Guru Duh Guru, Gaji Memalukan?

10 February 2007 | Ditulis oleh: |

DALAM APBN telah disediakan dana Rp416,7 miliar untuk mensertifikasi 210,450 guru. Konon demi meningkatkan kualitas pendidikan nasional dengan meningkatkan kualitas guru. Pada APBN 2006 tersedia Rp35,8 miliar untuk 20.000 guru dan tahun 2007 Rp380,9 miliar untuk 190.450 guru. Bayangkan kalau 1,6 juta guru disertifikasi, berapa besar anggaran diperlukan.Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan program sertifikasi guru. Begitu juga UU tentang Guru dan Dosen. Yang lucu, untuk hal-hal yang langsung berhadapan dengan guru  —bukan petinggi guru atau ‘pengatur’ guru— para guru ho oh saja. Tanpa ada pemikiran, keberatan, dan atau apalah begitu. Guru menerima saja apa pun yang dilengketkan dengan diri dan profesinya.
 
Belum hilang diingatan apa yang menimpa pendidikan nasional baru-baru ini. Guru ditatar, lalu dituntut, dan ‘dipaksa’ melakasanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Begitu deman KBK merambah pendidikan nasional dan guru sibuk memahami dan memaknai, e … tiba-tiba muncul kebjakan baru, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (TKSP).
 
Terlepas bau KBK dan TKSP masih satu aroma, yang membuat miris guru-guru ho oh saja. Terkadang, manakala pikiran sedang iseng, timbul tanya: Kita ini memiliki guru dalam artian sesungguhnya atau hanya ‘buruh kecil’ yang berstatus guru? Guru yang tidak jelas jati diri dan tidak mampu menegakkannya? Entahlah.

Sertifikasi Birokrat Pendidikan
Sampeyan tentu masih ingat betapa gegap gempita penataran KBK. Sertifikasi bisa jadi lebih hebat lagi. Belum lagi guru-guru harus berpendidikan S1, lulus ujian kompetensi, dan sebagainya. Pokoknya sibuklah, dan anggaran akan terkuras untuk hal dimaksud. Begitu memang amar UU GdD. Hanya saja, kemana suaramu wahai guru?
 
Bayangkan, guru berumur yang puluhan tahun mengajar harus kuliah lagi. Emang waktu diangkat dulu disyaratkan berpendidikan sarjana? Lalu, kenapa pengalaman mengajar tidak diperhitungkan, tidak dihargai? Dedikasi tugas yang melahirkan pebijak dan pengambil kebijakan pendidikan, tidakkah ada harganya dalam konteks ‘prestasi’ yang pantas dihargai?
 
Memangnya mereka yang ‘mengelola’ guru lebih hebat? Memangnya penatar atau penguji guru-guru itu lebih hebat dalam praktek sekalipun mungkin menguasai teori-teori canggih? Bagaimana mungkin birokrat pendidikan lebih hebat dari guru, sekalipun dari berbagai disiplin ilmu, dari guru yang hidupnya hari-hari menjadi guru, mendidik? 
 
Amati saja dari dinas pendidikan Kota/Kabupaten, provinsi, bahkan sampai Mendiknas, dan BNSP, memangnya mereka lebih paham hal-hal mendasar lapangan? Kenapa mereka yang ‘mengatur’ guru tidak dituntut mengantongi sertifikat ‘mengurus’ guru? Saya jadi ingat guyonan Faisal Tamin, mantan Menpan, nanti kita tidak akan membiarkan lagi mantan Kepala Dinas Pemakaman menjadi Kepala Dinas Pendidikan.
 
Kalau boleh berharap, selayaknya petinggi-petinggi Depdiknas dari akar pendidikan. Kalau Doktor ekonomi, mengurus ekonomi bangsa yang carut marut, kalau Doktor Tehnologi mengurus kemampuan tehnologi bangsa yang tidak membanggakan, kalau Doktor hukum urus pelaksanaan hukum yang tidak bisa membereskan korupsi, kalau tentara urus saja ketahanan dan keamanan, kenapa mengurus guru (pendidikan).
 
Tepatnya, siapa saja pejabat yang mengurus pendidikan selayaknya disetifikasi dulu, diuji kompetensinya. Tidak lucu yang selalu diaduk-aduk guru, guru, dan guru lagi. Memangnya jebloknya kualitas pendidikan karena gurunya saja yang bodoh?
 
Saya bukan ‘anti pembinaan’ guru. Tapi, pokok soal kualitas bukan pada kualifikasi guru semata. Kualifikasi guru yang didengung-dengunkan sebagai kontributor jeleknya kualitas pendidikan, tidaklah adil. Sangat, sangat banyak faktor lain. Bahkan, ada yang lebih utama yang tidak pernah disentuh secara tuntas. Misalnya gaji guru.

Gaji Guru Memalukan
Sepanjang umur republik tercinta ini satu hal yang belum dilakukan adalah menaikkan gaji guru pada taraf yang layak. Gaji guru berkisar antara Rp1,5 sampai Rp2,5 juta. Guru-guru hidup dari hutang ke hutang, gali lobang tutup lobang. Ada yang membawa pulang gaji hanya Rp250 ribu. Karena harus membayar cicilan rumah, kendaraan, pinjaman koperasi untuk biaya sekolah anak.
 
Kalau demikian ceritanya, Sampeyan mau sekolahkan guru ke kutup utara, menatar guru ribuan kali, membina dengan janji membius, meninikbobokkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, apa bukti baiknya? Lain halnya jika gaji dinaikkan 5 kali lipat. Guru akan bisa bernafas lega. Dia bisa membeli koran, majalah, jurnal, bersilancar di internet. Kalau uang untuk kebutuhan dasar saja tidak punya, bagaimana akan mengembangkan kemampuan diri.
 
Apa perlunya sertifikat dibanding sekolah diperbaiki, sarana dan prasarana dilengkapi. Guru memerlukan penunjang pendidikan bukan berbagai hal-hal pelengket ideal diri, pelengkap titel profesional. Banyak orang yang tidak bersekolah tetapi mampu otodidak karena fasilitas. Apakah Sampeyan menganggap cap pendidikan lebih penting dari fasilitas penunjang pengembangan kemampuan?
 
Lalu, guru didatangi, dihardik, disalahi ini-itu. Pejabat-pejabat datang bermobil keren sembari berkacakpinggang menyalahkan guru, mutu pendidikan rendah. Hebatnya guru ho oh saja, dan selalu ho oh, dan ho oh. Kemana larinya intelektualitas dan kemampuan memahami hak-haknya? Guru terlalu ‘takut’ kepada birokrat pendidikan yang sebenarnya bertugas menfasilitasi guru. Mau-maunya guru ‘digurui’ oleh mereka yang tidak mengerti pendidikan. Kacien dech lo.

Tegakkan Bendera Guru
Kalau guru mau merubah hidup dan posisinya, guru harus lebih piawai berinisiatif merubah nasib. ‘Tidak akan berubah nasib suatu kaum manakala kaum itu tidak berubahnya’, begitu peringat Allah SWT. Betapa bodohnya manakala tidak pernah mau dan mampu memperjuangkan hidup. Selalu dan selalu menjadi obyek atas berbagai kebijakan, tidak menjadi subyek.
 
Coba perhatikan banyak pihak mulai bersibuk diri bersiap-siap melakukan sertifikasi guru. Pertanyaannya, apakah mereka sudah disertifikasi? Guru kini dihujam opini, tidak layak mengajar, kualifikasi tidak memadai, dan seterusnya? Lalu, guru-guru akan digiring ke berbagai hal, dari penataran sampai peningkatan kualifikasi, lalu siapa yang paling beruntung dari proses itu?
 
Orang sering lupa, inovasi muncul dari individu. Apa-apa yang datang dari luar diri sekadar pemicu, pemotivasi. Tepatnya, ‘diri’ itu yang diperkuat dan dipersiapkan. Rasanya bosan sudah berbagai beban penghimpit mental guru ditimpakan dari waktu ke waktu sementara guru larut dengan perasaan kekurangan diri. Beginikah perlakukan kita terhadap orang-orang yang menjadikan kita pintar?
 
Wahai guru, bagaimanapun memang program pemerintah, amar UU GdD bagus, tapi bersuaralah mana yang Sampeyan perlukan, gelar sarjana, sertifikat, atau gaji, sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan? Atau, saya sajakah yang yakin bila gaji memadai guru-guru lebih berpeluang mengembangkan diri?
 
Para petinggi, doktor-doktor hebat, pengusaha, sampai koruptor bukankah hasil kerja guru yang katanya berkualifikasi seadanya? Ah, yang benar saja. Berjuanglah untuk kebenaran pendidikan.
 
Bagimana menurut Sampeyan?

  1. 20 Responses to “Guru Duh Guru, Gaji Memalukan?”

  2. By Arif Kurniawan on Feb 13, 2007 | Reply

    Kalau saya mah setuju sekali Pak EWA. Gaji guru memang luar biasa ngerinya. Membayangkan jadi guru saja saya dulu sudah takut. Laahhh, sekarang malah jadi guru.

    Mengenai sertifikasi, bagi saya seperti pisau bermata dua. Dua-duanya sama-sama tajam. Salah satu solusi yang terbaik adalah, menggunakan pisau itu secara bijaksana. Yang jadi masalah, siapa pengontrol pisau itu. Kalau saya tidak salah, guru lah yang mengontrol pisau itu.

    BTW, Pak, PGRI masih hidup atau ndak sih? Kalau masih ada, bubarin sajalah… kok yaaa nggak ada omongannya!

  3. By kangguru on Feb 13, 2007 | Reply

    Mestinya kalo mentrinya Ekonom, yang di urus pendidikan minimal tahu percis berapa sebaiknya gaji guru yang layak. Yang ngak enak dalam sertifikasi Guru baru boleh ikut sertifikasi setelah berumur lebih dari 50 Tahun. Halah udah masanya mau pensiun kook malah disuruh sertifikasi. Itumah sama aja dengan ngak niat.

  4. By kakilangit on Mar 25, 2007 | Reply

    yoi banget mas..guru memang harus punya keberanian, tapi sayang keberanian guru sekarang sering dengan mudahnya dibungkam oleh kekuasaan.

    oiya..minta izin nih artikel aku link ke blog-ku ya :D matur nuhun..

  5. By hamba allah on Jul 24, 2007 | Reply

    memang guru2 sebaiknya jangan manut doang sing tanggap juga dong itu organisasi PGRI kok ngak nongol ape sudah pada anggota dewan sampe2 pade kehilangan nafsu ngebela rakyatnya eh kebangetan banget. kalau gaji naik pasti oke tentunya setelah naik terus dikontrol kinerjanya baik or not kalau masih amburadul yah di kasi surat ngaso saja. matur nuwun mass.

  6. By lina astuti on Jul 30, 2007 | Reply

    gaji guru harus dinaikkan karena dengan ditambahnya gaji,guru sudah tidak lagi mencari penghasilan diluar lagi…sehingga mereka bisa konsentrasi dalam mengajar dan tidak terbebani dengan oleh pekerjaan sambilan mereka..

  7. By Yudi Tri Sanjaya on Sep 5, 2007 | Reply

    Mengapa guru hanya setuju saja jika disalahkan ini itu? Apa karena mereka terbungkam oleh kekuasaan pejabat- pejabat? Saya rasa faktor utamanya adalah kita dari kecil dididik untuk menjadi seperti robot, bukan menjadi orang yang berfikir kritis, banyak hal yang bisa dijadikan bukti, dan salah satu hal itu adalah kita tidak diajarkan kreatifitas sewaktu kecil, yang kita tahu menggambar pemandangan adalah dengan 2 gunung, 1 matahari di tengah gunung. Guru memang pintar, tapi apakah kepintaran guru bisa meningkatkan taraf hidup mereka? Jika guru tidak kreatif, maka taraf hidup tidak mungkin meningkat. Kita sering mendengar kata pahlawan tanpa tanda jasa, tapi apakah guru bisa menjadi pahlawan lagi jika mereka kekurangan? Maka itu guru- guru harus punya inisiatif untuk keluar dari dilema ini, saya yakin para guru bisa, karena mereka punya dasar pikiran yang pintar, hanya saja terbungkam oleh permainan politik.

  8. By Syam al Ideris on Nov 25, 2007 | Reply

    Saya jadi merasa malu sendiri nih, membaca tulisan Pak EWA. Bukan apa-apa pak, berkenaan gaji guru yang mengerikan ini saya telah mengalaminya sendiri. Akibat gaji guru yang saya terima tidak mencukupi kebutuhan keluarga ‘terpaksa’ saya merangkap 2 pekerjaan lagi. Hal ini menyebabkan saya tidak layak disebut guru yang ‘profesional’.
    Pagi bekerja sebagai guru, sore bekerja sebagai ‘tukang’ yang naik tower wireless untuk membetulkan akses internet client yang ngadat. Malam jadi ‘penjaga’ server e-pulsa salah satu teman. Pokoknya tidak ada lagi waktu untuk duduk manis, baca koran, nonton TV karena kalau malam sudah kelelahan langsung tidur.
    Syarat guru profesional menurut Bapak Dosen saya di FKIP adalah guru hanya melakukan kegiatan yang masih dalam ruang lingkup profesinya (mengajar). Jadi bagaimana saya yang jadi guru merangkap ‘tukang’ plus ‘penjaga’… Jauh sekaleee..
    Aduh.. malu… tapi mau bagaimana lagi, kalau mengandalkan gaji guru saja maka setelah bayar cicilan sepeda motor, kredit rumah, uang susu anak, dll hanya menerima cukup untuk makan seminggu. Nah, pak, yang 3 minggu lagi anak-isteri saya makan apa? apa cukup di kasih makan hadiah ‘embel-embel’ PAHLAWAN TANPA TANDA JASA..

    ***Ya begitulah maunya guru. Buktinya mereka kan ngak memperjuangkan. Bagus tu, itu halal. Jangan korupsii anak didik yang udah miskin. Wadu … kalau dekat saya mau minta tolong ama sampeyan. Kerja trus, mendidik terus … Allah bersama kita. Amin.

  9. By FIAN JOY on Feb 24, 2008 | Reply

    Kalo ngomong soal gaji guru yang cuma dicukup-cukupkan sebenarnya terus terang ga manusiawi. bagaimana bisa guru ngajar optimal sesuai yang diharapkan, masih banyak ko guru yang setiap bulannya masih memikirkan bagaimana bayar listrik, telepon, ledeng, bahkan masih banyak guru yang masih memikirkan untuk makan sehari-hari. Bayangkanlah wahai pejabat!
    saran saya Ganyang Koruptor yang ngabiskan uang rakyat.

    ***Memprihatinkan.

  10. By Ananta wijaya on Mar 5, 2008 | Reply

    GURU ( Gede Utange Rekasa Uripe )
    sudah tahu semua kalo guru itu hanya buruhnya pemerintah, di negeri ini lho..!
    ini rincian yang saya alami
    gaji bawa pulang Rp.1.500.000
    pengeluaran sbb:
    Spp 2 anak Rp30.000
    uang saku 2 anak 4000/hari Rp96.000
    Keb sekolah 2 anak Rp60.000
    Bayar air Rp26.000
    Listrik 900 w Rp60.000
    Pulsa HP / telpon Rp100.000
    transport 3000 x 24 Rp72.000
    nabung/bln untk bayar kontrak Rp25.000
    Kesehatan Rp100.000
    arisan Rt Rp15.000
    arisan darma wanita Rp20.000
    sumbangan2 Rp50.000
    Makan 3×4 orangx30 @1500 Rp540.000
    keprluan rumah
    minyak,mandi,gula,teh, dll Rp150.000
    Tabungan untk mask sekolah, dll Rp100.000
    Jumlah Rp1.444.000
    Sisanya Rp56.000
    dengan sisa sebesar itu kapan ya buat beli TV, Komputer, Spd motor
    apalagi rumah. Beli pakian, sepatu aja susah..
    kalo nekat sih bisa kredit..tapi?? nggak mikir kesehatan, sumbangan2,
    masuk sekolah baru anak, yang bayarnya sampe jutaan..
    akhirnya..?????
    LHA TERUS BAGAIMANA YANG BAWA PULANG GAJI DIBAWAH Rp.1 JUTA ?
    (Padahal banyak guru2 yang gajinya kurang dari Rp.1 juta )
    pusing.. tapi anehnya bisa aja jalan dari hari kehari..
    mbok pemerintah peduli tentang ini yha?? dan bagimana kalau semua anak guru sekolahnya digratiskan, rada2 ngurangi beban gitu.

    ***Ya, kasian guru yang jumlahnya 3 juta orang, pada diam saja tu.

  11. By Ananta Wijaya on Mar 5, 2008 | Reply

    GURU ( Gede Utange Rekasa Uripe )
    Mau komentar apa??
    yang jelas Gaji normal tanpa potongan saja, enggak cukup untuk hidup layak bersama 1 istri dan dua anak.

    ***Luar biasanya … guru sangat PD dengan gajinya kan?

  12. By Dedi Mulya on Mar 19, 2008 | Reply

    Hahaha…membaca banyak tulisan dan komentar tentang gaji guru memang menyedihkan…. saya juga seorang guru golongan III/d masa kerja 14 tahun yg baru menikah 3 bulan dan istri sudah ngidam…aduh mak, saya kewalahan baru ngidam aja saya sudah memble gak bisa meladeni keinginan istri ngidam, apalagi besok lusa saya punya anak… mampus dah aku. Tapi tidak semua guru melarat lho, yang kere mah guru yang jujur dan tidak punya penghasilan sampingan. Hey… kepala sekolah juga guru kan? Tapi kenapa sugih-sugih (kaya2) hihihi darimana ya duitnya..padahal gaji cuma 2,5 juta ke atas lebih sedikit. Ah ndak adil….

  13. By aries on May 28, 2008 | Reply

    jika gaji guru emang kecil ngapain kalian jadi guru. mending jadi kerupuk keliling aja. biar posisi guru diganti yang ikhlas kayak dipondok pesantren, tapi mereka nggak kekurangan kebutuhannya.hidupnya aman-aman saja. makanya tanam padi dulu baru rumput tumbuh, jangan tanam rumput harapkan tumbuh padi. mimpi kali. kerja dulu baru gaji, jangan gaji dulu baru kerja. tunjukkan prestasimu dalam hal karya ilmiah kek…karya wujud nyata yang bermanfaat untuk siswa.jadi guru modal ngomong semua orang bisa cak!!! jika berfikir 2+2=4 kamu keliru. kenalkan substansi kepada anak bahwa 2+2=4. nah…siswa seneng dihargai dech ama pemerintah

    ****ya ya. Maksih komennya yang yahud.

  14. By Andro on Oct 18, 2008 | Reply

    wahhh.. kalo sudah begini bakalan banyak orang yang akan mengincar posisi guru… abisnya gaji guru aja mencapai 2 juta rupiah, itu juga di dapat dari guru yang tidak mengantongi ijazah S-1 dan pada pangkat terendah lagi, jadi kalo yang pangkat tertinggi berapa yaaaa…………..?????????

    ***Itu guru baru diangkat, mulai taun 2007 rata-rata pendapatn guru 4,7 juta.

  15. By ANDI on Oct 22, 2008 | Reply

    wah artikel bagus pak. minta izin ngelink pak

    ***Dengan senang hati

  16. By Imut on Oct 23, 2008 | Reply

    Maju terus gaji hrs naek insyaallah dg gaji yg layak guru tdk lg awam dg teknologi, malu dong muridnya udh mengangkasa gurunya msh mendengkur dg fatamorgana

    ***Maju terus, terus maju, OK.

  17. By Nawir on Oct 25, 2008 | Reply

    Benar juga sih. orang Indonesia jan malu kalo di bilangin tdk tau berterima kasih. coba pikir tidak akan ada Presiden kalo tdk ada GURU. Guru adalah segala-galanya. the best of teacher.

  18. By a2s on Dec 16, 2008 | Reply

    walah….koq banyak yang iri to gaji guru mo naik?tapi klo guru harus diuber2 ma syarat ni dan tu koq ga da yang iri yach?pa lagi rame-rame nuding pendidikan jeblok gara2 guru.pa lagi klo guru harus alih profesi n dganti ma org yg ikhlas.Ikhlas??masak ga punya duit tuk makan ya diem aja?q rasa pemerintah dah mulai sadar kan pentingnya guru.pahlawan yang jasanya gede tapi ga pernah ditempeli pangkat yang gede2 di bajunya.hidup guru!!!

  19. By dedy heryawan on Feb 1, 2009 | Reply

    ko mata saya jadi berkaca-kacaya ya baca artikelnya………….

  1. 2 Trackback(s)

  2. Mar 26, 2007: Fahranism ! Guru "Diperkosa", DPR Maen 4 Mata «
  3. Nov 21, 2007: Guru oh guru « Ordinary people

Post a Comment