Guru, Buku, dan Izza Ahsin
23 May 2007 | Ditulis oleh:IVAN Illich penulis buku Deschooling yang menguncang itu nampaknya mendapat tempat dalam pemikiran dan praktek kehidupan Muhammad Izza Ahsin Sidqi. Izza, remaja kelahiran 9 Maret 1991, dengan perjuangan luar biasa melawan “penjara sekolah” akhirnya diizinkan orantuanya untuk menjadi manusia merdeka, manusia yang belajar sendiri, tanpa otoritas sekolah yang membelenggu.
Saya teringat ketika ‘dimasukkan’ orangtua ke PGA padahal berkeinginan masuk SMP. Membaca buku Izza, Dunia Tanpa Sekolah, air mata tak terasa menghangatkan pipi menikmati baris demi baris buku setebal 250 halaman tersebut. Mengharu biru. Seorang remaja yang membaca puluhan buku ‘berat-berat’ ketika ingusan dan … tidak mau belajar di sekolah formal. Saya pernah mengalami, tetapi tidak seberani Izza. Bahkan, berkali-kali berniat berhenti jadi dosen (PNS), tetapi, ya sekali lagi, tidak berani. Saya menyadari, tidak terlalu radikal.
Bagi Izza belajar di sekolah yang lambat memintarkan, guru-guru konservatif, guru tidak suka membaca, guru pemarah, atau berbagai aturan sekolah yang membelenggu kemauan belajar adalah titik lemah sekolah. Mana pula, dia berkemauan keras menjadi penulis. Penulis? Ya, iya, penulis profesional.
Dapat dimaklumi, dia tidak habis pikir dengan kekonservatifan guru padahal ada konsep (buku) Quantum Leraning, Quantum Teaching, Accelerated Learning, dan sejenisnya. Intinya, ada kemauan belajar sendiri dengan membaca (mempraktekkan firman Allah SWT kepada Rasulullah pertama kali, iqra’ iqra’, iqra’) dan berbuat. Inti dari pendidikan itu sendiri, menumbuhkembangkan potensi diri.
Tidak Berbuat
Suatu kali dalam pembicaraan agak serius membincang UN, bertanya kepada Daud Pamungkas dan Jumadi: “OK, apa pun alasannya, praktek-praktek culas dan atau salah konsep UN bisa dicermati. Tetapi, sebagai orang LPTK, apa respon nyata dan perbuatan nyata kita ‘mengatasi’ persiapan siswa menghadapi UN yang hanya tiga mata pelajaran, bahasa Indonesa, bahasa Inggris, dan matematika?”.
Kata Daud, tidak ada. Kita membiarkan guru-guru ‘berjuang’ dalam kebingungkan, kita tidak mendatagi sekolah, tidak membuat dan menawarkan program, tidak memasukkan darah baru. Kita ternyaman berumah di LPTK. Aduh, pikiran jadi tak keruan.
Lebih parah Jumadi mengatakan, semua akan sia-sia, sepanjang gaji guru tidak mendukung tugas profesionalnya. Guru kita tuntut memberikan hal paling baik dari kemampuannya, mengembangkan kemampuan diri maksimal untuk tujuan pendidikan, tetapi ketika bicara gaji layak, semua terkulai.
Belum lagi Jumadi berceramah tentang praktek pendidikan. Kalau di Malaysia, seorang pelajar setingkat SMA diwajibkan membaca 30 novel, hasil bacaan tersebut didiskusikan di kelas. Kalau di Indonesia, guru yang menceritakan isi novel yang belum tentu terbaca secara benar, dan lebih parah, tidak ‘mendidik’ dalam arti mengembangkan kemampuan membaca siswa. Sampai disini, saya tidak berani lagi menulis apa yang kami didiskusikan.
Ketika anak saya yang kelas 2 SMP bilang: “Pak, seri keenam Harry Porter harganya Rp300 ribu lebih, tebalnya hampir 1000 halaman. Kita beli ya Pak”, saya jawab OK saja. Saya belikan dia seri Harry Porter lengkap, The Lord of the Ring, Deception Point, Digital Fortress, Angels & Demons, dan Da Vinci Code Dan Brown. Saya senang, dia terbebas sudah dari Conan, Dora Emon, dan sejenisnya. Tetapi, tidak menuntut membaca The Historian Elizabeth Kostova.
Entahlah di perpustakaan sekolahnya ada buku-buku sastra terbaru atau yang klasik. Saya tidak bertanya, apakah gurunya masih mengajar pakai ‘metode’ berimajinasi seragam, membuat gambaran laut, gunung, matahari, jalan, dan pohon kelapa. Masihkan pakai ‘metode’: “Ali memukul anjing” untuk kalimat aktif dan “Anjing dipukul Ali” untuk kalimat pasif, atau guru-guru SD kita: Ini Budi, Ini ibu Budi, dan … Budi tidak berbudi, he … he … Entahlah.
Mendidik dan Menulis
Yang mencengangkan dan membanggakan adalah usaha Daud Pamungkas. Daud menulis buku, Membaca: Meretas Jalan Meraih Sukses. Melalui suatu proyek ‘membangun’ perpustakaan jurusan dengan membeli buku Dan Brwon, J.K. Rowling, Pramudya Ananta Tour, dan buku teks berkelas. Banyak yang membaca, tanya saya.
Jawabannya lumayan kurang enak. Saya tidak habis pikir, kenapa mahasiswa tidak bergairah memanfaatkan buku-buku pelepas dahaga tersebut. Padahal, kalau dicari di perpustakaan Unlam, misalnya, akan kecewa. Ini sudah ada kog tidak dimanfaatkan maksimal. Jadi ada dua hal yang harus ‘digarap’ bersamaan, membangkitkan dan mengembangkan potensi membaca dan menulis.
Itulah yang membuat saya mendirikan komuitas penulis EWA’Mco. Memfasilitasi generasi muda Kalsel giat membaca dan menulis. Untuk membaca punya beking buku Daud, dan untuk menulis telah menulis buku Menulis Sangat Mudah dan Menulis Mari Menulis yang bisa dibeli di toko-toko buku di seantero tanah air. Dulu ada yang mengecam buku itu, biarkan. Kini siap-siap cetakan ketiga. Satu buku lagi tentang menulis sedang ditulis.
Hanya saja, dari berbagai penjuru banyak yang bergabung melalui jasa internet. Jadi, bukan mahasiswa Unlam saja yang tertarik. Mahasiswa PT Kalsel, anak-anak muda PKS, KAMMI, dan sebagainya ikut meramaikan. Kalaulah perpustakaan Unlam nantinya serius dibenani dibawah kepemimpin Bambang Subiyakto, proyek idealis ini akan lebih mendapatkan tempat.
Si “Peberaontak” Izza
Ketika Syamsuwal Qomar dan Suciati berkonsultasi sebelum buku mereka dicetak dalam bentuk naskah contoh, saya ‘tugaskan’ membeli dan membaca buku Izza. Izza, sekali lagi, telah menulis novel setelal 667 halaman ketika SD. Kini buku-bukunya mulai masuk pasar dengan belasan buku siap diluncurkan.
Benar kata Daud, kunci semua itu adalah membaca. Kini, betul-betul memaknai kenapa Allah menurunkan ayat pertama kepada junjungan Muhammad SAW, baca, baca, bacalah dengan nama Allah. Kemampuan membaca itulah yang saya ‘paksakan’ kepada komunitas penulis EWA’MCo sebelum mengasah kemampuan menulis. Bukan, sekali lagi bukan, kemampuan mencerna teori. Belajar sembari berbuat dari hal-hal kecil dan sederhana, membaca dan menulis.
Harapan saya, di sekolah praktek membaca perlu lebih diintensifkan. Jangan lagilah guru yang bercerita tentang banyak hal seharian hingga sekolah membosankan, tetapi siswa ‘diwajibkan’ membaca, dan hasil membaca itulah yang didiskusikan di kelas. Artinya, siswa (dan mahsiswa) praktek langsung yang berbuah pengalaman dalam mendapatkan pengetahuan.
Seorang mahasiswa menulis, doen bercerita terus di kelas, bahkan ada yang lebih dominan tentang dirinya, sejarah hidupnya, bagaimana dia sukses (menjadi dosen) sehingga materi hilang kemana. Entahah, suatu kali akan saya lakukan riset kecil-kecilan. Jangan-jangan yang begitu termasuk saya, he … he …
Jadi, guru boleh saja bercerita dan atau menceritakan apa yang ada di kepalanya. Tetapi, lebih bijak siswa ‘mencari’ pengetahuan melalui sumber bacaan beragam dan hasilnya dibicarakan di kelas hingga siswa lebih mantap perolehan pengetahuannya. Pengetahuan guru sebagai sumur ilmu pengetahuan, iyalah, namun sumber belajar sangat beragam tersedia di luar itu.
Bagimana menurut Sampeyan?










5 Responses to “Guru, Buku, dan Izza Ahsin”
By riza on May 25, 2007 | Reply
iya, untuk menulis memang harus banyak baca dulu. tapi kayaknya kita harus menata sudut pandang kita dulu. supaya bisa mengkritisi apa yang dibaca dan tidak menelan mentah2 bacaan tsb. bahaya juga klo kita mudah terpengaruh dengan apa yang kita baca. iya kalau itu sesuatu yang baik, kalau buruk?
By Helgeduelbek on May 26, 2007 | Reply
Ini pendapat saya tentang diri saya terkait dengan tulisan sampean pak Ersis.
. Seolah-olah nanti saja, kalau dapat artikel atau bacaan yg bagus lebih suka disimpan, begitu tersimpan kadang sering terlupakan bahwa saya punya hal untuk di “baca”. Mungkin aji mumpung, lalu rakus untuk mencari dan menyimpan. Semoga lebih sering untuk membaca dari pada mengumpulkan saja. Saya baru dalam tahap itu, makanya saya tidak heran mengapa siswa saya juga tidak “pinter”, karena ternyata gurunya juga tidak “pinter”. 
Mungkin banyak orang enggan menulis karena tulisannya takut tidak layak untuk dibaca. Mereka sepertinya mau instan saja menjadi penulis ulung. Proses untuk bisa menulis enggan mereka lalui. Dan itu jelas tidak mungkin. Konotasinya mungkin adalah belajar bersepeda itu tepat.
Saya sebagai guru juga termasuk yang sangat jarang untuk menulis, kalau baca sih lumayan lah… kadang-kadang
Wassalam.
By kecoa wc on Mar 4, 2008 | Reply
Learn is must be learn, NO PAIN NO GAIN, MOTHER FUCKER ! you [the writer of Dunia tanpa sekolah] silly duck just won’t to got proccess only want get result, SUCKER, COWARD… damn stupitidy .
JUST GO HOME .. and HOPE YOUR PARENT DIE BEFORE YOU
SUCK……………
By fadhil on Mar 30, 2008 | Reply
Bisa minta alamat Email? Saya butuh sekali!Ingin sering.
***ersis_wa@yahoo.com
By seseorang yang pernah bermasalah dengan sistem pendidikan on Jul 12, 2008 | Reply
2 Tahun sudah dirimu terbebas dari sistem yang membelenggu. Sudah bukan seorang anak yang berusia 15 tahun, tapi seorang adik yang telah menapaki usia 17 tahun. usia dimana segala sesuatu yang dicari mungkin dapat terjawab.
Seperti pertanyaan yang sering ada dalm dunia tulis tanpa batas, yang sering adik izza tanyakan, apa yang masih kurang dan apa yang dapat dilakukan. Seperti beberapa hari ini, kita telah bertemu di dalam dunia tersebut, berbagi cerita dan rasa keingintahuan.
Bila kakak dapat lebih membantu, jawablah dengan hatimu seperti kau menjawab pertanyaan dua tahun lalu, karena hati tidak pernah berbohong. Bila jawaban itu telah ada, kita dapat lebih berkomunikasi dan menuangkan keinginan yang sama, karena kakak yakin bahwa izza telah menemukan jawabnya.
Dan terima kasih atas kunjungannya yang telah lalu, semoga kakak tidak mengganggu.
Salam dari seorang kakak yang berpikiran sama, dengan tidak melupakan hak dan hal lainnya.
Lakum dinukum Waliadin.