Urang Banjar Naik Haji
3 May 2007 | Ditulis oleh:Resenser: Ersis Warmansyah Abbas
BUKU Erwin D. Nugroho Email dari Tanah Suci sebenarnya agak susah diresensi. Penyebabnya, sejak sebelum menjadi, saya pemotivasi abadinya menulis buku —begitu juga ke teman-teman lain. Ganjalan terelakkan mengingat kandungan buku itu sangat bermanfaat untuk dibaca. Ketika Erwin mau berangkat ada dua permintaan.
Pertama, tulis laporan berisi dalam dengan sajian ringan agar publik, dan dibukukan. Kedua, ‘panggil’ saya dengan doa agar datang ke Rumah Allah. Keduanya dipenuhi Erwin. Sayangnya, tidak semua hal dapat ditulis. Saya beruntung diceritakan. Maksud saya, apa yang tetuang dalam Email dari Tanah Suci sangat pilihan untuk konsumsi umum. Inilah pujian pertama untuk buku ini. Banyak buku tentang perjalanan haji lebih fokus pada pelaksanaannya dalam arti ritualitas, Erwin melengkapi dengan hal-hal seputarnya. Ibadah haji pada dasarnya hanya seminggu sedangkan jamaah (umum) berkehidupan di Arab Saudi 40 hari. Direkam dan ditulis Erwin dengan bagus.
Rasa-rasanya, nilai hikmahnya dapat disimak dari pengantar Ary Ginanjar Agustian yang disempurnakan amat manis lagi menantang oleh Emha Ainun Najib. Emha bahkan menulisnya melampaui batas-batas tangkapan saya ketika kami berbincang sepuas-puasnya.
Bayangkan, Emha dengan gaya ‘nakalnya’ menulis: Doa saya: Erwin naik haji lima kali dan minimal lima kali menaikkan haji orang lain (Mudahan saya euy, EWA). Haji Dauriyah (jurnalisme) sudah … Nanti Haji Fikriyah (intelektual, ilmiah), lantas Haji Ruhaniyah (spiritual, rohaniah), Haji Tsaqafiyah (kultural) dan Haji Kamaliyah (menyeluruh, ‘sempurna’).
Saya tidak malu mengakui Emha sebagai ‘guru’, saya penggemar tulisannya. Emha kaget saya hadiahi selusin buku. Makna tersurat dan tersirat dalam untaian kalimat Emha, pantas disimak internalisasikan semua kita. Buku kuduk saya berdiri membaca makna untaian ‘syair’ Emha yang ditulis khusus. Apalagi, Emha selalu me-SMS tentang waktunya dan keseriusannya menulis.
Seteguk Air Zamzam
Email dari Tanah Suci dimulai sajian sangat cantik dalam kadaran seteguk air zamzam. Tulis Erwin … siang panas menjelang salat Jumat. Padatnya jamaah membuat saya terlempar ke lantai paling dasar Masjidil Haram… Suhu ruangan tertutup itu lumayan panas. Kipas angin yang berjejer di langit-langit tak sanggup mendinginkan … saya merasa gerah. Tenggorokan kering memaksa dibasahi air. Saya juga jadi lapar …
Meninggalkan masjid untuk mencari makan dan minum bukanlah pilihan baik. Saya ingat air zamzam dan khasiatnya yang luar biasa. Di Masjidil Haram, zamzam memang tersedia gratis … Tetapi … jamaah penuh sesak … Satu-satunya cara adalah meminta tolong.
Dengan bahasa mata dan menggerakkan tangan digenggam mengarah ke mulut sebagai tanda ingin minum, seseorang yang duduk tak jauh dari tong air zamzam menganggukkan kepala … mengambil gelas plastik dan mengisinya dengan zamzam. Sebuah persaudaraan muslim yang sangat luar … gelas plastik itu berpindah tangan dari baris demi baris saf jamaah dan akhirnya sampai ke tangan saya. Saya menyilangkan telapak tangan di dada dan membungkukkan tubuh sedikit sebagai tanda ucapan terima kasih.
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala rasa sakit serta penyakit dengan rahmat-Mu ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dari segenap yang pengasih…” Saya membaca doa yang dianjurkan sebelum minum zamzam, lantas menghadapkan tubuh ke Kakbah. Seteguk zamzam membasahi tenggorokan dan pindah ke perut.
Air di gelas plastik itu masih setengah ketika seorang tua di sebelah saya menjulurkan tangan tanda ingin ikut minum. Saya memberikan gelas itu. Dia meminumnya sedikit, lantas membagi lagi kepada orang lain di sebelahnya. Alhamdulillah, akhirnya zamzam di gelas itu habis … Luar biasa, meski hanya seteguk, haus saya hilang dan perut pun terasa kenyang. Ini bukan kali pertama saya minum zamzam di Haram.
Erwin sangat menyentuh menggambarkan apa yang dialami. Tidak pelak, disamping berbuah keharuan, aplikasi nilai-nilai Islam dalam tindak solidaritas yang memudahkan menyempurkan amal-ibadah. Begitulah gaya umum tulisan Erwin. Tulisan seorang haji jurnalistik (Saya berdoa, moga-moga Erwin tidak memakai ‘gelar’ haji di depan namanya. Sebab, itu ibadah. Nabi dan para sahabat tidak pernah menambah namanya dengan haji, Haji Muhammad SAW. Berarti hadis, lho. Amin).
Judi sampai Kelaparan
Seperti pada Bab I dibawah titel: Karena Haji Adalah Arafah, Bab II, Tanah Suci Menawan, Bab III, Dari Air Bersih Sampai Judi, dan Bab IV, Gaya Orang Indonesia Naik Haji, kesemua dalam satu sumur penuh hikmah. Alhasil tiga puluh sajian tulisan nyaman dalam kandungan masing-masing.
Dengan genit, atau tepatnya sedikit nakal, Erwin tidak lupa menyentil soal Orang Arab berjudi sampai jamaah kelaparan lantaran Departemen Agama sebagai pemegang otoritas urusan haji memang pantas harus banyak belajar mengurus urusan naik haji. Seolah, semua hal ‘dipotrek’. Oh ya, foto-foto illustrasi buku ini juga bagus. Harap maklum, Erwin juga pesuka potografi.
Satu hal lagi, yang semakin membuat saya memantapkan niat ke tanah suci, di sana rumah makan Padang bukan hal aneh, bahkan iwak sapat sampai caramcam pun ada. Yang agak membuat saya sedih, menjelang Erwin ‘pulang kandang’ ke Kaltim Post saya betu-betul merasakan ada yang kurang, dan hilang.
Dulu, hampir tiap malam kami menghabiskan waktu di depan komputer. Mulai dari menyusun buku —buku saya siap cetak kini ada sekitar 10— Erwin menentor membangun website. Kalau tidak salah ada 20 (dua puluh) website yang dibidaninya. Kini perjumpaan persahabatan terjembatani lewat kopi jagat raya. Anak-anak saya sering bertanya … Pak, Mana Om Erwin? Abang dan Adek (anak Erwin) pindah ya, jauh ya Pak …
Dalam kepiluan ‘kehilangan’ teman akrab istri saya sempat-sempatnya bercanda: Satu-satunya ‘keuntungan’ tagihan telepon internet kini sekitar Rp300-an ribu. Kalau dulu bisa Rp700-an ribu. Istri saya dalam kesedihan selalu bisa bercanda. Saya mencintainya teramat sangat he … he …
Satu hal lagi, sengaja buku ini nukilannya tidak dibeber habis, sebab kalau demikian nanti tidak seru lagi ketika membacanya. Anjuran saya, begitu buku ini di-launching, beli dan baca. Insyah Allah akan didapat hikmahnya.
Bagaimana menurut Sampeyan?










3 Responses to “Urang Banjar Naik Haji”
By agorsiloku on May 4, 2007 | Reply
5 kali naik haji dalam sebuah reposisi batin. Rasanya seperti merujuk pada kapasitas diri yang masih betul-betul minim…. apalagi menggerakan (membawah) kelimanya untuk yang lain…..
By yunizar on May 17, 2007 | Reply
Kapan pak Ersis naik haji ??
By shindu ariyanto on Oct 10, 2008 | Reply
tolong.in saya Naik Haji, barangkali ada yg bisa bantu.
kunjungi website http://tolong.in
terimakasih yg sebesar-besarnya telah membantu.
jika tidak berkenan,
mohon tidak dicantumkan dan saya minta maaf sebesar besarnya.