Menangislah untuk Guru
5 February 2007 | Ditulis oleh:Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai pejabat berwibawa, pengusaha kaya raya, orang-orang cemerlang, atau gabungan semuanya. Kekaguman dan kebanggan akan tertebar dalam sekejap karena memang secara sosiologis sandangan profesi tersebut adalah idaman alam bawah sadar banyak orang. Apalagi kalau Pak Pejabat, Om Pebisnis atau Tuan Dosen adalah orang yang dapat memberikan ‘sesuatu’, kebanggaan sosiologis.Dalam kehidupan sehari-hari dengn sangat mudah kita jumpai guru yang dalam kamus kehidupan, adalah pemberi ‘senjata dasar’ kehidupan. Sampeyan seorang pejabat, dosen, wartawan, pengusaha, maling, atau koruptor, yang menjadi melek segala sesuatu, pada awalnya berkat jasa guru. Bahwa kreativitas dan jiwa inovator yang membedakan perkembangan individual, ya. Tapi, ‘ilmu’ didapat dari guru.
Dalam kehidupan sehari-hari sangat mudah kita jumpai pejabat, tenaga administratif atau birokrat pendidikan yang bertugas memudahkan pekerjaan profesional guru, membantu guru demi meningkatan kulitas pendidikan, peningkatan sumberdaya manusia (SDM). Tapi, bukan tidak mungkin hanyalah nyanyian meninibobokan, formal atau informal, berkoor (seolah-olah) memperhatikan nasib guru.
Ditabalkan dengan organisasi semacam PGRI, hasilnya hanya satu: Nasib guru tetap memprihatinkan. Guru tetap dalam gambaran karikaturis ‘Oemar Bakry’. Kehidupan guru begitu-begitu saja, dan … masih saja mengantungkan nasibnya. Dimana letak kemampuan guru belajar dari kenyataan? Langkah nyata apa yang dilakukan memperbaiki kedudukan dan nasib? Entahlah. Hanya para guru yang mampu menjawabnya.
“Membantai” Guru
Ketahuilah, keseluruhuan pejabat, pebisnis, orang berpunya, mereka yang terhormat atau gila hormat, apalagi pengambil kebijakan pendidikan, birokrat pendidikan, menjadi pandai atau bisa mencapai kedudukan sosial mapan, tidak terlepas dari jasa guru. Bukankah siapa saja yang bisa membaca, menulis, dan berhitung menjadi pandai karena guru. Gurulah yang menjadikan seseorang menjadi orang melek, mampu mengembangkan potensi dirinya.
Cobalah renungkan untaian kata-kata saya berikut. Pernahkan Sampeyan mendatangi guru SD yang dengan segala ketabahan, ketekunan, dan kesabaran menuntun mengeja huruf a, b, c? Memangnya kita bisa lancar menghitung angka 1, 2, 3, 4 atau merangkai huruf-huruf jadi kata-kata, angka-angka berpangkat dan menghasilkan uang untuk kesuksesan tanpa bantuan guru? Pernahkan sowan ke Guru SD, SMP, SMU atau mengunjungi sekolah tempat dididik dulu?
Bayangkan. Kalau mereka yang kini sukses membantu sekolahnya dulu, pastilah sekolah-sekolah kita menjadi tempat terbagus. Bukan tempat dimana bangunannya hampir roboh, sarana dan prasarana memprihatinkan dengan fasilitas membuat air mata tidak ada artinya. Banyak orang hanya mengambil dari guru dan sekolah, tidak kalau memberi. Keprihatinan pendidikan tentu bukan karena kepeduliaan to?
Coba renungkan. Ketika seorang guru mengurus KTP atau keperluan lainnya, misalnya, dibentak-bentak sembari meminta duit dari jerih payah mengajar yang sangat sedikit? Apakah tidak akan dikutuk Allah SWT tega-teganya meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan ketika Sang Guru mengurus kenaikan pangkat? Sudah gajinya kecil, jangankan dipermudah, tetapi justru ‘dijebak’ membayar. Adakah kira-kira manusia yang lebih kejam dari itu? Kalau Sampeyan pernah melakukan, bertobatlah, sebelum Allah SWT mengambil nyawa Anda.
Sekali lagi, coba renungkan, ketika Sampeyan sudah jadi orang, apakah bos tingkat rendah atau puncak, pegawai bank atau wartawan, birokrat pendidikan, tamatan SD atau S3, atau maling sekalipun, pernahkah mendatangi guru yang telah membuat pintar? Pernahkan mendatangi sekolah tempat belajar dulu yang mungkin kini sudah hampir roboh? Pernahkan membantu setelah hidup berkelayakan?
Mungkin Sampeyan telah mencapai jenjang akademis tertinggi atau mempunyai rumah –-dua sampai empat— mobil, sering berseminar di hotel, melakukan kunjungan kerja di banyak kesempatan, sementara orang yang membuat pintar masih terseok-seok mengajar anak-anak atau cucu Sampeyan, masih berkehidupan seperti ketika mendidik Sampeyan dulu. Apa berian kontributif setelah menjadi terhadap orang berjaya?
Kalau tidak pernah bersilaturrahmi, tidak pernah membantu sekolah tempat belajar dulu, baik secara pribadi, ketika Tuan punya kewenangan tetapi justru mengambil keuntungan untuk menumpuk harta, maka jangan harap bangsa ini akan maju. Peningkatan SDM akan menjadi retorika belaka.
Lebih fatal, jangan-jangan, sadar atau tidak, kita telah terjerembab menjadi manusia durhaka, manusia yang tidak tahu berterima kasih, manusia yang lupa kacang pada kulit. Manusia yang hanya mengambil dari guru, tetapi tidak memberi.
Lebih sadis, kalau mengabaikan dan atau melecehkan ketika dia berurusan, meminta duit ketika dia mengurus haknya, atau mencelakan profesianya dengan berbagai alasan. Kita, wahai Saudara-saudara sekalian, nisa jadi menjadi manusia terkutuk, manusia ‘pembantai’ guru. Naauzubillahi min zaliq.
Proyek Milyaran
Kebetulan, saya dipilih sebagai Ketua Komite di dua SD di kota saya. Di kedua sekolah tersebut, saya pernah didatangi orang tua siswa sembari bersemangat 45 memberi kuliah: ”Pak Ersis, guru-guru kita ini bagaimana? Tiap semester, anak-anak kita disuruh membeli buku. Ini proyek guru. Tidak boleh dibiarkan”.
Mula-mula kuliah bagus tersebut ditelan saja. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, memang ada guru yang menjual buku seharga Rp.30.000,00 (tiga puluh ribu) dan mendapat komisi 10% alias Rp.3.000,00 (tiga ribu rupiah) per buku. Dikalikan 30 siswa, mendapat keuntungan Rp.90.000,00 per semester. Uang sebegitu, bisa dibilang banyak bisa pula dibilang sedikit.
Tapi, saya bilang, bagaimana kalau kita berjamaah menyumbang untuk guru anak-anak kita secara ikhlas Rp.3.000,00 per semester, apa salahnya? Terlalu berlebihan menuduh guru korupsi atau menyalahgunakan kewenangan. Saya setuju itu tidak dibolehkan, tetapi harus ada solusinya.
Toh, di toko buku harganya juga segitu. Memberi untung toko buku tidak keberatan, guru yang menjadikan anak sendiri pintar, ribut. Apa-apaan. Empati saya tidak terelakkan, ternyat da saja 4-8 orang siswa yang tidak membayar. Padahal guru harus membayar semua buku kepada distributor. Kasiannya guru, kasihan.
Ketika saya katakan, “OK. Guru kita larang menjual buku, tapi … mari kita membelikan buku-buku pelajaran yang disimpan di pustaka hingga semua keperluan buku tersedia”. Ajaibnya, begitu gagasan itu saya utarakan, tidak ada komentar lagi.
Lebih jauh, coba berpikir lebih rasional. Milyaran rupiah dianggarkan Depdiknas untuk penyediaan buku-buku pelajaran di sekolah. Pengusaha berlabel percetakan berebutan, birokrat pendidikan sibuk mengurusnya. Coba datangi sekolah-sekolah, dari milyaran rupiah proyek pencetakan buku tersebut, berapa biji sih yang ada di sekolah? Sangat sedikit. Kemana perginya? Mana saya tahu, emangnya gue ngurusin. Kenapa kita tidak pernah berani melawan tindakan koruptif tersebut? Jawablah di dada masing-masing.
Harusnya yang model begini yang dilawan, koran-koran ‘menghajar’ hingga yang menculasi pendidikan itu kapok. Setidaknya, dimengerti untuk apa dan siapa, atau kemana saja distribusi proyek milyaran rupiah tersebut. Guru-guru juga pada lucu deh, diam aja. Silent is golden, kali ya.
Menangislah untuk Guru
Cobalah sesekali, seselesai sholat malam, luangkan waktu 10 menit untuk merenungi nasib guru, nasib pendidikan kita. Mana tahu, urat malu tersentuh, bahwa selama ini kita kurang peduli. Kalau untuk membeli rokok Rp7.000,00 per bungkus sehari, artinya sebulan Rp210.000,00 tidak keberatan, tapi kalau membayar iuran Komite Sekolah, Rp20.000,00 sebulan, untuk membantu pendidikan anak-anak kita, kita gusar.
Alasan-alasan rasional dan bak pendekar Pedang Emas mengeluarkan statemen hebat di koran, di warung kopi atau meja seminar, sembari teriak nyaring-nyaring: ‘Pendidikan gratis’. Emangnya Tuhan menurunkan uang dari langit untuk membiayai pendidikan.
Kalau melihat kekurangan berbagai sumpah serapah dimuntahkan. Komite Sekolah tidak becus, pemerintah pelit, kurang perhatian, pejabat mencuekkan pendidikan (walaupun ada benarnya), tapi mbok ya, kalau membeli empat ban mobil, anggap membeli lima, satu sumbangkan. Kalau Dewan Pendidikan kunjungan kerja, jangan mau ikut, biayanya sumbangkan ke sekolah.
Kalau Sampeyan Anggota Dewan atau Kepala Bagian atau Kepala Dinas, bilang sama pimpinan: “Pak tahun ini ditugaskan ke Jakarta 3 kali saja ya, biaya yang sekali serahkan ke sekolah”. Kalau sebulan empat kali ke karaoke, ke salon, atau main golf, coba 3 kali saja, yang sekali sumbangkan ke sekolah.
Jujur saja, saya belum bisa membantu guru secara materi hebat-hebat, tapi berdoa untuk agar perbaikan nasib guru jangan jadi dongeng belaka. Saya menulis pertanda simpati, dan … Inysa Allah akan terus berjuang sesuai kemampuan. Menulis, menulis, dan terus menulis.
Ya Allah, hamba baru mampu bersimpati dalam tangis air mata. Semoga guru-guru menerima dengan ikhlas. Itulah sumbangan terlemah dari orang yang sangat sangat bersimpati.
Bagaimana menurut Sampeyan?













3 Responses to “Menangislah untuk Guru”
By kangguru on Feb 6, 2007 | Reply
sulit rasanya berkomentar tentang diri sendiri diatas tulisan ini, tapi insyaAllah mudah mudahan tulisan ini dibaca oleh para Pengusaha, para Birokrat, dan para-para lainnya yang terhormat.
By helgeduelbek on Feb 7, 2007 | Reply
Semua yang pernah sekolah pasti punya guru, tidak satupun yg tidak berjasa… guru-guru saya sewaktu SD, SMP, SMA, Juga di PT, sayang belum pernah bisa menyempatkan diri untuk sekedar silahturahim, bertandang. Yang bisa hanya berdoa. Bahkan diantara kita banyak yang sudah melupakan nama-nama mereka, duh maafkan saya guruku, semoga jasa baik-mu selalu mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Aku bisa begini karena jasa-mu, terimakasih guruku.