat, membocorkan soal, memberi kunci jawaban, dalam menolong siswa tidak apa-apa. Masyak sih menolong saja salah. Kalau semakin banyak guru yang berpendapat demikian, apa pun usaha peningkatan kualitas pendidikan, pada akhirnya akan menjadi pekerjaan sia-sia.

Apakah perjuangan mereka akan bernasib sama dengan guru, orang tua siswa, dan siswa yang bersaski sampai ke DPR ketika mengungkap kecurangan UN tahun 2006? Kita nantikan saja buktinya. Indonesian style dalam penanganan kasus menyimpang biasanya geger dimana-mana, lalu sunyi, yang memperjuangkan menerima sanksi tanpa hukuman formal, dan … kemudian masalahnya hilang. Bangsa ini mungkin sudah jadi bangsa pelupa.

Drakula Pendidikan
 Ketika seorang teman mengutarakan bahwa dia dapat kabar di suatu sekolah menjelang UN, ada murid yang ditawari bocoran soal seharga Rp2,5 dan menolak. Alasannya sungguh mulia dan mendasar, mengikuti ujian dengan kemampuan sendiri. Kalau lulus itulah hasil jerih payah belajar, kalau tidak nanti belajar lebih giat lagi.

Yang menarik, katanya yang menawarkan justru guru. Sampai disitu saya menyuruh dia berhenti bercerita, kalau hanya sekedar rumor. Kalau benar-benar terjadi, lebih parah lagi, mendengarnya saja pusing. Kalau ada guru-guru yang bermental demikian, dia adalah drakula pendidikan, mengisap inti darah pendidikan.

Seorang guru pernah bercerita, misalnya soal bahasa Inggris (SMP) UN 50 dengan standar nilai empat dua lima (4,25) oleh sekolah dibuat standar dimana setiap peserta minimal betul 25 soal agar aman lulusnya. Sehabis ujian ketika pengawas, LSM, pemantau PT, dan unsur masyarakat akan pulang, Tim Sukses merperlihatkan amplop jawaban terlak untuk dikirim ke Disdik. Setelah itu dibawa ke ruang kepala sekolah dan ‘mengerjai’ jawaban siswa agar tidak ada jawaban yang kurang betulnya dari 25. Setelah itu dilak dengan amlop asli, dan bereslah.

Tahun 2006 ketika kecurangan pelaksanaan UN ramai diberitakan pers, sejumlah mahasiswa saya minta membuat esai dengan tema kecurangan dalam ujian berdasarkan pengalaman pribadi. Duh Gusti, beberapa mahasiswa mengalami diberi kunci jawaban oleh … guru.

Kalau demikian ceritanya, kalau dalam ujian saja berjuang bersama kecurangan, bagaimana selanjutnya? Kita sering mendengar, untuk masuk perguruan tinggi, memakai joki. Semasa kuliah ngrepek, sampai ada yang tugasnya diupahkan. Waduh … tidak heran, untuk menjadi PNS ada yang menyogok, untuk menduduki jabatan membayar, dan kalau jadi pejabat, kira-kira biasa-biasa saja dengan prakek curang.

Ada pula kawan yang terheran-heran, si anu kog tiba-tiba menyandang gelar anu, kapan kuliahnya? Dulu, ada ramai-ramai mendapatkan gelar akademis dengan cara pintas, ada lembaga yang ‘menjualnya’, produk dalam negeri ada, yang luar negeri pun OK punya. Pendidikan bergeser ke wilayah gensi tak bertuan, kebenaran sebagai landasannya tercampak ke laut dalam.

Jagan-jangan, dari praktek-praktek curang dalam menjalani kehidupan tersebut menjadi bahan bakar suburnya korupsi. Alih-alih memberantas korupsi, wong perjalanan karir melalui tindak koruptif. Kalau demikian ceritanya, pantas sampai dipersepsikan sebagai jawara korupsi nomor wahid dunia. Mudah-mudahan hal-hal tersebut tidak benar.

Saya yakin, masih lebih banyak yang berpegang pada kebenaran, pada tali Allah SWT. Bayangkan. Sholat rajin, bahkan telah menunaikan ibadah haji, kalau curang dalam profesi, apakah tidak mencemari keyakinan? Marilah guru-guru, kalau ada tindak curang di lingkungan pendidikan, dikikis. Jadilah Pahlawan Anti Kecurangan, bukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Solidaritas Guru

Kita suni dari berita solidaritas guru-guru Indonesia atas nasib yang menimpa guru-guru yang berani mengungkap kecurangan UN. Hampir tidak ada kita mendengar dari media elektronik, di tulis di media cetak, atau demo bagi pendukungan sesama guru. Ada apa ya? Hanya guru yang bisa menjawabnya.
 Bagi saya, ‘kekuatan’ guru sekitar 2,7 juta orang bukanlah kecil. Barangkali, partai politik saja susah mempunyai anggota aktif sebanyak guru. Petingi-petingi parpol mampu mengaharu-biru Indonesia sementara guru sekadar memperjuangan nasibnya saja terkesan ogah-ogahan.

Era kejayaan profesi guru, ketika setara dengan profesi lainnya, apakah sudah di telan sejarah? Guru terpojok di lingkungan yang termarjinalkan. Bahkan, untuk kerja pokoknya semisal pengembangan kurikulum, alpha-bethanya ditentukan oleh mereka yang ‘di sana’. Guru terpinggirkan sebagai pelaksana pada tataran implemnentasi. Tidak lebih. Contoh faktualnya KBK. Setelah tertatih-tatih memahami KBK, tiba-tiba harus menyambut kedatangan KTSP. Laksanakaaaaaan.

Kini guru-guru akan tersibuk dengan peningkatan kualifikasi, ujian kompetensi, sertifikasi, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa sibuknya guru untuk semua hal tersebut. Pada kenyataannya, dibanyak sekolah masih kekurangan guru. Kalau ‘proyek’ tersebut bergulir sampai tahun 2010, bisa jadi sekolah akan kekurangan guru aktif. Lalu, bagaimana PBM akan lebih berkualitas kalau guru tersibuk mengikuti aneka program.

Maaf, jangan-jangan ini menjadi penyebab makin menurunnya kualitas pendidikan. Anehnya, guru-guru kita mengambil jurus diam seribu bahasa. Apakah kondisi tersebut tidak terpredeksi? Walalhualam bissawab.

Akhirnya, kalau pendidikan kita ingin lebih berkualitas keberpihakan kepada profesi guru perlu lebih ditingkatkan. Tidak kalah pentingnya, solidaritas guru, apakah dalam memperjuangan nasib, usaha dan upaya peningkatan kualitas, apalagi apabila ada guru-guru yang nasibnya dirudung kemalangan, solidaritas guru perlu dipadukan.

Bagimana menurut Sampeyan?

  1. 4 Responses to “Guru dan Solidaritas”

  2. By Fathul Mu'in on Jun 7, 2007 | Reply

    Kecurangan dalam pelaksnakan UN merupakan penyakit dalam pendidikan yang harus kita berantas, mulai dari lingkungan pendidikan terdekat.

  3. By Helgeduelbek on Jun 9, 2007 | Reply

    Lalu masih adakah ruang kejujuran dalam masalah pendidikan yang tidak mendidik seperti itu?
    Beberapa guru yg hampir ada di setiap sekolah itu bertindak menghianati nurani pendidikan, mereka yang seperti itu perlu dipertanyakan niatnya menjadi guru, mungkin hanya untuk mencari nafkah belaka. Buruk benar wajah guru kita kalau begitu.
    Sebenarnya aksi solidaritas bisa saja lewat wadah yg ada, yapi sepertinya wadah itu juga rusak… ada PGRI… ke mana pentolan dan pengurus utamanya? merekalah yang bisa mengajak untuk menggerakan aksi itu, tapi adem ayem saja.

  4. By Helgeduelbek on Jun 9, 2007 | Reply

    Lalu masih adakah ruang kejujuran dalam masalah pendidikan yang tidak mendidik seperti itu?
    Beberapa guru yg hampir ada di setiap sekolah itu bertindak menghianati nurani pendidikan, mereka yang seperti itu perlu dipertanyakan niatnya menjadi guru, mungkin hanya untuk mencari nafkah belaka. Buruk benar wajah guru kita kalau begitu.
    Sebenarnya aksi solidaritas bisa saja lewat wadah yg ada, yapi sepertinya wadah itu juga rusak… ada PGRI… ke mana pentolan dan pengurus utamanya? merekalah yang bisa mengajak untuk menggerakan aksi itu, tapi adem ayem saja. Huuuh…!

  1. 1 Trackback(s)

  2. Jun 8, 2007: Menulis Skripsi Dan Menulis Blog « Parking Area

Post a Comment