Muaralabuh My Inspiration
2 June 2007 | Ditulis oleh:MENAKJUBKAN. Sebenarnya soal kebun teh bukanlah hal baru dan terlalu mencengangkan. Erwin yang rajin berkelana ke berbagai daerah nusantara dan mancanegara tentu telah melihat yang serba lebih. Apalagi bagiku. Ketika enam tahun di Bandung hampir tiap bulan ketika ke Jakarta bersirobok dengan kebun teh di Puncak atau di banyak tempat di Jawa Barat. Tapi, kebun teh Kayu Aro lain. Berbagai hal bergelora di otak, inspirasi gentayangan tanpa diundang.
Aprison, sopir kami, dengan sigap berhenti di pinggri jalan beberapa kilo meter dari air terjun, sesigap Erwin membidik. Ketika melihat jalan ke perkebunan mobil langsung menelusuri beberap puluh meter ke dalam. Di antara pohon kapok yang berjejar kami menikmati pandangan nan membuai. Otakku langsung bekerja.
Entah kenapa, tiba-tiba di otak terpola sebuah novel dalam waktu singkat. Novel itu kini sedang kutulis disela-sela menulis artikel, makalah, atau buku. Aku memang tidak memaksa cepat selesai, sebab menulis novel memang bukan prioritas. Kini baru puluhan halaman.
Sehabis Erwin mengambil foto, hatiku bersorak melihat hasilnya. Dari foto itulah kelana khayal semakin sempurna. Sepanjang jalan pulang sampai kami kembali ke Banjarbaru, settingnya kutulis di otak. Aku betul-betul baru menyadari betapa alam kampungku membangun inspirasi tanpa batas. Sesuatu yang selama ini tidak kupedulikan.
Trauma Pesawat
Suatu kali ketika Rudy Ariffin, Gubernur Kalimantan Selatan di Eropa aku SMS: Apa-apaan tu orang Eropa, matahari terang benderang, kog pakai jas. Apa ngak kepanasan. Jawaban Pak Gub malahan menggoda: Susah menceritakan “negeri salju” ini bos. Panas matahari tidak sebangsa dengan sinar matahari di khatulistiwa. Makanya, ke Eropa, katanya menggoda. Dasar.
Teman-temanku di Kalimantan pada tahu, jangankan ke Eropa atau ke Tanah Suci, ke Jakarta saja kalau bisa menghindar ya tidak berangkat. Aku pernah trauma tahun 2002 dimana pesawat yang aku tumpangi mesinnya belagu. Tes ‘keberanian’ kulakukan ketika bersama teman-teman ke Singapura dan Malaysia. Alhamdulillah keberanian terpelihara.
Maksudku, kira-kira di Eropa seperti di Muaralabuh. Kebetulan sepanjang di Muaralabuh matahari tetap memancarkan sinarnya tetapi kabut melindungi hingga panasnya tak menyentuh kulit. Kami tidak pernah berhasil melihat puncak gunung Kerinci karena diselimut awan. Padahal berada di sisi utara kaki gunung Kerinci. Erwin punya kenangan tersendiri sebab dia pernah mendaki gunung tertinggi di Sumatera tersebut.
Kebun Kina
Setelah puas menikmati kebun teh, kami kembali ke Muaralabuh. Sebenanrnya berniat ke Pekonina dimana waktu kecil aku suka melihat kebun kina, tapi adikku me-SMS. Aku hampir lupa kami sedang berduka. Mereka tentu tidak tahu, berjalan-jalan itulah caraku melepaskan pikiran dari duka.
Oh ya, perjalanan itu sejak awalnya memang tidak buru-buru. Kami mengambil foto ketika bertemu rumah ladang penduduk. Erwin bertanya: Apakah itu orang kubu? Aku jawab, itu ‘familiku’ sambil cengegesan. Begitu bertemu jembatan berhenti, mengambil foto. Erwin itu hobi fotografi. Aku terperangah melihat hasil jempretannya ketika ‘familiku’ menanam padi.
Tentu aku tidak lupa berlagak. Nah, beginilah kampungku. Dia heran keluargaku sampai tua-tua segar bugar, dan … perokok. Bapakku 87 tahun, ibu 76 tahun, angku 80 tahun. Harap maklum, mereka menghirup udara bersih. Nah, disitu aku suka mandi. Itu sekolahku PGAN 4 Tahun. Itu SD Muaralabuh 1 tempat ku sekolah.
Pagi kedua, kami ke pasar Muaralabuh, penuh sesak. Macetnya seperti Jakarta. Puas berkeliling kami makan. Aku mencoba mencari sate Kak Isik, tapi tidak ketemu. Kami ngakak ketika membayar, ternyata sepanjang perjalananan tiga pulau, makan paling mahal ya di pasar Muaralabuh. Yang penting kan ikhlas.
Menjelang malam kami sampai di Batang Laweh. Aku hanya memandangi SMA Muaralabuh. Aku punya kenangan sendiri.
Ada sepetak sawah kecil yang kugarap sebelum sekolah itu berdiri. Di rumah, semua menjadi urusan keluarga. Aku tercengang, dari Bengkulu saja aku punya ponakan belasan orang. Ampun, baru sadar keluarga kami sudah begitu besarnya.
(Banjarbaru, 1 Juni 2007. Bersambung).










One Response to “Muaralabuh My Inspiration”
By Mega on Nov 10, 2007 | Reply
heehhe,,jadi awak menuntut “Ilmu” diatas sepetak Tanah yg uda punya yah,,,
makasih ya dah rela Tanahnya di Injak2..