Guru dan LPTK

19 May 2007 | Ditulis oleh: |

SERIAL tulisan saya tentang guru, terutama kualifikasi guru, mendapat tanggapan berbagai kalangan. Yang menarik, tanggapan melalui email dan website. Tanpa maksud mendramatisir, tetapi ada hal-hal yang pantas diketahui publik. Misalnya ‘pengakuan’ Yunizar, seorang mantan mahasiswa LPTK yang kini telah menjadi guru. Komentar (pengakuan) sebagai berikut.LPTK banyak mengajarkan hal-hal yang tidak maching dengan apa yang diperlukan guru di sekolah. Saya tidak pernah diajarkan cara membuat program tahunan atau semesteran. LPTK hanya mengajarkan membuat satuan pelajaran.
Di sekolah, yang lebih memprihatinkan, ditugaskan mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai jurusan waktu kuliah. Saya dari program studi Sejarah pernah ditugaskan mengajar Bahasa Inggris. Teman saya yang sarjana hukum Islam ditugaskan mengajar IPA. Dan yang paling lucu, sarjana bahasa Arab mengajar matematika. Hancur deh.

Rasanya susah membahas apa yang ditulis Pak Guru yang satu ini. Apabila pernah, apalagi lagi rajin ‘mengintip’ PBM di sekolah-sekolah, hal sedemikian memang bukan aneh. Alasan klasik pihak sekolah kekurangan guru bidang studi tertentu. Seorang Kepala Sekolah pernah berkeluh, kami sudah meminta kekurangan guru ke Dindik, tetapi sampai sekarang belum dikabulkan.

Tetapi, kalau di LPTK hal-hal berkenaan administrasi pembelajaran tidak diajarkan, memang tidak lucu, tidak pada tempatnya. Maksudnya, mulai dari hal paling mendasar dan serius sampai segala tetek-bengek keguruan adalah tugas LPTK membekali mahasiswa calon guru. Namanya saja menyiapkan guru profesional.
Selama ini saya tidak memikirkan karena memang bukan pengampu mata kuliah berkaitan. Kalau demkian adanya akan membicarakan dengan petinggi-petinggi LPTK bahwa hal tersebut tidak bisa dibiarkan. Bekal dasar mahasiswa sebelum menyandang prediket guru harus dipenuhi.

Pre servive Training
Mendidik guru di LPTK idealnya memang ‘siap pakai’. Tetapi ingat, pada dasarnya sifatnya adalah pre servive training. Mahasiswa dipersiapkan sesuai kondisi obyektif ketika dididik, sesuai “kemampuan” LPTK. Apabila sudah menjadi guru, apa yang didapat di LPTK jangan dijadikan sesuatu yang permanen. Harus ada in service training. Ini garapan Dindik Kota, Kabupaten, atau Provinsi.

Harap dicatat, ilmu pengetahuan dan keterampilan keguruan berkembang sangat cepat. Teori-teori baru, kurikulum baru, metode baru, dan seterusnya akan ‘membasikan’ apa yang didapat di LPTK. Adalah guru-guru ‘kuno’, guru-guru konservatif yang hanya mengandalkan ilmu yang didapatkan di LPTK. Adakalanya pengetahuan yang didapat telah menjadi ‘situs sejarah’.

Contoh umumnya sebagai berikut. Guru-guru tamatan sebelum tahun 2000, di kampus sangat familiar dengan kapur sebagai alat utama mengajar. Kalau pun ada media pembelajaran, paling-paling OHP yang kini telah menjadi peninggalan sejarah pendidikan.

Bayangkan ketika menjadi guru sekolah telah memanfaatkan multi media. Kini, di banyak sekolah telah  tersedia pancar internet gratis. PBM bukan lagi berarti guru sebagai ‘panglima’ dan murid penimba apa yang ada di sumur pengetahuan guru. Sumber-sumber belajar sudah demikian beragam. Saya banyak menemukan siswa cerdas dan kreatif dalam hal ini. Hingga, ada guru yang terlihat sangat ‘kuno’.

Celakanya, seperti pernah dikeluhkan Pak Urip, guru MAN Pangkalan Bun yang sangat doyan bersilancar, bahkan sampai mendisain website, banyak guru yang tidak ambil peduli dengan IT. Untuk menambah pengetahuan saja tidak mau, apalagi memanfaatkan untuk PBM. Padahal, internet tersedia gratis di sekolah.

Lebih celaka kalau di LPTK awan soal sumber informasi serba cepat tersebut. Kalau mahasiswa LPTK tidak diakrabkan dengan internet bagaimana nanti ketika mereka menjadi guru dan berhadapan dengan dunia maya di sekolah. Ini namanya di hulunya yang perlu dibenahi. Kalau begitu, wajar kalau kompetensi guru dipertanyakan.
Harap dicatat sudah menjadi keharusan LPTK menyediakan ‘pemamcar’ internet agar mahasiswa akrab dengan IT. Di Banjarbaru kalau bertandang ke beberapa sekolah, ke LPMP, atau ke lapangan Murjani, akan dengan nikmat memanfaatan layanan internet gratis. Tinggal bawa latop, maka jadilah. Biayanya mahal? Siapa bilang. Kalau mahal mana mungkin sekolah mampu menfasilitasi.

Dus, LPTK tidak boleh tidak menyiapkannya. Siapkan peralatan, gaji dua karyawan tamatan D3 piawai IT mengurusnya. Tidak perlu diurus dosen atau pengawai administrasi biar terjamin. Buat tim baru yang tidak terdistorsi ‘gaya lama’. Tidak mahal merekrut dua orang yang piawai mengurus IT kampus. Yang penting jangan asal-asalan, asal diurus oleh seseorang.

LPTK Pabrik
Membincang LPTK sebagau ‘produsen’ guru mumpuni seorang teman, Suratno, yang kini tengah berkutat menyelesaikan S3nya menulis di komentar web saya.

Bang Ersis. Jika LPTK dianalogkan dengan pabrik mobil, maka penyelesaian kasus ini dapat diatasi dengan banyak alternatif, tetapi … mungkin yang perlu disentuh segera adalah bagaimana cara merepair ulang produk yang sudah terlempar ke masyarakat tetapi ada cela. Meniru pola kerja pabrik mobil yang pernah gagal produk, dan terpaksa ditarik ulang dapat dicontoh LPTK.

Langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan: (1) adakan analisis kebutuhan tentang apa yang menjadi pemicu ketidakberesan guru di lapangan, (2), himpun prioritas kebutuhan itu, dan susunlah rencana perbaikan, (3), lakukan pre-service secara berkala dan tetapi ada sustainabilitas yang terbentuk dalam jiwa guru, (4), lakukan uji kaji tindak kembali setelah dilakukan langkah 3 itu.  Jika masih ada cela, kembali balik ke langkah 2 dan 3. Jika tiga kali masih juga cela, buang saja guru yang demikian ini. Ini berarti produk yang salah rancang, (5) evaluasi program perlu dilakukan secara built-in control dalam tubuh LPTK.

Kondisi yang terjadi sekarang, kelima langkah ini tak pernah terjadi, yang terjadi hanya pre-service yang dilakukan tanpa langkah 1. Akibatnya, guru yang cela tak pernah terkoreksi sesuai dengan penyakitnya. Al-hasil buang energi, buang waktu, dan tak ada dampak pengiring yang sustain bagi pengembangan sumber daya.

Kalau demikian adanya, tidak perlu lagi dianalisis karena medannya sudah milik bersama. Artinya, kita harus kembali ke jalan tata akademis dan keilmuan demi menjadikan LPTK sebagai candradimuka pendidikan guru kompeten, guru profesional.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Guru dan LPTK”

  2. By Helgeduelbek on May 20, 2007 | Reply

    Saya sebenarnya sudah akan menulis tentang guru dan lptk ini pak, cuman beda sudut-nya. Sebenarnya ada sesuatu yg keliru menurut saya. Bener LPTK pencetak guru, tapi yang diajarkan kebanyakan bukan untuk keperluan calon guru. Materi substantif kebanyakan adalah persiapan untuk melanjutkan untuk kuliah lanjut. Ini saya rasakan saat kuliah di FKIP dulu, dan itu kurang begitu diperlukan untuk sekedar mengajarkan pelajaran di level SMA lebih2 di SM atau SD. bener gak pak?

  3. By Listin on May 3, 2008 | Reply

    Sepakat dengan tulisannya, jika sekarang banyak guru yang mningkatkan lagi jenjang pendidikannya ke S1 agar dapat mengikuti Sertifikasi guru. Jika dilihat misinya bagus. Tetapi dalam prakteknya sungguh memprihatinkan LPTK mendidik guru dalam satu semester hanya 1 atau 2 minggu saja itupun tidak optima. Bagaimana guru jadi pintar yang terjadi hasilnya IP yang tinggi dan bagus… jadinya leng…geleng…..geleng kepala.

Post a Comment