Muaralabuh My Hope

1 June 2007 | Ditulis oleh: |

foto: www.windede.com 

JUJUR saya tidak terlalu hapal wilayah Muaralabuh apalagi kabupaten Solok Selatan. Ketika kecil sering memang ke Pekonina, daerah perkebunan, atau ke Padang Aro. Yang lengket di memori, ya bentangan perkebunan dengan hutan perawan. Udara bagus bersih masuk paruh-paruh dengan aman. Pokoknya nikmat nian.

Aku sering ke hulu sungai Suliki menebang beberapa pohon pisang lalu ‘berperahu’ mengaliri sungai. Terkadang bersepeda ke Sungai Kalu atau yang paling berkesan dibawah Bapak ke daerah menjelang Pekonina menebang kayu untuk kayu bakar. Tidak bisa pula dilupakan ke ladang atau hari libur ke tempat-tempat yang menyenangkan.

Sepintas lintas, hal-hal tersebut masih bisa dirasakan. Tapi, sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Begitulah, melewati Pekan Selasa dan daerah Pekonina kami sampai ke Padang Aro. Erwin minta berhenti di kedai makan. Di Padang tidak ada RM Padang sebab hampir semuanya masakan Padang.

Kami memilih bangku yang belakangnya ada sungainya. Erwin sibuk mengambil foto-foto. Di depan hamparan perkebunan teh, Erwin ingin menikmati teh langsung dari kebun. Eh … justru disajikan teh celup buatan Jawa. Kami terbahak-bahak lalu diskusi kecil-kecil kenapa kog tidak digagas membuat pabrik teh. Apalagi, ketika kembali ke Padang, terutama di kawasan menjelang Lubuk Selasih hamparan kebun teh kembali memperlihatkan keindahannya.

Tapi sudahlah, kami datang untuk menimpati keindahan alam Solok Selatan. Selepas makan terus ke Lubuak Gadang. Tujuan pertama melihat pusat perkantoran kabupaten yang sedang dibangun. Setelah memutar ‘kota’ bertanya ke seorang yang memakai seragam Pemkab, e … jawabannya tidak jelas. Kami urungkan saja niat, dan langsung ke air terjun.
Lagi pula kalau bertamu ke kantor Bupati, apa mereka kenal? Saya pernah mengirim buku ke Bupati. Entah sampai atau tidak, tidak ada kabarnya. Sebagai putera derah aku tentu bangga perkembangan daerah, tapi Bupati mungkin terlalu sibuk untuk sekedar membalas surat orang semacamku, he … he …

Di Minangkabau Airport saja aku terasa asing. Kalau di bandara Sayamsudin Noor aku bisa sibuk betegur sapa, atau di Soekarno Hatta ada lah yang kenal. Aku betul-betul orang rantau rupanya. Kalau di pesawat memang bertemu dengan teman-teman yang dulunya sama-sama sekolah di IKIP Padang. Misal Indra Sakti Nauli, kepala Dinas Pendidikan Pariaman. Tapi, dengan orang-orang Muaralabuh, duh … anak rantau.

Air Terjun
Bayangkan saja, pesona begitu indah tidak terlalu dipedulikan penduduk. Dapat dimaklumi karena itu bagian ke seharian kehidupan mereka, hal biasa-biasa saja. Tetapi, bila dibanding dengan Lembah Anai yang terkenal itu, air terjun ini lebih khas.

Kita sejajar dengan permukaan air yang terjun mencurah ke lembah belasan meter di bawah yang melingkung memanjang bersua sungai yang menampung airnya. Asyiknya, jembatan di buat di atas lembah tersebut dan … kita bisa menikmati dari tejunnya air menyentuh dasar lembah terus mengalir bergabung ke sungai beberapa puluh meter.

Mana pohon-pohon dan tumbuhan hadir sebagaimana aslinya. Belum ada sentuhan tangan manusia. Sungguh eksotik. Heran juga kenapa tidak digarap sebagai kawasan wisata. Memang bisa dimaklumi, tempat-tempat menarik bertebaran dimana-mana. Mana tahu, suatu saat nanti disentuh secara benar hingga menjadi penarik wisatawan. Tentu saja suatu harapan.

Di atas jembatan kami menikmati hamparan air terjun dengan hutannya yang masih bagus, mana pula monyet kejar-kejaran melompat dari pohon ke pohon seolah memperagakan kemahirannya. Burung-burung bertebaran sembari menyenandungkan irama yang gimana gitu berselang derau air terjun.

Lagi pula udaranya sejuk. Ketika kami melepas dahaga haus mata memandang yang eksotik sementara pori-pori menikmat semilir udara, awan menyelimuti sehingga sinar matahari seadanya. Awan, atau kabut istilahnya barangkali, menjadi bagian tersendiri menuang suana, yah sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Afdolnya Sampeyan datangi dan rasakan sendiri.
Satu-satunya yang bermain di otak saya: Duh, nyaman dan menyamankan kampungku.

Maaf, aku harus mengetik artikel untuk sebuah media, ntar menulis tentang indahnya kebun the Kayu Aro (Banjarbaru, 1 Juni 2007. Bersambung).

  1. One Response to “Muaralabuh My Hope”

  2. By Mega on Nov 10, 2007 | Reply

    Maaf wak bajak poto diatas ntuk header heheehe


    ***Iyo

Post a Comment