Muaralabuh my Memories
2 June 2007 | Ditulis oleh:PULANG kampung adalah saat-saat paling menyenangkan, menyentuh, mengharubiru bagi perantau. Menapaktilas perjalanan kehidupan. Sebagai anak kampung, Muaralabuhku adalah identitas itu sendiri. Dari situlah semuanya bermula sebelum mengharungi hidup di perantauan. Jakarta, Jogja, Bandung, dan menetap di Banjarbaru.Satu hal yang membuatku heran, sebenarnya kapan aku lahir? Di ijazah ada yang tertanggal 7 September 1957, ada 7 Juni 1956, yang lazim kupakai 15 November 1957. Setelah kurangkai baru paham. Sejak kecil dididik mandiri. Apa saja, kalau bisa diurus sendiri, tidak perlu minta bantuan orang lain.
Nah, aku juga bersikap ‘praktis’. Kira-kira ketika mengisi identitas waktu mendaftar sekolah diisi sekenanya. Lucunya, tidak mengalami kendala soal yang satu ini. Sekolah, kuliah, jadi PNS, tidak ada yang mempersoalkan. Berjalan biasa-biasa saja.
Dinding Kamar
Aku ingat kebiasaan Bapak. Untuk hal-hal penting biasanya dicatat. Di Sigintir, di rumah gadang kami tempat aku lahir yang sejak nenek meninggal didiami keluarga, seingatku ada tulisan Bapak. Keluarga dekat, adik-kakak ibu, begitu juga anak-anaknya pada bertebaran, dari Bengkulu sampai Malaysia dan punya rumah masing-masing. Rumah gadang dipercayakan pada keluarga dekat senenek.
Aku mengitari rumah tempatku lahir dan tumbuh. Aku ingin bertemu teman-teman sepermainan, berenang, memanjat pohon, berdomino, mengaji atau mencari ikan di sungai. Teman-teman berantam tetapi menjadi paling akrab. Duh semua bak terpampang di layar kenangan.
Tetapi, itu sekadar lamunan dan berhenti ketika di balik dinding kamar tengah tertulis Ersis Warmansyahril lahir Chamis 15 November 195.. Aku ketawa-ketawa saja, kog beda, ya namanya, ya tanggal lahir. Aku pernah memakai nama Ersis Warmantil, nenekku memanggil Ikit, panggilan kecilku Isis. Tulisan Bapak itu dari kapur. Tidak terhapus selama 50 tahun. Luar biasa. Erwin mengambil foto tulisan itu.
Dunia Lain
Aku, entah kenapa, tidak terlalu percaya dengan hal-hal di luar rasional. Tapi, di pikiranku tidak bisa dihapus cerita keluarga. Misalnya, ketika Uni Er sakit keras, di Batang Laweh beberapa bulan, aku masih SD, keluarga datang ke ladang di Bancah. Untuk apa? Melihat airnya. Kalau airnya keruh pertanda tidak selamat, saat itu airnya bersih, kakakku sembuh.
Di rumah gadang, kalau ada hal-hal besar selalu ada yang menjaga. Kalau yang di dunia halus tidak berkenan, nasi bisa tidak matang-matang, dimasak bagaimanapun tetap jadi beras. Kakekku terkenal sebagai orang yang berpengetahuan agama mendalam, ya kiallah. Aku tidak pernah bertemu karena Beliau meninggal sebelum aku lahir. Bertemu dalam cerita. Kalau banjir melanda sedahsyat apa pun bukan persoalan, Beliau sampai ke rumah. Kira-kira seperti film kungfu kali ya, berjalan di atas air.
Yang lebih menanamkan keberanian, kakak nenekku adalah pendekar, benar atau tidak, ada sangkutpautnya dengan nama Rimbo Bujang di Jambi. Beliau merantau ke Jambi. Soal kejagoan tidak usah diragukan. Itulah manusia paling berani dan ‘berilmu’ tinggi yang pertama masuk memoriku. Aku punya ikatan batin dengan beliau. Makanya, sekalipun dalam tata kekerabatan Minang, anak-anak Beliau bukan keluarga dekat, anak pisang, bagiku tidak.
Seorang anak Beliau, Ciak Pani yang menjadi pejabat di Depdagri, sejak pertama di jakarta adalah labuhan singgahku. Aku menganggap dia Ibuku. Ada tiga wanita Ibuku, Ibukku (Amak), Iciak Biah di Padang —yang sangat menyayangiku— dan Iciak Pani. Kalau bercerita tentang Angku Bujang, aku menyimak sangat detail. Membaca Kho Ping Ho, Bu Kek Siansu kubayangkan sebagai Angku Bujang. Angku Bujang ‘temanku’ dalam pikiran.
Bila ke Sigintir, aku selalu memandangi pohon rambutan, kelapa, sumur, dan apa saja yang menjadi kehidupanku ketika kecil. Berkelana ke masa lalu seindah berkelana ke masa depan sekalipun kita hidup di saat ini.
(Banjarbaru, 2 Juni 2007. Bersambung).









One Response to “Muaralabuh my Memories”
By Mega on Nov 10, 2007 | Reply
Emang urang awak kebiasaan mencatat tgl kelahiran anaknya di dinding ya da,,awak pun sama seperti uda,,tgl lahir dan thn beda di ijasah ma yg dibil bapak dan ibu,,krn wkt SD tdk dikampung,ikut kk yg ngajar pindah2,jd thn en tgl kelahiran asal di tls ma kk,,ehhe jadi tua dech dr yg sebenarnya..