Guru ‘Ogah’ Bergaji Layak
16 February 2007 | Ditulis oleh:GAJI guru tidak memadai, semua orang sudah tahu, bahkan semutpun tahu. Bahwa pemerintah punya perhatian terhadap gaji guru, ya iyalah. Kita sering mendengar ‘ceramah’ para petinggi atau anggota DPR (DPRD) meyuarakan keprihatinan dan ‘berjuang’ untuk kesejahteraan guru. Satu hal yang belum pernah menjadi kenyataan, guru bergaji memadai. Yang terakhir fakta. Pertanyaannya, kenapa gaji guru belum juga layak?Jawabannya, guru memang tidak menginginkan. Lho kog iso? Kenapa tidak. Sampeyan pernah dengar berapa gaji orang-orang Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), petinggi BUMN, karyawan bea cukai, atau anggota DPR? Pastilah jauh, jauh lebih besar dari gaji guru. Negara ini negara baik, kog.
Pernah membayangkan uang Rp600 triliun? Konon, saya tidak tahu angka pastinya, Pemerintah Republik Indonesia dengan murah hati menyediakan dana untuk apa yang kita kenal dengan dana BLBI. Mudah saja kog. Siapa bilang pemerintah atau pengambil kebijakan negeri in ‘pelit’. Buktinya, beberapa contoh di atas. Silahkan cari dan ‘nikmati’ contoh-contoh lain.
Pertanyaannya, kenapa mereka bergaji layak sementara guru ‘ditakar’. Salah mereka? Pasti tidak. Mereka memperjuangkan sampai berhasil. Atau setidaknya, pemerintah berpendapat, pantas digaji secara layak. Guru? Ya jawab sendiri. Kalau dijadikan prioritas, pastilah bergaji layak.
The Sleeping Giant
Secara kuantitas dalam kuala profesional guru itu adalah raksasa, ada sekitar 2,6 juta, dua juta enam ratus ribu guru. Kalau ditambah murid-murirdnya, susah mencari kalkulator yang mampu menjumlahkan. Tidak sedikit yang sarjana, magister, bahkan doktor pun ada. The Guru adalah the sleeping giant, Si Raksasa Tidur. Raksana tidur yang tertidur dan ditidurkan. Setidaknya dalam usaha memperjuangkan peningkatan kesejahteraan.
Jelas kalau kalimat tersebut dicerna banyak yang protes. OK, tarohlah guru atau organisasinya berjuang segenap daya dan upaya, tetapi hasilnya kan hanya satu; gaji guru jauh dari layak. Kenapa demikian? Ya jawab sendiri dong. Kalau sepanjang umur republik ini perjuangan tidak menghasilkan apa-apa, apakah yang berjuang cerdas? Atau diserahkan kepada orang-orang cerdas?
Realitas sosial berubah cepat sementara modus perjuangan begitu-begitu saja, ya hasilnya wajar dong sama, tidak berhasil, atau hasilnya mengecewakan. Coba cerna mendalam lelucon sertifikasi guru.
Konon, dengan disahkannya Undang-Undang Dosen dan Guru (UU GdD) gaji guru terpampang di fajar kecerahan. Tetapi coba direnung. Belum apa-apa, berbagai syarat kompetensi langsung melengket. Mulai dari harus sarjana sampai lulus ujian sertifikasi. Memang ketika diterima jadi guru dulu, khusus bagi guru-guru senior, disyaratkan berijazah sarjana? Tidak bukan.
Lalu bertahun-tahun, ada yang puluhan tahun mengajar, ‘melahirkan’ para petinggi, orang-orang pintar, orang-orang sukses, orang-orang yang menjadi pengambil keputusan tentang pendididikan (guru), tiba-tiba guru-guru tidak kompeten? Atau setidaknya kenapa tidak dihargai dedikasi yang begitu tinggi?
Lebih lucu, para guru itu diam saja. Mungkin sudah terlalu bangga ketika dininabobokan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru-guru kalau dilihat dari semangat memperjuangkan nasib, apalagi hasil perjuangan nasib, nampaknya memang tidak serius guna dihargai secara layak. Artinya, guru sendiri tidak bernafsu memperbaiki nasib.
Contohlah DPRD
Saya bangga dengan anggota DPRD yang baru-baru ini meneriakan keresahan ketika ‘rapelan mereka dianulir, mereka resah, merasa rugi, hak-haknya ‘dipotong’. Bangga pada semangat perjuangan bukan pada esensi mereka bergaji kecil atau besar. Sekali lagi pada tataran perjuangan mereka. Gigih. Guru?
Berikan saya satu bukti guru serius berjuang untuk gaji layak. Belum ada catatan sejarah yang mencatatnya. Guru lebih terkesan menerima apa saja yang dilengketkan pada diri dan profesinya. Guru tidak mampu memainkan peranan memulai dari subyek guru, guru tergelincir sebagai ‘tukang kecil’ untuk bekerja sesuai aturan yang dibuat pihak lain.
Pernahkan mendengar dendang guru dengan ide segar, semangat nyata, menampakkan diri dan profesi secara profesional menyingsing lengan baju, inilah guru, inilah kelompok profesional memajukan bangsa. Kamilah penyiap generasi ke depan, generasi maju. Jangan terkulai dan tersibuk dengan berbagai hal yang ditimpakan agar dilaksanakan.
Hayo siapa yang lebih tahu tentang kehidupan profesional yang dilakoni sehari-hari? Terkadang birokrat pendidikan yang ‘mengatur’ guru malahan tidak paham pendidikan apalagi keguruan. Pengatur terkadang dari akal keilmuan mana, tidak jelas. Memprihatinkan, guru ho oh dan selalu ho oh.
Atau barangkali guru perlu merenung. Mereka yang ‘menghasilkan’ pada cerdik pandai, pemimpin bangsa, orang-orang cerdas, birokrat, orang-orang sukses dan kaya, tetapi ketika mereka berperang ‘meentukan’ nasib guru, justru nasib guru dicuekan saja. Apakah guru tidak mendidik anak harimau?
Jadi, saatnya guru menatap dirinya lebih tajam, menatap peran dan aplikasi tugas, apakah sudah dijalankan secara benar. Bayanghkan, ‘hasilan’ didikan mereka saja tidak mampu memperjuangkan derita profesional, bahkan ada yang keras-keras teriak, guru tidak kompeten, guru bodoh, guru tidak memenuhi syarat profesional. Hal tersebut dari murid-muridnya yang sukses. Ada apa denganmu wahai guru?
Bagimana menurut Sampeyan?









2 Responses to “Guru ‘Ogah’ Bergaji Layak”
By Helgeduelbek on Feb 17, 2007 | Reply
Kalah sakti barang kali dengan kebijakan di tingkat lebih tinggi. Pergerakan guru terlalu kecil sementara yang lain menunggu hasilnya saja. Sebenarnya kalau mau berulah gampang saja. Tinggal kontak untuk mogok ngajar se-indonesia. Masalahnya kadang ada yg enggan, padahal kalau berhasil saya yakin ia mau menerima hasil. Saat ini guru-guru senior menunggu nurani manusia yang telah dididiknya dan berkuasa untuk itu. Sementara guru yunior masih merasa belum ada yang bisa disumbangkan. Jadi dari mana memulainya?
By anak sultan on Feb 25, 2007 | Reply
guru mogok se-nusantara, saya yakin akan berhasil didengar tuntutannya. tapi itulah guru, kok saat mau mogok masih mau-maunya memikirkan muridnya, udah tahu digaji rendah masih mau memikirkan murid-muridnya, muridnya banyak ke sekolah pakai mobil atau sepeda motor terbaru guru tidak ada yang dengki, orang tua murid saja bisa santai dengan ancaman anaknya bisa tidak lulus UN tapi guru mau-maunya panas dingin siang malam memikirkan nasib muridnya, kok guru bisa begitu ya? atau saya yang salah pikir ya?