Muaralabuh My Dream

22 May 2007 | Ditulis oleh: |

foto: www.windede.com 

BEGITU mobil bergerak meninggalkan Sigintir, siang itu, mata Erwin nampaknya terpuaskan. Betapa tidak, Muaralabuh yang ibarat mangkok dikelilingi perbukitan dengan hutan (yang nampaknya) masih perawan membuat decak kagum. Aku mulai memberikan keterangan agak panjang lebar. Betapa tidak, inilah desa kelahiranku disaat terjadinya peristiwa PRRI/Permesta.Aku tidak terlalu ingat. Hanya saja masih terbayang semasa kecil beberapa rumah diberi tanda silang. Kata mamakmu, adik ibu, Buchari, yang membawa berjalan-jalan, itu tanda pengikut PRRI. Kala itu aku tidak memikirkannya. Yang kuingat, mamak kubuat grogi. Sesampai di jalan raya Muaralabuh mobil Gas tentara ku hadang sembari melempangkan tangan. Kalang kabut tentu saja. “Untung kita tidak ditembak”, kata mamak. Padahal, waktu itu tidak ada perang lagi. Tapi, sisa-sisa suasana PPRI/Permesta masih membekas.  Oh ya, kami meninggalkan Sigintir sehabis mengubur kakakku. Sengaja aku tidak mencerikannya karena itu adalah bagian duka keluarga. Biarlah kami saja yang merasakannya. Sigintir, adalah tempat keduaku setelah Batang Laweh. Aku lahir di Sigintir, kemudian Bapak dan keluarga pindah ke Batang Laweh. Bapak adalah pemborong. Gedung Nasional, penjara Muaralabuh, dan banyak bangunan lainnya Beliau yang mengerjakan. 

Ketika bersekolah, di Sekolah Rakyat Nomor 1 Muaralabuh, aku sering ke Sigintir. Kini kurasakan betapa kuatnya ketika kecil. Batang Laweh Muaralabuh berjarak 2 km, Batang Laweh Singintir 2 km. Berarti, sehari berjalan 4 km ketika masih bocah, dan … pakai sandal jepit. Luar biasa. Kata orang aku cerdas dan … super nakal. Nah, di Rawang, antara Batang Lawe-Pasar Muaralabuh, aku punya iciak, adik Bapakku, Iciak Gadi. Sepulang sekolah aku mampir dulu … langsung ke meja makan, dan … makan. Sesampai di rumah … makan. Sesampai di Sigintir, aku punya nenek yang sangat menyayangiku, makan lagi. Jadi, tenagaku memang luar biasa. Itu sampai kelas 4 SR. Kelas 3 SR aku sekolah ke Surian ikut Iciak Biah yang guru di SD 4 Surian dan Angku (kakak Ibu) yang menjadi Kadiscam (aku ngak ingat istilah) Depag. 

Sejak kelas 5 lain lagi ceritanya. Aku yang tidak pernah diam berkawan dengan agen dan kenek mobil (bis) Muaralabuh-Padang. Suatu kali, Bapak menyuruh menanyakan hasil Pacikgadai (sawah dikerjakan orang dan hasilnya dibagi dua) ke Sungai Kalu. Aku naik di atas atap mobil. Sesampai di Sungai Kalu ternyata padi sudah jadi beras. Kenapa ngak sekalian dibawa ke Padang? Di Padang kujual dan kubelikan Radio, dan … buku-buku. Sesampai di Batang Laweh tiga hari kemudian, Bapak senyum-senyum saja. Senakal-nakalnya aku, kelas 5 SD sudah membaca Winnetou, Raja Minyak, Berkelana ke Kakukasus karya Karl May, bahkan Ihya Ullumiddin, buku-buku Bapak. Aku hapal kisah Tariq bin Ziad, Salahuddin Al Ayubi. Bapak berlangganan majalah Kiblat. Aku doyan membaca artikel Abu Hanifah dan Endang Basri Ananda (EBA). Jangan-jangan pengaruh itulah namaku kusingkat EWA, he … he … 

Oh ya, aku mulai merokok. Rokok Kansas. Bapakku membeli berslop-slop. Tinggal ambil dan berlagak di depan teman-teman. Akibatnya, sekarang aku menghabiskan sampai lima bungkus sehari (jangan ditiru ya, ngak baik untuk kesehatan). Setelah peristiwa menjual beras ke Padang, aku mengatakan niat merantau. Bapakku terkekeh-kekeh dan besoknya … dikasih 100 sukat beras untuk belajar menjahit pada Kak Muchlis. Belum tamat SD aku sudah menerima upah menjahit he … he … Waduh, mengingat itu semua aku ingin mengulang peristiwa itu. Ketika aku melihat mesjid Batang Laweh lama, aku jadi sedih. Tidak terawat dan tidak dipakai karena sudah dibuat mesjid baru. Di mesjid itulah aku belajar menggaji dan sempat menjadi khatib hari raya idul fitri setelah sekolah di PGAN Padang. 

Di suatu kamar disamping mesjid aku tinggal dengan Isal (Faisal Thaher, pernah menjadi Kabag Keuangan Dephub, sudah meninggal) dan Isap. Hal paling kuingat, Makan Gadang. Kami membawa nasi dan lauk pauk lengkap dengan piringnya lalu makan bersama. Gilanya, hampir tiap hari. Kalau bercerita hal itu, aku mesem-mesum sama Ibu. Betapa tidak, piring-piring tidak kami bawa pulang, tapi ditumpuk. Hingga, piring-piring di rumah kosong. Ditegur, baru dikembalikan. Kini aku sadar, hidup paling menggairahkan adalah ketika SD. Aku, dan teman-teman, melakukan hal apa saja yang kami senangi. Mulai dari belajar menggaji sampai ‘mencuri’ ikan. Pokoknya komplit. 

Oh, ya maaf. Cerita perjalanan disambung nomor berikut. Kami akan ke perkebunan teh, melihat air terjun, dan ibukota kabupaten Solok Selatan yang baru (akan) dibangun. Sedari kecil aku banyak punya impian, aku bermimpi tentang banyak hal, di Muaralabuh. Muara labuh adalah tempatku menyemai mimpi. Sayangnya aku tidak memimpikan Muaralabuh. Kini ketika umur mendaki, Muaralabuh menjadi mimpiku.  Maaf aku harus menulis buku yang telah kujanjikan ke penerbit. (Banjarbaru, 21 Mei 2007. Bersambung). 

  1. One Response to “Muaralabuh My Dream”

  2. By windede on May 26, 2007 | Reply

    nostalgik, sentimentil, atau sekadar penyakit orangtua di perantauan yang sedang kambuh; rindu pada kampung halaman…

Post a Comment