Muaralabuh My Kampoong

21 May 2007 | Ditulis oleh: |

TERUS terang aku anak kampung. Lahir di atas bantaran bukit barisan yang membelah pulau Sumatera. Rindu pada kampung adalah rindu jiwa tak bertepi. Keluarga, kampung, begitu juga teman-teman, dan segala kenangan sedari kecil adalah kehidupan itu sendiri. Kita tidak bisa hidup tanpa rantai masa lalu karena dari situlah perjalanan berawal. Dari Muaralabuh semuanya bermula.Sebenarnya agak miris menulis tentang Muaralabuh. Soalnya, bisa jadi aku ‘anak durhaka’. Puluhan tahun merantau hanya beberapa kali ke Muaralabuh. Itu pun bukan tersebab kampung tetapi terkarena rindu keluarga. Tapi sudahlah sesal tidak akan memperbaiki keadaan. Allah lebih tahu atom hati manusia.

Pada suatu masa ketika asyik menatap dunia melalui Earth Google berkelana ke Singapura, Thaskent, Vladivostok, Yokohama, Bosporus, Sarajevo, Warsawa, Washington, Havana, Rio de Junairo, sampai Tasmania, ingat pada Muaralabuh datang tak terbendung. Satu tanda khusus ditorehkan pada place Erath Google. Sejak itu sebelum menelusuri lekuk-lekuk Arlington atau menikmati negeri Vlad Dracula sehabis membaca The Historian Elizabeth Kosotova, Muaralabuh adalah menu pembuka.

Sehabis menikmat Digital Fortress Dan Brown, apalagi selepas memanjakan mata dengan pemandangan suguhan Casino Royal James Bond, Muaralabuh terasa lebih eksotik. Kini, kalau pulang tidak abai menikmat ulang Muaralabuhku, sebelum membuka mata kelana remaja ke Ngarai Sianok sampai ujung Payakumbuh.

Bagi pelancong, Muaralabuh nampaknya menjadi bagian terlupakan bagi penikmat alam Sumatera Barat yang terkenal membuai. Hal itu kutabalkan ketika membawa Erwin Dede Nugroho, GM dan Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin ke Muaralabuh. Hanya ada satu kata pembuka bagi Erwin: “Muaralabuh adalah perawan Nusantara yang masih tersisa’. Terlalu berlebihan mungkin, tapi tidak ada salahnya untuk menyadarkan ingatan.

Alam Sejuk Ulu Hati
Sekalipun Muaralabuh kini bukan hanya dipersepsikan sebagai Alam Surambi Sungai Pagu sebagai pilahan Alam Minangkabau dalam sejarah Minangkabau tersebab telah ‘melebar’ menjadi kecamatan Solok Selatan, Muaralabuh tetaplah Muaralabuh. Dalam Solok Selatan Muaralabuh adalah penanda, ambilan ikon sebagai Nagari Seribu Rumah Gadang.

Bila Sampeyan ingin memuas dahaga indahnya alam, selepas dari Minangkabau Airport sajian kenyamanan kota Padang akan menggadai hati. Lalu bila ke Muaralabuh akan melewati Sitinjau Lawik yang keindahan khasnya tidak akan didapat di daerah mana pun di Nusantara, begitu juga di Mancanegara. Yang rada mirip-mirip kutemui di Genting Higland, Malaysia.

Mendaki Sitinjau Laut dengan pemandangan ke Samudera Hindia melampaui Padang, kita disuguhi pemandangan alam dengan hawa sejuk yang melegakan nafas dengan harumnya udara bersih. Lalu, dalam 60 menit di hadapan terhampar danau kembar, Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah. Duh Gusti, indah tak berbatas. Tak ada danau kembar menawan seindah kedua Si Kembar tersebut.

Maaf saja, aku belum menceritakan, sebab perjalanan kami dilakukan malam hari. Tepatnya, tiba-tiba keluarga dari Kota Solok, menelepon jam 14.00. “Da, Uni Er —kakakku satu-satunya yang selama ini bermukim di Bengkulu— koma”, kata adikku Faidillah Abbas. Kebetulan aku, Erwin dan Darmawan Jaya Setiawan (pengusaha muda Kalimantan Selatan) sedang makan di RM Padang Ampera Baru, Landasan Ulin, Banjarbaru. Makan kami sontak tidak enak lagi.

“Ya”, kata Erwin, “aku ikut”. Kalau tidak salah, sebagai tokoh ESQ Kalsel Jaya sudah ada acara. Aku mencarikan tiket, katanya sayup-sayup terdengar. Kami langsung ke Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru sementara Erwin pulang ke rumah mengambil ransel sembari memberi tahu keluarga.

Celakanya, pesawat Garuda ke Jakarta baru ada jam 16.00. Akhirnya kami nongkrong di Blue Sky bandara menanti ke berangkatan. Sesampai di Soekarno Hatta, telepon Jaya masuk: “Bos, kadada tiket, pesawat penuh ke Padang”. Jaya yang diminta hunting tiket (booking) tidak berhasil. Terpaksa kami memburu tiket dari satu counter ke counter lainnya. Hasilnya nihil.

Saya mau menelepon Rudy Ariffin, Gubernur Kalsel, meminta bantuan. “Ke Rudy Resnawan saja”, kata Erwin. Harap maklum, Rudy yang walikota Banjarbaru, teman akrab kami hampir kenal semua petinggi lapangan operasional pesawat. Naik pesawat adalah kerjaannya. Harap maklum, sebelum menjadi walikota dia pengusaha sukses yang selalu bepergian.

Oleh Rudy Renawan kami diminta menelepon Teddy, petinggi Lion Air Soekarno Hatta. Kami dapat seat ke Padang. Sekitar pukul 20.00 mendarat di Minangkabau Airpot, bandara baru yang pertama kali kuinjak. Wow bangga juga menjajakan kaki di bandara yang bagus itu. Aku bangga sebagai Urang Awak.

Aprison, sopir taksi langsung membawa kami mencari makan, ke restoran Kubang. Erwin tak habis-habisnya menikmati berbagai makanan. Selera makan yang tadinya anjlok, kini bangkit. Mampir sebentar mandi di Marapalam, ruman Iciak Biah, markasku sewaktu sekolah dan kuliah di Padang, masih senikmat dulu. Risauku agak terobati disiram dingin air nan sejuk.

Aprison membawa kami menelusuri jalan ke Indarung. Nampaknya Erwin membayangkan indahnya Indarung, apalagi ketika taksi mendaki Sitinjau Lawik. Aku tidak membiarkan Erwin melihat kota Padang dari ketinggian karena sejak di Jakarta sudah ditelepon, Uni Er sudah berpulang ke Ramatullah. Begitu juga ketika matanya bersirobok disela-sela kegelapan malam saat kami melewati Danau di Ateh dan Danau Di Bawah. Kubiarkan saja Erwin berpantasi.

Jam 01.00 dini hari sampai di rumah, Jln. Batang Laweh Nomor 53, Muaralabuh. Rumahku, kampungku, Muaralabuh. Duh … keluarga sudah berkumpul. Amakku, Nurbainar, wanita sorga yang melahirkan aku meraung memeluk saatku menghampiri kakakku tercinta yang sering kunakali waktu kecil. Bapakku, Ibnu Abbas, lelaki Adam yang kokoh, guruku, kawanku, dan sahabat batin, tidak kalah memilukan. Aku jarang menangis, apalagi Bapakku baru sekali itu kulihat airmatanya. Aku tak sanggup menceritakan drama keluarga ini.

Aku tidak mempedulikan keluraga besar, handai tolan, yang diliputi suasana duka. Setengah jam kemudian kepala dan rasaku terasa normal. Aku baru melihat yang hadir satu-persatu dan menyalami. Dan, baru sadar bahwa temanku, Erwin ada di tengah keluarg besar kami, di Muara Labuh (bersambung).

  1. 2 Responses to “Muaralabuh My Kampoong”

  2. By andirasad on Feb 10, 2008 | Reply

    Assalamualaikum ww.

    Turut berdukacita atas kepergian uni Er kakak tersayang dari uda Ersis W Abbas, semoga arwah uni Er ditempatkan pada sisi yang layak oleh Nya, dan diampuni segala dosa diterima segala amal baik yang telah dilakukan selama berada di dunia fana, dan tak kalah harapan semoga tabah dan ikhlas dunsanak yang ditinggalkan, amin.

    Di samping itu aku mengucapkan selamat bernostalgia menelusuri lekuk demi lekuk liukan bagian tubuh ranah Minangkabau selatan menelusuri lenggokan jalan melingkari gunung dan bukit barisan dari kota padang menuju nagari nan indah Nagari Seribu Rumahgadang Muara Labuh nan elok permai. Semoga segala apa dahaga yang mendiami kerongkongan pikiran uda selama ini terpuaskan dengan memandang Sitinjau Lauik, si danau kembar, rumahgadang bergandengan tangan, dan hawa serta nuansa Muara Labuh yang memberi kesan kangen bagi siapa pun.

    Salamanis
    ANDIRASAD

  3. By Personal Loan on Mar 4, 2008 | Reply

    Your awesome post about labuh My Kampoong at MENULIS TANPA BERGURU. is interesting.

Post a Comment